Talempong Gua Duo Tigo Lengayang Berlatih di Halaman Rumah

A A

Pemain talempong pacik Sanggar Sari Bunian tampil di Istano Basa Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat. [Foto: Wilma Prima/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Gua Duo Tigo di Lengayang dimaknai sebagai kesatuan tiga unsur: manusia, alam, dan Tuhan
  • Kelompok berlatih tiap minggu malam hari di halaman rumah warga, diajar Bapak Maran yang tak lagi tampil
  • Enam talempong diukur: talempong pertama 265,3 Hz, lima lainnya 601,6 sampai 880,7 Hz
  • Naskah merujuk Santosa 2018 dan Suryani 2021 yang tidak ada di daftar kepustakaan
Daftar Isi
  1. Nama yang menyimpan tiga unsur: manusia, alam, dan Tuhan dalam satu pukulan
  2. Mundur ke tambo: talempong dari kulit kelapa sampai perunggu dan istana Inderapura
  3. Malam latihan: melodi utama, pengiring rendah dan tinggi, lalu canang mengisi celah
  4. Ketika talempong kreasi menawarkan nada kromatik dan lagu Barat ikut masuk
  5. Enam langkah dari halaman rumah sampai pesta perkawinan dan batagak panghulu

Bapak Maran sudah tidak naik pentas lagi. Usianya lanjut, dan pertunjukan talempong di Kecamatan Lengayang kini dimainkan orang-orang yang lebih muda. Namun pada malam latihan, di halaman rumah warga, ia tetap datang. Bukan untuk memukul talempong di depan penonton, melainkan untuk mengajarkan teknik dan nilai yang ia bawa selama puluhan tahun kepada anak-anak yang baru mulai belajar.

Adegan itu tercatat dalam naskah Risky Rahmat Syahputra, Andar Indra Sastra, dan Desmawardi berjudul Gua Duo Tigo Dalam Pertunjukan Talempong Tradisi Di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan, terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara volume 5 nomor 1, tahun 2025. Ketiganya dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Naskah menempatkan Maran sebagai satu dari dua nama yang menopang hidupnya kesenian ini.

Nama kedua adalah Bapak Firmansyah, tokoh masyarakat yang mengajak anak muda dan orang tua ikut serta. Dari dua nama itulah kelompok kesenian Talempong Gua Duo Tigo di Lengayang mengumpulkan anggota, dari pelajar sekolah dasar sampai warga yang sudah berkeluarga. Naskah tidak menyebut jumlah anggota, nama kelompok, atau kapan tepatnya pengumpulan itu dimulai.

Nama yang menyimpan tiga unsur: manusia, alam, dan Tuhan dalam satu pukulan

Sebelum sampai ke halaman rumah warga, ada nama yang harus dijelaskan lebih dahulu. Gua Duo Tigo, menurut naskah, melambangkan kesatuan dan keharmonisan tiga unsur yang tak terpisahkan: manusia, alam, dan Tuhan. Kata gua dimaknai sebagai simbol ruang, penanda bahwa setiap elemen kehidupan masyarakat Lengayang saling terhubung dan saling menopang.

Fungsinya dibagi tiga pula. Dari sisi religi, pertunjukan ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan kekuatan ilahi, memberi kedamaian dan berkah. Dari sisi budaya, ia menjadi warisan turun-temurun yang memperkokoh identitas. Dari sisi sosial, ia menjadi ruang berkumpul yang mempererat ikatan antaranggota komunitas dan mengurangi jarak antargenerasi.

Nilai adat yang disebut naskah sebagai isi pertunjukan itu adalah gotong royong, solidaritas, dan kebersamaan. Pertunjukan bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk komunikasi budaya yang memperkuat struktur sosial masyarakat Lengayang. Naskah menegaskan hal ini berulang kali, dari abstrak sampai kesimpulan, dengan susunan kalimat yang nyaris sama.

Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda

Mundur ke tambo: talempong dari kulit kelapa sampai perunggu dan istana Inderapura

Talempong sendiri jauh lebih tua dari kelompok di Lengayang. Berdasarkan tambo yang dirujuk naskah, talempong sudah ada sejak masyarakat Minangkabau tinggal di Luhak Nan Tigo, terutama Luhak Agam, di lereng Gunung Merapi. Dahulu ia dibunyikan sebagai penanda waktu mulai bertani dan berkebun, yaitu setelah embun pagi menghilang.

Bahan awalnya bukan logam. Naskah menyebut talempong mula-mula dibuat dari bahan alami seperti kulit kelapa, sejalan dengan falsafah alam takambang jadi guru. Baru pada zaman perunggu alat ini berubah menjadi logam. Naskah juga mengaitkan talempong dengan dua gelombang kedatangan nenek moyang Minangkabau: Melayu Tua sekitar 2000 SM dan Melayu Muda pada 500 sampai 300 SM.

