Di Tanah Bekas Tambang Kapur, Glomus Paling Menolong Bibit Kakao

A A

Bibit kakao muda tumbuh di dalam polibag hitam di atas lantai keramik. [Foto: BP70Wildan/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)]

  • Bibit kakao BL50 ditanam di polibag berisi tanah bekas tambang kapur dari Indarung, Padang.
  • Kolonisasi akar tertinggi 93,33 persen tercatat pada Glomus sp. dosis 30 gram per bibit.
  • Sidik ragam tidak menemukan interaksi antara jenis dan dosis FMA terhadap pertumbuhan bibit kakao.
  • Sejumlah angka di teks pembahasan tidak cocok dengan angka di tabel naskah.
Daftar Isi
  1. Mengapa Tanah Bekas Tambang Kapur Menghambat Tanaman
  2. Cara Percobaan Memisahkan Jenis dan Dosis Jamur
  3. Bagaimana Jamur Masuk ke Dalam Akar Kakao
  4. Hifa Halus yang Menjangkau Pori Terkecil
  5. Glomus dan Jalan Cepat Menuju Simbiosis
  6. Dosis Lebih Banyak, Bidang Serapan Lebih Luas
  7. Di Mana Angka Naskah Tidak Saling Bertemu

Cekricek.id — Lahan yang ditinggalkan karena tanaman sulit tumbuh di atasnya justru disebut peluang untuk kebun kakao, dan tiga peneliti Universitas Andalas menguji peluang itu memakai tanah bekas tambang kapur dari Indarung, Padang. Mereka tidak menanam langsung di lahan tersebut. Tanahnya dimasukkan ke polibag, bibit kakao ditanam di dalamnya, lalu akarnya diberi jamur dengan jenis dan takaran yang berbeda-beda.

Penelitian itu ditulis Mariche Dwi Denola dari Departemen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas, bersama Armansyah dan Auzar Syarif dari Program Studi Agroteknologi fakultas yang sama. Hasilnya terbit dengan judul Pengaruh Jenis Dan Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Media Tanah Bekas Tambang Kapur Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) di JAGUR Jurnal Agroteknologi Volume 8 Nomor 1, halaman 1–10, edisi April 2026.

Persoalan lahannya digambarkan naskah itu dengan terang. Penambangan batu kapur milik PT Semen Padang di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, meliputi pembukaan lahan, pengeboran, peledakan, pendorongan, dan pengangkutan. Rangkaian kegiatan itu menghilangkan vegetasi dan merusak horizon tanah. “Lahan bekas tambang kapur yang telah ditinggalkan oleh PT Semen Padang menjadi lahan yang terbengkalai dan tidak dimanfaatkan selama bertahun-tahun,” tulis para peneliti.

Mengapa Tanah Bekas Tambang Kapur Menghambat Tanaman

Karena itu, tanah bekas tambang kapur membawa lebih dari satu masalah. Naskah menyebut lahan bekas penambangan bahan baku semen seperti kapur kekurangan unsur hara esensial seperti nitrogen dan fosfor, mengandung toksisitas mineral, dan memiliki pH tanah yang tidak normal. Campuran bahan galian di lahan itu membuat kondisi tanahnya bervariasi, baik reaksi tanah maupun kandungan unsur haranya. Masalah itulah yang menurut para penulis menjadi kendala utama masyarakat setempat untuk bertani, karena tanaman yang ditanam di sana terhambat pertumbuhannya.

Paper itu juga menyebut Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, yang mengharuskan setiap perusahaan tambang melakukan revegetasi pada lahan kritis bekas tambang. Revegetasi di sana diartikan sebagai usaha memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui penanaman dan pemeliharaan. Untuk mendukung proses itu, para penulis menyebut perlunya teknologi yang efektif, dan salah satunya adalah aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula atau FMA.

