- Pada 2023 hanya 30,0 persen pemilik hewan di Jerman mengaku selalu mencuci tangan sesudah menyentuh hewan.
- Di kelompok tanpa hewan angkanya nyaris diam, 55,7 persen sebelum pandemi lalu 55,9 persen sesudahnya.
- Sebelum menjenguk orang sakit, kedua kelompok sama-sama lebih rajin mencuci tangan dibanding sebelum pandemi.
- Alasan yang paling banyak diiyakan adalah merasa mencuci tangan sesudah menyentuh hewan tidak perlu.
- Semua angka adalah pengakuan responden, sehingga kepatuhan yang sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
Daftar Isi
Karolin M. E. Nettelrodt meminta satu berkas data kepada Bundesinstitut für Öffentliche Gesundheit, lembaga kesehatan masyarakat federal Jerman. Isinya jawaban ribuan warga tentang satu kebiasaan kecil: seberapa sering mereka mencuci tangan. Bersama Thomas von Lengerke, ia ingin tahu apakah pandemi Covid-19 mengubah kebiasaan itu pada orang yang hidup serumah dengan hewan peliharaan.
Hasilnya mereka tulis dalam artikel berjudul Self-reported handwashing frequency among pet and non-pet owners in the German adult population in 2023: a post-pandemic replication study. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Nettelrodt dan von Lengerke bekerja di Department of Medical Psychology, Hannover Medical School, Jerman. Berkas yang mereka minta diserahkan lewat Dr. Andrea Rückle, yang namanya mereka sebut dalam ucapan terima kasih.
Dugaan Nettelrodt dan von Lengerke semula sederhana. Pandemi menyorot pencegahan infeksi, termasuk dalam hubungan manusia dengan hewan, sehingga selisih kebiasaan cuci tangan antara pemilik hewan dan bukan pemilik mestinya menyempit. Yang mereka temukan justru sebaliknya. Dalam naskah berbahasa Inggris itu keduanya menulis, “Kesenjangan kepatuhan yang dilaporkan sendiri justru menjadi lebih besar, terutama karena tingkat kepatuhan yang lebih rendah di kalangan pemilik hewan peliharaan.”
Mengulang Hitungan Lama dengan Data Baru
Nettelrodt dan von Lengerke tidak memulai dari nol. Sebelumnya sudah ada analisis atas empat survei penduduk Jerman tahun 2012, 2014, 2017, dan 2019, yang menemukan bahwa bukan pemilik hewan lebih sering mengaku mencuci tangan. Survei kelima digelar pada musim panas 2023, sesudah pandemi, dengan cara yang sama. Dari situ keduanya mengolah jawaban 3.597 orang berusia 16 sampai 85 tahun.
Dari ribuan orang itu, Nettelrodt dan von Lengerke mencatat 1.358 orang, atau 37,8 persen, memelihara hewan. Itu hampir dua dari lima responden. Pemilik hewan lebih banyak yang berusia 59 tahun ke bawah, yakni 80,2 persen berbanding 63,8 persen. Mereka juga lebih sering tinggal bersama anak di bawah 16 tahun, 31,3 persen berbanding 19,0 persen, dan lebih banyak yang bekerja di layanan kesehatan.
Porsi pemilik hewan itu nyaris tidak bergeser dari masa sebelum pandemi, 37,8 persen berbanding 36,9 persen. Von Lengerke dan Nettelrodt menyandingkannya dengan survei riset pasar tahunan dua asosiasi industri hewan peliharaan Jerman. Angka di sana lebih tinggi, naik tipis dari 45 persen pada 2019 menjadi 47 persen pada 2020 dan 2021, lalu kembali ke 45 persen pada 2023.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Jurang Terlebar Ada Sesudah Menyentuh Hewan
Setiap responden ditanya tentang sembilan situasi, dari sebelum makan sampai sesudah memakai toilet. Nettelrodt dan von Lengerke menghitung seseorang patuh bila ia menjawab selalu atau hampir selalu mencuci tangan. Di hampir semua situasi, selisih pemilik hewan dan bukan pemilik hanya satu digit. Satu situasi menyimpang jauh: sesudah menyentuh hewan.
