- Pada 2022, 31 persen perempuan bekerja di rumah lebih dari 20 jam per minggu, sementara laki-laki hanya 20 persen.
- Di sisi laki-laki, angka hampir tidak bergerak selama 18 tahun.
- Pada perempuan, tingkat pendidikan nyaris tidak membuat perbedaan.
- Pada laki-laki, pendidikan justru membelah dengan tegas.
Daftar Isi
Target resmi pemerintah Swedia untuk membagi rata urusan rumah dan jam kerja rumah laki-laki usia 30 sampai 49 tahun di Swedia tengah tampak tidak saling berkaitan, tetapi keduanya bertemu dalam satu angka yang terus menyempit. Jarak jam kerja rumah antara perempuan dan laki-laki memang mengecil dari 2004 ke 2022, hanya saja bukan laki-laki yang bergerak.
Temuan itu ditulis Anu Molarius, Fredrik Granström, dan Jennifer Ervin dalam Gendered trends in unpaid labour by educational level in Sweden 2004–2022, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2605, tahun 2026. Molarius berafiliasi dengan Region Värmland dan Karlstad University, Granström dengan Region Värmland, sedangkan Ervin berasal dari The University of Melbourne dan RMIT University di Australia.
Bahan mereka adalah survei pos yang diulang lima kali, pada 2004, 2008, 2012, 2017, dan 2022, kepada warga berusia 30 sampai 49 tahun di lima county Swedia tengah, dengan jumlah responden 5.564 sampai 12.148 per putaran. Kerja tak dibayar di sini mencakup mengasuh anak, merawat kerabat, belanja, memasak, membayar tagihan, mencuci, membersihkan, serta merawat mobil, rumah, atau kebun.
Batas yang dipakai adalah 20 jam per minggu, setara setengah minggu kerja. Pada 2022, 31 persen perempuan bekerja di rumah lebih dari 20 jam per minggu, sementara laki-laki hanya 20 persen. Para peneliti juga mencatat bahwa perempuan melapor lebih banyak jam kerja rumah daripada laki-laki pada setiap tahun survei, tanpa satu pun pengecualian.
Perempuan yang Mengurangi Jam
Di sisi perempuan, jam panjang terus menyusut. Porsi perempuan yang bekerja di rumah 31 jam atau lebih per minggu turun dari 24,0 persen pada 2004 menjadi 16,7 persen pada 2022. Porsi yang bekerja 21 sampai 30 jam turun dari 20,8 persen menjadi 14,6 persen pada periode yang sama.
Ke mana perginya jam itu terlihat di kelompok jam pendek. Perempuan yang bekerja di rumah 3 sampai 10 jam per minggu naik dari 23,8 persen menjadi 35,8 persen, sedangkan yang hanya 0 sampai 2 jam naik dari 2,3 persen menjadi 5,6 persen. Kelompok tengah, 11 sampai 20 jam, relatif bertahan di kisaran 27 sampai 31 persen.
Para peneliti mengaku tidak tahu pasti sebabnya. Mereka mencatat tingkat kerja perempuan Swedia tinggi dan stabil, tetapi porsi perempuan yang bekerja paruh waktu turun dari sekitar 30 persen menjadi 20 persen, dan itu mungkin ikut menekan jam kerja rumah. Potongan pajak untuk jasa rumah tangga yang berlaku sejak 2007 juga disebut bisa menjelaskan sebagian.
Namun, potongan pajak itu lebih banyak dinikmati rumah tangga berpendapatan tinggi, dan pada 2017 sebanyak 69 persen pemakaiannya berasal dari rumah tangga tanpa anak di rumah. Padahal sekitar dua pertiga responden usia 30 sampai 49 tahun dalam survei ini masih tinggal bersama anak di bawah 18 tahun, kelompok yang tuntutan pengasuhannya diperkirakan tinggi.
