- Dosis kalium 40 kilogram per hektare menghasilkan rata-rata tinggi krokot 39,11 sentimeter, tertinggi di antara empat dosis.
- Kombinasi kalium 40 kilogram dan ekstrak kamomil 6 gram per liter mencapai tinggi 45,32 sentimeter.
- Pada dosis 80 kilogram, bobot kering krokot turun 12,68 persen dibanding dosis 40 kilogram.
- Sel tertinggi tabel bobot segar, 178,89 gram, tercatat pada krokot tanpa kalium yang disemprot kamomil 6 gram.
- Teks hasil menunjuk nomor tabel yang keliru di tiga tempat.
Daftar Isi
- Tanah Uji Hanya Menyimpan 95,88 Miligram Kalium
- Kalium Diberi Empat Dosis, Kamomil Tiga Takaran
- Krokot Tumbuh Paling Tinggi pada Dosis 40 Kilogram
- Dosis Naik ke 80 Kilogram, Angkanya Turun
- Semprotan Kamomil Menambah Bobot Kering 68,92 Persen
- Kalium dalam Tanaman Naik sampai 1,72 Persen
- Asam Alfa-Linolenat Bergerak dari 9,23 ke 12,14 Persen
- Nomor Tabel Meleset di Tiga Bagian Hasil
Cekricek.id — 45,32 sentimeter adalah tinggi krokot tertinggi dari 12 kombinasi pupuk kalium dan semprotan ekstrak kamomil. Angka itu lahir dari 40 kilogram kalium per hektare ditambah 6 gram kamomil per liter air. Tanaman tanpa keduanya hanya setinggi 18,00 sentimeter.
Percobaan pot itu dilaporkan dalam artikel Effect of Potassium Fertilization and Chamomile Extract Foliar Spray on Growth and Active Compounds of Portulaca Oleracea L. Grown in Gypsiferous Soil. Artikel terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences (AIJANS) Volume 6 Nomor 2 tahun 2025, halaman 71–79. Naskah masuk 2 September 2025, disetujui 17 Oktober 2025, dan tersedia daring 22 Oktober 2025.
Penulisnya empat orang: Heba M. M. Al-Hamdany, Ahmed Adnan Mohammed, Suzan D. Hadi, dan Dalya Ayden Hawar. Keempatnya dari Department of Medicinal and Industrial Plants, College of Medicinal and Industrial Plants, University of Kirkuk, Irak. Mereka menguji 4 dosis kalium dan 3 takaran kamomil pada krokot (Portulaca oleracea). Menurut mereka, studi tentang topik ini masih langka di negara mereka.
Tanah Uji Hanya Menyimpan 95,88 Miligram Kalium
Tanah percobaan bergipsum. Kalium tersedianya tercatat 95,88 miligram per kilogram. Kandungan gipsum 38,28 gram per kilogram, dan pH-nya 7,61. Daya hantar listrik 2,33 dS per meter, kapasitas tukar kation 12,21 cmol per kilogram, bahan organik 7,01 gram per kilogram. Nitrogen tersedia 13,14 miligram per kilogram, fosfor tersedia 4,89 miligram per kilogram.
Paper dibuka dengan gambaran tanah semacam itu. Tanah di kawasan kering dan semikering, tulis penulis, umumnya miskin hara karena pH tinggi serta kandungan kalsium karbonat dan kalsium sulfat. Kalium di tanah itu sulit tersedia karena mengalami fiksasi. Angka 95,88 kemudian dipakai penulis untuk menjelaskan respons tinggi krokot terhadap pupuk kalium.
Kalium Diberi Empat Dosis, Kamomil Tiga Takaran
Faktor pertama adalah pupuk kalium lewat tanah dalam empat dosis: 0, 20, 40, dan 80 kilogram K per hektare. Bentuknya kalium sulfat, dicampur ke tanah saat tanam. Faktor kedua ekstrak kamomil yang disemprotkan ke daun dalam tiga takaran: 0, 3, dan 6 gram per liter air.
Rancangannya faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga ulangan. Benih krokot varietas lokal disemai di pot berisi tanah, tiga pot per satuan percobaan. Tanam dilakukan 1 Maret 2025, pada musim tanam 2024–2025. Abstrak menyebut lokasinya kawasan Ronaki di Provinsi Kirkuk.
Tujuh sifat diukur dari tanaman di tengah tiap satuan percobaan, sebelum berbunga dan sebelum kuncup muncul. Ketujuhnya tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar, bobot kering, konsentrasi kalium, dan asam alfa-linolenat. Bobot kering ditimbang setelah tanaman dikeringkan dalam oven 65–70 derajat Celsius sampai bobotnya tetap.
