- Responden yang mengobati diri sendiri naik dari 34,9 persen pada survei 2019 menjadi 38,8 persen pada survei 2022.
- Makin tinggi pendidikan, makin lazim mengobati diri sendiri; pada 2022 rasio prevalensi lulusan magister atau doktor 1,87 dibanding tanpa pendidikan formal.
- Kenaikan paling besar ada pada responden tanpa asuransi kesehatan, dengan rasio prevalensi 1,27, sedangkan responden berasuransi mencatat 1,10.
- Kebutuhan layanan yang tak terpenuhi karena daftar tunggu berhubungan dengan lebih banyak pengobatan sendiri di kedua survei.
Daftar Isi
Peneliti di Ankara, Şenol Demirci, menyandingkan dua survei kesehatan nasional Turki yang berjarak tiga tahun. Ia menelusuri satu kebiasaan, yaitu minum obat, vitamin, atau suplemen atas keputusan sendiri tanpa resep dokter. Hasilnya, kebiasaan itu tercatat lebih luas pada survei 2022, ketika pandemi Covid-19 sudah memasuki fase akhirnya, dibanding survei 2019.
Pada survei 2019, sebanyak 34,9 persen responden mengaku mengobati diri sendiri dalam dua minggu terakhir. Pada survei 2022, angkanya menjadi 38,8 persen. Demirci mencatat kenaikan itu bermakna secara statistik. Setelah berbagai faktor lain disesuaikan, mengobati diri sendiri tetap lebih lazim pada periode pandemi, dengan rasio prevalensi 1,11 dibanding periode sebelumnya.
Demirci bekerja di Health Institutes of Türkiye (TUSEB), tepatnya di Türkiye Health Care Quality and Accreditation Institute (TUSKA), Ankara. Ia menulis penelitian ini seorang diri dengan judul Self-medication before and during the COVID-19 pandemic in Türkiye: evidence from national health surveys. Laporan Demirci terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Datanya berupa mikrodata survei publik dari TurkStat yang sudah dianonimkan sepenuhnya.
Membuka Dua Survei Kesehatan Nasional
Bahan yang dipakai Demirci adalah Survei Kesehatan Turki yang digelar Lembaga Statistik Turki (TurkStat) pada September sampai Desember 2019 dan pada rentang bulan yang sama tahun 2022. Survei 2019 melibatkan 16.253 responden, sedangkan survei 2022 melibatkan 21.444 responden. Semuanya diwawancarai tatap muka di rumah tangga masing-masing.
Pertanyaan kuncinya ada dua. Demirci menghitung seseorang sebagai pelaku pengobatan sendiri bila dalam dua minggu terakhir ia minum obat atas keputusan sendiri tanpa resep dokter, atau minum suplemen makanan dan vitamin atas keputusan sendiri. Jawaban ya pada salah satu pertanyaan sudah cukup.
Waktu survei kedua juga penting bagi Demirci. Survei 2022 jatuh pada fase akhir pandemi di Turki, ketika sebagian besar pembatasan kesehatan masyarakat sudah dicabut. Meski begitu, ia mencatat pengaruh pandemi yang lebih luas terhadap perilaku kesehatan dan pemakaian layanan kesehatan mungkin masih terasa. Survei 2022 ia sebut sebagai periode selama pandemi.
Menghitung Siapa yang Mengobati Diri Sendiri
Langkah pertama Demirci adalah menghitung. Dari 16.253 responden survei 2019, sebanyak 5.669 orang mengobati diri sendiri. Dari 21.444 responden survei 2022, jumlahnya 8.320 orang. Dalam persentase, angkanya naik dari 34,9 menjadi 38,8.
Demirci tidak menganggap selisih itu remeh. “Meskipun selisih prevalensi antara periode sebelum dan selama pandemi tampak kecil secara absolut (sekitar 4 poin persen), selisih sebesar itu pun dapat mewakili jumlah orang yang besar pada tingkat populasi,” tulisnya dalam terjemahan bebas. Dengan jumlah penduduk dewasa Turki pada 2022, ia memperkirakan selisih itu setara dengan kira-kira 2 sampai 3 juta orang tambahan.
