- Sebelum kelas, 140 ibu atau 55,7 persen tergolong berpengetahuan kurang tentang paparan timbal.
- Tiga bulan sesudah kelas, 220 ibu atau 87,7 persen tergolong berpengetahuan baik.
- Praktik yang memuaskan naik dari 78,1 persen menjadi 90,3 persen sesudah kelas.
- Pendidikan ibu menjadi prediktor terkuat skor pengetahuan dengan koefisien beta terstandar 0,315.
Daftar Isi
Kosmetik dan pewarna rambut tampak jauh dari urusan otak seorang anak, sejauh rumah dari pabrik. Di Desa Bani-Khaled, Provinsi Minia, Mesir, keduanya justru masuk daftar pertanyaan yang diajukan kepada 251 ibu tentang timbal, logam yang menurut para peneliti bisa terdapat dalam makanan, air, cat, tanah, mainan, kosmetik, dan obat tanpa terlihat oleh mata telanjang.
Pertanyaan itu menjadi bagian dari studi Mohammed Ibrahim Touni dari Minia University Hospitals, Universitas Minia, dan rekan. Hasilnya terbit dengan judul From awareness to action: enhancing mothers’ knowledge and practices on lead exposure among young children in the Bani-Khaled Village, Minia Governorate di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Studi ini menimbang dua hal sekaligus: apa yang diketahui para ibu dan apa yang mereka lakukan di rumah.
Bani-Khaled terletak di Distrik Samalout dan dikenal punya risiko paparan lingkungan karena dekat dengan aktivitas industri. Para ibu yang ikut adalah ibu dari anak berusia 0 sampai 12 tahun, dipilih secara acak sistematis. Mereka diuji sebelum mengikuti delapan sesi kelas selama dua bulan, lalu diuji lagi tiga bulan kemudian.
Alasan para peneliti menyasar ibu tertulis di bagian pendahuluan paper. Anak kecil disebut bisa menyerap timbal hingga empat sampai lima kali lebih banyak daripada orang dewasa dari dosis tertelan yang sama. Paparan yang tinggi dapat berdampak pada otak, kemampuan belajar, dan sistem saraf pusat, sementara kurangnya kesadaran ibu dinilai sebagai salah satu faktor risiko keracunan yang tidak disengaja pada anak.
Pengetahuan Ibu: dari 44,3 ke 87,7 Persen
Sebelum kelas dimulai, lebih dari separuh ibu belum paham. Sebanyak 140 ibu atau 55,7 persen tergolong berpengetahuan kurang tentang paparan timbal, sementara 111 ibu atau 44,3 persen tergolong berpengetahuan baik. Ibu digolongkan berpengetahuan baik bila skornya sedikitnya 19 dari 38 pertanyaan. Dengan kata lain, lebih dari separuh ibu peserta memulai kelas dengan pengetahuan yang tergolong kurang.
Pada tes tiga bulan kemudian, gambarnya berbalik. Sebanyak 220 ibu atau 87,7 persen kini tergolong berpengetahuan baik, sedangkan yang masih tergolong kurang tinggal 31 ibu atau 12,3 persen. Menurut para peneliti, sesudah intervensi mayoritas ibu menunjukkan pengetahuan yang baik.
Skor rata-rata ikut bergerak ke arah yang sama. Pada tes pertama, rata-rata skor pengetahuan para ibu adalah 8,5 dengan simpangan baku 2,3. Pada tes kedua, rata-ratanya menjadi 15,2 dengan simpangan baku 2,1. Uji t berpasangan menghasilkan nilai t sebesar 38,47, dan para peneliti menyebut perbedaan sebelum dan sesudah kelas itu sangat signifikan secara statistik.
Para peneliti menyandingkan hasil ini dengan studi lain yang disebut dalam paper. Salah satunya studi di El Paso, Texas, Amerika Serikat, yang mencatat kenaikan pengetahuan orang tua sesudah sesi edukasi perorangan oleh petugas kesehatan komunitas. Menurut Touni dan rekan, temuan di Bani-Khaled sejalan dengan hasil tersebut.
Kebiasaan Ibu: dari 78,1 ke 90,3 Persen
Di sisi kebiasaan, titik awalnya jauh lebih tinggi. Sebelum kelas, 196 ibu atau 78,1 persen sudah tergolong punya praktik yang memuaskan dalam menghadapi paparan timbal, dan hanya 55 ibu atau 21,9 persen yang tergolong tidak memuaskan. Pertanyaan tentang praktik ini mencakup hal sehari-hari seperti pemakaian kosmetik dan pewarna rambut.
