Karhutla Meluas, Dekan Biologi UGM: Jangan Cuma Respons Darurat

A A

Lahan gambut yang hangus terbakar dengan batang pohon tumbang dan asap tipis di Indonesia. [Foto: DenY Krisbiyantoro / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Fakultas Biologi UGM desak evaluasi tata kelola lahan dan penegakan aturan pencegahan karhutla.
  • Dekan Eko Agus Suyono minta tambahan APBN kesiapsiagaan dan peringatan dini berbasis data gambut.
  • Kebakaran merusak mikrobioma tanah; restorasi lewat pembasahan gambut dan spesies lokal.

Cekricek.id — Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan keprihatinan atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas belakangan ini. Fakultas itu mendesak pemerintah mengevaluasi menyeluruh tata kelola lahan dan menegakkan aturan pencegahan kebakaran secara transparan, alih-alih hanya bergerak saat api sudah membesar.

Dekan Fakultas Biologi UGM Prof Dr Eko Agus Suyono menilai Indonesia, sebagai pemilik hutan gambut tropis terluas di dunia, semestinya berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim, bukan malah menjadi penyumbang emisi karbon dari kebakaran.

“Agar kebakaran serupa tidak terulang, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dan regulasi mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara permanen, bukan hanya respons saat darurat,” kata Eko, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Selasa (27/10/2026).

Baca juga: Karhutla Capai 8,35 Juta Hektare, Pakar UGM: Gambut Harus Basah

Menurut Eko, pemerintah perlu menambah alokasi APBN untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana serta memperjelas kewenangan dan koordinasi dari pusat hingga desa. Ia juga mendorong sistem peringatan dini berbasis data iklim dan hidrologi gambut, perlindungan hukum dan pembasahan kembali gambut, penguatan masyarakat peduli api, serta insentif bagi pembukaan lahan tanpa bakar.

Kebijakan itu, kata dia, perlu ditopang data ilmiah yang terbuka dan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan agar risiko bencana bisa ditekan.

Kebakaran Rusak Mikroba Tanah

Fakultas Biologi UGM menyoroti dampak karhutla yang kerap luput dari perhatian. Suhu ekstrem kebakaran merusak mikrobioma tanah, seperti bakteri pengikat nitrogen dan mikoriza, serta ekosistem gambut yang kemudian melepas karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.

Karena itu, Eko meminta pemulihan pascabencana tidak dilakukan secara instan. Restorasi harus memakai pendekatan ekologi yang tepat, seperti penanaman vegetasi lokal dan bioremediasi untuk memulihkan kesuburan tanah, sekaligus menjadi strategi dekarbonisasi berbasis alam.

“Melalui pembasahan kembali gambut, revegetasi dengan spesies lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah berperan dalam pemulihan siklus karbon,” ujarnya.

Baca juga: Pakar ITB: Gambut Kering Jadi Bahan Bakar Karhutla Berulang

Eko menyebut fakultasnya siap menerjunkan tim ahli untuk evakuasi, identifikasi, dan rehabilitasi satwa terdampak, riset formulasi mikroorganisme untuk pemulihan tanah, penyediaan bibit lokal unggul, hingga pengukuran stok karbon dalam program restorasi.

“Fakultas Biologi UGM siap mendukung penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pelibatan mahasiswa dalam aksi pemulihan ekosistem,” pungkasnya.

Baca juga: Guru Besar UGM: Karhutla Ancam Kesehatan dan Habitat Orangutan

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Fisik Berat di Dalam Ruangan Paling Banyak Mengeluh Sakit
Iklim dan Modal Asing Perlebar Ketimpangan di Empat Negara ASEAN
IUCN: 96 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Punah pada 2075
Reklasifikasi MSCI Bisa Picu Lingkaran Setan, Kata Guru Besar UGM
Dosen UGM: 40 Persen Kasus Demensia Bisa Dicegah Sejak Dini
Energi Terbarukan Menekan Emisi di Uni Eropa, Belum di Luarnya