Cekricek.id — Dosen Fakultas Geografi UGM Indranova Suhendro menyebut erupsi enam gunung api secara bersamaan lebih merupakan persoalan waktu daripada saling memicu.
Penjelasan itu ia sampaikan melalui laman resmi UGM, Selasa (08/09/2026).
Enam gunung yang dimaksud adalah Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung.
“Menurut saya ini lebih ke masalah timing,” katanya.
“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” ujarnya.
Baca juga dampak abu erupsi Anak Krakatau terhadap air dan lahan
“Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” katanya.
Ia menyebut aktivitas kegempaan di Flores sebagai pembangkit bagi dua gunung di sekitarnya.
“Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores,” ujarnya.
Baca juga penyiapan warga menghadapi bencana di tingkat desa
“Setiap gunung itu punya karakteristik erupsi masing-masing,” katanya.
“Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda,” ujarnya.
Baca juga porsi bencana hidrologi dalam catatan bencana nasional
“Kalau kita memang mau menciptakan mitigasi yang baik, kita harus bisa mengombinasikan semua elemen itu antara pemerintah, kemudian akademisi, dan juga masyarakat,” katanya.














