Bibit Kopi Arabika Tumbuh Terbaik di Campuran Sekam dan Kompos

A A

Deretan bibit kopi muda berdaun hijau dalam polibag hitam di lahan pembibitan. [Foto: Rudyasho/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • Media top soil 60 persen, sekam 20 persen, dan kompos 20 persen mencatat angka tertinggi pada keempat ukuran pertumbuhan.
  • Takaran mikoriza 1,5 gram per bibit menghasilkan tinggi 14,59 sentimeter dan luas daun 25,78 sentimeter persegi.
  • Sidik ragam tidak menemukan interaksi antara media tanam dan mikoriza pada keempat ukuran.
  • Pada tinggi tanaman, selisih campuran sekam dan kompos dengan kompos 40 persen tidak nyata.
  • Jumlah ulangan, jenis mikoriza, dan kolonisasi akar tidak dicantumkan dalam naskah.
Daftar Isi
  1. Menakar media dan mikoriza untuk bibit kopi arabika
  2. Sekam memperbaiki aerasi, kompos menambah hara
  3. Hifa mikoriza memperluas jelajah akar
  4. Dua faktor yang tidak saling menguatkan
  5. Dari akar ke batang dan helai daun
  6. Mekanisme yang disebut tetapi tidak diukur

Cekricek.id — Kalau kompos adalah sumber hara, mengapa polibag dengan kompos paling banyak tidak menghasilkan bibit kopi arabika terbaik? Dalam percobaan di Deli Serdang, Sumatera Utara, angka tertinggi justru dicatat campuran yang separuh jatah komposnya diganti sekam padi. Campuran itu unggul pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan luas daun. Takaran mikoriza vesikular arbuskular terbesar, 1,5 gram per bibit, juga mencatat angka tertinggi pada keempat ukuran tersebut.

Percobaan itu dilaporkan Fahmi Abdillah, Andi Setiawan, dan Kabul Warsito dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan. Artikel mereka, Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) Dan Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Benih Kopi Arabika (Coffea arabica L.), terbit di Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 2 edisi Oktober 2025, halaman 88–95, yang diterbitkan Universitas Andalas.

Dalam pendahuluan, para penulis mencatat bahwa penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dapat menurunkan kesuburan tanah dan merusak lingkungan, sehingga diperlukan strategi pemupukan yang seimbang. Salah satu jalan yang mereka sebut adalah pupuk hayati, yang mengandung mikroorganisme hidup, dan mikoriza termasuk di dalamnya. Menurut mereka, mikoriza vesikular arbuskular hidup di dalam jaringan akar dan meningkatkan efisiensi penyerapan hara, khususnya fosfor dan nitrogen, melalui hifa eksternal dan arbuskula yang memperluas permukaan serapan akar.

Menakar media dan mikoriza untuk bibit kopi arabika

Percobaan berlangsung dari 20 Desember 2024 sampai 25 Maret 2025 di Desa Glugur Rimbun, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, desa binaan Universitas Pembangunan Panca Budi di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Tanahnya Andisol dari lokasi itu, diambil dari kedalaman 0 sampai 20 sentimeter. Bibit kopi arabika yang dipakai berumur tiga minggu, dan bahan yang dicatat antara lain top soil, sekam, kompos, polibag, paranet, serta kayu penonggak jaring paranet.

Rancangannya acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah komposisi media tanam: top soil 100 persen (P0); top soil 60 persen, sekam 20 persen, dan kompos 20 persen (P1); top soil 60 persen dan sekam 40 persen (P2); serta top soil 60 persen dan kompos 40 persen (P3). Faktor kedua adalah dosis mikoriza vesikular arbuskular, yakni 0, 0,5, 1, dan 1,5 gram per bibit.

Pilihan takaran rendah itu, tulis para penulis, didasarkan pada efisiensi penggunaan inokulum, kemudahan aplikasi di lapangan, dan keinginan melihat respons tanaman terhadap variasi dosis rendah yang masih jarang dieksplorasi. Pada umur tiga bulan setelah tanam, empat hal diukur pada bibit kopi arabika: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan luas daun. Data diuji dengan uji F pada taraf 5 persen, lalu dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test bila perlakuan berpengaruh nyata.

Sekam memperbaiki aerasi, kompos menambah hara

Titik berangkat percobaan ini adalah kelemahan tanah lapisan atas. Para penulis menjelaskan bahwa pencampuran top soil dengan kompos dan sekam dapat memperbaiki porositas, drainase, dan retensi air media tanam, sekaligus menyediakan nutrisi organik yang terdekomposisi secara bertahap. Alasannya ada pada tanah itu sendiri. “Top soil dipilih karena kandungan mikroba dan bahan organik alaminya, tetapi sering memiliki kelemahan pada aspek fisik seperti padatan dan aerasi yang buruk,” tulis Fahmi Abdillah dan rekan-rekannya.

