Noken Suku Sougb di Papua Barat Dirajut dari Serat Daun Nanas

A A

Ilustrasi deretan noken rajutan serat berwarna alami tergantung di lapak penjual, Papua [Foto: Nurul Ichlasiah/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Orang Sougb menyebut nanas dengan kata gonggoro, dan mereka membedakan tiga jenis.
  • Tanaman itu dipilih karena menghasilkan serat lebih banyak dan lebih lentur, sehingga lebih mudah diolah.
  • Noken Sougb memakai empat warna yang melambangkan alam dan kehidupan, yaitu merah, putih, kuning, dan biru.
  • Perempuan memegang peran pusat di semua tahap merajut, sedangkan laki-laki lebih banyak bekerja di ladang.
  • Yang diamati hanya empat kampung pesisir dari satu suku, sehingga tidak mewakili seluruh orang Sougb, apalagi seluruh Papua.
Daftar Isi
  1. Gonggoro, sebutan Sougb untuk nanas
  2. Gonggoro mei, benang dari serat daun
  3. Etno-tekno-konservasi, belajar dari alam yang berubah
  4. Sirga, kamara, manggoi: nama tumbuhan pewarna
  5. Iymedam, iytataij, iymokrei: besar, sedang, kecil
  6. Igya ser hanjob, menjaga noken sekaligus kebunnya

Etnobotani, kata yang terdengar seperti nama mata kuliah, sebenarnya mengajukan pertanyaan yang sangat rumahan: dari tumbuhan apa sebuah tas dibuat, dan siapa yang tahu cara membuatnya. Di empat kampung pesisir di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, jawabannya tidak terduga. Noken, tas rajut yang sudah berabad-abad menjadi bagian dari budaya orang Papua, di sana dijalin dari daun nanas.

Catatan itu disusun Yoris Saiba, Antoni Ungirwalu, Agustinus Murdjoko, Francis Q. Brearley, Mariana H. Peday, Rina Nelly Yowei, Christian Soleman Imburi, Yubelince Y. Runtuboi, Dony Aristone Djitmau, dan Siti Halimatus Sa’diyah dalam Ethnobotany and conservation applications in the noken making by the Sougb Tribe of West Papua, Indonesia, terbit di Biodiversitas volume 24 nomor 8, tahun 2023. Sembilan penulis berasal dari Universitas Papua di Manokwari, seorang lagi dari Manchester Metropolitan University di Inggris.

Empat kampung itu bernama Abreso, Bamaha, Sabri, dan Tobou. Penghuninya orang Sougb, satu dari empat suku besar dalam kelompok etnis Arfak, bersama Hatam, Meyakh, dan Moile. Para penulis mewawancarai warga yang aktif membuat noken di sana pada Januari sampai Februari 2020, lalu mendatangi ladang dan pekarangan tempat bahan bakunya tumbuh.

Gonggoro, sebutan Sougb untuk nanas

Orang Sougb menyebut nanas dengan kata gonggoro, dan mereka membedakan tiga jenis. Nenas merah, yang bernama ilmiah Ananas bracteatus, disebut gonggoro gahani. Nenas putih, yang baru dikenali sampai tingkat marga sebagai Ananas sp., disebut gonggoro ghof. Nenas Bogor, yakni Ananas comosus, disebut gonggoro bey. Ketiganya dipakai sebagai bahan noken.

Tiap jenis punya tempat tumbuhnya sendiri. Nenas merah dijumpai di ladang berpindah, yaitu ladang yang dibuka bergiliran. Nenas putih tumbuh melimpah di ladang bera, maksudnya bekas ladang yang sedang diistirahatkan. Nenas Bogor ditanam di pekarangan rumah. Semua tempat itu umumnya berada dekat permukiman, sehingga daun yang dibutuhkan perajut tidak perlu dicari jauh.

Daun paling banyak dipanen dari ladang dan bekas ladang, lebih sedikit dari pekarangan. Di lahan yang sudah ditinggalkan, nanas justru paling rapat. Sebabnya, warga memperbanyak nanas secara vegetatif, artinya dari bagian tanaman itu sendiri dan bukan dari biji. Orang Sougb memilih cara itu karena tanaman baru dan buahnya lebih cepat didapat.