Dari Luhak Nan Tigo, talempong menyebar ke wilayah rantau, termasuk Pesisir Selatan. Di Nagari Salido, menurut naskah, talempong awalnya dipakai dalam acara Kesultanan Inderapura, salah satu kerajaan Melayu Islam di Sumatera Barat. Penggunaannya lalu meluas ke pesta panen, pernikahan, upacara adat, hingga penyambutan tamu resmi.

Bentuknya bundar kecil dengan tonjolan di tengah yang disebut pencu. Satu ansambel tradisi terdiri dari lima hingga tujuh unit talempong, ditambah gendang, gong yang disebut aguang, rebana, dan alat tiup. Ada dua cara memainkannya: talempong pacik atau renjeang yang dijinjing sambil berjalan, dan talempong duduak yang disusun berderet di atas penyangga bernama rea atau rancakan.

Gua Duo Tigo Lengayang dalam angkaTiga unsur, lima sampai tujuh talempong, enam talempong diukur, enam langkah pelestarian.Gua Duo Tigo Lengayang dalam angkaAngka yang tercatat dalam naskah3unsurmanusia, alam,Tuhan5-7talempongsatu ansambeltradisi6talempongdiukurfrekuensinya6langkahpelestariankelompokJalan risetnyaKumpulkan anggota, SDsampai berkeluargaLatihan tiap minggu,malam hariTampil di perkawinandan acara adatPengajar: Bapak Maran, pemain senior yang tidak lagi tampil.Penggerak: tokoh masyarakat Bapak Firmansyah.
Sumber: Risky Rahmat Syahputra, Andar Indra Sastra, dan Desmawardi, Gua Duo Tigo Dalam Pertunjukan Talempong Tradisi Di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan, Jurnal Musik Etnik Nusantara, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Malam latihan: melodi utama, pengiring rendah dan tinggi, lalu canang mengisi celah

Kembali ke halaman rumah warga. Yang dilatih Maran pada malam-malam itu adalah susunan yang digambarkan naskah sebagai khas Lengayang. Pertunjukan dibuka talempong melodi, elemen sentral yang mengatur alur dan membangun tema dasar. Tempo mula-mula teratur, nada cenderung stabil, sebelum alat lain masuk mengembangkannya.

Lalu datang dua lapis pengiring. Talempong pengiring rendah memberi dasar ritmik dan tonal yang stabil. Talempong pengiring tinggi memberi warna dan variasi. Di antara keduanya, canang berperan sebagai pengakord, mengisi ruang yang tersisa antara melodi utama dan pengiring. Pola keseluruhan repetitif: melodi dan pengiring bergantian dalam interval teratur, diselingi perubahan tempo dan dinamik.

Ciri lain yang ditekankan naskah adalah cara pemain menyusun nada. Nada tinggi dan rendah dimainkan berselingan, bukan berurutan dari rendah ke tinggi. Teknik yang disebut triller, memukul satu nada cepat dan berulang, membuat melodi terasa rapat. Peralihan nada tanpa jeda dan improvisasi melengkapi tiga keterampilan yang, menurut naskah, membedakan talempong Lengayang dari daerah lain.

Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop

Naskah juga memuat pengukuran enam talempong dengan alat penala. Talempong pertama berbunyi pada 265,3 hertz, dicatat sebagai nada C4. Talempong kedua sampai keenam berturut-turut 601,6; 663,8; 702,3; 780,1; dan 880,7 hertz, dicatat sebagai D5 sampai A5. Selisihnya dari nada standar berkisar antara minus 8,6 sampai plus 41,7 cent.

Frekuensi enam talempong yang diukur (Hz)Talempong 1 (C4): Frekuensi +265,3; Talempong 2 (D5): Frekuensi +601,6; Talempong 3 (E5): Frekuensi +663,8; Talempong 4 (F5): Frekuensi +702,3; Talempong 5 (G5): Frekuensi +780,1; Talempong 6 (A5): Frekuensi +880,7.Frekuensi enam talempong yang diukur (Hz)Dalam hertz, menurut tabel pengukuran naskah3006009000Talempong 1 (C4)265,3Talempong 2 (D5)601,6Talempong 3 (E5)663,8Talempong 4 (F5)702,3Talempong 5 (G5)780,1Talempong 6 (A5)880,7Talempong 1 ke 2 berjarak 1417,4 cent, lebih dari satu oktaf; limalainnya berjarak dekat. Selisih dari nada standar: +24,1c; +41,7c;+11,9c; +9,4c; -8,6c; +1,5c.
Sumber: Risky Rahmat Syahputra, Andar Indra Sastra, dan Desmawardi, Gua Duo Tigo Dalam Pertunjukan Talempong Tradisi Di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan, Jurnal Musik Etnik Nusantara, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Ketika talempong kreasi menawarkan nada kromatik dan lagu Barat ikut masuk

Perubahan datang dari luar halaman rumah. Naskah mencatat berkembangnya Talempong Kreasi, dengan struktur musikal yang lebih kompleks. Para seniman mulai mengembangkan nada-nada kromatik supaya talempong bisa memainkan lagu dalam tangga nada mayor dan minor Barat. Jumlah talempong dalam susunan kreasi ini bisa berbeda-beda, tergantung keinginan masing-masing grup.

