Belajar Dibantu AI Naikkan Nilai Latihan, Tidak saat Ujian

A A

Wamendiktisaintek Stella Christie saat memaparkan dampak AI pada proses belajar. [Foto: Kemdiktisaintek]

  • Hasil latihan dengan tutor AI naik 127 persen, tetapi ujian tanpa AI tidak berbeda
  • Sebanyak 61 persen responden Indonesia memakai AI dalam pendidikan
  • Guru diminta merancang tugas yang tetap memaksa siswa berpikir

Cekricek.id — Siswa yang berlatih soal dengan tutor kecerdasan buatan (AI) mencatat hasil latihan 127 persen lebih tinggi. Ketika diuji lagi tanpa bantuan itu, nilainya tidak berbeda dari teman yang sama sekali tidak memakai AI.

Studi tersebut dipaparkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di hadapan para guru pada Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama Indonesia di Jakarta, Kamis (1/10/2026). Kementerian memublikasikan isi paparan itu pada Senin (5/10/2026).

Temuan itu penting karena pemakaian AI di ruang belajar Indonesia tergolong tinggi. Mengutip data Consumer Insights 2026, Stella menyebut 61 persen responden di Indonesia menggunakan AI dalam pendidikan. Angkanya 22 persen di India dan Amerika Serikat, serta 14 persen di Belanda.

“Pertanyaannya adalah, apakah ini baik atau buruk?,” ujar Stella.

Otak yang Tidak Dilatih

Jawabannya ia cari lewat ilmu kognitif. Membaca, menulis, dan berhitung berkembang karena dilatih. Bila bagian berpikirnya diserahkan kepada alat, gejala yang disebut cognitive offloading, tugas memang selesai lebih cepat, tetapi kemampuan yang semestinya terasah lewat tugas itu tidak ikut tumbuh.

Gejala serupa terlihat di luar sekolah. Stella mengutip penelitian yang menunjukkan kemampuan diagnosis dokter turun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen setelah tiga bulan rutin memakai AI. Penelitian lain mendapati orang yang merangkum informasi dengan AI memperoleh pemahaman lebih rendah daripada yang mempelajarinya langsung.

“Kalau hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, bukti yang saya sampaikan, masih banyak lagi, cuma saya waktunya sedikit, sampai saat ini memperlihatkan bahwa manusianya jadi tidak belajar,” kata Stella.

Ia tidak meminta AI dijauhkan dari kelas. Yang diminta adalah tugas yang tetap memaksa siswa berpikir. Contohnya, siswa boleh membuat gambar dengan AI, tetapi harus membandingkan hasilnya, memilih, menjelaskan alasan pilihannya, dan menyusun sendiri perintah yang dipakai.

Alasan lainnya ada di dunia kerja. AI kini sanggup mengerjakan sejumlah pekerjaan tingkat awal dengan biaya lebih rendah, sehingga kemampuan analisis dan berpikir kritis menjadi bekal yang makin menentukan bagi lulusan.

Baca juga: Talenta AI Indonesia Dituntut Mampu Mengevaluasi Keluaran Mesin

Baca juga: Wamendiktisaintek: Kampus Tetap Jadi Pusat Ilmu di Era AI

Baca juga: Skrining Narkoba Lewat Pupil Mata Digagas Mahasiswa IPB

Bagikan

Baca Juga

Skrining Narkoba Lewat Pupil Mata Digagas Mahasiswa IPB
AI dan IoT Dongkrak Kinerja Keuangan UMKM Bali lewat CSR
Ramalan ISPA di 69 Distrik Türkiye, Model Sederhana Paling Jitu
Badan Gambut dan Mangrove Nasional Diusulkan Lewat Naskah Akademisi
Sabuk Buatan Mahasiswa UGM Beri Tanda Sebelum Kantong Stoma Bocor
Lansia Sarang Kosong di Tiongkok Mengusir Sepi Lewat Chatbot AI