Lansia Tiongkok yang Tinggal dengan Anak Lebih Jarang Murung

A A

Ilustrasi perempuan lansia dan seorang pria duduk di bangku halaman rumah, tampak dari belakang [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Lansia yang tinggal bersama anak dewasa mencatat skor depresi lebih rendah daripada lansia yang tinggal sendiri atau bersama pasangan.
  • Lansia berhukou kota lebih jarang murung daripada lansia berhukou desa dalam data 10.089 responden CLHLS 2018.
  • Tinggal di lembaga perawatan berkaitan dengan depresi yang lebih rendah secara bermakna hanya pada lansia kota.
  • Penelitian ini potong lintang, jadi tidak bisa menetapkan sebab-akibat antara pola tinggal, hukou, dan depresi.
Daftar Isi
  1. Anak Merantau ke Kota, Orang Tua Tertinggal di Kampung Halaman
  2. Sepuluh Ribu Lansia yang Rata-rata Sudah Berusia Sembilan Puluh
  3. Rumah yang Diisi Anak Dewasa Menyimpan Skor Depresi Lebih Rendah
  4. Lembaga Perawatan di Kota dan di Desa Berbeda Cerita
  5. Yang Belum Terjawab soal Lembaga Perawatan

Anak-anaknya tinggal jauh, maka seorang lansia di Tiongkok memilih pindah ke panti wreda. Keputusan semacam itu tidak selalu selesai di depan pintu panti. Dua peneliti, Yiqi Wangliu dan Ji-Kang Chen, mencatat bahwa lansia yang mengambil jalan itu masih bisa dibayangi anggapan lama: menitipkan orang tua ke panti wreda atau tempat pensiun dianggap tindakan “tidak berbakti”.

Wangliu berasal dari Sekolah Etnologi dan Sosiologi, Universitas Yunnan, Kunming, sedangkan Chen dari Departemen Pekerjaan Sosial, Universitas China Hong Kong. Keduanya menulis makalah Living arrangements, household registration status and depression among older adults in mainland China di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka menimbang dengan siapa lansia tinggal, status registrasi rumah tangga atau hukou, dan gejala depresi.

Hasilnya berlapis. Lansia yang tinggal bersama anak dewasa punya skor depresi lebih rendah daripada lansia yang tinggal sendiri atau hanya bersama pasangan. Penghuni lembaga perawatan juga mencatat skor lebih rendah. Lansia berhukou kota lebih jarang murung daripada lansia berhukou desa. Satu lapis lagi: skor depresi yang lebih rendah pada penghuni lembaga perawatan hanya bermakna pada lansia kota.

Anak Merantau ke Kota, Orang Tua Tertinggal di Kampung Halaman

Wangliu dan Chen mundur dulu ke perubahan besar di negeri itu. Penduduk usia kerja berpindah dari desa ke kota dalam jumlah besar. Lansia yang tertinggal di kampung halaman lalu dijuluki lansia “sarang kosong”. Menurut keduanya, perpindahan itu mengubah susunan keluarga yang dulu tinggal bersama dan memutus kebiasaan merawat yang bertumpu pada kedekatan serta pertemuan sehari-hari.

Bakti kepada orang tua, atau xiao, tetap hidup dalam kesadaran orang Tiongkok, tulis mereka, tetapi wujudnya bergeser. Banyak anak kini menunjukkan bakti dengan mengirim uang, bukan dengan hadir. Jarak itu, menurut Wangliu dan Chen, melahirkan luka di dua sisi: orang tua bisa merasa terabaikan, sementara anak bisa merasa bersalah karena tak mampu merawat dari dekat.

Pemerintah Tiongkok menyokong program lembaga perawatan bagi lansia “Tiga Tanpa”, yakni mereka yang tidak punya keluarga, penghasilan, dan kemampuan bekerja. Pilihan itu, catat kedua peneliti, kerap dipandang rendah. Di sinilah anggapan “tidak berbakti” tadi muncul, bahkan bagi lansia yang masuk panti hanya karena anak-anaknya jauh. Ketegangan antara kebiasaan modern dan nilai lama, tulis mereka, belum selesai.

Ada satu lapis lagi yang ingin mereka bongkar, yaitu hukou. Sistem registrasi rumah tangga ini, menurut makalah tersebut, telah memisahkan warga desa dan kota secara sosial dan ekonomi sejak 1950-an. Lansia desa biasanya punya akses lebih rendah pada barang bersubsidi negara dan layanan kesehatan, menerima dukungan sosial lebih sedikit, dan lebih jarang mendapat kesempatan bergaul.