Sesudah kelas, angka praktik yang memuaskan naik menjadi 227 ibu atau 90,3 persen. Yang tergolong tidak memuaskan tinggal 24 ibu atau 9,7 persen. Dalam penelitian ini, seorang ibu digolongkan punya praktik memuaskan bila skornya sedikitnya 9 dari 18 pertanyaan praktik.
Baca juga Warga Mirzapur Rasakan Tanah Pulih, tetapi Tak Menyebut Timbal
Skor rata-rata praktik naik dari 9,2 dengan simpangan baku 1,8 menjadi 14,3 dengan simpangan baku 1,9. Uji t berpasangan menghasilkan nilai t sebesar 39,12, dan perbedaannya juga sangat signifikan secara statistik. Pada kedua ukuran, para peneliti mencatat bahwa masa sesudah intervensi berkaitan dengan perbaikan skor pengetahuan maupun skor praktik.
Para penulis menawarkan dugaan mengapa perubahan itu terjadi. Menurut mereka, komunitas di Mesir sering kali memiliki akses terbatas pada pendidikan kesehatan dan informasi kesehatan lingkungan. “Para ibu di daerah perdesaan sangat termotivasi untuk melindungi kesehatan anak-anak mereka. Ketika diberi pendidikan yang terstruktur dan sesuai dengan budaya, mereka cenderung cepat mengadopsi pengetahuan dan praktik baru,” tulis Touni dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Hasil itu juga mereka sandingkan dengan studi Sivabalan dan Kale di perdesaan Maharashtra, India. Di sana, skor kesadaran orang tua tentang keracunan timbal naik dari 12,1 pada tes awal menjadi 20,4 pada tes akhir, dan kenaikannya signifikan secara statistik. Para penulis menyebut temuan di Bani-Khaled konsisten dengan hasil tersebut.
Isi Kelas: Sumber Timbal di Desa Sendiri
Materi kelas disusun sesudah tes awal. Berdasarkan hasil tes itu, para peneliti menentukan bahan ajar, metode, dan jumlah sesi yang dibutuhkan. Isinya disesuaikan dengan tingkat pemahaman para ibu dan dikembangkan dari sumber ilmiah yang kredibel.
Delapan sesi itu diselenggarakan dalam kelompok berisi 10 sampai 15 peserta. Setiap sesi berlangsung 50 sampai 60 menit dengan jeda 10 menit, memakai ceramah, diskusi kelompok, curah gagasan, serta alat bantu visual berupa film dan foto. Menurut paper, seluruh peserta menghadiri setiap sesi, dan satu sesi berdurasi satu jam khusus membahas keracunan timbal.
Bahan ajarnya dekat dengan desa itu sendiri. Para ibu diajak mengenali sumber timbal utama di lingkungan dan rumah tangga Bani-Khaled, jalur paparan utama pada anak kecil, serta praktik berisiko tinggi yang lazim di perdesaan. Statistik yang diperkenalkan pun dipilih yang relevan dengan komunitas perdesaan Mesir.
Selain soal bahaya, kelas juga membahas manfaatnya. Sesi menekankan manfaat fisik, kognitif, dan sosial dari mencegah paparan timbal, terutama pada masa kanak-kanak awal. Para ibu juga diajak membicarakan tantangan dan hambatan untuk menjalankan perilaku aman timbal, lalu diperkenalkan pada strategi untuk menambah keyakinan diri mereka dalam melindungi anak.
Peserta Kelas: Rata-rata Berusia 31 Tahun
Usia para ibu yang ikut cukup beragam. Sebanyak 112 ibu atau 44,6 persen berusia 25 sampai 34 tahun, 85 ibu atau 33,9 persen berusia 35 tahun ke atas, dan 54 ibu atau 21,5 persen berusia di bawah 25 tahun. Rata-rata usia mereka 31 tahun dengan simpangan baku 7,5 tahun.
Latar pendidikannya beragam. Sebanyak 95 ibu atau 37,8 persen berpendidikan dasar, 78 ibu atau 31,1 persen tidak bisa membaca dan menulis, dan jumlah yang sama, 78 ibu atau 31,1 persen, berpendidikan menengah ke atas. Dari sisi ekonomi, 168 ibu atau 66,9 persen hidup dengan pendapatan rumah tangga di bawah 3.000 pound Mesir per bulan.
