- Padungku di Desa Toinasa umumnya berlangsung dua hari dan waktunya ditetapkan lewat musyawarah desa bernama mogombo.
- Hasil panen dan persembahan uang didoakan di gereja, lalu dilelang untuk kepentingan jemaat dan sinode.
- Biaya persiapan Padungku berkisar Rp2.000.000 hingga Rp4.000.000 per rumah tangga.
- Setelah konflik sosial Poso 1998 hingga 2001, Padungku menguat sebagai sarana rekonsiliasi lintas etnis dan agama.
Daftar Isi
Cekricek.id — Agnes Agnita Lukalemba mencatat tradisi Padungku di Desa Toinasa, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, sejak 9 Juli hingga 19 Agustus 2025. Bersama Darmawan Edi Winoto dan Almen S Ramaino, ia ingin tahu bagaimana ritual syukur pascapanen suku Pamona itu dijalankan hari ini, nilai apa yang dibawanya, dan faktor apa yang membuatnya tetap bertahan di tengah perubahan sosial.
Ketiga penulis tercatat berafiliasi dengan Universitas Negeri Manado. Hasil kerja mereka terbit dengan judul Tradisi Padungku Masyarakat Suku Pamona di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah di Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Volume 5 Nomor 3, edisi Desember 2025, halaman 5627–5633. Menurut Lukalemba dan rekan-rekannya, Padungku adalah upacara ungkapan rasa syukur pascapanen yang dijalankan masyarakat Suku Pamona di Kabupaten Poso dan daerah sekitarnya.
Lukalemba memadukan dua cara kerja. Pendekatan etnografi dipakai untuk memahami tradisi Padungku dari sudut pandang pelakunya, lewat observasi partisipatif dan interaksi intensif dengan warga. Metodologi sejarah, dengan prosedur yang mengacu pada model Marc Bloch, dipakai untuk merekonstruksi latar belakang, perkembangan, dan perubahan makna tradisi itu secara kronologis, khususnya dalam dinamika pascakonflik di Kabupaten Poso.
Data dikumpulkan dengan beberapa teknik. Tim Lukalemba mengamati langsung pelaksanaan Padungku, mewawancarai tokoh adat, tokoh agama, dan warga setempat, serta menelaah arsip, catatan, dan sumber visual. Mereka juga menyebarkan kuesioner atau pertanyaan tertulis. Narasumber yang namanya muncul di naskah antara lain Pendeta Nicolas Ladjamba, S. Bude, M. Membele, O. Sau, dan F. Lapa, dengan tanggal wawancara antara 10 Juli dan 2 Agustus 2025.
Naskah Lukalemba tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Paper itu juga tidak menyebut berapa orang yang diwawancarai secara keseluruhan, berapa kuesioner yang disebar, maupun apa jawaban yang terkumpul dari kuesioner tersebut. Lokasi pengamatannya satu desa, Toinasa, yang oleh para penulis disebut wilayah utama masyarakat Suku Pamona (Etnis Bare’e) yang masih melestarikan Padungku secara turun-temurun.
Baca juga Tim UNDIP Ikut Tradisi Royongan Petani di Senggi, Keerom
Menelusuri Akar Tradisi Padungku di Ladang
Penelusuran sejarah membawa Lukalemba ke sistem pertanian tradisional Pamona yang disebut Ta’u, yaitu rangkaian kegiatan dari pengolahan lahan, masa tanam, hingga panen. Seluruh proses itu, tulisnya, diiringi ritual simbolik yang bermakna religius dan sosial sebagai penghormatan kepada leluhur serta ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Pertanian ladang kering itu dilakukan satu kali dalam setahun.
Di lapangan, Lukalemba dan rekan-rekannya mencatat istilah mesale untuk kerja gotong royong di ladang. Seluruh anggota kelompok terlibat tanpa memandang status sosial, dan setiap tahap pekerjaan disertai doa bersama. Menurut para penulis, masyarakat Pamona menyebut Tuhan sebagai Pue mPalaburu, dan setiap tahapan bercocok tanam diawali serta diakhiri dengan doa, baik di ladang maupun dalam ibadah gerejawi.
Dari temuan itu, Winoto, Ramaino, dan Lukalemba menulis bahwa tradisi Padungku tidak berdiri sendiri, melainkan puncak dari rangkaian praktik budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun. Mereka juga menyebut rangkaian tradisi pertanian itu sebagai Mompadungku, yang mencakup tahapan prapanen, masa panen, hingga pascapanen, dengan nilai simbolik tentang penghormatan terhadap alam, rasa syukur, dan kebersamaan.
Nilai yang mereka temukan diberi nama dalam bahasa setempat. Menurut tim Lukalemba, gotong royong disebut mosintuwu dan persatuan disebut sintuwu maroso, dan keduanya tercermin dalam seluruh rangkaian kegiatan. Para penulis mencatat seluruh lapisan masyarakat terlibat tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun agama, dengan partisipasi yang tinggi, termasuk dari generasi muda Desa Toinasa.
