- Sebanyak 27,9 persen remaja 12 tahun di Shanghai berkaries, sedangkan 72,1 persen sama sekali bebas karies.
- Sepersepuluh anak dengan beban terberat menanggung 60 persen seluruh skor gigi berlubang.
- Sebanyak 17,1 persen anak masih membawa lubang yang belum dirawat.
- Sebanyak 34,0 persen anak perempuan berkaries, sedangkan anak laki-laki 21,8 persen.
Daftar Isi
Bin Yang memilah catatan gigi 1.305 remaja berusia 12 tahun dari sekolah menengah pertama di enam distrik Shanghai, Tiongkok, lalu mendapati satu pola yang mencolok. Gigi berlubang di kota itu tidak terbagi rata. Sebagian besar anak sama sekali bebas karies pada gigi permanennya, sementara segelintir anak lain menanggung lubang dalam jumlah yang jauh di atas rata-rata.
Yang menulis temuan itu bersama rekan-rekannya, dengan Jing Zhu dan Xiaoli Zeng sebagai penulis korespondensi. Mereka bekerja di Departemen Kedokteran Gigi Pencegahan, Rumah Sakit Stomatologi Shanghai dan Sekolah Stomatologi, Universitas Fudan, bersama pusat kesehatan gigi lima distrik. Makalah mereka, Dental caries among 12-year-old adolescents in shanghai: a cross-sectional study on prevalence, severity, and associated risk factors, dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
Menurut hitungan Bin Yang dan rekan, 27,9 persen remaja itu punya pengalaman gigi berlubang, sedangkan 72,1 persen sama sekali bebas karies. Rata-rata skor gigi berlubang, dicabut karena lubang, atau ditambal hanya 0,61 gigi per anak. Namun 17,1 persen anak masih membawa lubang yang belum dirawat, dan sepersepuluh anak dengan beban terberat menanggung 60 persen seluruh skor itu.
Empat Dekade Catatan Gigi Anak Shanghai
Data yang dipakai Bin Yang berasal dari survei kesehatan mulut 2021, bagian dari pemantauan penyakit kronis dan gizi penduduk Tiongkok. Enam distrik dipilih acak, tiga sekolah di tiap distrik, dan 80 anak di tiap sekolah. Huning Wang, Jin Yu, dan Yiwei Jiang menjalankan proyek di lapangan dan mengumpulkan data, sementara enam dokter gigi berlisensi memeriksa mulut anak-anak.
Dalam pengantar makalahnya, Bin Yang dan rekan menyebut Shanghai sudah menjalankan pencegahan penyakit mulut sejak 1950-an. Pada 2011, menurut mereka, kota itu memasukkan pemeriksaan gigi anak, penambalan karies dini, dan penutupan ceruk dan celah gigi atau sealant ke dalam paket layanan kesehatan masyarakat dasar. Layanan itu diberikan gratis dengan dana pemerintah.
Penurunan terlihat ketika Bin Yang menjajarkan angka 2021 dengan survei nasional sebelumnya. Dari 1983 sampai 2021, persentase anak 12 tahun yang berkaries di Shanghai turun dari 52,3 persen menjadi 27,9 persen. Rata-rata skor gigi berlubang, dicabut, dan ditambal ikut turun dari 1,17 menjadi 0,61. Pada survei nasional keempat 2015, angka Shanghai sudah jauh di bawah rata-rata nasional, 38,5 persen.
Xiaoli Zeng dan rekan juga menyandingkan hasil itu dengan wilayah lain yang mereka rujuk. Rata-rata skor anak 12 tahun tercatat 0,29 di Hong Kong pada 2023 dan 2,01 di Taiwan pada 2020. Di Swiss pada 2021, persentase berkaries 27,3 persen dengan rata-rata skor 0,57, sedangkan Spanyol pada 2019 mencatat 39,6 persen dengan rata-rata 0,89.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Target berikutnya pun sudah dipasang. Menurut Bin Yang, dalam kerangka strategi Tiongkok Sehat 2030, Shanghai menargetkan persentase anak 12 tahun yang berkaries pada gigi permanen turun di bawah 25 persen. Para penulis menilai sasaran itu memerlukan intervensi kesehatan masyarakat yang sistematis dan pelaksanaan yang berkelanjutan.
Sepersepuluh Anak Memikul Sebagian Besar Lubang
Untuk melihat siapa yang paling terbebani, analisis Bin Yang bersama Hao Zhang dan Dongxin Da mengurutkan anak dari skor gigi berlubang tertinggi. Sepertiga teratas mencatat rata-rata 1,83 gigi, sedangkan anak yang punya pengalaman karies rata-rata 2,18 gigi. Rata-rata itu naik menjadi 3,68 pada 10 persen teratas, 4,71 pada 5 persen teratas, dan 7,38 gigi pada 1 persen teratas.