Pada survei 2012 sampai 2019, 35,5 persen pemilik hewan mengaku selalu atau hampir selalu mencuci tangan sesudah menyentuh hewan. Pada 2023 angka itu turun menjadi 30,0 persen, kurang dari satu dari tiga orang. Di kelompok tanpa hewan, Nettelrodt dan von Lengerke mendapati angka yang nyaris diam, 55,7 persen lalu 55,9 persen. Selisih kedua kelompok pun melebar dari 20,2 menjadi 25,9.
Selisih itu, menurut von Lengerke dan Nettelrodt, tidak bergantung pada jenis kelamin, usia, latar pendidikan, latar migrasi, adanya anak di rumah, penyakit kronis, atau pekerjaan di layanan kesehatan. Laporan lembaga federal yang menugaskan survei itu sebelumnya hanya memuat satu keterangan soal ini. Di dalamnya tertulis responden tanpa hewan lebih sering mencuci tangan sesudah menyentuh hewan, 55 persen berbanding 29 persen.
Ketika Nettelrodt dan von Lengerke menelusuri survei satu per satu, terlihat arah yang sudah lama menurun. Kepatuhan bukan pemilik hewan turun dari 57,3 persen pada 2012 menjadi 54,4 persen pada 2019, lalu naik tipis ke 55,9 persen. Kepatuhan pemilik hewan turun lebih curam, dari 38,6 persen ke 31,5 persen, dan terus merosot ke 30,0 persen. “Dengan kata lain, pandemi tampaknya menghentikan tren menurun di kalangan bukan pemilik hewan, tetapi tidak pada pemilik hewan,” tulis keduanya.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Rajin demi Orang Lain, Longgar bagi Diri Sendiri
Di luar urusan hewan, Nettelrodt dan von Lengerke justru melihat kebiasaan yang membaik. Sebelum menjenguk orang yang sedang lemah karena sakit, 68,7 persen pemilik hewan dan 69,9 persen bukan pemilik mengaku selalu atau hampir selalu mencuci tangan. Pada survei sebelum pandemi angkanya 54,6 persen dan 52,9 persen. Kenaikan serupa muncul sesudah pulang dari luar rumah, sesudah bersama orang yang sakit menular, sesudah membuang ingus atau batuk ke tangan, dan sesudah berjabat tangan.
Kenaikan itu tidak selalu sama besar. Sesudah bersama orang yang sakit menular, von Lengerke dan Nettelrodt mencatat kedua kelompok hampir kembar sepanjang 2012 sampai 2019, dengan selisih di bawah satu. Pada 2023, bukan pemilik hewan melonjak ke 82,5 persen, sedangkan pemilik hewan berhenti di 75,5 persen. Pola serupa tampak sesudah pulang dari luar rumah dan sesudah berjabat tangan.
Dari dua pola itu Nettelrodt dan von Lengerke menarik satu tafsir. Mencuci tangan sebelum menjenguk orang sakit lebih bersifat melindungi orang lain, dan di situ kedua kelompok naik hampir sama. Mencuci tangan sesudah pulang atau sesudah menyentuh hewan lebih bersifat melindungi diri sendiri, dan di situ pemilik hewan tertinggal. Keduanya menulis dengan hati-hati: “Meskipun tidak ada efek kausal pandemi yang dapat ditarik di sini, penafsiran ini setidaknya tampak mungkin.”
Alasan yang Paling Sering Diakui: Merasa Tidak Perlu
Nettelrodt dan von Lengerke lalu beralih ke orang yang mengaku jarang atau hampir tidak pernah mencuci tangan sesudah menyentuh hewan. Jumlahnya 1.010 responden. Di kalangan pemilik hewan porsinya 45,1 persen, hampir separuh, sedangkan di kalangan bukan pemilik 17,8 persen. Sebelum pandemi, pada survei 2017 dan 2019, porsi itu 38,8 persen dan 19,1 persen.
Kepada mereka disodorkan lima kemungkinan alasan, dan boleh memilih lebih dari satu. Alasan yang paling banyak diiyakan, menurut catatan von Lengerke dan Nettelrodt, adalah merasa hal itu tidak perlu, yakni 73,9 persen dari seluruhnya. Di antara pemilik hewan angkanya 78,7 persen, di antara bukan pemilik 66,5 persen. Alasan yang paling jarang dipilih ialah khawatir orang lain menganggapnya tidak pantas, 8,6 persen.
