- Sembilan anak muda menyebut diri mereka kesepian justru ketika orang tua mereka berobat kanker.
- Anak diam agar orang tuanya tidak terbebani, orang tua diam agar anaknya tidak khawatir.
- Para peneliti menamai keadaan itu kesepian yang paradoksal, yakni merindukan seseorang yang secara fisik masih ada.
- Yang paling menolong adalah orang yang mengalami hal serupa.
- Semua yang ikut berumur 18 atau 19 tahun, sehingga temuannya mungkin tidak berlaku bagi remaja yang lebih muda.
Daftar Isi
Rumah itu tidak kosong. Ibu atau ayah masih ada di dalamnya, sebagian masih menyambut anaknya pulang dengan senyum, dan teman-teman pun masih mencari. Namun, sembilan anak muda di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara menyebut diri mereka kesepian justru ketika orang tua mereka berobat kanker. Sepi semacam itu sulit dijelaskan dengan anggapan biasa bahwa orang kesepian karena ditinggal sendirian.
Cerita mereka dihimpun Lydia Mckeown, Martin Dempster, Jenny Groarke, dan Lisa Graham-Wisener dalam artikel “I just feel alone and by myself”: how adolescents experience loneliness when their parent has cancer, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1515 tahun 2026. Keempatnya dari School of Psychology, Queen’s University Belfast, dan Groarke juga tercatat di National University of Ireland, Galway. Mereka mewawancarai empat perempuan dan lima laki-laki berusia 18–19 tahun, yang orang tuanya menjalani pengobatan kanker dengan tujuan sembuh.
Yang membuatnya rumit, sepi itu tidak satu rupa. Para peneliti memilahnya menjadi lima sisi: sepi yang bergantung pada waktu, sepi yang berwujud perasaan tertekan, sepi dalam hubungan dengan orang lain, sepi eksistensial, dan perasaan telah menjadi orang yang berbeda. Kelimanya bekerja di dalam diri si anak. Dari sana sepi itu tampak pula dalam kehidupan keluarga dan dalam lingkaran pertemanan, dua tempat yang biasanya menjadi sandaran.
Sepi datang ketika hari mulai senyap
Semua peserta masih bersekolah atau kuliah, sehingga siang hari mereka tersita oleh pelajaran. Sepi datang pada jam yang lebih tenang, misalnya malam hari atau ketika tidak ada yang dikerjakan, saat pikiran leluasa berputar pada rasa sendirian. Bagi sebagian, sepi itu nyaris tidak berjeda. “Untuk beberapa jam saya mungkin tidak merasa kesepian, tetapi hampir sepanjang waktu saya merasa kesepian,” kata peserta yang ditulis peneliti dengan nama Liam, laki-laki 18 tahun.
Sepi itu juga menumpuk sebagai emosi yang tidak dibagi kepada siapa pun. Callum, 19 tahun, menggambarkan jarak antara wajah yang ia perlihatkan dan keadaan batinnya: dari luar seseorang bisa tampak sangat bahagia, padahal jauh di dalam ia sedang terpuruk. Eve, 19 tahun, bercerita tentang serangan cemas yang berlangsung sepanjang hari bila ia terlalu banyak berpikir sendirian di kamar. Dalam kebanyakan kasus, catat para peneliti, anak-anak muda itu tidak mencari dukungan dari teman atau keluarga.
Kanker orang tua mereka, menurut penuturan semua peserta, bisa disembuhkan. Kecemasan tetap datang. Ben, 19 tahun, menyebut perasaan bahwa suatu pagi ia bisa terbangun dan orang tuanya sudah tidak ada. Chloe, 19 tahun, enggan berangkat kuliah karena takut tidak bisa lagi melihat ibunya. Sebagian peserta memang memilih melepas atau menunda tahap hidup seperti menerima tempat di universitas, dan hidup mereka makin lekat dengan orang tua yang sakit.
Henry, 18 tahun, mengucapkan kalimat yang kemudian dipakai sebagai judul artikel: ia merasa sendirian dan seorang diri. Ibunya harus mendampingi sang ayah berobat, dan ia tinggal sendiri. Helen, 18 tahun, melukiskan sepinya sebagai berada di dunia sendiri, di sebuah ruang kosong, tanpa orang-orang yang biasanya ada untuknya. Amelia, 19 tahun, tahu bahwa ia punya teman dan bahwa orang lain juga mengalami hal serupa. Pengetahuan itu, katanya, tidak selalu menolong.
