- Sebanyak 621 dari 1.024 mahasiswa Suriah atau 60,6 persen tersaring positif kecanduan ponsel pintar.
- Sebanyak 13,2 persen mahasiswa tersaring positif memakai layar lebih dari sembilan jam sehari.
- Kelelahan tercatat pada 84,1 persen kelompok positif dan 56,8 persen kelompok negatif.
- Rasio odds skrining ADHD positif pada kelompok tersaring positif kecanduan ponsel tercatat 4,30.
Daftar Isi
November 2025, sebuah kuesioner berbahasa Arab mulai beredar di kalangan mahasiswa Suriah. Isinya 71 pertanyaan tertutup di Google Forms. Pengisiannya berlangsung empat pekan, sampai Desember 2025. Sebanyak 1.024 mahasiswa masuk analisis, dan 621 di antaranya melewati ambang skrining kecanduan ponsel pintar.
Hasilnya ditulis Farah Abou Kheir dari Fakultas Kedokteran Universitas Damaskus dan rekan dalam artikel Smartphone addiction screening status and associated physical and neuropsychological symptoms among Syrian university students: a cross-sectional study. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Rekan penulisnya berasal dari Universitas Latakia, Universitas Aleppo, Universitas Al Andalus di Tartus, serta Universitas Leicester, Inggris.
Pesertanya mahasiswa berusia 18 sampai 28 tahun. Mereka kuliah di universitas negeri di Damaskus, Aleppo, Latakia, Hama, dan Homs, serta beberapa universitas swasta. Kuesioner disebar lewat Facebook dan WhatsApp, juga lewat perekrutan langsung di kampus. Rata-rata usia peserta 21,4 tahun, dan 59,0 persen perempuan.
Sebagian besar peserta, 63,6 persen, kuliah di bidang medis. Sebanyak 20,2 persen dari teknik dan 16,2 persen dari bidang lain. Ukuran kecanduannya adalah Smartphone Addiction Scale versi pendek, sepuluh butir pernyataan. Ambangnya 33 poin untuk perempuan dan 31 poin untuk laki-laki.
Para penulis menegaskan batas klasifikasi itu. Mahasiswa yang melewati ambang disebut tersaring positif, dan status ini tidak berarti diagnosis klinis. Hasilnya, 621 mahasiswa atau 60,6 persen tersaring positif. Sisanya, 403 mahasiswa, tersaring negatif. Tiap butir skala itu dinilai dari 1, sangat tidak setuju, sampai 6, sangat setuju.
Dalam Sehari: Jam di Depan Layar
Ukuran waktu pertama adalah satu hari. Peserta melaporkan berapa jam sehari mereka menatap layar. Di kelompok tersaring negatif, 60,8 persen memakai layar dua sampai lima jam sehari. Di kelompok tersaring positif, porsi terbesar ada pada lima sampai sembilan jam, yakni 47,8 persen.
Ujung atasnya lebih tajam. Sebanyak 13,2 persen mahasiswa tersaring positif memakai layar lebih dari sembilan jam sehari. Di kelompok negatif, porsinya 3,0 persen. Sebaliknya, pemakai kurang dari dua jam sehari tercatat 10,7 persen di kelompok negatif dan hanya 2,1 persen di kelompok positif.
Analisis regresi menguatkan pola itu. Dibanding pemakai kurang dari dua jam, rasio odds tersaring positif mencapai 3,32 pada kelompok dua sampai lima jam. Angkanya 10,41 pada lima sampai sembilan jam. Pada kelompok lebih dari sembilan jam, angkanya 23,65.
Para penulis menyebutnya pola dosis-respons. Peluang tersaring positif naik seiring naiknya kategori lama layar. Namun mereka juga mencatat bahwa durasi saja tidak menentukan kecanduan. Pemakaian berlebihan disebut sebagai penanda perilaku utama dari pemakaian ponsel yang bermasalah.
Tahun kuliah ikut tercatat. Dibanding mahasiswa tahun pertama, mahasiswa tahun ketiga punya rasio odds 2,34 untuk tersaring positif. Mahasiswa tahun keenam mencatat 1,90. Jenis kelamin dan jurusan tidak berkaitan bermakna dengan status skrining setelah penyesuaian.
Nilai akademik tidak berbeda bermakna. Mahasiswa dengan nilai rata-rata tahun lalu di bawah 70 tercatat 15,1 persen di kelompok positif dan 9,6 persen di kelompok negatif. Selisih itu tidak bermakna secara statistik. Data nilai juga kosong pada sekitar 20 persen peserta, terutama karena mahasiswa tahun pertama belum punya nilai resmi.
Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi
Sepekan Terakhir: Mata yang Perih
Ukuran waktu berikutnya adalah satu pekan. Keluhan mata ditanyakan lewat Ocular Surface Disease Index, 12 butir tentang iritasi mata selama sepekan terakhir. Skor maksimalnya 100. Skor 0 sampai 12 tergolong normal, sedangkan 33 sampai 100 tergolong berat. Rata-rata skor kelompok tersaring positif 34,13, sedangkan kelompok negatif 26,06.
Perbedaan juga tampak pada kategori berat. Sebanyak 51,7 persen mahasiswa tersaring positif masuk kategori keluhan mata berat. Di kelompok negatif, porsinya 31,8 persen. Para penulis mencatat bahwa mata kering biasanya menimpa orang dewasa yang lebih tua, tetapi banyak peserta muda dalam studi ini mengalami keluhan berat.
Gejala yang mengarah ke penyakit mata kering memakai ambang tersendiri, skor 36,3. Secara keseluruhan, 34,8 persen peserta melewati ambang itu. Porsinya 43,2 persen di kelompok positif dan 21,8 persen di kelompok negatif. Setelah penyesuaian, rasio odds kelompok positif tercatat 2,78.