Baca juga Piring Gizi Ibu Berubah, Timbangan Anak Belum Dicek
Sumber informasi mereka juga terbagi. Televisi dan radio menjadi sumber utama bagi 91 ibu atau 36,3 persen, disusul kerabat dan tetangga bagi 62 ibu atau 24,7 persen. Unit kesehatan menjadi sumber bagi 58 ibu atau 23,1 persen, sedangkan media sosial bagi 40 ibu atau 15,9 persen.
Sekolah Ibu, Pekerjaan Ayah
Apa saja yang berkaitan dengan skor pengetahuan yang lebih tinggi? Para peneliti menguji beberapa faktor yang memprediksi skor pengetahuan sesudah kelas. Pendidikan ibu, dihitung dalam tahun, menjadi prediktor terkuat dengan koefisien beta terstandar 0,315. Ayah yang bekerja di kerajinan yang melibatkan timbal berada di urutan kedua dengan 0,189, disusul kecukupan pendapatan bulanan keluarga dengan 0,143.
Pada skor praktik sesudah kelas, susunannya sedikit berbeda. Skor pengetahuan sesudah intervensi menjadi prediktor yang kuat dengan beta 0,266, pendidikan ibu menyusul dengan 0,233, dan usia berkaitan lemah tetapi signifikan dengan 0,119. Pendidikan ibu muncul di kedua daftar, baik untuk pengetahuan maupun untuk praktik.
Untuk pendidikan ibu, para penulis memberi tafsir singkat. “Hasil ini mungkin berkaitan dengan ibu berpendidikan yang lebih mungkin memahami risiko dan mengambil tindakan pencegahan,” tulis Touni dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Untuk pekerjaan ayah, mereka merujuk tinjauan sistematis yang menyebut ayah di industri terkait timbal mungkin memengaruhi kesadaran ibu secara tidak langsung lewat risiko yang dibagi bersama di rumah.
Hubungan antara tahu dan berbuat ternyata tidak sama di dua waktu. Sebelum kelas, skor pengetahuan dan skor praktik berkorelasi positif dengan koefisien r sebesar 0,960. Sesudah kelas, korelasi antara keduanya lemah, dengan r sebesar 0,077, meski para peneliti mencatatnya tetap signifikan secara statistik. Para penulis menyebut hasil ini sejalan dengan studi Ismael dan rekan, yang mencatat korelasi positif yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang paparan timbal dan praktik mereka.
Baca juga Tanah Tambang Timbal Guizhou Lebih Mengancam Anak daripada Dewasa
Satu Desa, Tiga Bulan
Para penulis mengakui beberapa keterbatasan. Penelitian hanya dilakukan di satu lingkungan perdesaan, yaitu Desa Bani-Khaled, sehingga temuannya belum tentu berlaku di wilayah lain dengan konteks sosial ekonomi dan budaya yang berbeda. Sampelnya juga terbatas pada ibu dari anak berusia 0 sampai 12 tahun, sehingga pandangan pengasuh lain tidak tertangkap.
Waktu pengukuran pun menjadi catatan. Evaluasi sesudah intervensi dilakukan tiga bulan setelah program berjalan, sehingga menurut para penulis belum sepenuhnya mencerminkan keberlanjutan perilaku dalam jangka panjang. Mereka menilai evaluasi berkelanjutan masih diperlukan untuk menimbang apakah perubahan itu bertahan.
Untuk penelitian berikutnya, para penulis menyarankan masa tindak lanjut yang lebih panjang dan sampel komunitas yang lebih luas. Tujuannya agar efektivitas program bisa dipahami di berbagai konteks dan pada berbagai kelompok pengasuh. Mereka juga menyoroti peran penting pendidikan kesehatan berbasis komunitas di kelompok rentan yang kesadarannya masih terbatas.
Di satu sisi, porsi ibu Bani-Khaled yang berpengetahuan baik bergerak dari 44,3 persen menjadi 87,7 persen. Di sisi lain, praktik yang sejak awal sudah dijalankan 78,1 persen ibu naik menjadi 90,3 persen. Kedua ukuran itu, dari pengetahuan tentang timbal sampai kebiasaan seperti memakai kosmetik dan pewarna rambut, tercatat pada tes yang digelar tiga bulan sesudah intervensi.















