Cekricek.id — Guru Besar Gizi Masyarakat FK-KMK UGM Siti Helmyati menyebut kunci penanganan stunting terletak pada kebijakan berbasis bukti, bukan pada besarnya anggaran.
Penjelasan itu ia sampaikan melalui laman resmi UGM, Selasa (08/09/2026).
Prevalensi stunting di Peru turun dari 29 persen menjadi 14 persen dalam kurang dari satu dekade.
“Pada sebagian anak, masalahnya bukan lagi apa yang dimakan, melainkan apa yang mampu diserap tubuh mereka,” katanya.
Baca juga cara membaca angka risiko dalam kajian kesehatan
Ia menilai data, target, insentif, pemantauan, dan evaluasi menjadi fondasi pendekatan berbasis hasil.
“Data seharusnya dapat menjadi kompas yang menuntun kita memahami kompleksitas tersebut, bukan sekedar angka dalam laporan tahunan,” ujarnya.
Dari 304 dinas kesehatan, hanya 52 persen mampu memvalidasi data secara lengkap.
Baca juga penguatan mutu layanan anak usia dini di daerah
“Jika generasi muda kita memahami berkelanjutan secara sempit, maka kebijakan pangan berkelanjutan yang kita rancang di tingkat nasional berisiko tidak pernah benar-benar dipahami,” katanya.
Penelitian yang ia paparkan melibatkan 20 universitas mitra.
Baca juga upaya kampus mendekatkan pangan ke rumah tangga
“Kebijakan yang baik semestinya lahir dari bukti, bukan dari asumsi bahwa niat baik dan besarnya anggaran sudah cukup untuk menyelesaikan masalah sekompleks stunting,” ujarnya.