Pekarangan sendiri lebih banyak diisi tanaman lain. Kakao dan pisang adalah komoditas utama Kabupaten Manokwari Selatan, dan keduanya mendominasi kebun di sekitar rumah. Nanas bukan tanaman prioritas untuk dikebunkan. Hanya sedikit orang Sougb yang menanamnya di pekarangan, sehingga jumlahnya kalah dari tanaman lain di tempat yang sama.

Ada satu salah paham kecil yang diluruskan naskah ini. Warga menyebut nenas putih kemungkinan tumbuhan asli setempat. Para penulis menilai hal itu kecil kemungkinannya, sebab marga Ananas berasal dari Amerika Selatan tropis. Nanas diduga masuk ke Ransiki lewat pembangunan pertanian. Jenis nenas putih itu sendiri, menurut mereka, masih memerlukan kajian penggolongan tumbuhan yang lebih teliti.

Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan

Gonggoro mei, benang dari serat daun

Gonggoro mei adalah nama tradisional untuk benang yang dipintal dari serat daun nanas. Benang itu baru ada setelah orang Sougb berpindah tempat. Orang Arfak semula tergolong masyarakat pedalaman dari kawasan Pegunungan Arfak. Sebagian turun ke dataran rendah dan pesisir karena beberapa hal, terutama penanaman modal oleh pemerintah, gereja, dan lembaga swasta di wilayah itu.

Naskah ini merunut perpindahan tersebut. Pada 1930-an pemerintah Belanda mencari lahan untuk permukiman baru dan pertanian di luar Jawa, dan dataran Ransiki yang subur dikembangkan untuk kebun kakao dengan melibatkan penduduk asli. Sekolah penginjilan berdiri di Ransiki pada 1957. Awal 1980-an, perusahaan kakao PT Cokran Ransiki membuka lapangan kerja, dan di situlah orang Sougb kini bermukim.

Di tempat baru, bahan lama tidak lagi sama. Orang Arfak sebelumnya membuat noken umumnya dari kulit kayu, sedangkan keadaan alam pesisir Manokwari Selatan berbeda dari pegunungan asal mereka. Hidup orang Sougb tetap bertumpu pada alam, yakni berburu, meramu, menangkap ikan, dan berladang. Dari ladang itulah bahan pengganti ditemukan.

Bedanya begini. “Sementara suku-suku dari daerah lain di Papua memanfaatkan Cypholophus, Ficus, Gnetum, Pandanus, dan marga lain sebagai bahan baku, orang Sougb mengembangkan nanas sebagai bahan utama untuk merajut noken,” tulis Yoris Saiba dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Noken, dengan kata lain, tidak selalu berarti kulit kayu atau pandan.

Mengapa nanas, jawabannya ada pada daunnya. Tanaman itu dipilih karena menghasilkan serat lebih banyak dan lebih lentur, sehingga lebih mudah diolah. Karena itu pula nanas ditanam dekat permukiman. Kapan persisnya peralihan itu terjadi, para penulis mengaku belum jelas. Mereka hanya menduga peralihan dimulai ketika sebagian orang Sougb pindah dari gunung ke dataran rendah.

Etno-tekno-konservasi, belajar dari alam yang berubah

Para penulis memakai istilah etno-tekno-konservasi untuk peralihan itu. Maksudnya, pengetahuan setempat, teknik membuat barang, dan pelestarian tumbuh bersama. Menurut mereka, hal itu terjadi ketika manusia harus berulang kali menyesuaikan diri dengan alam, sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan dan hubungan di dalamnya bertambah.

Prosesnya mereka uraikan dalam tiga langkah. Langkah pertama disebut rangsangan: warga mengamati bentuk dan susunan daun nanas dan menemukan seratnya cocok. Langkah kedua disebut dorongan: pengamatan itu mendorong mereka mencoba serat tersebut untuk memenuhi kebutuhan bahan noken. Langkah ketiga disebut tanggapan: lahir teknik memintal serat menjadi benang, lalu benang dijalin menjadi noken.

