- Percobaan berlangsung September 2024 sampai Januari 2025 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
- Tidak ada interaksi antara sisa CRF dan dosis pupuk baru pada pertumbuhan maupun hasil panen.
- Sisa CRF 1.500 kg/ha memberi tanaman tertinggi dengan rata-rata 113,22 cm.
- CRF 1.500 kg/ha menghasilkan bobot buah per tanaman tertinggi, yakni 278 gram.
- Abstrak menyebut CRF 750 kg/ha paling efektif, sedangkan kesimpulan menyebut CRF 1.500 kg/ha terbaik.
Daftar Isi
Cekricek.id — Cabai rawit setelah pemangkasan masih mampu berbuah kembali. Dalam percobaan di kebun Universitas Andalas, Padang, bobot buahnya mencapai 9 sampai 11 ton per hektare. Angka itu lebih rendah daripada panen sebelum tanaman dipangkas, tetapi tanaman yang sudah berhenti berproduksi masih berpotensi dipanen lagi.
Percobaan berlangsung dari September 2024 sampai Januari 2025 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, kampus Limau Manis, pada ketinggian 388 mdpl. Tanahnya Ultisol, jenis tanah yang menurut paper umumnya miskin unsur hara. Paper menyebut tanah seperti itu masih bisa dimanfaatkan dengan pengelolaan yang baik, seperti pemupukan yang tepat.
Penelitian ini ditulis Nur Kholish Majid, Irfan Suliansyah, dan Ardi dari Program Studi Agronomi, bersama P.K. Dewi Hayati dari Program Studi Agroteknologi, semuanya di Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Judul artikelnya Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) setelah Pemangkasan dengan Pemberian Controlled Release Fertilizer pada Ultisol. Artikel itu terbit di JAGUR Jurnal Agroteknologi Volume 8 Nomor 1, April 2026, halaman 31–39.
Cabai Rawit setelah Pemangkasan
Tanaman yang dipakai adalah cabai rawit varietas Bonita yang sudah berumur 8 bulan saat dipangkas. Tim memangkas setiap tanaman secara merata dengan menyisakan 4 cabang dikotomus. Perawatan di luar pupuk dan pemangkasan dilakukan berdasarkan standar budidaya tanaman cabai.
Alasan memangkas tertulis di bagian pendahuluan paper. Pemangkasan setelah masa produktif diharapkan merangsang pertumbuhan tunas baru pada tanaman. Dengan begitu, masa panen bisa diperpanjang dengan biaya budidaya yang lebih efisien daripada memulai lagi dari bibit.
Pupuk yang diuji adalah Controlled Release Fertilizer atau CRF bermerek Mampan. Paper menjelaskan CRF melepaskan nutrisi secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman dan membantu mengurangi dampak lingkungan dibandingkan pupuk konvensional. Pembandingnya pupuk NPK 15,15,15 yang diberikan secara bertahap.
Sisa Pupuk Lama
Lahan percobaan ini punya riwayat. Petak-petaknya sudah pernah diberi CRF dalam penelitian sebelumnya dengan dosis 750, 1.000, dan 1.500 kg/ha, dan sisa pupuk itu dijadikan petak utama. Paper menyebut dosis CRF yang tinggi akan tinggal di dalam tanah sebagai residu pupuk.
Yang diuji adalah respons cabai rawit setelah pemangkasan terhadap sisa pupuk lama dan pupuk baru. Di atas tiap petak utama, tim memberi satu dari tiga perlakuan, yaitu CRF 750 kg/ha, CRF 1.500 kg/ha, atau NPK 1.200 kg/ha.
Hasilnya 9 kombinasi perlakuan dengan 4 ulangan, sehingga ada 36 satuan percobaan. Rancangannya Rancangan Acak Kelompok dalam Petak Terbagi. Sisa CRF menjadi petak utama, sedangkan dosis CRF dan NPK yang baru menjadi anak petak.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
CRF diberikan satu kali, yaitu pada minggu pertama setelah pemangkasan. NPK diberikan bertahap sebanyak tiga kali, yaitu pada minggu ke-1, ke-3, dan ke-5 setelah pemangkasan. Paper menyebut CRF yang dibenamkan ke dalam tanah melepaskan hara dalam periode 2 sampai 6 bulan.
Tim mengukur tinggi tanaman, jumlah tunas, tunas terpanjang, dan jumlah cabang dikotomus. Mereka juga menghitung jumlah buah serta bobot buah per tanaman, per petak, dan per hektare. Bobot per hektare dikonversi dari bobot buah pada petak panen berukuran 1 m x 1,5 m.
Datanya dianalisis ragam dengan perangkat Statistical Tool for Agricultural Research. Bila nilai Pr(>F) di bawah 0,05, uji dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test pada taraf 5%. Uji lanjut inilah yang menentukan huruf pembeda pada tabel hasil.