“Beban karies sangat terpolarisasi: 10 persen teratas menanggung 60 persen dari total DMFT,” tulis Bin Yang dan rekan dalam ringkasan makalah, diterjemahkan dari bahasa Inggris. DMFT adalah skor jumlah gigi permanen yang berlubang, dicabut karena lubang, dan ditambal. Para penulis juga mencatat bahwa 5 persen remaja sudah punya empat gigi atau lebih yang terkena karies.
Menurut Bin Yang dan rekan, anak dengan beban seberat itu pada awal tumbuhnya gigi permanen cenderung mengalami lebih banyak lubang dalam jangka panjang. Karena itu mereka menyarankan pencegahan yang mengutamakan kontrol rutin bagi anak dengan karies parah. Langkah itu, tulis mereka, bukan hanya menurunkan rata-rata penduduk, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi anak-anak tersebut.
Persoalan kedua yang disorot Jing Zhu dan rekan adalah lubang yang dibiarkan. Sebanyak 17,1 persen anak 12 tahun di Shanghai masih membawa gigi permanen berlubang yang belum dirawat. Sebagai pembanding, para penulis mengutip data pemantauan Amerika Serikat 2017 sampai 2020 yang mencatat 8,6 persen remaja usia 12 sampai 15 tahun dengan karies aktif yang belum dirawat.
Bin Yang dan rekan juga mencatat 29 persen anak 12 tahun di kota itu belum pernah mendapat perawatan gigi profesional. Menurut mereka, upaya ke depan perlu menelusuri penghalang anak mencari perawatan, misalnya kurangnya kesadaran tentang karies, akses layanan yang terbatas, waktu yang tersita urusan sekolah, atau soal biaya.
Gusi Berdarah, Karang Gigi, dan Gigi Berjejal
Di ruang periksa, para dokter gigi dalam survei yang diolah Bin Yang tidak hanya menghitung lubang. Mereka mencatat gusi yang berdarah saat diperiksa, karang gigi, sealant, dan gigi yang berjejal. Ketiga tanda selain sealant itu, menurut Yang, berkaitan dengan lebih tingginya persentase anak berkaries maupun skor gigi berlubangnya.
Angka dalam tabel Bin Yang menunjukkan bedanya. Di antara anak dengan gusi berdarah, 42,5 persen berkaries, dibandingkan 26,6 persen pada anak tanpa gusi berdarah. Pada anak berkarang gigi angkanya 33,8 persen, berbanding 26,7 persen. Anak dengan gigi berjejal mencatat 32,7 persen, sedangkan anak yang giginya tidak berjejal 24,4 persen.
Xiaoli Zeng dan rekan menduga pola itu berpangkal pada plak gigi, yang menjadi penyebab utama masalah gusi maupun lubang. Gigi yang berjejal, tulis mereka, menyulitkan pembersihan plak dan menghambat fluorida masuk ke sela gigi. Dalam penelitian ini, remaja dengan gigi berjejal mencatat persentase karies lebih tinggi bersama angka gusi berdarah dan karang gigi yang lebih tinggi.
Sealant justru tampil sebagai pelindung dalam analisis Dongxin Da dan rekan. Setelah faktor lain diperhitungkan, anak yang giginya diberi sealant punya peluang bebas karies lebih tinggi, dengan rasio odds 1,60. Sikap positif terhadap kesehatan mulut juga berhubungan dengan peluang bebas karies yang lebih tinggi, dengan rasio odds 1,66.
Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi
Masalahnya, menurut Bin Yang, cakupan sealant masih rendah. Hanya 14,4 persen anak yang sudah menerima sealant pada gigi geraham permanen mana pun. Para penulis menyebut angka itu jauh di bawah 36,5 persen yang tercatat pada remaja Amerika Serikat usia 13 sampai 15 tahun dalam data 2017 sampai 2020.
Anak Perempuan Lebih Rajin, Lubangnya Lebih Banyak
Perbandingan jenis kelamin dalam makalah Bin Yang memperlihatkan pola yang berbeda. Sebanyak 34,0 persen anak perempuan berkaries, sedangkan anak laki-laki 21,8 persen. Rata-rata skor gigi berlubang anak perempuan 0,77, dibandingkan 0,45 pada anak laki-laki. Dalam model akhir, jenis kelamin perempuan tetap berhubungan dengan peluang berkaries yang lebih tinggi.
Padahal, menurut tabel yang disusun Bin Yang, anak perempuan justru lebih rajin. Sebanyak 75,8 persen anak perempuan menyikat gigi lebih dari dua kali sehari, berbanding 67,2 persen anak laki-laki. Sikap kesehatan mulut yang tinggi tercatat pada 90,8 persen anak perempuan dan 85,6 persen anak laki-laki. Frekuensi tinggi makan dan minum manis sama, 29,1 persen pada keduanya.