Nyeri Leher dan Rasa Lelah
Leher diukur dengan Neck Disability Index, sepuluh butir tentang nyeri leher dan dampaknya pada kegiatan. Skor 15 atau lebih digolongkan disabilitas. Secara keseluruhan, 187 peserta atau 18,3 persen melewati ambang itu. Porsinya 21,9 persen di kelompok positif dan 12,7 persen di kelompok negatif.
Median skor leher kelompok positif 8, sedangkan kelompok negatif 5. Para penulis membaca rata-rata skor leher peserta sebagai disabilitas ringan. Namun dalam analisis kategori, kelompok positif punya rasio odds 1,97 untuk disabilitas terkait nyeri leher, atau peluang hampir dua kali lipat kelompok negatif.
Rasa lelah tercatat pada sebagian besar peserta. Peserta membandingkan kelelahan mereka saat itu dengan saat terakhir merasa sehat, lewat Chalder Fatigue Scale berskor 0 sampai 33. Dengan ambang 12, sebanyak 73,3 persen peserta tergolong lelah. Porsinya 84,1 persen di kelompok positif dan 56,8 persen di kelompok negatif.
Rata-rata skor lelah kelompok positif 16,48, kelompok negatif 12,96. Setelah penyesuaian jenis kelamin, jurusan, dan tahun kuliah, rasio odds kelelahan pada kelompok positif tercatat 4,08. Para penulis menyebutnya peluang empat kali lipat dibanding mahasiswa yang tersaring negatif.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Enam Bulan ke Belakang: Lupa dan Lalai
Rentang waktu lalu melebar ke enam bulan. Kelalaian sehari-hari diukur lewat Cognitive Failures Questionnaire 2.0, 15 butir tentang selip persepsi, ingatan, dan gerak selama enam bulan terakhir. Peserta menilai tiap butir pada skala lima tingkat. Skor lebih tinggi berarti selip lebih sering.
Rata-rata skor kelompok tersaring positif 22,56. Kelompok negatif mencatat 16,53. Setelah penyesuaian, status tersaring positif berkaitan dengan skor kelalaian yang lebih tinggi 5,95 poin. Para penulis menyebut selip itu mencakup lengah dalam memusatkan perhatian dan lupa pada tugas rutin.
Mereka juga membuka kemungkinan arah sebaliknya. Orang yang mudah lengah bisa jadi lebih tertarik pada kebiasaan ponsel bermasalah, seperti menjelajah tanpa tujuan atau terus memeriksa layar. Kebiasaan itu lalu bisa memperberat kesulitan kognitif mereka. Hubungan semacam itu, menurut para penulis, mungkin rumit dan berjalan dua arah.
Enam Bulan yang Sama: Skrining ADHD
Rentang enam bulan juga dipakai untuk skrining gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, atau ADHD. Alatnya Adult ADHD Self-Report Scale enam butir dari Organisasi Kesehatan Dunia. Empat butir positif atau lebih dihitung sebagai hasil skrining positif, bukan diagnosis.
Secara keseluruhan, 375 peserta atau 36,6 persen tersaring positif ADHD. Porsinya 48,6 persen di kelompok tersaring positif kecanduan ponsel. Di kelompok negatif, porsinya 18,1 persen. Rata-rata skor ASRS masing-masing 3,29 dan 1,98. Selisih kedua kelompok bermakna secara statistik, dengan P di bawah 0,001.
Setelah penyesuaian, rasio odds skrining ADHD positif pada kelompok tersaring positif kecanduan ponsel tercatat 4,30. Angka itu tertinggi di antara empat keluhan yang diukur dengan ambang. Kelelahan menyusul dengan 4,08, mata kering 2,78, dan disabilitas leher 1,97.
Dalam simpulan abstraknya, Abou Kheir dan rekan merangkum seluruh temuan dalam satu kalimat. “Status skrining kecanduan ponsel pintar berkaitan dengan beban gejala fisik dan neuropsikologis yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Sesudah Desember 2025: Yang Belum Terjawab
Para penulis juga menyinggung latar Suriah. Kondisi hidup di wilayah terdampak konflik disebut menambah tekanan psikologis dan mungkin mendorong ketergantungan pada perangkat elektronik. Temuan mereka, tulis para penulis, mungkin mencerminkan ketidakstabilan sosial-politik yang masih berlangsung di Suriah.
Keterbatasan studi juga diuraikan. Semua data dikumpulkan sekali, lewat kuesioner yang diisi sendiri. Peserta direkrut dengan cara kemudahan, sehingga mahasiswa yang lebih lekat dengan ponsel mungkin lebih banyak ikut. Para penulis menyebut hal itu bisa menggelembungkan angka prevalensi.
Sejumlah faktor lain tidak diukur. Di antaranya kualitas tidur, depresi, kecemasan, aktivitas fisik, kondisi medis sebelumnya, dan layar selain ponsel. Versi bahasa Arab skala kelelahan dan skala kelalaian juga belum tervalidasi penuh. Para penulis menyebut efek yang teramati tergolong sederhana, tetapi konsisten di banyak keluhan.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Urutan waktunya pun belum diketahui. “Mengingat desain potong lintang, urutan waktu antara status skrining kecanduan ponsel pintar dan luaran kesehatan yang diperiksa tidak dapat ditentukan,” tulis Abou Kheir dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Studi jangka panjang, menurut mereka, dibutuhkan untuk menjernihkannya.
Mereka menyarankan program penyadaran dan pencegahan bagi mahasiswa agar memakai teknologi dengan lebih sehat. Riset berikutnya diminta menelusuri jalur sebab-akibat dan menguji intervensi. Mereka menegaskan bahwa sebab-akibat tidak bisa disimpulkan dari studi potong lintang ini.