Tanah Sebelum dan Sesudah
Tanah dianalisis dua kali, yaitu sebelum dan sesudah percobaan. Sampelnya diambil dari tiap petak utama lalu dikompositkan. Sebelum percobaan, pH tanah berada di rentang 5,10 sampai 5,26 dan tergolong masam.
Setelah percobaan, pH naik menjadi 5,44 sampai 5,67 dan masuk kategori masam hingga agak masam. Para penulis membaca kenaikan ini sebagai tanda bahwa pemberian pupuk berpengaruh terhadap pH tanah. Aluminium dapat ditukar ikut turun, dari 2,31–2,87 menjadi 0,60–0,69 cmolc/kg.
Nitrogen bertambah pada ketiga perlakuan. Menurut paper, kandungan N naik 11,2% pada petak CRF 750, 2,6% pada CRF 1.500, dan 21,4% pada NPK 1.200. Pada petak NPK 1.200, misalnya, N naik dari 0,98 menjadi 1,19 persen.
Fosfor dan kalium bergerak ke arah sebaliknya. P tersedia turun dari kriteria sangat tinggi menjadi sangat rendah, misalnya dari 33,00 ppm menjadi 0,78 ppm pada petak CRF 750. Kalium turun dari sangat tinggi menjadi rendah hingga sedang, seperti dari 1,33 menjadi 0,48 persen pada petak NPK.
Penjelasan penulis berkaitan dengan fase tanaman. Cabai dalam percobaan ini sudah berada di fase reproduktif, sehingga P dan K lebih banyak diserap untuk membentuk bunga dan buah. Nitrogen yang lebih banyak dipakai untuk tunas dan daun justru banyak tertinggal di tanah.

Tinggi dan Tunas
Pada pertumbuhan cabai rawit setelah pemangkasan, tidak ada interaksi antara sisa CRF dan dosis pupuk baru. Hal itu berlaku untuk tinggi tanaman, jumlah tunas, tunas terpanjang, dan jumlah cabang dikotomus. Pengaruh baru terlihat bila tiap perlakuan dilihat sendiri-sendiri.
Sisa CRF 1.500 kg/ha memberi tanaman tertinggi, dengan rata-rata 113,22 cm. Petak sisa 750 kg/ha menghasilkan 107,81 cm dan petak sisa 1.000 kg/ha 107,83 cm, dua angka yang tidak berbeda nyata. Para penulis mengaitkan keunggulan itu dengan kandungan N yang sangat tinggi dari sisa pupuk.
Dosis pupuk baru tidak membedakan tinggi tanaman. Rata-ratanya 107,5 cm untuk CRF 750, 109,3 cm untuk CRF 1.500, dan 111,8 cm untuk NPK 1.200. Menurut paper, N yang sangat tinggi dari sisa pupuk mengurangi pengaruh pemberian pupuk setelah percobaan.
Tunas terpanjang mengikuti pola serupa. Sisa CRF 1.500 kg/ha menghasilkan tunas 52,1 cm, di atas 46,0 cm dan 47,1 cm pada dua petak sisa lainnya. Dari pupuk baru, CRF 1.500 kg/ha unggul dengan 49,4 cm, sedangkan CRF 750 dan NPK tidak berbeda.
Jumlah tunas nyaris seragam, sekitar 6,4 sampai 6,7 tunas per tanaman. Jumlah cabang dikotomus berkisar 136,3 sampai 150,8 cabang dengan pengaruh perlakuan yang sama. Paper menyebut pemangkasan yang merata dengan 4 cabang tersisa sebagai penentu keseragaman ini.
Cabai rawit setelah pemangkasan juga lebih pendek dibanding sebelum dipangkas. Tingginya 104 sampai 116 cm, sedangkan cabai dari bibit pada penelitian Majid (2024) mencapai 120 sampai 130 cm. Jumlah cabang pun turun dari 275–355 menjadi 128–160 cabang setelah pemangkasan.
Para penulis menyoroti usia tanaman. “Pemangkasan yang dilakukan pada saat tanaman sudah memasuki fase reproduktif untuk memperpanjang periode panen, tidak mampu memperbaiki kemampuan tanaman menyerap unsur hara secara efisien,” tulis Nur Kholish Majid, P.K. Dewi Hayati, Irfan Suliansyah, dan Ardi.
Buah dan Bobot
Pada hasil panen cabai rawit setelah pemangkasan, interaksi kembali tidak ditemukan. Namun, menurut paper, tiap perlakuan tunggal berpengaruh signifikan terhadap jumlah buah, bobot buah per tanaman, per petak, dan per hektare. Angka-angka itu dirangkum dalam Tabel 3.
Jumlah buah terbanyak datang dari CRF. Rata-ratanya 122,8 buah per tanaman dengan CRF 750 dan 122,3 buah dengan CRF 1.500, sedangkan NPK 1.200 menghasilkan 112,1 buah. Angka NPK itu berbeda nyata dari kedua dosis CRF.