Kalium jaringan tanaman diukur dengan fotometer nyala. Asam alfa-linolenat dianalisis dengan kromatografi gas GC-2010 buatan Shimadzu, Jepang, dengan kolom kapiler SE-30 sepanjang 30 meter. Data diolah dengan perangkat lunak SAS. Rerata dibandingkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 0,05.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Krokot Tumbuh Paling Tinggi pada Dosis 40 Kilogram
Tanpa pupuk kalium, rata-rata tinggi krokot 27,17 sentimeter. Dosis 20 kilogram menaikkannya ke 33,78 sentimeter. Dosis 40 kilogram mencapai 39,11 sentimeter, tertinggi di antara empat dosis. Penulis menghitung kenaikannya 24,32 persen dan 43,94 persen dibanding kontrol. Mereka mengaitkan respons itu dengan kalium tersedia tanah yang rendah.
Kamomil bergerak searah. Tanpa semprotan, rata-rata tinggi tanaman 24,87 sentimeter. Takaran 3 gram per liter menghasilkan 33,52 sentimeter, takaran 6 gram 38,48 sentimeter. Penulis mengaitkan efek itu dengan zat pengatur tumbuh dan perangsang di dalam kamomil, yang menurut mereka meningkatkan aktivitas metabolik dan fotosintesis.
Jumlah daun mengikuti pola serupa. Rata-rata tanpa kalium 39,56 helai per tanaman, pada dosis 40 kilogram 53,22 helai, naik 34,52 persen. Kamomil 6 gram per liter menghasilkan 50,17 helai, dibanding 40,17 helai tanpa semprotan. Sel tertinggi tabel jumlah daun 59,30 helai, pada dosis 40 kilogram ditambah kamomil 6 gram.
Luas daun krokot memberi lonjakan persentase terbesar. Dosis 40 kilogram menghasilkan rata-rata 5,70 sentimeter persegi, naik 73,25 persen dari 3,29 tanpa kalium. Kombinasi 40 kilogram dan kamomil 6 gram mencapai 6,44 sentimeter persegi. Nilai terendah, 2,17, tercatat pada kontrol tanpa kalium dan tanpa kamomil.
Selisih 2,17 dan 6,44 itu dibaca penulis sebagai hasil gabungan dua perlakuan. “Hal ini menegaskan efek sinergis dari pemaduan pemupukan kalium dengan penyemprotan kamomil pada daun untuk pertumbuhan vegetatif P. oleracea yang optimal,” tulis Heba M. M. Al-Hamdany dan rekan-rekannya. Pada tinggi tanaman, kombinasi yang sama menghasilkan 45,32 sentimeter.
Dosis Naik ke 80 Kilogram, Angkanya Turun
Dosis tertinggi tidak memberi hasil tertinggi. Pada 80 kilogram, tinggi krokot turun ke 29,10 sentimeter, hanya 7,10 persen di atas kontrol. Jumlah daun turun ke 40,96 helai, cuma 3,53 persen di atas tanpa kalium. Luas daun turun ke 4,73 sentimeter persegi.
Bobot kering memberi angka penurunan yang dihitung penulis sendiri. Dosis 40 kilogram menghasilkan 40,85 gram per tanaman, naik 74,27 persen dari 23,44 gram tanpa kalium. Pada 80 kilogram, bobot kering 35,67 gram. Penulis mencatatnya sebagai penurunan 12,68 persen dibanding dosis 40 kilogram.
Dari selisih 12,68 persen itu penulis menarik kesimpulan. “Hal ini menunjukkan bahwa level A3 merupakan takaran optimal untuk mencapai pertumbuhan vegetatif yang kuat, yang tercermin pada hasil maupun senyawa aktif tanaman krokot,” tulis para penulis. Dalam paper, A3 adalah kode dosis 40 kilogram K per hektare.

Penurunan pada dosis 80 kilogram dijelaskan penulis sebagai kemungkinan, likely dalam paper. Menurut mereka, kelebihan kalium mengganggu serapan hara lain, terutama magnesium. Tabel 1 mencatat magnesium terlarut tanah 4,70 mmol per liter. Magnesium di jaringan tanaman tidak termasuk tujuh sifat yang diukur.
Semprotan Kamomil Menambah Bobot Kering 68,92 Persen
Pada bobot kering, kamomil 6 gram per liter menghasilkan 42,67 gram per tanaman. Angka itu 68,92 persen di atas 25,26 gram tanpa semprotan. Takaran 3 gram menghasilkan 30,47 gram. Sel tertinggi tabel bobot kering, 49,13 gram, kembali tercatat pada kombinasi 40 kilogram kalium dan kamomil 6 gram.
Satu pasangan sel patut dicermati. Krokot tanpa kalium tetapi disemprot kamomil 6 gram mencatat bobot kering 36,10 gram. Angka itu lebih tinggi dari 33,65 gram pada dosis 40 kilogram tanpa kamomil. Penulis mengaitkan kenaikan bobot kering dengan kamomil sebagai pengatur pertumbuhan dan peredam dampak cekaman abiotik.
Bobot segar memuat selisih yang lebih besar. Rata-rata dosis 40 kilogram 153,47 gram, naik 18,29 persen dari 129,74 gram tanpa kalium. Kombinasi 40 kilogram dan kamomil 6 gram tercatat 161,00 gram. Sel tertinggi tabel bobot segar justru 178,89 gram, pada krokot tanpa kalium yang disemprot kamomil 6 gram.