Lalu, siapa saja mereka? Demirci mendapati lebih banyak perempuan di antara mereka yang mengobati diri sendiri. Pada 2019, 60,2 persen dari kelompok itu adalah perempuan, sedangkan pada 2022 angkanya 57,1 persen. Di kedua survei, kebiasaan ini juga lebih lazim pada responden berpendidikan lebih tinggi dan berusia 30 sampai 44 tahun.
Menurut Demirci, pendidikan memperlihatkan pola bertingkat yang jelas. Dibanding responden tanpa pendidikan formal, rasio prevalensi mengobati diri sendiri pada 2019 adalah 1,17 untuk lulusan pendidikan dasar dan naik bertahap sampai 1,67 untuk lulusan magister atau doktor. Pada 2022, tangga yang sama lebih curam, dari 1,20 sampai 1,87.
Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Menimbang Rasa Sakit, Penyakit Menahun, dan Antrean
Faktor kesehatan, menurut Demirci, termasuk penanda terkuat. Responden dengan nyeri sedang mencatat rasio prevalensi 1,17 pada 2019 dan 1,23 pada 2022, dibanding mereka yang tidak merasakan nyeri atau nyerinya ringan. Untuk nyeri berat, angkanya 1,18 dan 1,32. Responden dengan penyakit atau masalah kesehatan menahun mencatat 1,30 dan 1,28.
Kebiasaan lain ikut tercatat. Demirci menemukan pengguna tembakau mencatat rasio prevalensi 1,14 pada 2019 dan 1,15 pada 2022, sedangkan peminum alkohol 1,17 dan 1,23. Perempuan, dibanding laki-laki, mencatat 1,31 dan 1,26. Seluruh angka dalam paragraf ini bermakna secara statistik di kedua survei.
Lalu ada soal antrean. Demirci memisahkan dua jenis kebutuhan layanan kesehatan yang tak terpenuhi, yaitu karena daftar tunggu dan karena tak mampu membayar. Kebutuhan yang tak terpenuhi karena daftar tunggu berhubungan dengan lebih banyak pengobatan sendiri di kedua survei, dengan rasio prevalensi 1,12 pada 2019 dan 1,16 pada 2022.
Pada 2022, di antara responden yang mengobati diri sendiri, 43,4 persen melaporkan kebutuhan layanan yang tak terpenuhi karena daftar tunggu. Di antara yang tidak mengobati diri sendiri, angkanya 33,0 persen. Hambatan biaya hanya berhubungan dengan pengobatan sendiri pada 2019, dengan rasio 1,16. Menurut Demirci, selama pandemi hambatan kapasitas layanan mungkin menjadi relatif lebih menonjol daripada hambatan biaya.
Membandingkan 2019 dan 2022 Faktor demi Faktor
Beberapa faktor berganti wajah di antara dua survei. Demirci mencatat status bekerja tidak berhubungan bermakna dengan pengobatan sendiri pada 2019, tetapi pada 2022 responden yang bekerja mencatat rasio prevalensi 1,13 dibanding yang menganggur. Responden tanpa asuransi kesehatan mencatat 0,93 yang tidak bermakna pada 2019, lalu 1,15 yang bermakna pada 2022.
Arah sebaliknya juga ada. Pada 2019, responden berusia 30 sampai 44 tahun mencatat rasio prevalensi 1,12 dibanding mereka yang berusia 65 tahun ke atas, sedangkan pada 2022 Demirci tidak menemukan perbedaan usia yang bermakna. Gangguan depresi berhubungan dengan lebih banyak pengobatan sendiri hanya pada 2019, dengan rasio 1,13.
Untuk depresi, Demirci mengajukan satu kemungkinan penjelasan. Meluasnya tekanan psikologis selama pandemi mungkin membuat gejala depresi kurang mampu membedakan perilaku pengobatan sendiri antarindividu. Terpisah dari depresi, keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari juga berganti pola, dari rasio 0,85 yang bermakna pada 2019 menjadi 1,01 yang tidak bermakna pada 2022.
Kunjungan ke dokter memperlihatkan pergeseran serupa. Menurut Demirci, sebelum pandemi lebih seringnya kunjungan ke dokter keluarga berhubungan dengan lebih banyak pengobatan sendiri, dengan rasio 1,11 untuk tiga sampai lima kunjungan dan 1,20 untuk enam kunjungan atau lebih. Pada 2022, responden dengan tiga sampai lima kunjungan justru mencatat 0,93.
Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi
Menguji Apa yang Benar-benar Bergeser
Demirci lalu menguji apakah hubungan enam faktor terpilih dengan pengobatan sendiri berbeda antara dua periode survei. Hasilnya, hubungan pendidikan, kelompok usia, dan asuransi kesehatan berbeda bermakna antara 2019 dan 2022. Sebaliknya, hubungan jenis kelamin, penyakit menahun, dan penilaian responden atas kesehatannya sendiri relatif stabil. Untuk jenis kelamin dan penyakit menahun, Demirci menilai hubungan itu mencerminkan pola yang stabil, bukan pola khas pandemi.
Ia kemudian menghitung, untuk tiap kelompok, seberapa lebih lazim pengobatan sendiri pada 2022 dibanding 2019. Kenaikan paling besar ada pada responden tanpa asuransi kesehatan, dengan rasio prevalensi 1,27, sedangkan responden berasuransi mencatat 1,10. Pada kelompok usia, Demirci mencatat 1,20 untuk usia 65 tahun ke atas dan 1,16 untuk usia 45 sampai 64 tahun.
Kenaikan pada kelompok muda lebih kecil. Demirci mencatat 1,08 untuk usia 18 sampai 29 tahun dan 1,05 untuk usia 30 sampai 44 tahun. Menurut pendidikan, kenaikan paling menonjol ada pada lulusan diploma atau sarjana dengan 1,18, sedangkan lulusan pendidikan dasar mencatat 1,08 dan lulusan magister atau doktor 1,12 yang tidak bermakna.
Di bagian pembahasan, Demirci menulis bahwa usia mungkin bukan sekadar penentu yang tetap, melainkan faktor yang hubungannya dengan pengobatan sendiri bisa berbeda menurut keadaan sistem kesehatan. Untuk asuransi, ia menilai perbedaan akses layanan selama pandemi mungkin berhubungan dengan ketergantungan yang lebih besar pada pengobatan sendiri di kalangan yang tidak berasuransi.
Mencatat Batas Data yang Dipakainya
Demirci juga terbuka soal batas datanya. Obat, vitamin, dan suplemen digabung dalam satu ukuran, sementara survei tidak mencatat jenis obat, dosis, maupun alasan pemakaiannya. Karena itu ia menulis, “temuan ini sebaiknya dibaca sebagai cerminan pola umum pemakaian produk kesehatan tanpa resep, bukan secara khusus pemakaian obat yang tidak tepat atau tidak aman.”
Keterbatasan lain ia sebut satu per satu. Desain potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, ingatan dua minggu rawan bias, penghuni institusi tidak tercakup, dan data publik tidak memuat informasi desain sampel. Demirci juga menegaskan desain studinya tidak memungkinkan selisih 2019 dan 2022 diatribusikan kepada pandemi. Faktor yang tak terukur, seperti perubahan regulasi farmasi, akses layanan kesehatan, kondisi ekonomi, dan pengaruh media, juga mungkin ikut berperan.
Baca juga Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah
Dari temuannya, Demirci menekankan pentingnya menjaga akses ke layanan kesehatan primer dan kesinambungan perawatan bagi kelompok dengan kebutuhan kesehatan lebih besar, seperti lansia dan pengidap penyakit menahun. Ia juga menulis strategi komunikasi kesehatan masyarakat sebaiknya ikut mendorong praktik pemakaian obat yang aman dan pemanfaatan layanan kesehatan yang tepat, terutama bagi mereka yang keluhannya berat atau terhambat mengakses layanan.
Pekerjaan Demirci berhenti pada dua survei itu, tetapi ia meninggalkan satu pesan bagi peneliti berikutnya. “Studi mendatang sebaiknya menelaah pemakaian obat tanpa resep dan pemakaian vitamin atau suplemen makanan secara terpisah, karena perilaku-perilaku ini mungkin memiliki faktor penentu dan implikasi kesehatan masyarakat yang berbeda,” tulisnya.