Laki-laki yang Bertahan di Tempat
Di sisi laki-laki, angka hampir tidak bergerak selama 18 tahun. Porsi yang bekerja di rumah 31 jam atau lebih bergeser dari 9,0 persen menjadi 8,6 persen, dan yang bekerja 21 sampai 30 jam dari 11,8 persen menjadi 11,9 persen. Mayoritas laki-laki tetap berada di kelompok 3 sampai 10 jam, sekitar 42 persen.
Para peneliti menyoroti satu hal yang semestinya mendorong angka itu naik. Porsi laki-laki yang mengambil tunjangan orang tua di Swedia naik dari 20 persen pada 2005 menjadi 30 persen pada 2018 sebelum mendatar. Meski begitu, jam kerja rumah laki-laki dalam survei ini tidak ikut bertambah sepanjang periode tersebut.
“Hal ini tercapai bukan karena laki-laki menambah waktu mereka untuk pekerjaan rumah, melainkan karena berkurangnya waktu yang dicurahkan perempuan,” tulis Anu Molarius, Fredrik Granström, dan Jennifer Ervin dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi this has been achieved not because men have increased their time in domestic work, but rather due to decreased time spent by women.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Selisih kedua sisi tetap lebar di ujung jam panjang. Porsi yang bekerja di rumah 31 jam atau lebih per minggu konsisten sekitar dua kali lipat pada perempuan dibanding laki-laki. Sebagai pembanding yang dikutip penulis, rata-rata kerja tak dibayar di negara OECD adalah 31 jam per minggu untuk perempuan dan 16 jam untuk laki-laki.
Pendidikan yang Tak Membedakan Perempuan
Pada perempuan, tingkat pendidikan nyaris tidak membuat perbedaan. Porsi perempuan yang bekerja di rumah lebih dari 20 jam per minggu sama saja antara lulusan sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan universitas. Satu-satunya pengecualian muncul pada 2022, ketika porsi itu justru paling rendah pada perempuan berpendidikan rendah.
Temuan ini berlawanan dengan dugaan awal para peneliti sendiri, yang berangkat dari anggapan bahwa pendidikan tinggi berkaitan dengan sikap dan perilaku yang lebih setara. Mereka menyebut kemungkinan adanya kesetaraan yang hanya diucapkan, yang mereka gambarkan sebagai “keyakinan yang dinyatakan pada kesetaraan gender namun tidak benar-benar berwujud dalam praktik yang sama setaranya.”
Kalimat itu juga berasal dari naskah berbahasa Inggris, a professed belief in gender equality that does not actually translate into correspondingly egalitarian practices. Menurut para penulis, pola ini lebih sering dijumpai pada pasangan berstatus sosial ekonomi tinggi. Mereka juga menyebut wacana tradisional soal keperempuanan di Swedia masih kuat dan menarik perempuan ke dua arah sekaligus.
Rasa terbebani pada perempuan tidak mengikuti turunnya jam kerja. Porsi perempuan yang selalu atau sering merasa pekerjaan rumah membebani bergerak dari 13,7 persen pada 2004 menjadi 15,0 persen pada 2022, tanpa tren turun dan tanpa beda yang jelas antartingkat pendidikan. Para peneliti menduga jenis tugas yang berbeda membawa tekanan yang berbeda pula.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Pendidikan yang Membelah Laki-laki
Pada laki-laki, pendidikan justru membelah dengan tegas. Porsi laki-laki yang bekerja di rumah lebih dari 20 jam per minggu selalu paling tinggi pada lulusan universitas dan paling rendah pada lulusan sekolah dasar, dan selisih keduanya bermakna di kelima tahun survei. Hipotesis para penulis tentang laki-laki terbukti untuk kelompok usia ini.
Hanya saja, keunggulan itu tidak tumbuh. “Meski laki-laki Swedia berpendidikan tinggi mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dibanding yang berpendidikan lebih rendah, tidak ditemukan kenaikan nyata waktu kerja rumah pada kelompok ini antara 2004 dan 2022,” tulis ketiganya. Aslinya berbahasa Inggris, no actual increase in domestic work time in this group was found.
Di sisi rasa terbebani, laki-laki umumnya lebih jarang mengeluh daripada perempuan, sekitar 7,7 sampai 9,5 persen yang selalu atau sering merasa terbebani. Pengecualiannya laki-laki berpendidikan rendah, yang sejak 2008 merasa terbebani sesering perempuan meski jam kerja rumahnya paling sedikit. Para peneliti mengaitkannya dengan pola berbentuk U antara jam kerja rumah dan rasa terbebani.
Pada kelompok usia 50 sampai 69 tahun yang juga dianalisis, polanya berbalik pada kedua sisi. Perempuan berpendidikan tinggi bekerja di rumah lebih sedikit daripada yang berpendidikan rendah dan menengah, sedangkan pada laki-laki tidak ada beda antartingkat pendidikan. Para penulis menduga laki-laki usia itu memegang pandangan yang lebih tradisional soal pembagian kerja di rumah.
Batas yang Diakui Peneliti
Para penulis menyebut keterbatasan utamanya ada pada rumusan pertanyaan tentang kerja tak dibayar, yang tidak bisa memisahkan pekerjaan rumah dari pengasuhan anak. Semua jawaban adalah laporan diri, sehingga rentan bias ingatan dan keinginan tampak baik, walau bias itu diperkirakan sama besar pada laki-laki, perempuan, dan semua tahun survei.
Tingkat respons turun dari 64 persen pada 2004 menjadi 45 persen pada 2022, dan lebih rendah pada warga muda, laki-laki, serta berpendidikan rendah. Pada 2022, respons kelompok usia 30 sampai 49 tahun hanya 34 persen. Kelompok berpendidikan rendah juga kecil, turun dari 10,4 persen menjadi 4,9 persen responden, sehingga hasilnya bisa kurang stabil.
Data ini juga tidak memuat status kerja, status keluarga, atau jumlah anak yang bisa dibandingkan antartahun, sehingga penjelasan soal kerja paruh waktu dan potongan pajak tadi hanya bersandar pada statistik resmi Swedia. Sampelnya mencakup lebih dari satu juta penduduk di 55 kotamadya, tetapi para penulis menegaskan bahwa ini bukan sampel nasional.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Angka yang Perlu Dicek Ulang
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks hasil menyebut porsi perempuan yang bekerja di rumah 31 jam atau lebih turun dari 25 persen menjadi 18 persen. Namun, Tabel 2 dalam naskah yang sama mencantumkan 24,0 persen pada 2004 dan 16,7 persen pada 2022, sementara angka 21 sampai 30 jam di teks cocok dengan tabel.
Dalam daftar pustaka, artikel Ervin dan rekan di Lancet Public Health tentang kerja tak dibayar dan kesehatan jiwa di Australia dari 2002 sampai 2020 tercatat terbit tahun 2002, tahun yang tidak mungkin untuk data yang berakhir pada 2020. Rujukan nomor 13 juga mengeja nama peneliti Coltrane menjadi Coltraine.
Hipotesis awal juga menduga pendidikan lebih tinggi berkaitan dengan rasa terbebani yang lebih besar, terutama pada laki-laki. Hasilnya justru menunjukkan laki-laki berpendidikan rendah yang paling sering merasa terbebani, dan naskah tidak menyatakan secara tegas bahwa bagian hipotesis itu tidak terbukti, meski uraian pembahasannya mengarah ke sana.
Perempuan yang mengurangi jam dan laki-laki yang bertahan di tempat sama-sama membuat jarak di antara mereka mengecil, tetapi hanya satu sisi yang benar-benar bergerak dalam lima putaran survei ini. Di satu sisi ada pendidikan yang membelah laki-laki tanpa menambah jam mereka, di sisi lain ada pendidikan yang hampir tidak membedakan perempuan, dan pada kedua sisi rasa terbebani tidak ikut surut.