Di Lengayang, menurut naskah, inovasi itu membuat pemain lebih luwes memainkan variasi nada dan mengadopsi teknik improvisasi baru. Naskah menyebutnya sebagai bukti tradisi dan modernitas dapat bergabung. Namun di pendahuluan, naskah yang sama mengaku khawatir: inovasi pertunjukan cenderung menggeser nilai-nilai aslinya, dan regenerasi pelaku seni berkurang.

Kedua sikap itu berjalan berdampingan tanpa didamaikan. Naskah menyarankan kolaborasi sebagai strategi pelestarian, sekaligus mencemaskan pergeseran nilai yang dibawanya. Yang tidak disebut adalah lagu apa yang dimainkan kelompok Lengayang dengan nada kromatik itu, atau apakah kelompok ini memang sudah memakai susunan kreasi.

Enam langkah dari halaman rumah sampai pesta perkawinan dan batagak panghulu

Naskah merinci enam langkah yang ditempuh kelompok kesenian ini. Pertama, mengumpulkan anggota lintas usia. Kedua, latihan rutin setiap minggu pada malam hari, terstruktur dari dasar sampai anggota memahami teknik dan ritme. Ketiga, pengajaran oleh pemain senior seperti Maran, yang dianggap penting untuk menjaga teknik asli.

Keempat, latihan di tempat sederhana. Tidak ada ruang khusus, jadi halaman rumah warga yang dipakai. Orang tua mengantar anak-anak mereka meski latihan berlangsung malam. Naskah menulis satu kalimat tentang ini: “Meski terkadang cuaca menjadi kendala, latihan tetap dilanjutkan dengan semangat tinggi,” tulis Risky Rahmat Syahputra, Andar Indra Sastra, dan Desmawardi dalam naskahnya.

Kelima, tampil di acara perkawinan, sunat rasul, dan acara adat lain di Lengayang. Kesimpulan naskah menambahkan upacara batagak panghulu dan kegiatan keagamaan. Keenam, ikut pergelaran seni tradisional lintas daerah, termasuk undangan tampil di luar daerah. Penampilan di acara penting disebut naskah sebagai media paling efektif memperkenalkan kembali kesenian ini.

Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi

Puncaknya ada pada kalimat yang menutup seluruh proses itu. “Pelestarian ini tidak berlangsung secara spontan, melainkan melalui proses yang dirancang secara sadar dan terorganisir, dengan tujuan utama menjaga keberlangsungan kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun,” tulis ketiga peneliti. Tantangan yang mereka catat tetap sama: sarana latihan terbatas dan minat anak muda yang sempat menurun karena budaya populer.

Ada bagian naskah yang bisa diperiksa pembaca. Tabel pengukuran mencatat talempong pertama sebagai C4 pada 265,3 hertz dan talempong kedua sebagai D5 pada 601,6 hertz, berjarak 1417,4 cent atau lebih dari satu oktaf, sementara lima talempong lainnya berjarak dekat satu sama lain. Naskah tidak menjelaskan mengapa nada pertama terpisah sejauh itu dari lima nada lainnya dalam satu sistem musikal.

Kejanggalan lain ada pada rujukan. Pendahuluan mengutip Santosa tahun 2018 tentang gamelan Jawa dan Suryani tahun 2021 tentang musik Sumatera Barat, tetapi keduanya tidak ada di daftar kepustakaan. Catatan kaki untuk bagian pelestarian merujuk tulisan tentang motivasi kerja pegawai kantor urusan agama di Lengayang, dan abstrak menyebut kolaborasi dengan musik kontemporer yang tidak dicontohkan di dalam isi.

Keterbatasan naskah juga tampak dari yang tidak ditulisnya. Tidak ada jumlah narasumber, tidak ada tanggal observasi, dan tidak satu pun kutipan wawancara dari pelaku seni yang diwawancarai. Dua nama yang disebut, Maran dan Firmansyah, hadir tanpa keterangan usia, jabatan adat, atau nama kelompok yang mereka gerakkan. Pengukuran enam talempong pun tidak menyebut milik grup mana.

Malam itu latihan selesai. Anak-anak pulang diantar orang tua, talempong disimpan, halaman rumah kembali kosong. Maran tidak akan memukul talempong di pesta perkawinan berikutnya, tetapi teknik triller dan cara berpindah nada yang ia turunkan akan dibawa orang lain ke sana. Yang tersisa di naskah adalah enam angka frekuensi, enam langkah, dan dua nama, tanpa satu pun kalimat dari mulut mereka sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai
Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan
Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu
Tari Adok Paninggahan dan Suara Ayuak di Ujung Dendang
RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu
Pencak Silat Nias, Tempat Adat, Gereja, dan Islam Berunding