Xiaoli Zeng dan rekan menyebutnya sebagai temuan yang paradoksal. Anak perempuan juga lebih sering melaporkan sakit gigi sesekali dalam 12 bulan terakhir, 35,5 persen berbanding 28,2 persen. Para penulis merujuk penelitian lain bahwa remaja laki-laki punya aliran ludah tanpa rangsangan yang lebih tinggi dan daya penyangga ludah yang lebih baik.
Dari situ Bin Yang dan rekan menduga perbedaan kerentanan antara anak laki-laki dan perempuan mungkin lebih kuat berhubungan dengan faktor hormon dan tekanan psikologis ketimbang penjelasan perilaku. Mereka menegaskan dugaan itu masih perlu diteliti lebih jauh. Di antara anak yang sudah berkaries, jenis kelamin tidak lagi berhubungan secara bermakna dengan banyaknya gigi berlubang.
Benang Gigi, Gula, dan Sakit Gigi
Di antara anak yang sudah berkaries, analisis Hao Zhang dan Dongxin Da menemukan beberapa hal yang berhubungan dengan lubang lebih banyak. Anak yang memakai benang gigi setiap hari mencatat rasio laju 2,15 dibandingkan yang tidak pernah. Anak dengan frekuensi makan dan minum manis sedang mencatat 1,74 dibandingkan frekuensi rendah, dan anak berkarang gigi 1,51.
Temuan benang gigi itu dijelaskan sendiri oleh Bin Yang dan rekan. “Temuan yang berlawanan dengan intuisi ini kemungkinan mencerminkan kausalitas terbalik: anak-anak dengan karies parah menerima lebih banyak edukasi kesehatan mulut, yang mendorong peningkatan kepatuhan memakai benang gigi,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Secara keseluruhan, hanya 8,2 persen anak yang memakai benang gigi setiap minggu.
Untuk gula, Jing Zhu dan rekan berhati-hati. Frekuensi tinggi menunjukkan kecenderungan serupa dengan rasio laju 1,48, tetapi tidak bermakna secara statistik. Menurut para penulis, pola yang tidak naik bertahap itu tidak mendukung hubungan takaran dan dampak yang sederhana, dan bisa mencerminkan daya statistik yang terbatas, bias pelaporan, atau faktor pengganggu yang tersisa.
Sakit gigi sesekali berhubungan dengan peluang berkaries yang lebih tinggi, tetapi sakit gigi yang sering tidak mencapai kemaknaan. Bin Yang dan rekan menduga hal itu terkait sedikitnya anak di kelompok sering, hanya 19 orang, atau bias ingatan. Mereka juga mencatat kecenderungan lain: porsi kunjungan terakhir ke dokter gigi yang bertujuan pencegahan naik dari 7,5 persen pada 2005 menjadi 19,3 persen pada 2015 dan 34,0 persen pada 2021.
Baca juga Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik
Pendidikan orang tua juga sempat diperiksa Bin Yang. Anak dari ayah berpendidikan SMP ke bawah mencatat persentase karies 37,5 persen pada analisis awal. Namun dalam model akhir, hubungan itu tidak lagi bermakna, sehingga tidak dimasukkan. Para penulis mencatat sekitar separuh orang tua dalam penelitian ini berpendidikan perguruan tinggi.
Batas yang Diakui Tim Universitas Fudan
Bin Yang dan rekan mengakui beberapa keterbatasan. Frekuensi menyikat gigi memang dicatat, tetapi lama dan teknik menyikat tidak dinilai. Sampel diambil dari enam distrik Shanghai dengan porsi orang tua berpendidikan tinggi yang relatif besar, sehingga hasilnya mungkin tidak bisa diberlakukan pada penduduk yang kurang mampu di wilayah lain. Desain potong lintang juga tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.
Untuk langkah berikutnya, Xiaoli Zeng dan rekan menyarankan penelitian jangka panjang dengan sampel lebih besar dan beragam, serta pengukuran pola makan dan perilaku yang lebih objektif. Mereka juga meminta pemantauan dan perawatan lanjutan bagi remaja berisiko tinggi diperkuat, cakupan sealant diperluas, dan kebiasaan makan serta kebersihan mulut yang sehat terus didorong.
Bin Yang kembali ke pola yang ia temukan sejak awal. Gigi berlubang anak 12 tahun di Shanghai terus menurun dibandingkan 2015, tetapi menurut simpulan makalahnya, “kasus yang tidak dirawat dalam jumlah besar dan sebaran beban karies yang sangat terpolarisasi masih tersisa,” diterjemahkan dari bahasa Inggris. Sebagian besar anak bebas lubang, dan segelintir anak masih menanggung sebagian besar beban itu.