Dari mengamati daun sampai menjadi nokenDari mengamati daun sampai menjadi nokenDari mengamati daun sampai menjadi nokenTiga langkah belajar suku Sougb menurut para penulisRangsanganSerat daun nanasdiamatiDoronganSerat dicobauntuk nokenTanggapanSerat dipintaljadi benangNokendari nanas
Sumber: Yoris Saiba, Antoni Ungirwalu, Agustinus Murdjoko, Francis Q. Brearley, Mariana H. Peday, Rina Nelly Yowei, Christian Soleman Imburi, Yubelince Y. Runtuboi, Dony Aristone Djitmau, dan Siti Halimatus Sa’diyah, Ethnobotany and conservation applications in the noken making by the Sougb Tribe of West Papua, Indonesia, Biodiversitas, 24(8), 2023. Grafik: Cekricek.id

Pembuatannya sendiri dibagi tiga tahap, yaitu sebelum merajut, merajut, dan sesudah merajut. Tahap pertama dimulai dengan menyiapkan parang, pisau, daun nanas, dan tumbuhan pewarna. Daun tua yang dipilih, karena lebih liat dan seratnya lebih awet. Daun dipotong dengan pisau, dibawa pulang, lalu dikerok dengan logam sampai seratnya terpisah.

Serat kemudian dijemur di bawah matahari paling sedikit satu hari. Daun yang dipakai umumnya sepanjang 1,0 sampai 1,7 meter, kira-kira setinggi orang dewasa, dengan lebar sampai 6 sentimeter. Saat dipintal, serat dibagi dua dengan panjang 45 sampai 60 sentimeter. Teknik warisan leluhur yang dipakai adalah menjalin serat sampai terbentuk tas yang menyerupai jaring.

Orang dewasa menjadi pelaku utama. Anak-anak dan pemuda ikut pada tahap awal, yakni memanen daun untuk dijadikan gonggoro mei. Perempuan memegang peran pusat di semua tahap merajut, sedangkan laki-laki lebih banyak bekerja di ladang. Pengetahuan ini tidak tercatat secara tetap. Ia hanya diteruskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan keterlibatan anak-anak membantu penerusan itu.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Sirga, kamara, manggoi: nama tumbuhan pewarna

Noken Sougb memakai empat warna yang melambangkan alam dan kehidupan, yaitu merah, putih, kuning, dan biru. Merah diperoleh dari dua tumbuhan. Yang pertama jati, bernama ilmiah Tectona grandis, yang oleh orang Sougb disebut sirga. Yang kedua kesumba keling, yakni Bixa orellana, yang mereka sebut kamara.

Putih tidak memerlukan pewarna, sebab itulah warna asli serat daun nanas. Kuning didapat dari kunyit, Curcuma longa. Biru dihasilkan dari harendong, yaitu Melastoma malabathricum, yang dalam bahasa setempat disebut manggoi. Semua bahan pewarna itu umumnya diambil dari hutan alam atau dari tempat nanas tumbuh.

Cara mewarnainya sederhana. Tumbuhan pewarna ditumbuk, lalu digosokkan pada serat nanas. Dari perbedaan warna itulah lahir motif khas Sougb, berupa garis-garis yang berselang. Menurut para penulis, garis itu menggambarkan bulu burung, gigi hewan, benang warna-warni, manik-manik, biji-bijian, dan benda lain di sekitar mereka.

Noken Sougb dalam angkaNoken Sougb dalam angkaNoken Sougb dalam angkaBahan, warna, dan ukuran yang dicatat di Manokwari Selatan3jenis nanasmerah, putih,Bogor4warnamerah, putih,kuning, biru3ukuranbesar, sedang,kecil4kampungdi RansikiJalan risetnyaEmpat kampung didatangiPembuat noken ditanyaTumbuhan dicatat
Sumber: Yoris Saiba, Antoni Ungirwalu, Agustinus Murdjoko, Francis Q. Brearley, Mariana H. Peday, Rina Nelly Yowei, Christian Soleman Imburi, Yubelince Y. Runtuboi, Dony Aristone Djitmau, dan Siti Halimatus Sa’diyah, Ethnobotany and conservation applications in the noken making by the Sougb Tribe of West Papua, Indonesia, Biodiversitas, 24(8), 2023. Grafik: Cekricek.id

Iymedam, iytataij, iymokrei: besar, sedang, kecil

Tiga kata itu adalah nama ukuran. Iymedam berarti noken besar, iytataij noken sedang, dan iymokrei noken kecil. Ketiganya berkembang mengikuti kebutuhan warga. Fungsi utama noken di empat kampung itu tetap sama, yakni membawa barang. Belakangan, noken juga diberikan sebagai cendera mata kepada orang berpengaruh yang datang berkunjung.