Paper menjelaskan bahwa cabai rawit sering memunculkan dua bunga per cabang. Kedua buah itu membutuhkan pasokan hara yang memadai agar tumbuh baik dan tidak rontok. Kalium dalam CRF disebut mendukung pembentukan buah dan mencegah kerontokan bunga.
Bobot buah per tanaman tertinggi dicapai CRF 1.500 kg/ha, yakni 278 gram, disusul CRF 750 dengan 264 gram dan NPK dengan 260 gram. Menurut paper, CRF 1.500 tidak berbeda signifikan dari CRF 750, tetapi berbeda nyata dari NPK. CRF disebut memberi respons terbaik dibandingkan pupuk NPK.
Baca juga Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan
Untuk bobot per petak, CRF 1.500 kg/ha kembali teratas dengan 1.605 gram. CRF 750 memberi 1.533 gram dan NPK 1.482 gram, dan ketiganya berbeda nyata. Di tingkat hektare, CRF 1.500 dan CRF 750 tidak berbeda, sementara NPK tertinggal secara nyata.
Sisa pupuk lama ikut bekerja. Petak sisa CRF 1.000 dan 1.500 kg/ha menghasilkan 10,44 dan 10,71 ton per hektare, sedangkan petak sisa 750 kg/ha tertinggal di 9,65 ton. Angka tertinggi di Tabel 3 muncul pada sisa CRF 1.500 kg/ha yang diberi CRF 1.500 kg/ha, yaitu 11,02 ton, dan terendah 9,09 ton pada sisa CRF 750 kg/ha yang diberi NPK.
Hasil cabai rawit setelah pemangkasan itu belum menyamai panen sebelum tanaman dipangkas, yang dalam penelitian Majid (2024) mencapai 14 ton per hektare. Deskripsi varietas Bonita sendiri menyebut potensi hasil hingga 13,5 ton per hektare. Para penulis menilai hasil percobaan ini sudah mendekati angka deskripsi tersebut.
“Dari hasil pemangkasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tanaman cabai rawit yang sudah berhenti berproduksi masih memiliki potensi untuk kembali berproduksi walaupun tidak sebesar produksi semula,” tulis para penulis di akhir pembahasan.
Keberatan dari Tabel
Naskah ini memuat beberapa ketidakcocokan. Abstrak menulis CRF 750 kg/ha sebagai perlakuan paling efektif pada semua tingkat sisa pupuk. Butir ketiga kesimpulan justru menyebut dosis CRF 1.500 kg/ha sebagai perlakuan terbaik bagi pertumbuhan dan hasil.
Baris rata-rata bobot per hektare di Tabel 3 juga janggal. Untuk kolom CRF 750 tercantum 10,98 ton, padahal tiga angka di atasnya 9,74, 10,24, dan 10,67 ton. Rata-rata ketiga angka itu sekitar 10,22 ton.
Persentase kenaikan nitrogen pun tidak sepenuhnya cocok. Pada petak CRF 1.500, N naik dari 1,12 menjadi 1,16 persen, atau sekitar 3,6%, sedangkan teks menulis 2,6%. Teks juga menyebut N awalnya tergolong sedang, padahal Tabel 1 memberinya label sangat tinggi.
Keterangan lain juga tidak seragam. Kepala setiap halaman mencantumkan DOI yang merujuk volume 6 tahun 2024, sementara artikel ini terbit di Volume 8 Nomor 1 tahun 2026. Di halaman 35, teks menyebut tiap perlakuan tunggal berpengaruh signifikan terhadap jumlah buah, lalu menulis bahwa efek sisa pupuk menunjukkan jumlah buah yang sama.
Baca juga Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun
Yang Belum Terjawab
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Percobaannya berlangsung satu musim, di satu kebun percobaan, dengan satu varietas cabai rawit. Sampel tanah pun dikompositkan per petak utama, bukan per kombinasi perlakuan.
Abstrak menambahkan satu temuan praktis. Sisa CRF disebut menambah pasokan nitrogen di tanah, sehingga cabai rawit setelah pemangkasan tidak terlalu memerlukan tambahan pupuk nitrogen. Tabel 1 mencatat N tetap berlabel sangat tinggi setelah percobaan di ketiga petak.
Menurut para penulis, sisa pupuk dari penelitian sebelumnya dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman dalam jangka waktu lama. Paper menyebut panen karena itu dapat berlangsung lebih lama, tetapi lama panen tidak tercantum sebagai peubah yang diamati.
Kesimpulan mereka menetapkan sisa CRF 1.500 kg/ha sebagai perlakuan terbaik bagi pertumbuhan dan hasil cabai rawit setelah pemangkasan pada Ultisol.