FMA dalam naskah ini disebut sebagai simbiosis mutualistik antara fungi dan akar tumbuhan tingkat tinggi. Pemanfaatannya dapat meningkatkan penyerapan akar serta ketahanan tanaman terhadap patogen dan kondisi ekstrem seperti kekeringan, pH rendah, dan logam berat yang tinggi di dalam tanah. Persoalannya, naskah yang sama mencatat bahwa penelitian aplikasi mikoriza pada pembibitan kakao dengan media tanam bekas tambang kapur masih terbatas. Celah itulah yang diisi percobaan ini.

Baca juga Dosen IPB Ungkap Tanah Bekas Tambang Poboya Simpan Mikroba

Cara Percobaan Memisahkan Jenis dan Dosis Jamur

Percobaan dikerjakan di Rumah Kawat Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Kota Padang, dari Februari hingga Juni 2025. Bibitnya kakao varietas BL50 yang diperoleh dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Tanah bekas tambang kapur diambil dari kawasan bekas lahan tambang di Kelurahan Indarung, sedangkan ketiga jenis jamur disiapkan dalam bentuk media pasir. Pengamatan kolonisasi akar dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan pada fakultas yang sama.

Rancangannya faktorial dua faktor dalam Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama adalah jenis FMA dengan tiga taraf, yaitu Glomus sp., Gigaspora sp., dan Acaulospora sp. Faktor kedua adalah dosis FMA dengan empat taraf, yakni 0, 10, 20, dan 30 gram per bibit. Setiap kombinasi diulang tiga kali sehingga terdapat 36 unit percobaan, dan setiap unit berisi delapan tanaman sampel.

Dari delapan tanaman itu, empat merupakan sampel destruktif dan empat lainnya sampel nondestruktif, sehingga seluruhnya ada 288 tanaman sampel. Data dianalisis dengan sidik ragam pada taraf 5 persen. Bila nilai F hitung lebih besar daripada F tabel, analisis dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test pada taraf nyata yang sama. Tujuannya, menurut abstrak, menentukan ada tidaknya interaksi jenis dan dosis, jenis terbaik, serta dosis terbaik bagi bibit kakao di tanah itu.

Bagaimana Jamur Masuk ke Dalam Akar Kakao

Hal pertama yang diperiksa adalah apakah jamur itu benar-benar bersimbiosis dengan akar. Kolonisasi diamati pada bibit berumur 12 MST. Bibit yang tidak diberi FMA sama sekali tidak menunjukkan akar yang terkolonisasi, atau 0 persen. “Hal ini diduga bahwa bibit kakao yang tidak diaplikasikan FMA tidak akan terjadi kolonisasi FMA pada akar dikarenakan tanah yang digunakan sudah steril,” tulis Denola dan rekan-rekannya.

Pada bibit yang diberi jamur, persentase kolonisasi berkisar 60 sampai 93,33 persen. Angka terendah, 60 persen, tercatat pada Gigaspora sp. dosis 10 gram per bibit dan masih masuk kategori tinggi. Angka tertinggi, 93,33 persen, ada pada Glomus sp. dosis 30 gram dan tergolong sangat tinggi. Untuk dosis 10, 20, dan 30 gram, Glomus sp. mencatat 80, 86,67, dan 93,33 persen, Acaulospora sp. 66,67, 73,33, dan 86,67 persen, sedangkan Gigaspora sp. 60, 66,67, dan 80 persen.

Jalan masuknya diuraikan naskah secara bertahap. Infeksi diawali terbentuknya apresorium pada permukaan akar, lalu apresorium menembus sel epidermis dalam proses yang disebut penetrasi. Sesudah itu hifa tumbuh secara intraseluler atau ekstraseluler di dalam korteks. Pada akar kakao yang diamati, peneliti menemukan hifa internal, vesikula, dan arbuskula. Arbuskula digambarkan sebagai hifa bercabang halus di dalam sel korteks yang menyerupai pohon dan menjadi tempat pertukaran antara jamur dan akar.

Tebing batu kapur di lahan bekas tambang Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Tebing batu kapur di lahan bekas tambang Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. [Foto: RasyaAbhirama13/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Aliran nutrisi dari jamur ke tanaman inang diperkirakan berjalan melalui arbuskula. Hifa yang berada di dalam tanah mengambil nutrisi, lalu mengalirkannya ke dalam sel akar, dan aliran fosfor di dalam hifa mengikuti aliran sitoplasma sel akar. Hifa eksternal menyerap fosfat dari tanah, mengubahnya menjadi polifosfat, lalu memecahnya menjadi fosfat organik yang dapat diserap sel tanaman. Hifa juga mengeluarkan enzim fosfatase yang melepaskan fosfor dari ikatan spesifik di dalam tanah.

Hifa Halus yang Menjangkau Pori Terkecil

Ukuran hifa menjadi kunci berikutnya. Karena lebih halus daripada bulu akar, hifa dapat menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil dan tetap menyerap air ketika kadar air tanah sangat rendah. Serapan air yang besar itu ikut membawa unsur hara yang mudah larut, seperti nitrogen, kalium, dan belerang, sehingga serapan unsur tersebut meningkat. “Semakin tinggi persentase kolonisasi akar maka semakin meningkat pula pertumbuhan bibit kakao,” tulis para peneliti.

Karena itu, kolonisasi yang tinggi tidak dibaca sebagai angka mikroskop semata. Pada bibit kakao di tanah bekas tambang kapur, sidik ragam tidak menemukan interaksi antara jenis dan dosis FMA untuk pertambahan tinggi, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, maupun bobot segar akar. Untuk tiga peubah bobot, yang berpengaruh nyata adalah masing-masing faktor tunggal. Artinya, dalam naskah ini jenis jamur dan takarannya dibahas sendiri-sendiri.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Glomus dan Jalan Cepat Menuju Simbiosis

Pertambahan tinggi dihitung sebagai selisih tinggi bibit pada 12 MST dan 2 MST. Rata-rata di tabel mencatat Glomus sp. 27,25 cm, Acaulospora sp. 26,21 cm, dan Gigaspora sp. 22,25 cm. Pada bobot segar tajuk, Glomus sp. mencatat rata-rata 17,76 gram, di atas Acaulospora sp. 15,96 gram dan Gigaspora sp. 15,15 gram. Bobot kering tajuk berurutan serupa, yakni 4,03, 2,89, dan 2,80 gram.

Penjelasannya kembali ke akar. Naskah menyebut Glomus sp. memiliki spora yang lebih cepat berkecambah dibandingkan Acaulospora sp. dan Gigaspora sp., sehingga bersimbiosis lebih cepat dan menyalurkan nutrisi tanaman. Kolonisasi akar tertinggi pun tercatat pada jenis ini. “Hal ini diduga karena Glomus sp memiliki tingkat kesesuaian dan adaptasi yang lebih baik pada bibit kakao yang ditanam pada tanah bekas tambang kapur,” tulis Denola, Armansyah, dan Auzar Syarif.

FMA juga disebut berperan menstimulasi pembentukan hormon pertumbuhan seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Hormon itu berperan dalam pembelahan dan pemanjangan sel, sehingga bila jumlahnya lebih banyak, penambahan ukuran dan jumlah sel berlangsung lebih cepat. Untuk bobot segar akar, naskah mengaitkan keunggulan Glomus sp. dengan kadar air di dalam akar. Pemberian mikoriza disebut meningkatkan tekanan turgor, yang naik bersama potensial air pada akar tanaman bermikoriza.

Baca juga Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas

Dosis Lebih Banyak, Bidang Serapan Lebih Luas

Untuk takaran, naskah menyimpulkan 30 gram per bibit sebagai dosis terbaik. Teks pembahasan menyebut dosis 0 gram menghasilkan pertambahan tinggi terendah, yaitu 21,67 cm, dan dosis 30 gram menghasilkan yang tertinggi, yaitu 30,66 cm. Nilai bobot segar tajuk tertinggi juga disebut ada pada dosis 30 gram, yakni 23,35 gram. Penjelasan yang diberikan, FMA dengan dosis berbeda memperluas bidang serapan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Bobot segar tajuk, tulis para peneliti, terdiri dari batang dan daun yang merupakan akumulasi hasil fotosintesis dan dipengaruhi ketersediaan hara dan air. Dosis 30 gram menghasilkan tajuk terberat, yang mereka baca sebagai tanda penyerapan hara dan air lebih efektif. Pada bobot segar akar, kenaikan dari 0 hingga 30 gram disebut signifikan, walau kenaikan dari 10 ke 30 gram berbeda tidak nyata. “Dosis FMA 30 g/bibit merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kakao yang ditanam pada tanah bekas tambang kapur,” tulis mereka.

Di Mana Angka Naskah Tidak Saling Bertemu

Penjelasan itu berhenti pada sejumlah angka yang tidak cocok antara teks dan tabel. Nilai 30,66 cm yang disebut sebagai rata-rata dosis 30 gram sebenarnya sel Glomus sp. dosis 30 gram di Tabel 2, sementara pada dosis yang sama Gigaspora sp. mencatat 20,03 cm, lebih rendah dari 21,67 cm tanpa jamur. Tabel itu tidak memuat rata-rata per dosis, dan judulnya tertulis persentase akar terkolonisasi walau isinya tinggi bibit.

Pola serupa muncul pada data bobot. Teks menyebut bobot kering tajuk Glomus sp. 5,40 gram, padahal rata-ratanya di Tabel 4 adalah 4,03 gram dan 5,40 merupakan sel dosis 30 gram. Rata-rata bobot kering tajuk dosis 30 gram ditulis 17,76 gram, sama dengan rata-rata bobot segar tajuk Glomus sp. di Tabel 3. Tabel 3 sampai 5 juga mencantumkan satuan cm untuk data bobot, dan pembahasan merujuk jumlah daun yang tidak disajikan.

Pada Tabel 5, baris Acaulospora sp. untuk dosis 10, 20, dan 30 gram sama persis dengan baris Glomus sp., yakni 8,12, 10,57, dan 11,24 gram, tetapi rata-ratanya tertulis 6,73 dengan huruf c. Teks justru menyebut 6,73 gram sebagai rata-rata terendah milik Gigaspora sp., sedangkan tabel mencantumkan Gigaspora sp. 7,72 gram. Keterangan di bawah tabel berbunyi berbeda tidak nyata menurut uji F, meski rata-ratanya diberi huruf pembeda.

Kepala halaman naskah juga mencantumkan DOI dengan penanda volume 7 nomor 2 tahun 2025, berbeda dari keterangan Volume 8 Nomor 1 April 2026 pada halaman yang sama. Naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Seluruh pengamatan berhenti pada umur 12 MST, memakai satu varietas kakao, dan dikerjakan di rumah kawat dengan tanah yang diambil dari kawasan bekas tambang, bukan di lahan bekas tambang itu sendiri.

Lahan yang terbengkalai karena tanaman terhambat tumbuh itu, dalam percobaan ini, didekati lewat akar. Jamur masuk melalui apresorium, hifanya menjangkau pori yang tak tercapai bulu akar, dan bibit kakao BL50 di tanah bekas tambang kapur Indarung tumbuh paling baik bersama Glomus sp. serta takaran 30 gram per bibit, setidaknya sampai 12 MST di rumah kawat Universitas Andalas.

Bagikan

Baca Juga

Pupuk Kandang Ayam 20 Ton Beri Umbi Bawang Merah Terberat
Bibit Gambir Cubadak Tumbuh Terbaik di Bawah Naungan 60 Persen
Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Bumi Minangkabau Festival 2026 Digelar Empat Hari di Batusangkar
Bibit Sawit Kekeringan Diuji dengan Mikoriza di Pre Nursery
Kopi Keliling Payakumbuh, Harga Lebih Kuat daripada Mutu