Ada pergeseran kecil yang ditandai Nettelrodt dan von Lengerke. Sebelum pandemi, empat alasan lain lebih sering diakui bukan pemilik hewan. Pada 2023, dua di antaranya berbalik: tidak terpikir atau lupa, serta terlalu lama, kini lebih sering diiyakan pemilik hewan. Selisih soal tidak tersedianya tempat cuci tangan yang layak juga menyempit, dari 18,5 menjadi 9,4.
Bagi von Lengerke dan Nettelrodt, pembalikan itu bisa berarti sesuatu. Pemilik hewan mungkin sedikit banyak tahu bahwa tangan perlu dicuci sesudah menyentuh hewan, walau tidak merasa hal itu selalu perlu. Mereka tidak melakukannya karena sebab lain. Kedua penulis menyampaikannya sebagai kemungkinan, bukan sebagai kepastian.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Dugaan Nettelrodt dan von Lengerke soal Kedekatan dengan Hewan
Mengapa pemilik hewan makin longgar? Nettelrodt dan von Lengerke menduga mereka merasa risiko tertular dari hewannya mengecil sejak pandemi, dan keduanya menyebut keyakinan itu keliru. Asal-usulnya mungkin dua. Pembatasan sosial selama pandemi bisa mempererat ikatan pemilik dengan hewannya, sehingga hewan makin masuk ke ruang hidup pribadi. Hewan juga menopang kesehatan jiwa pemiliknya, yang mungkin membuat sikap terhadap pencegahan infeksi lebih santai.
Von Lengerke dan Nettelrodt mengingatkan bahwa sekitar 60 sampai 70 persen penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan. Hewan peliharaan, tulis mereka, selama ini kurang diperhatikan dibanding hewan ternak. Infeksi yang secara realistis dapat dicegah dengan mencuci tangan antara lain yang disebabkan Salmonella, Campylobacter, Toxocara canis, dan Microsporum canis.
Dari situ Nettelrodt dan von Lengerke mengusulkan arah komunikasi kesehatan. Pemilik hewan perlu diberi tahu bahwa mencuci tangan sesudah menyentuh hewan juga melindungi orang lain, sebab merekalah yang lebih mungkin membawa kuman dari hewannya ke orang lain. Bagi pemilik yang lebih rentan, seperti orang lanjut usia atau yang daya tahan tubuhnya lemah, manfaat melindungi diri sendiri dinilai tetap penting disampaikan.
Yang Perlu Dicermati dari Naskah Ini
Nettelrodt dan von Lengerke menulis sendiri batas temuan mereka. Semua angka adalah pengakuan responden, sehingga kepatuhan yang sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah. Jenis hewan dan bentuk sentuhannya tidak dirinci. Yang dibandingkan pun kumpulan responden berbeda dari waktu ke waktu, bukan orang yang sama, sehingga perubahan nyata tidak dapat disimpulkan. Hasilnya juga belum tentu berlaku di negara lain.
Ada beberapa hal dalam naskah Nettelrodt dan von Lengerke yang bisa diperiksa pembaca. Selisih kedua kelompok ditulis dengan tanda persen, misalnya 25,9 persen, padahal angka itu hasil pengurangan dua persentase, 55,9 dikurangi 30,0. Laporan lembaga federal menyebut 55 dan 29 persen, sedangkan naskah ini 55,9 dan 30,0 persen untuk survei yang sama.
Ukuran besar-kecilnya selisih juga dilabeli tidak seragam. Di satu bagian, von Lengerke dan Nettelrodt menyebut nilai 0,34 dan 0,28 sebagai efek kecil. Di bagian lain, nilai 0,31, 0,26, dan 0,36 disebut efek sedang. Judul naskah memakai kata penduduk dewasa, sementara responden survei berusia mulai 16 tahun.
Berkas yang diminta Nettelrodt itu akhirnya menjawab pertanyaannya, walau bukan dengan jawaban yang ia dan von Lengerke perkirakan. Sesudah pandemi, warga Jerman dalam survei itu lebih rajin mencuci tangan sebelum menjenguk orang sakit. Sesudah menyentuh hewan di rumah sendiri, tujuh dari sepuluh pemiliknya tidak selalu melakukannya.