Noken juga hadir dalam upacara adat Sougb. Contoh yang dicatat naskah ini adalah lamaran: noken dipakai untuk membawa harta mas kawin. Karena perempuan yang merajutnya, noken sangat lekat dengan perempuan dan melambangkan keberadaan mereka. Para penulis menilai perempuan berperan penting menjaga warisan budaya suku itu.

Peran terbarunya adalah lambang kebanggaan orang yang tinggal di Papua, khususnya Manokwari Selatan. Permintaan naik, dan noken kini punya nilai jual. Para perempuan menjualnya dengan memajang di depan rumah, atau menerima pesanan dengan motif pilihan pembeli. Dalam upacara resmi pemerintah kabupaten, noken diusulkan sebagai cendera mata serta tanda sambutan dan perpisahan.

Pemakainya pun meluas. Pejabat negara, pemimpin, dan para pemangku kepentingan mengenakan noken saat pelantikan resmi. Naskah ini mengutip kajian lain yang menyebut tradisi noken Papua memuat delapan makna: hubungan, keluarga, jati diri, perlindungan, ekonomi, kehidupan, keindahan, dan spontanitas. Noken juga sudah masuk daftar warisan budaya takbenda UNESCO.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Igya ser hanjob, menjaga noken sekaligus kebunnya

Igya ser hanjob adalah nama sebuah konsep tradisional suku-suku Arfak. Naskah ini tidak menerjemahkannya kata demi kata. Para penulis memakainya untuk menyebut keadaan ketika noken dan budaya Sougb terjaga, dan bersamaan dengan itu terjaga pula tempat tumbuh tanaman yang menjadi bahan rajutannya.

Jalan pikirannya begini. Bila budaya suatu masyarakat dilestarikan, masyarakat itu dengan sendirinya ikut menjaga tumbuhan di alam, dan penulis menyebut mereka pelaku kunci. Ancamannya juga disebut jelas: bahan noken tradisional kini berpeluang digantikan bahan modern seperti plastik. Bila serat nanas tidak lagi dipakai, alasan merawat rumpunnya ikut hilang.

Dukungan resmi sudah ada. Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan mengakui noken sebagai jati diri tradisional daerah itu, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meminta pegawai negeri memakai noken Sougb. Para penulis meminta satu langkah lagi dari pemerintah provinsi, yaitu memberikan status hutan adat kepada suku-suku tersebut agar tempat tumbuh tanaman itu terlindungi.

Catatan ini punya batas. Yang diamati hanya empat kampung pesisir dari satu suku, sehingga tidak mewakili seluruh orang Sougb, apalagi seluruh Papua. Urutan waktu peralihan ke nanas belum diketahui. Jenis nenas putih belum dikenali tuntas. Para penulis sendiri menyebut sisi etnobotani pembuatan noken masih sedikit dipahami.

Beberapa hal kecil dalam naskah juga tidak seragam dan bisa diperiksa pembaca. Nama distrik ditulis Rasinki di bagian lokasi, tetapi Ransiki di keterangan peta dan di bagian hasil. Nama suku satu kali ditulis Sough, bukan Sougb. Pada ucapan terima kasih, Kabupaten Manokwari Selatan disebut berada di Provinsi Papua, padahal judul dan isi naskah menyebut Papua Barat.

Hal kedua menyangkut orang yang diwawancarai. Naskah menyebut kepala kampung memberi nama 45 calon responden berikutnya, tetapi bagian hasil tidak memuat berapa orang yang akhirnya diwawancarai. Gambar tentang keterlibatan anak, pemuda, dan orang dewasa juga tidak disertai angka dalam teks. Tahap sesudah merajut disebut, tetapi tidak diuraikan isinya.

Etnobotani dalam naskah ini, pada akhirnya, punya arti yang sempit dan jelas. Ia bukan daftar tumbuhan seluruh Papua, melainkan catatan tentang tiga jenis nanas, empat warna, dan tiga ukuran tas di empat kampung Ransiki. Di luar kampung itu, bahan noken bisa lain sama sekali. Di dalamnya, daun nanas tua masih dipotong, dikerok, dijemur, lalu dijalin menjadi noken.

Bagikan

Baca Juga

Demam Berdarah Guangzhou Terkait Pohon Rindang di Tujuan Warga
Pemilik Hewan Peliharaan di Jerman Makin Jarang Cuci Tangan
Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Rumah Adat Suku Sakai Diresmikan Saat Hutan Adatnya Rusak
Nyanyian Nandong Simeulue Kini Diiringi Biola, Penuturnya Menua