Hasil pengukuran tinggi bergerak ke arah yang sama. Pada umur tiga bulan, bibit di media P1 mencapai rata-rata 14,10 sentimeter. Angka itu tidak berbeda nyata dengan P3 yang berisi kompos 40 persen, 13,66 sentimeter, tetapi berbeda nyata dengan P2 yang berisi sekam 40 persen, 12,67 sentimeter, dan top soil murni, 12,58 sentimeter. Pada ukuran tinggi, keunggulan campuran sekam dan kompos atas kompos saja karena itu belum terbukti secara statistik.

Para penulis menguraikan peran tiap bahan dalam campuran P1. Topsoil menyediakan unsur hara dan mikroorganisme yang mendukung perkembangan akar, sedangkan kompos 20 persen menambah bahan organik dan hara tambahan. Mikroorganisme tanah, tulis mereka, menguraikan bahan organik dengan enzim yang memecah senyawa kompleks menjadi bentuk sederhana, dan sebagian hara yang dilepaskan dapat diserap tanaman. Sisi fisiknya diurus bahan ketiga. “Sekam padi berperan meningkatkan struktur tanah, memperbaiki aerasi, dan menjaga kelembapan tanah,” tulis mereka.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Hifa mikoriza memperluas jelajah akar

Faktor kedua bekerja lewat jalur lain. Menurut para penulis, mikoriza membentuk simbiosis dengan akar dan memperluas jaringan perakaran, sehingga tanaman mampu menyerap lebih banyak unsur hara penting, termasuk fosfor, nitrogen, dan beberapa mikroelemen. Pada ukuran tinggi, bibit kopi arabika yang diberi 1,5 gram mikoriza mencapai 14,59 sentimeter dan berbeda nyata dengan tiga takaran lain: 13,02 sentimeter pada 1 gram, 12,96 sentimeter pada 0,5 gram, dan 12,44 sentimeter tanpa mikoriza.

Tiga takaran terbawah itu bertanda huruf yang sama dalam uji Duncan, sehingga selisih di antara ketiganya tidak nyata. Naskah tetap menulis bahwa dosis rendah 0,5 gram sudah meningkatkan tinggi bibit dibandingkan tanaman yang tidak diinokulasi, padahal selisih 12,96 dan 12,44 sentimeter itu tidak berbeda nyata. Kenaikan yang nyata baru muncul pada takaran tertinggi. “Peningkatan ini dipengaruhi oleh aktivitas hifa eksternal mikoriza yang memperluas daya jelajah akar, sehingga penyerapan fosfor dan unsur penting lainnya menjadi lebih efisien,” tulis para penulis.

Bibit kopi arabika berdaun lebar dalam polibag hitam berisi tanah di pembibitan
Bibit kopi arabika berdaun lebar dalam polibag hitam berisi tanah di pembibitan. [Foto: Albani.muhammadarief/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Soal takaran, para penulis menyebut dosis menengah hingga tinggi, 1 sampai 1,5 gram per bibit, cenderung menghasilkan tinggi tanaman maksimum karena lebih banyak hifa mikoriza menempel pada akar. Mereka juga memasang batas pada penjelasan itu. “Pemberian dosis berlebihan tidak selalu meningkatkan pertumbuhan lebih lanjut karena adanya kompetisi dengan mikroorganisme lain,” tulis mereka. Percobaan ini sendiri tidak memuat takaran di atas 1,5 gram, sehingga batas tersebut tidak diuji di dalamnya.

Dua faktor yang tidak saling menguatkan

Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pupuk hayati mikoriza dan komposisi media tanam terhadap bibit kopi arabika. Pada keempat ukuran, sidik ragam tidak menemukan interaksi itu. Yang berpengaruh nyata adalah masing-masing faktor secara tunggal. Karena itu, para penulis melaporkan media terbaik dan takaran mikoriza terbaik secara terpisah, bukan sebagai satu pasangan perlakuan yang terbukti paling unggul.

Tabel naskah tetap memuat nilai untuk setiap pasangan perlakuan. Pada tinggi tanaman, sel tertinggi adalah pasangan media P1 dan mikoriza 1,5 gram, 33,15, disusul pasangan P3 dan 1,5 gram, 31,15. Pada luas daun, sel tertinggi juga pasangan P1 dan 1,5 gram, 56,43. Persoalannya, angka di dalam sel keempat tabel kira-kira dua kali lipat rata-rata baris dan kolomnya, dan naskah tidak menjelaskan mengapa.

