Bukele Pamerkan Patroli Tentara El Salvador Lawan Geng Haiti

A A

Kendaraan lapis baja Angkatan Darat El Salvador beroperasi terpisah dari Pasukan Penumpas Geng (GSF) yang didukung PBB di Port-au-Prince, Haiti, 3 November 2026. [Foto: Patrice Noel/Reuters via Al Jazeera]

  • Presiden Nayib Bukele mengunggah video tentara El Salvador berpatroli di jalanan Haiti dan disambut warga.
  • Empat teknisi penerbangan El Salvador yang diserang geng pada 18 Oktober belum ditemukan.
  • Bukele mengirim lebih dari 2.000 tentara beserta perlengkapan militer ke Haiti.
  • PBB menyebut hanya sekitar 200 tentara El Salvador yang berada di bawah yurisdiksi pasukan GSF.

Cekricek.id — Presiden El Salvador Nayib Bukele mengunggah video tentara El Salvador bersenjata lengkap berpatroli di jalanan Haiti dan disambut warga setempat.

“Kumpulkan geng kalian supaya kami bisa bertarung dengan mereka,” tulis Bukele di X pada Rabu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (5/11/2026).

Unggahan itu muncul saat otoritas Haiti menyatakan telah menemukan kendaraan yang dipakai empat teknisi penerbangan El Salvador yang diserang geng lebih dari dua pekan lalu, tetapi keempat orang itu belum ditemukan.

Polisi nasional Haiti mengunggah foto sisa truk yang terbakar di permukiman Santo, Croix-des-Bouquets, di luar ibu kota Port-au-Prince. Kawasan itu, seperti sebagian besar ibu kota, dikuasai geng.

Hilangnya keempat teknisi pada 18 Oktober mendorong pemimpin sayap kanan El Salvador itu mengirim lebih dari 2.000 tentara beserta perlengkapan militer ke negara Karibia tersebut.

Pada Selasa, Bukele mengunggah video yang menurutnya memperlihatkan helikopter militer El Salvador menembaki geng yang menyerang tentara GSF asal Chad. “Geng tidak lagi di atas angin,” tulisnya.

Kehadiran pasukan itu memunculkan kekhawatiran soal siapa yang bertanggung jawab atas penggunaan kekuatan. Juru bicara Kantor Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menyebut hanya sekitar 200 tentara El Salvador yang berada di bawah yurisdiksi Pasukan Penumpas Geng (GSF) yang didukung PBB.

“Yang penting, setiap operasi keamanan dilakukan dalam kerangka hukum hak asasi manusia internasional dan hukum internasional, dan hak-hak warga harus dihormati,” kata Dujarric.

Perdana Menteri Haiti Alix Didier Fils-Aime menegaskan pasukan asing bekerja di bawah otoritas Haiti. “Pasukan internasional tidak datang untuk menggantikan negara. Mereka datang untuk mendukung dan memperkuat kapasitas kami,” ujarnya.

Haiti tidak memiliki pemerintahan hasil pemilu sejak 2021, ketika presiden terpilih terakhirnya, Jovenel Moise, dibunuh. Pemilu nasional ditunda dari 13 Desember menjadi 18 Juli 2027.

Kekerasan juga mengganggu pengiriman pangan dan bantuan, sehingga sekitar 5,94 juta warga Haiti menghadapi kelaparan akut.

“Kami khawatir konflik bersenjata ini akan menelan lebih banyak korban dan membuat lebih banyak orang mengungsi dalam beberapa hari ke depan, terutama dengan kedatangan pasukan keamanan internasional tambahan,” kata Kepala Misi Dokter Lintas Batas (MSF) di Haiti Davina Hayles.

Bagikan

Baca Juga

JD Vance: Republik Kalah Pemilu Sela karena Perang Iran
Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka
Abdul El-Sayed Menangi Kursi Senat AS dari Michigan
Partai Demokrat Rebut Kendali Senat AS dalam Pemilu Sela 2026
Perusahaan Minyak AS Raup Laba 130 Miliar Dolar dari Perang Iran
Serangan Rusia ke Pusat Bantuan di Ukraina Tewaskan 26 Orang