Sepuluh Ribu Lansia yang Rata-rata Sudah Berusia Sembilan Puluh

Dengan siapa lansia Tiongkok tinggalSendiri atau pasangan 53,72%; Bersama anak dewasa 42,54%; Di lembaga perawatan 3,74%.Dengan siapa lansia Tiongkok tinggalPersentase responden menurut pola tinggal, data CLHLS2018, n = 10.0890%20%40%60%Sendiri atau pasangan53,72%Bersama anak dewasa42,54%Di lembaga perawatan3,74%
Sumber: Yiqi Wangliu dan Ji-Kang Chen, Living arrangements, household registration status and depression among older adults in mainland China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Untuk menguji dugaan itu, Wangliu dan Chen memakai data Survei Longitudinal Umur Panjang Sehat Tiongkok (CLHLS) gelombang 2018. Survei ini mencakup 23 provinsi, dan sesudah data yang tak lengkap disisihkan, tersisa 10.089 lansia. Gejala depresi diukur dengan kuesioner sepuluh butir yang skornya membentang dari 0 sampai 30; makin tinggi skornya, makin berat depresinya.

Para responden ini sangat lanjut usia. Umur rata-rata mereka 90,71 tahun. Perempuan berjumlah 56,38 persen, dan 94,05 persen berasal dari suku Han. Rata-rata lama sekolah mereka hanya 3,54 tahun. Sebanyak 72,5 persen tercatat berhukou desa, sedangkan 27,5 persen berhukou kota.

Pola tinggal mereka terbagi tiga. Sebanyak 53,72 persen tinggal sendiri atau bersama pasangan, 42,54 persen tinggal bersama anak dewasa, dan hanya 3,74 persen tinggal di lembaga perawatan. Kelompok pertama dijadikan pembanding. Dari sana, kedua peneliti menyusun model bertahap untuk melihat bagaimana pola tinggal dan hukou berkaitan dengan skor depresi.

Baca juga Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna

Rumah yang Diisi Anak Dewasa Menyimpan Skor Depresi Lebih Rendah

Model pertama hanya memuat ciri pribadi responden. Di sana, laki-laki, lansia yang masih berpasangan, lansia yang lebih lama bersekolah, dan lansia bersuku Han mencatat skor depresi lebih rendah. Begitu pula lansia yang lebih sering ikut kegiatan sosial, seperti kegiatan luar ruang, main kartu dan mahyong, atau kegiatan sosial yang diatur.

Model kedua memasukkan pola tinggal dan hukou. Dibandingkan lansia yang tinggal sendiri atau bersama pasangan, lansia yang tinggal bersama anak dewasa mencatat koefisien −0,811 terhadap skor depresi, bermakna secara statistik dengan p di bawah 0,001. Penghuni lembaga perawatan mencatat −0,671. Lansia berhukou kota, dibandingkan lansia berhukou desa, mencatat −0,619. Ketiganya berarti skor depresi yang lebih rendah.

Menurut Wangliu dan Chen, temuan ini sejalan dengan model konvoi hubungan sosial, yang memandang ikatan dekat sebagai “konvoi” pelindung sepanjang hidup. Keduanya juga menguji ulang modelnya dengan memisahkan “tinggal sendiri” dan “tinggal bersama pasangan” sebagai dua pembanding berbeda. Hasil utamanya, yakni keuntungan tinggal serumah lintas generasi, tetap sejalan tanpa perubahan berarti pada besar pengaruh maupun kemaknaannya.

Hasil untuk penghuni lembaga perawatan berbeda dari dugaan. Dalam dugaan awal, kedua peneliti menempatkan mereka bersama lansia yang tinggal sendiri atau bersama pasangan sebagai kelompok yang diperkirakan lebih murung daripada lansia yang serumah dengan anak dewasa. Hasilnya, penghuni lembaga mencatat skor depresi lebih rendah daripada lansia yang tinggal sendiri atau bersama pasangan. Dari titik inilah hukou masuk ke cerita.

Lembaga Perawatan di Kota dan di Desa Berbeda Cerita

Model ketiga menguji apakah hukou mengubah hubungan antara pola tinggal dan depresi. Untuk lansia yang tinggal bersama anak dewasa, hukou tidak membuat perbedaan bermakna. Untuk penghuni lembaga perawatan, hukou ternyata berperan. Pada kelompok kota, selisih skor depresi antara lansia yang tinggal sendiri atau bersama pasangan dan penghuni lembaga bermakna, dengan nilai p 0,001.

Pada kelompok desa, selisih yang sama tidak bermakna, dengan nilai p 0,07. Wangliu dan Chen merangkumnya dalam satu kalimat: tinggal di lembaga perawatan berkaitan dengan depresi yang lebih rendah secara bermakna hanya pada lansia kota. Menurut mereka, manfaat perawatan formal tidak sama bagi orang yang tinggal di wilayah geografis atau administratif yang berbeda.

“Dengan demikian, hukou menandakan lebih dari sekadar ketimpangan sumber daya; ia menjadi faktor konteks penting yang memoderasi hubungan antara pola tinggal dan kesehatan jiwa,” tulis Wangliu dan Chen, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Bagi keduanya, peran hukou sebagai pengubah hubungan itulah sumbangan utama penelitian mereka. Pemahaman ini, tulis mereka, menerangkan bagaimana faktor struktural memengaruhi kapasitas dan efektivitas model perawatan alternatif di usia tua.

