- WHO catat 720 ribu kematian bunuh diri per tahun, Indonesia tembus 1.000 kasus pada 2025.
- Rektor UGM Prof Ova Emilia sebut kampus perlu ekosistem aman lewat konseling dan skrining.
- Resiliensi ditekankan bukan hanya kekuatan individu tetapi lingkungan yang mendukung.
Cekricek.id — Kampus perlu perkuat resiliensi mahasiswa cegah kasus bunuh diri, dengan membangun ekosistem yang membuat mahasiswa merasa aman, diterima, dan didengar.
Mengutip keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Minggu (21/09/2026), Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan persoalan kesehatan mental mesti menjadi perhatian seluruh perguruan tinggi di tengah tekanan akademik, sosial, dan emosional yang dihadapi mahasiswa.
Ova menegaskan, “Di UGM kita fasilitasi lewat sejumlah layanan untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa, yakni konseling, skrining kesehatan mental, hingga penanganan kondisi krisis,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Minggu (21/09/2026).
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di dunia, dan pada 2021 bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak pada kelompok usia 15–29 tahun. Tahun 2025, angka di Indonesia sudah mencapai lebih dari 1.000 kasus.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menilai pencegahan harus lewat sistem komprehensif yang didukung ekosistem. “Ekosistem berarti habitus kita semua. Percuma ada kebijakan, ada aturan, ada unit-unit, tapi ya ekosistem kita masih belum mendukung,” ujarnya.
Ketua Unit Layanan Kesehatan Mental UGM, Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menjelaskan pendekatan meliputi skrining, layanan konseling, kelompok dukungan, hingga pendampingan risiko tinggi. “Upaya tersebut mencakup skrining kesehatan mental, layanan konseling, kelompok dukungan, hingga pendampingan bagi mahasiswa yang memiliki risiko lebih tinggi,” jelasnya.
Ekosistem Kampus Jadi Kunci Pencegahan
Restu menekankan pencegahan harus dimulai jauh sebelum krisis, karena bunuh diri dipengaruhi faktor keluarga, relasi sosial, tekanan ekonomi, dan kerentanan individu. Ekosistem yang sehat mencakup relasi tanpa kekerasan, ruang istirahat, dan refleksi.
Di UGM layanan yang ada meliputi Gadjah Mada Medical Center, RSA UGM, Health Promoting University, layanan kekerasan seksual, disabilitas, dan kesehatan mental. Seminar nasional “Pencegahan Bunuh Diri, Penguatan Resiliensi, dan Sistem Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi” digelar di Gedung Pusat UGM, Sabtu (19/9), sebagai forum membangun sistem tersebut.
Baca juga 13.449 kasus ISPA, dokter UGM jelaskan cara melindungi diri
Resiliensi Bukan Sekadar Kekuatan Individu
Restu menegaskan, “Resiliensi bukan hanya tentang kekuatan individu, tetapi juga tentang lingkungan yang membuat seseorang merasa aman, diterima, didengarkan, dan dibantu,” ujarnya.
Ia menambahkan kampus perlu menyediakan teman bicara bagi mahasiswa bermasalah. “Punya support, baik itu mahasiswa atau dosen itu jelas akan membantu orang-orang yang sedang memiliki masalah, ya setidaknya untuk punya teman untuk berbicara,” katanya.