Mengikuti Musyawarah dan Hari Memasak
Sementara itu, pada tahap persiapan, Lukalemba mengikuti bagaimana waktu Padungku diputuskan. Waktunya ditetapkan setelah masa panen berakhir melalui musyawarah desa yang disebut mogombo. Musyawarah itu melibatkan pemerintah desa, tokoh adat, pemuka agama atau majelis jemaat, serta perwakilan warga. Menurut catatan para penulis, pelaksanaan tradisi Padungku di Toinasa umumnya berlangsung selama dua hari.
Hari pertama disebut moapu, atau hari memasak. Warga menyiapkan bambu (voyo), daun pisang (ira loka), daun winalu, beras ketan (pae puyu), serta hewan ternak untuk diolah menjadi hidangan. Paper merujuk keterangan M. Membele pada 13 Juli 2025 dan O. Sau pada 19 Juli 2025 bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi yang memperkuat kebersamaan, khususnya di kalangan pemuda.
Hidangan yang disiapkan tiap keluarga dicatat Lukalemba dengan beberapa nama, yakni winalu, inuyu atau nasi bambu, pongas, dan berbagai kue tradisional untuk menjamu tamu. Besar kecilnya perayaan, termasuk jumlah hidangan, bergantung pada kelimpahan panen dan kemampuan ekonomi tiap keluarga. Mengutip wawancara dengan M. Membele pada 11 Juli 2025, biaya persiapannya berkisar Rp2.000.000 hingga Rp4.000.000 per rumah tangga.
Masuk ke Gereja pada Hari Kedua
Hari kedua adalah puncak perayaan, dan dibuka dengan ibadah pengucapan syukur di gereja. Warga membawa padi, jagung, ubi, pisang, nasi bambu, serta persembahan uang untuk didoakan lalu dilelang. Paper merujuk wawancara dengan Pendeta Nicolas Ladjamba pada 20 Juli 2025 dan O. Sau pada 19 Juli 2025 untuk keterangan bahwa hasil lelang dipakai bagi kepentingan jemaat dan sebagian disetorkan ke tingkat sinode.
Jemaat GKST Yordan Toinasa, tulis Lukalemba, berdiri sejak 1968, dan mayoritas warganya berprofesi sebagai petani, sehingga siklus kehidupan gereja sangat terkait dengan kalender pertanian. Di jemaat ini, syukur panen diwujudkan sebagai ibadah mangore jemaat atau ibadah buah bungaran. Padi hasil panen diserahkan secara simbolik dan ditata di altar sebagai ungkapan syukur kolektif jemaat kepada Tuhan.

Lukalemba juga mencatat perlengkapan pimpinan ibadah. Dalam ibadah itu, pimpinan ibadah memakai simbol adat seperti siga dan tali bonto. Para penulis membaca pemakaian simbol tersebut sebagai tanda bahwa nilai budaya lokal tetap diakomodasi dalam praktik liturgis gereja, sehingga terbentuk identitas keagamaan yang kontekstual dan berakar pada budaya setempat.
Perpindahan ruang ibadah itu dijelaskan lewat wawancara dengan Pendeta Nicolas Ladjamba pada 10 Juli 2025. Menurut paper, mayoritas masyarakat Pamona yang menganut Kekristenan telah melakukan reinterpretasi terhadap Padungku, dari praktik yang sebelumnya bercorak animisme menjadi ungkapan syukur yang berlandaskan iman Kristen. Pusat persembahan hasil panen berpindah dari ruang sakral adat ke gereja, dan adaptasi itu disebut tidak menghilangkan makna dasar Padungku.
Setelah ibadah, warga membuka perjamuan di rumah masing-masing untuk menerima tamu dari dalam maupun luar desa. Pada malam hari perayaan ditutup dengan tarian Dero atau modero, tarian kolektif yang diikuti seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia. Paper, merujuk wawancara dengan F. Lapa pada 2 Agustus 2025, menyebut tarian itu simbol keharmonisan sosial sekaligus ruang interaksi bagi generasi muda.
Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh
Mencatat yang Bergeser dari Meja Makan
Di sisi lain penelitian, Lukalemba dan rekan-rekannya membandingkan Padungku masa lalu dengan yang mereka amati. Dahulu tradisi Padungku dilaksanakan secara sederhana dan berfokus pada hasil panen padi. Kini perayaan itu juga mencakup hasil pertanian lain seperti durian. Para penulis juga mencatat penggunaan alat musik modern, sementara nilai inti Padungku sebagai tradisi syukur dan kebersamaan disebut tetap dipertahankan.