Baca juga Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun
Paragraf hasil bobot segar tidak membahas angka 178,89 itu. Penjelasannya justru menyebut peran asam askorbat dan asam salisilat dalam serapan ion, keseimbangan hormon, serta buka-tutup stomata. Kedua zat itu tidak termasuk perlakuan. Percobaan hanya memakai 4 dosis kalium sulfat dan 3 takaran ekstrak kamomil.
Kesimpulan paper untuk kamomil ditulis ringkas. “Penyemprotan ekstrak kamomil pada daun memberikan efek positif yang signifikan terhadap sifat-sifat pertumbuhan vegetatif pada semua konsentrasi yang diuji,” tulis para penulis. Konsentrasi yang diuji di luar kontrol ada dua, yakni 3 dan 6 gram per liter.
Kalium dalam Tanaman Naik sampai 1,72 Persen
Konsentrasi kalium dalam jaringan krokot ikut naik. Dosis 40 kilogram menghasilkan rata-rata 1,59 persen, naik 27,2 persen dari 1,25 persen tanpa kalium. Kamomil 6 gram per liter menghasilkan 1,57 persen, atau 30,83 persen di atas 1,20 persen tanpa semprotan.
Kombinasi 40 kilogram dan kamomil 6 gram mencatat 1,72 persen. Penulis menghitungnya 66,99 persen di atas 1,03 persen pada kontrol tanpa kalium dan tanpa kamomil. Mereka mengaitkan kenaikan itu dengan peran kalium dalam perkembangan akar, sehingga serapan hara dan air meningkat.
Paragraf hasil menyebut 1,25 persen sebagai nilai terendah. Tabel 7 mencatat rata-rata dosis 80 kilogram 1,23 persen, sedikit di bawah angka tanpa kalium itu. Penulis sendiri menulis dosis 80 kilogram menurunkan konsentrasi kalium, karena kelebihan kalium berdampak negatif pada ketersediaan hara lain.
Asam Alfa-Linolenat Bergerak dari 9,23 ke 12,14 Persen
Senyawa aktif yang dianalisis adalah asam alfa-linolenat. Kombinasi 40 kilogram kalium dan kamomil 6 gram menghasilkan 12,14 persen. Kontrol tanpa keduanya 9,23 persen. Rata-rata dosis 40 kilogram 11,28 persen, yang menurut penulis 13,25 persen lebih tinggi dari kontrol.
Kamomil 6 gram per liter menghasilkan rata-rata 11,00 persen, sedangkan tanpa semprotan 9,68 persen. Paragraf hasilnya menulis kode A3 untuk takaran kamomil itu. Padahal dalam tabel, huruf A dipakai untuk 4 dosis kalium dan huruf B untuk 3 takaran kamomil.
Dosis 80 kilogram kembali menurun. Rata-ratanya 9,64 persen, lebih rendah dari 9,96 persen tanpa kalium. Paragraf yang sama menyebut efek semua level kalium signifikan. Judul Tabel 8 memakai satuan gram per tanaman, sedangkan subjudul hasilnya memakai persen.
Baca juga Tanaman Obat Keluarga: Kenal Belum Tentu Paham
Nomor Tabel Meleset di Tiga Bagian Hasil
Teks hasil menunjuk tabel yang keliru di tiga tempat. Luas daun disebut ada di Tabel 5, padahal di Tabel 4. Bobot segar disebut di Tabel 6, padahal Tabel 5. Konsentrasi kalium disebut di Tabel 8, padahal Tabel 7.
Nama tanaman juga tergelincir di 3 bagian. Abstrak menyebut krokot sebagai tanaman barberry. Bagian bobot segar menyebutnya hyacinth, dan bagian asam lemak menyebut hyssop. Abstrak juga menulis percobaan memakai anvils, sementara bagian metode menyebut pot, tiga pot per satuan percobaan.
Tabel 7 mencatat nilai BNT 1,64 untuk kalium, 1,46 untuk kamomil, dan 3,15 untuk interaksi. Ketiganya lebih besar dari seluruh isi tabel yang berkisar 1,03 sampai 1,72 persen. Dua angka terakhir sama persis dengan BNT Tabel 6 untuk bobot kering.
Tabel 1 juga menyimpan selisih. Pasir 459, debu 203, dan liat 233 gram per kilogram, jumlahnya 895. Mineral karbonat 209 ditulis dalam miligram per kilogram, sedangkan gipsum memakai gram per kilogram. Paper tidak memuat bagian keterbatasan penelitian.
Rekomendasi paper ada 2. Pupuk kalium diberikan pada dosis sedang untuk menekan pencemaran lingkungan dari pupuk kimia berlebih. Ekstrak kamomil dianjurkan sebagai pengatur tumbuh yang ramah lingkungan. Kesimpulannya menetapkan respons optimum pada 40 kilogram K per hektare.
Seluruh angka itu datang dari pot dalam satu musim tanam 2024–2025, dengan tiga ulangan. Senyawa aktif yang dianalisis hanya satu, asam alfa-linolenat, walau judul paper memakai kata active compounds. Kandungan senyawa aktif krokot lainnya tidak dilaporkan.