Skor depresi menurut pola tinggal dan hukouTinggal bersama anak dewasa: Model 2 -0,811; Tinggal di lembaga perawatan: Model 2 -0,671; Status registrasi rumah tangga: kota: Model 2 -0,619.Skor depresi menurut pola tinggal dan hukouKoefisien regresi Model 2 terhadap skor depresi CES-D-10,n = 10.089-1,00-0,75-0,50-0,250Tinggal bersama anak dewasa-0,811Tinggal di lembaga perawatan-0,671Status registrasi rumah tangga: kota-0,619Pembanding: tinggal sendiri atau bersama pasangan, dan status desa.Nilai negatif = skor depresi lebih rendah.
Sumber: Yiqi Wangliu dan Ji-Kang Chen, Living arrangements, household registration status and depression among older adults in mainland China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kedua peneliti mencoba menerangkan mengapa. Kota, tulis mereka, biasanya punya fasilitas kesehatan, layanan sosial, dan sarana rekreasi yang lebih baik, dan banyak lansia kota menjadi bagian dari beragam jejaring serta kegiatan sosial. Fasilitas perawatan di kota kerap memiliki sistem dukungan kesehatan jiwa yang lebih tertata, sementara wilayah desa bisa kesulitan karena sumber daya yang terbatas.

Namun keduanya menahan diri. Mereka tidak mengukur langsung kesepian, dukungan emosional, atau rasa keterikatan sosial, sehingga penjelasan itu mereka sebut hanya asumsi. Mereka menganjurkan penelitian berikutnya memakai skala hubungan antarpribadi dan rasa memiliki yang sudah diakui, agar mekanisme di balik temuan ini bisa diurai lebih tepat.

Baca juga Lapar di Masa Kecil Membuntuti Warga Desa Tiongkok hingga Tua

Yang Belum Terjawab soal Lembaga Perawatan

Keterbatasannya ditulis terang. Gejala depresi dilaporkan sendiri oleh responden sehingga bisa bias. Penelitian ini potong lintang, jadi tidak bisa menetapkan sebab-akibat antara pola tinggal, hukou, dan depresi. Data juga dianalisis tanpa bobot sampel yang biasanya dianjurkan untuk CLHLS, sehingga temuannya mungkin tidak bisa digeneralisasi ke seluruh lansia di Tiongkok.

Penghuni lembaga perawatan pun bisa berbeda sejak awal. Menurut kedua peneliti, lansia yang memutuskan atau diizinkan masuk lembaga mungkin punya kondisi kesehatan, dukungan keluarga, atau sumber daya sosial ekonomi yang berlainan dengan mereka yang tetap tinggal di masyarakat. Dinamika yang membuat hukou berperan juga belum mereka telusuri.

Menambah lembaga perawatan, tulis mereka, mungkin tampak sebagai jalan keluar bagi lansia kota. Namun “upaya perlu dilakukan untuk menangani masalah struktural yang membatasi kemungkinan kelompok paling rentan mengakses perawatan semacam ini, seperti soal keterjangkauan dan aksesibilitas, alih-alih sekadar berasumsi bahwa tinggal di lembaga perawatan dengan sendirinya akan mengurangi depresi,” tulis Wangliu dan Chen, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Baca juga Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia

Saran mereka mengarah ke keluarga dan lingkungan sekitar. Kebijakan perawatan keluarga dan program dukungan komunitas perlu dipertimbangkan, disusun sesuai kebutuhan lansia kota dan desa. Tenaga kesehatan diminta mencari cara menambah keterlibatan sosial bagi lansia yang tinggal sendiri atau di panti, sedangkan organisasi komunitas bisa mengajak mereka ke kegiatan kelompok, kelas olahraga, dan lokakarya.

Dalam bagian simpulan abstraknya, Wangliu dan Chen menulis bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan model konvoi hubungan sosial, teori integrasi sosial, dan hipotesis penyangga stres. Menurut mereka, tinggal di wilayah kota memberi lebih banyak kesempatan untuk jejaring sosial dan sumber daya. Mereka berharap temuan ini menjadi masukan bagi kebijakan kota dan desa untuk menambah dukungan sosial dan menekan depresi pada lansia.

Bagikan

Baca Juga

Malam Lebih Gerah, Tidur Warga Tiongkok Sedikit Lebih Pendek
Lembur dan Masuk Akhir Pekan, Polisi Korea Jam Kantor Lebih Cemas
Warga Suzhou Kian Menua, Kematian Kanker dan Kardiovaskular Naik
Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes
Pekerja TI Wuhan Duduk Tujuh Jam, Satu dari Lima Bergejala Cemas
Pelatihan Kelola Stres Bantu Manajer UKM Jerman, tapi Tak Awet