Baca juga Kentang Cingkariang, Planlet Tumbuh tapi Akarnya Menyusut

Dari akar ke batang dan helai daun

Pola serupa muncul pada diameter batang. Media P1 menghasilkan 2,64 milimeter dan berbeda nyata dengan P3 2,33 milimeter, P2 2,16 milimeter, dan P0 2,12 milimeter. Berbeda dengan tinggi tanaman, di sini campuran sekam dan kompos unggul nyata atas kompos 40 persen. Menurut para penulis, campuran itu menciptakan struktur tanah yang lebih poros dan kaya bahan organik, sehingga mendukung perkembangan akar serta ketersediaan nitrogen dan fosfor.

Untuk mikoriza, takaran 1,5 gram menghasilkan diameter 2,53 milimeter, tidak berbeda nyata dengan 1 gram yang 2,30 milimeter, tetapi berbeda nyata dengan 0,5 gram yang 2,24 milimeter dan tanpa mikoriza yang 2,18 milimeter. Para penulis menjelaskan bahwa hifa eksternal memperluas area serapan akar terhadap fosfor dan nitrogen yang berperan dalam pembentukan jaringan batang. Mikoriza, tulis mereka, juga membantu memperbaiki struktur media dan merangsang hormon pertumbuhan seperti auksin dan sitokinin.

Pada jumlah daun, media P1 mencatat 15,03 helai, di atas P3 13,94 helai, P0 13,66 helai, dan P2 13,53 helai. Takaran 1,5 gram mikoriza menghasilkan 15,38 helai pada bibit kopi arabika dan berbeda nyata dengan 1 gram 14,06 helai, 0,5 gram 13,44 helai, serta tanpa mikoriza 13,28 helai. Para penulis menautkan jumlah daun pada perkembangan akar di media P1. “Akar yang sehat mendorong pembentukan daun lebih banyak selama fase vegetatif,” tulis mereka.

Luas daun mengikuti arah yang sama. Media P1 menghasilkan 25,42 sentimeter persegi dan berbeda nyata dengan P3 23,35, P2 22,14, dan P0 19,23 sentimeter persegi. Pada mikoriza, takaran 1,5 gram menghasilkan 25,78 sentimeter persegi, berbeda nyata dengan 1 gram 22,63, 0,5 gram 21,84, dan tanpa mikoriza 19,89 sentimeter persegi. Para penulis mengaitkannya dengan kemampuan mikoriza meningkatkan ketersediaan kalium di wilayah perakaran dan menjaga keseimbangan hormon tanaman.

Baca juga Kasar atau Halus, Gilingan Mengubah Kafein Kopi Gayo

Mekanisme yang disebut tetapi tidak diukur

Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Yang diukur hanya empat ukuran pertumbuhan bibit kopi arabika di atas tanah. Kolonisasi akar oleh mikoriza, serapan fosfor, kadar hara, kadar hormon, porositas, dan aerasi media tidak tercantum di bagian metode maupun hasil, sehingga penjelasan tentang hifa, hormon, dan aerasi dalam pembahasan belum diperiksa langsung oleh percobaan ini. Jenis mikoriza juga tidak disebut; naskah hanya mencatat zat mikoriza diperoleh secara daring.

Beberapa bagian naskah juga tidak saling cocok. Jumlah ulangan dan jumlah bibit per satuan percobaan tidak dicantumkan. Diameter batang ditulis dalam milimeter di tabel, tetapi dalam sentimeter di abstrak dan kesimpulan. Pada Tabel 3, media P3 bertanda huruf a sementara P1 yang nilainya lebih tinggi bertanda b, berlawanan dengan teks yang menyebut P1 berbeda nyata dengan semua media lain. Pembahasan luas daun pun beralih ke mikroenkapsulasi bakteri endofit, yang tidak termasuk perlakuan.

Kembali ke polibag dengan kompos paling banyak itu. Menurut Fahmi Abdillah, Andi Setiawan, dan Kabul Warsito, bibit kopi arabika di media P1 tumbuh paling baik karena top soil membawa hara dan mikroba, kompos menambah bahan organik, dan sekam memperbaiki aerasi serta menjaga kelembapan. Pada diameter batang dan luas daun, keunggulan atas kompos 40 persen itu nyata menurut tabel. Pada tinggi tanaman, selisih 14,10 dan 13,66 sentimeter tidak nyata.

Bagikan

Baca Juga

Cabai Rawit setelah Pemangkasan Masih Panen 9 hingga 11 Ton
Biosaka pada Jagung Manis, Lima Konsentrasi Tak Berbeda Nyata
Jamur Entomopatogen Lokal Sumbar Hambat Ulat Grayak Jadi Ngengat
Industri Gambia Tumbuh, Produksi Pangannya Justru Turun
Pupuk Fosfor 75 Kilogram Cukup untuk Kacang Babi
Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan