Usaha Mikro Mitra Baznas Bertahan lewat Kinerja Keuangan

A A

Deretan rak barang dagangan di sebuah warung kelontong. [Foto: SATELITBM/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Penelitian melibatkan 285 pemilik usaha mikro mitra Baznas Microfinance Desa di Malang, Ponorogo, dan Sampang.
  • Sebanyak 80,4 persen responden perempuan dan 68,1 persen bergerak di sektor kuliner.
  • Modal kerja mencatat koefisien tertinggi ke kinerja keuangan, 0,285, di antara tiga faktor penentu.
  • Jalur kinerja keuangan ke keberlanjutan usaha mencatat koefisien tertinggi, 0,292.
  • Angka diagonal Tabel 4 tidak cocok dengan AVE yang dilaporkan di Tabel 3.
Daftar Isi
  1. Dari Malang sampai Sampang, 285 Usaha Mikro Mitra Baznas
  2. Lima Peubah dan Batas Lolos 0,70
  3. Modal Kerja Unggul Tipis di Sepuluh Jalur
  4. Kinerja Keuangan sebagai Jalan Tengah
  5. Halaman 619 sampai 622, Angka yang Tidak Bersambung
  6. Keterbatasan yang Diakui Penulisnya

Cekricek.id — Sebanyak 285 pemilik usaha mikro mitra Baznas di Jawa Timur menjawab kuesioner yang sama. Mereka tersebar di Kota Malang, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Sampang. Jawaban mereka dipakai untuk menimbang faktor apa saja yang menopang keberlanjutan usaha mikro yang dimodali program pembiayaan mikro syariah.

Penelitiannya ditulis Mohamad Bastomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Malang, dengan judul Microenterprise Sustainability in Islamic Microfinance. Naskah itu terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 615 sampai 626. Tabel-tabel hasilnya bersumber dari perhitungan penulis bertahun 2025.

Program yang diteliti bernama Baznas Microfinance Desa. Naskah menyebutnya program pembiayaan mikro syariah nirlaba yang didanai zakat mal dan infak, lalu disalurkan kepada mustahik. Berbeda dengan lembaga pembiayaan mikro konvensional, program ini disebut mengutamakan pemberdayaan ketimbang mencari laba, dengan memberi modal usaha produktif dan pendampingan usaha.

Dari Malang sampai Sampang, 285 Usaha Mikro Mitra Baznas

Penelitian dilakukan di antara pemilik usaha mikro mitra Baznas Microfinance Desa pada tiga daerah operasional program itu di Jawa Timur. Satuan analisisnya pemilik atau pengelola usaha mikro yang terdaftar sebagai mitra program. Rancangannya kuantitatif eksplanatori, dengan kuesioner skala Likert lima poin.

Responden dipilih bertahap. Mula-mula wilayah penelitian dikelompokkan menurut cakupan operasional program. Sesudah itu sampel dibagi secara proporsional ke tiga daerah. Terakhir, responden di tiap daerah direkrut dengan cara sampel kemudahan, menurut ketersediaan mereka selama masa survei. Syaratnya empat: mitra aktif, menjalankan usaha mikro, terlibat langsung mengelola usaha, dan bersedia mengisi kuesioner.

Dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan batas galat 5 persen, jumlah sampel yang diperlukan dihitung sebanyak 285 responden. Semuanya memenuhi syarat. Naskah tidak mencantumkan berapa responden yang berasal dari masing-masing daerah, dan tidak menyebut kapan persisnya survei itu berlangsung.

Dari 285 pemilik usaha mikro mitra Baznas itu, 229 orang atau 80,4 persen perempuan dan 56 orang atau 19,7 persen laki-laki. Kelompok umur terbanyak 41 sampai 50 tahun, yakni 107 orang atau 37,5 persen. Sesudahnya menyusul umur 31 sampai 40 tahun sebanyak 85 orang dan umur di atas 50 tahun sebanyak 67 orang.

Pendidikan terbanyak setingkat SMP, yakni 162 orang atau 56,8 persen. Setingkat SMA 61 orang, setingkat SD 29 orang, sarjana 20 orang, diploma 12 orang, dan magister satu orang. Menurut lama usaha, 128 responden atau 44,9 persen menjalankan usahanya satu sampai lima tahun, dan 108 responden enam sampai sepuluh tahun.

Sektor usaha mikro mitra Baznas itu didominasi kuliner. Sebanyak 194 responden atau 68,1 persen bergerak di kuliner, disusul ritel dan kelontong sebanyak 38 responden atau 13,3 persen. Fesyen dan jasa masing-masing 13 responden, agribisnis 9 responden, kreatif 4 responden, dan sektor lain 14 responden.

Dua dari tiga usaha responden bergerak di kulinerKuliner 68,1 persen (194); ritel/kelontong 13,3 persen (38); lainnya 4,9 persen (14); fesyen 4,6 persen (13); jasa 4,6 persen (13); agribisnis 3,2 persen (9); kreatif 1,4 persen (4).Dua dari tiga usaha responden bergerak dikulinerSektor usaha 285 mitra Baznas Microfinance Desa di JawaTimur, persenKuliner68,1Ritel/kelontong13,3Lainnya4,9Fesyen4,6Jasa4,6Agribisnis3,2Kreatif1,4Kuliner 194 responden, ritel/kelontong 38, lainnya 14, fesyen danjasa masing-masing 13, agribisnis 9, kreatif 4.cekricek.id
Sumber: Bastomi (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(2): 615–626. Grafik: Cekricek.id

Pendapatan usaha terbanyak berada di bawah Rp50 juta, dimiliki 156 responden atau 54,7 persen. Sebanyak 62 responden berpendapatan di atas Rp50 juta sampai Rp100 juta, dan 47 responden di atas Rp100 juta sampai Rp200 juta. Hanya empat responden yang pendapatannya di atas Rp300 juta. Naskah tidak menyebut apakah angka itu per bulan atau per tahun.

Sebanyak 131 responden atau 46,0 persen berlaba di bawah Rp10 juta, dan 118 responden atau 41,4 persen berlaba di atas Rp10 juta sampai Rp50 juta. Jumlah keduanya 87,4 persen. Hanya 29 responden berlaba di atas Rp50 juta sampai Rp100 juta, lima responden sampai Rp300 juta, dan dua responden di atasnya.

Sebanyak 87,4 persen responden berlaba paling banyak Rp50 jutaDi bawah Rp10 juta 46,0 persen (131); Rp10 juta sampai Rp50 juta 41,4 persen (118); Rp50 juta sampai Rp100 juta 10,2 persen (29); Rp100 juta sampai Rp300 juta 1,8 persen (5); di atas Rp300 juta 0,7 persen (2).Sebanyak 87,4 persen responden berlabapaling banyak Rp50 jutaSebaran laba usaha 285 responden, persenDi bawah Rp10 juta46,0Rp10 juta sampai Rp50 juta41,4Rp50 juta sampai Rp100 juta10,2Rp100 juta sampai Rp300 juta1,8Di atas Rp300 juta0,7Naskah tidak menyebut apakah laba itu per bulan atau per tahun.Jumlah responden: 131, 118, 29, 5, dan 2.cekricek.id
Sumber: Bastomi (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(2): 615–626. Grafik: Cekricek.id

Penulisnya membaca profil usaha mikro mitra Baznas itu sebagai gambaran pelaku usaha aktif yang terlibat langsung mengelola usahanya. Menurut naskah, keberlanjutan usaha di segmen ini erat kaitannya dengan pengalaman praktis, disiplin keuangan, dan kemampuan mengelola sumber daya terbatas setiap hari. Perempuan pelaku usaha disebut mendominasi sampel, dan sebagian besar responden berada pada usia produktif.

Baca juga UMKM Sasirangan Banjarmasin dan Panah Regresi yang Terbalik

Lima Peubah dan Batas Lolos 0,70

Sebelum hubungan antarfaktor dihitung, penulisnya menyusun lima peubah. Tiga menjadi faktor penentu, yaitu literasi keuangan syariah, modal intelektual, dan modal kerja. Kinerja keuangan ditempatkan sebagai peubah perantara, sedangkan keberlanjutan usaha mikro menjadi hasil akhirnya. Seluruhnya diukur lewat jawaban responden atas kuesioner, bukan lewat pembukuan usaha.

Pilihan itu dijelaskan dalam bagian metode. “Pendekatan ini dianggap tepat karena banyak usaha mikro tidak memiliki catatan keuangan yang terstandar; karena itu, ukuran persepsi memberi cara praktis untuk menangkap kondisi usaha dan hasil keuangan dalam konteks ini,” tulis Bastomi.

Tabel definisinya menjabarkan isi tiap peubah. Literasi keuangan syariah diukur lewat perilaku, pengetahuan, sikap, dan kesadaran keuangan syariah. Modal intelektual mencakup modal manusia, relasional, spiritual, dan kepercayaan. Modal kerja mencakup pengelolaan persediaan, piutang, kas, dan utang. Kinerja keuangan diukur dari produktivitas, pertumbuhan penjualan, profitabilitas, dan efisiensi biaya.

Analisisnya memakai pemodelan persamaan struktural kuadrat terkecil parsial atau PLS-SEM, dalam dua tahap. Tahap pertama menguji model pengukuran. Batasnya muatan indikator di atas 0,70, alfa Cronbach dan reliabilitas komposit di atas 0,70, serta rata-rata varians terekstraksi atau AVE di atas 0,50. Tahap kedua menguji model struktural, dengan signifikansi dinilai lewat bootstrapping.

Tahap pertama lolos seluruhnya. Muatan indikator bergerak dari 0,758 pada butir keempat modal kerja sampai 0,924 pada butir kedua keberlanjutan usaha. Alfa Cronbach terendah 0,822 untuk modal kerja dan tertinggi 0,905 untuk kinerja keuangan. AVE terendah 0,652 untuk modal kerja dan tertinggi 0,796 untuk keberlanjutan usaha.

Modal Kerja Unggul Tipis di Sepuluh Jalur

Sesudah alat ukurnya lolos, tahap kedua menguji sepuluh hipotesis tentang usaha mikro mitra Baznas. Tujuh berupa jalur langsung dan tiga berupa jalur tidak langsung lewat kinerja keuangan. Kesepuluhnya diterima, dengan nilai p antara 0,000 dan 0,016. Naskah menyebut semua hubungan yang diajukan bernilai positif dan signifikan secara statistik.

Ke kinerja keuangan usaha mikro mitra Baznas, modal kerja mencatat koefisien 0,285 dengan statistik t 3,776. Modal intelektual mencatat 0,267 dengan statistik t 2,945, dan literasi keuangan syariah 0,266 dengan statistik t 3,477. Selisih koefisien tertinggi dan terendah di jalur ini 0,019. Naskah tidak melaporkan uji beda antarkoefisien tersebut.

Ke keberlanjutan usaha, urutannya sama. Modal kerja mencatat 0,256 dengan statistik t 3,580, modal intelektual 0,244 dengan statistik t 3,259, dan literasi keuangan syariah 0,164 dengan statistik t 2,417. Jalur literasi itu memiliki nilai p terbesar di antara sepuluh hipotesis, yakni 0,016. Jalur kinerja keuangan ke keberlanjutan usaha mencatat koefisien tertinggi, 0,292.

Modal kerja unggul tipis di antara tiga faktorKe kinerja keuangan: literasi keuangan syariah 0,266; modal intelektual 0,267; modal kerja 0,285. Ke keberlanjutan usaha: literasi keuangan syariah 0,164; modal intelektual 0,244; modal kerja 0,256; kinerja keuangan 0,292.Modal kerja unggul tipis di antara tigafaktorKoefisien jalur langsung PLS-SEM, 285 respondenKe kinerja keuanganLiterasi keuangan syariah0,266Modal intelektual0,267Modal kerja0,285Ke keberlanjutan usahaLiterasi keuangan syariah0,164Modal intelektual0,244Modal kerja0,256Kinerja keuangan0,292Tujuh jalur diterima dengan nilai p 0,000 sampai 0,016. Kinerjakeuangan tertinggi ke keberlanjutan usaha.cekricek.id
Sumber: Bastomi (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(2): 615–626. Grafik: Cekricek.id

Dari angka itu penulisnya menempatkan modal kerja sebagai pendorong operasional terkuat dalam model usaha mikro mitra Baznas. “Karena alasan ini, pengelolaan modal kerja secara langsung memengaruhi apakah sebuah usaha dapat terus beroperasi dari satu siklus ke siklus berikutnya,” tulis Bastomi.

Naskah menjabarkan kepekaan itu satu per satu. Usaha mikro disebut sangat peka terhadap kekurangan kas, piutang yang terlambat dibayar, perputaran persediaan yang tidak stabil, dan kewajiban pembayaran jangka pendek. Penulisnya menyimpulkan likuiditas operasional adalah tantangan paling mendesak bagi usaha mikro yang didukung program pembiayaan mikro syariah.

Baca juga Fintech Lending Syariah dan Lama Menarik Lebih Banyak Investor

Untuk literasi keuangan syariah, penulisnya menulis bahwa pelaku usaha yang memahami prinsip keuangan sesuai syariah lebih mampu merencanakan belanja, membagi dana, dan memilih cara pembiayaan yang cocok dengan kebutuhan usahanya. Modal intelektual, menurut naskah, membantu usaha mikro meningkatkan efisiensi, menjaga kepercayaan pelanggan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan meski aset berwujudnya terbatas.

Kinerja Keuangan sebagai Jalan Tengah

Tiga jalur tidak langsung diuji sesudahnya. Literasi keuangan syariah ke keberlanjutan usaha lewat kinerja keuangan mencatat 0,078 dengan statistik t 2,915. Modal intelektual lewat jalur yang sama juga mencatat 0,078 dengan statistik t 2,543. Modal kerja mencatat 0,083 dengan statistik t 2,531. Ketiganya diterima, dengan nilai p 0,004, 0,011, dan 0,012.

Penulisnya membaca hasil itu sebagai sebuah mekanisme. “Dengan kata lain, literasi, kapabilitas tak berwujud, dan pengelolaan likuiditas tidak memperkuat keberlanjutan secara otomatis; ketiganya melakukannya dengan terlebih dahulu meningkatkan profitabilitas, kecukupan arus kas, dan stabilitas keuangan,” tulis Bastomi.

Seporsi nasi pecel dengan ayam bumbu, tempe goreng, dan siraman sambal kacang
Seporsi nasi pecel sajian sebuah warung di Kota Malang, Jawa Timur. [Foto: Evan Ilham Pasha/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Menurut naskah, peran perantara itu menunjukkan keberlanjutan tidak semata akibat langsung dari pengetahuan dan sumber daya, tetapi juga hasil dari cara faktor-faktor itu diterjemahkan menjadi hasil keuangan. Penulisnya menyebut sumbangan utama penelitiannya adalah penjelasan terpadu: tiga faktor penentu bersama-sama menjelaskan keberlanjutan usaha mikro mitra Baznas lewat kinerja keuangan.

Dari sana ia menarik implikasi praktis. Menurut naskah, program pemberdayaan tidak semestinya hanya berfokus pada pemberian modal. Baznas Microfinance Desa dan lembaga serupa disebut perlu memperkuat pendampingan literasi keuangan syariah, pendampingan yang berorientasi kapabilitas, dan praktik pengelolaan modal kerja sederhana yang bisa dijalankan pelaku usaha mikro.

Halaman 619 sampai 622, Angka yang Tidak Bersambung

Beberapa bagian naskah tidak saling bersambung. Di halaman 619, kalimat tentang validitas diskriminan merujuk ke Tabel 3. Kalimat yang hampir sama diulang di halaman 621, kali ini merujuk ke Tabel 4. Padahal Tabel 3 hanya memuat muatan indikator, alfa Cronbach, reliabilitas komposit, dan AVE.

Tabel 4 memuat angka diagonal yang disebut akar AVE tiap peubah: 0,892 untuk literasi keuangan syariah, 0,882 untuk modal intelektual, 0,836 untuk modal kerja, 0,860 untuk kinerja keuangan, dan 0,808 untuk keberlanjutan usaha. Angka itu tidak cocok dengan AVE di Tabel 3. Akar dari 0,740, misalnya, sekitar 0,860, bukan 0,892.

Selisih serupa muncul pada keempat peubah lain. Akar AVE modal intelektual sekitar 0,835, bukan 0,882. Akar AVE modal kerja sekitar 0,807, kinerja keuangan sekitar 0,882, dan keberlanjutan usaha sekitar 0,892. Naskah tidak menjelaskan selisih antara kedua tabel tersebut.

Keberlanjutan usaha diukur dari tiga dimensi di Tabel 1, yaitu kinerja keuangan, fleksibilitas, dan mutu. Dengan begitu, kinerja keuangan tercantum dua kali dalam kerangka yang sama: sebagai peubah perantara dan sebagai dimensi hasil akhirnya. Nama peubahnya juga berganti, dari keberlanjutan usaha mikro di badan naskah menjadi keberlanjutan bisnis di Tabel 3.

Baca juga Intensitas AI Generatif Tak Menaikkan Produktivitas UMKM

Bagian metode menyebut koefisien determinasi atau R² dipakai untuk menilai model struktural. Nilai R² itu tidak dilaporkan di bagian mana pun. Tabel profil juga menyisakan celah kecil: kelompok umur tertulis di bawah 20 tahun lalu langsung 21 sampai 30 tahun, dan persentase laki-laki dan perempuan berjumlah 100,1.

Keterbatasan yang Diakui Penulisnya

Penulisnya mencatat sendiri keterbatasan penelitiannya. “Penelitian ini dibatasi oleh rancangan potong lintangnya dan penggunaan ukuran berbasis persepsi, terutama untuk kinerja keuangan,” tulis Bastomi. Responden di tiap daerah juga direkrut dengan sampel kemudahan, menurut ketersediaan mereka selama survei.

Untuk penelitian berikutnya, ia menyarankan data longitudinal, indikator keuangan yang lebih objektif, dan perbandingan antarlingkungan pembiayaan mikro syariah yang berbeda. Ia juga mengusulkan dukungan kebijakan berupa pelatihan, pendampingan usaha, dan skema pemantauan keuangan yang disesuaikan dengan kondisi usaha mikro.

Tabel terakhir naskah itu bersumber dari perhitungan penulis bertahun 2025. Sampai titik itulah data usaha mikro mitra Baznas di Malang, Ponorogo, dan Sampang tercatat.

Bagikan

Baca Juga

Keuangan Syariah UMKM Lampung: Kesadaran 0,426, Sikap 0,073
Stunting di Indonesia Lebih Rendah Saat Ekonomi Provinsi Tumbuh
Aglomerasi Ekonomi dan Emisi Karbon Kabupaten Membentuk Kurva U
Industri Gambia Tumbuh, Produksi Pangannya Justru Turun
Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Bea Masuk Barang Digital Berpotensi Rp18,58 Miliar per Tahun