Pergeseran lain dicatat pada kebiasaan makan bersama. “Praktik molimbu atau makan bersama yang dahulu menjadi inti perayaan mulai mengalami pergeseran, dengan sebagian masyarakat memilih merayakannya secara lebih sederhana di rumah masing-masing,” tulis Agnes Agnita Lukalemba, Darmawan Edi Winoto, dan Almen S Ramaino. Mereka menambahkan bahwa tarian Dero masih dipertahankan sebagai sarana hiburan dan simbol kebersamaan masyarakat.
Pola tanam juga ikut berubah. Menurut Lukalemba, perubahan dari fokus pada padi ladang menuju keragaman komoditas, seperti padi, jagung, durian, dan hasil kebun lain, merupakan adaptasi tradisi terhadap realitas ekonomi warga. Dalam kesimpulan, para penulis menyebut ruang ritual berpindah dari ladang dan ruang adat ke gereja atau balai desa, dan sejumlah unsur tradisional mengalami penyederhanaan atau pengurangan.
Ada dua catatan yang tidak sepenuhnya searah dalam naskah Lukalemba. Di bagian pendahuluan, para penulis menulis bahwa praktik yang dulu sederhana dan sakral kini cenderung bergeser ke arah perayaan yang lebih besar dan meriah. Di bagian hasil, mereka mencatat sebagian warga justru memilih merayakannya secara lebih sederhana di rumah. Paper tidak menjelaskan bagaimana kedua pengamatan itu berhubungan satu sama lain.
Menimbang Agama, Tetangga, dan Isi Lumbung
Tim Lukalemba merangkum faktor yang memengaruhi pelaksanaan tradisi Padungku di Toinasa ke dalam tiga kelompok, yaitu agama, sosial-komunitas, serta ekonomi dan lingkungan. Di bagian kesimpulan, modernisasi disebut sebagai faktor keempat. Faktor agama tampak pada ibadah syukur di gereja, faktor ekonomi pada biaya perjamuan, sedangkan faktor sosial dikaitkan para penulis dengan konflik sosial yang pernah terjadi di Poso.
Menurut paper, setelah konflik sosial Poso pada 1998–2001, Padungku mengalami penguatan makna sebagai sarana rekonsiliasi dan pemulihan hubungan sosial lintas etnis dan agama. Keterangan itu dirujuk dari wawancara dengan S. Bude pada 11 Juli 2025. “Tradisi ini kini dirayakan secara inklusif oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk warga Bali, Toraja, dan etnis lainnya yang menetap di Desa Toinasa,” tulis Lukalemba dan rekan-rekannya.
Lukalemba juga mencatat keikutsertaan dari kalangan pekerja. Aparatur sipil negara dan pekerja swasta ikut serta dalam Padungku meskipun tidak ada penetapan hari libur resmi. Dengan merujuk wawancara dengan M. Membele pada 11 Juli 2025, para penulis membaca hal itu sebagai proses institusionalisasi sosial, ketika legitimasi budaya lebih kuat daripada regulasi administratif formal.
Baca juga Nagari Sijunjung, Enam Unsur Adat dan Atap yang Berganti
Jadwal perayaan pun tidak seragam. Menurut para penulis, Padungku berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial lewat pengaturan jadwal perayaan yang berbeda antarkelompok tani, sehingga memungkinkan interaksi silang serta memperkuat jaringan kekerabatan dan modal sosial masyarakat. Keterangan tentang sejarah, pengaturan jadwal, dan nilai persaudaraan itu dirujuk dari wawancara dengan O. Sau pada 19 Juli 2025.
Menyusun Kesimpulan tentang Toinasa
Dari seluruh catatan itu, Lukalemba, Winoto, dan Ramaino menyimpulkan bahwa tradisi Padungku telah berkembang dari tradisi agraris etnis Pamona menjadi institusi sosial yang bersifat inklusif dan lintas etnis. “Tradisi ini tidak lagi dimaknai semata sebagai pesta panen petani, melainkan sebagai identitas kolektif masyarakat Pamona Barat,” tulis mereka dalam bagian hasil dan pembahasan.
Dalam kesimpulan, para penulis menempatkan tokoh adat dan pemuka agama sebagai kunci dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai tradisional dan tuntutan perubahan zaman. Menurut Lukalemba dan rekan-rekannya, penerimaan nilai Kekristenan membingkai ulang Padungku sebagai ekspresi syukur spiritual yang lebih terlembaga, sementara musyawarah desa dan peran tokoh adat memastikan keteraturan serta kesinambungan pelaksanaannya.
Penelitian Agnes Agnita Lukalemba di Toinasa berakhir pada 19 Agustus 2025, 17 hari setelah wawancara terakhir yang tercatat di naskahnya, yakni dengan F. Lapa tentang tarian Dero. Dalam catatan Lukalemba, tradisi Padungku di desa itu masih ditutup pada malam hari kedua dengan tarian yang sama, diikuti warga dari segala usia.