Sisi kelima menyangkut diri mereka sendiri. Callum berkata keluarganya tidak pernah bersiap, lalu kanker datang dan menghancurkan rasa normal mereka. Helen harus menjadi sangat mandiri dibanding hidupnya sebelum itu. Chloe merasa dirinya berubah, sebab hidupnya kini menjadi sesuatu yang tidak ia sangka. Para peneliti membacanya sebagai rasa terputus dari diri yang lama, dan rasa terputus itu ikut mempertebal sepi.
Anak dan orang tua saling menyembunyikan
Di rumah, sepi itu bekerja lewat percakapan yang tidak terjadi. Selama orang tua menjalani pengobatan, para peserta memasang batas untuk diri sendiri: urusan pribadi tidak dibawa kepada ibu atau ayah yang sakit. Henry merasa orang tuanya punya lebih banyak hal untuk dikhawatirkan daripada kehidupan pribadinya. Eve tidak suka menyinggung soal itu kepada ibunya karena takut membuatnya panik. Chloe, yang dulu menceritakan banyak hal kepada ibunya, kini merasa tidak bisa lagi.
Persoalannya, orang tua melakukan hal yang sama dari arah sebaliknya. Kabar medis ditahan supaya anak tidak cemas, dan Ben mengaku memahami niat itu. Di rumah Eve, percakapan tentang kanker terhenti setiap kali adiknya, yang belum diberi tahu, masuk ke ruangan, lalu kerap tidak dilanjutkan. Ethan, 18 tahun, memungut keterangan dari teman-teman ibunya, kabar yang menurutnya tidak ingin dibagikan sang ibu kepadanya.
Para peneliti menyebut pola itu saling menyembunyikan dalam hubungan orang tua dan anak. Anak diam agar orang tuanya tidak terbebani, orang tua diam agar anaknya tidak khawatir. Karena itu, keduanya menanggung kanker yang sama tanpa membicarakannya. Amelia menyatakan dirinya tidak terlalu dilibatkan, dan sebagian peserta tidak tahu pasti kondisi orang tuanya ketika diwawancarai. Padahal, menurut catatan peneliti, banyak dari mereka cukup paham tentang kanker dan mampu mencari keterangan sendiri.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Orang tua hadir, tetapi terasa asing
Kejanggalan di awal tadi mulai terjawab di sini. Orang tua yang sakit berubah secara fisik, mental, dan emosional, sehingga anak sulit terhubung dengan sosok yang kini terasa asing. Chloe melihat ibunya dipasangi infus, kulitnya berubah, dan cara ibunya melakukan banyak hal menjadi kebalikan dari dulu. Baginya semua benar-benar berubah. Yang muncul kemudian adalah duka: rindu pada pribadi orang tua sebelum diagnosis itu datang.
Sebagian orang tua berusaha menjaga suasana tetap biasa. Anak mereka tetap menangkapnya. Ethan berkata, setiap kali ia pulang, ia tahu senyum ibunya bukan senyum yang sungguh dalam. Callum merasa ayahnya lebih banyak memikirkan diagnosis daripada saat-saat menyenangkan bersama keluarga. Para peneliti menamai keadaan itu kesepian yang paradoksal, yakni merindukan seseorang yang secara fisik masih ada.
Rumah yang menyempit di sekitar penyakit
Kehidupan keluarga yang biasa ikut menyusut. Kunjungan ke rumah sakit, kata Callum, menjadi hal yang sangat normal. Ayah Helen menghabiskan berbulan-bulan di rumah sakit, dan sekali waktu Helen datang menjenguk tetapi tidak diizinkan menemuinya. Chloe merasa ibunya tidak lagi memberinya perhatian, karena diagnosis itu menyita begitu banyak waktu sang ibu. Callum menyebut tidak ada lagi waktu untuk percakapan pribadi dengan ayahnya.
Ada orang tua yang membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan badan. Ibu Ethan kerap kesakitan dan berkata ingin sendirian, dan Ethan merasa tidak lagi bisa menikmati hubungan dengan ibunya. Ibu Chloe selalu menangis, yang membuat seisi rumah tidak nyaman. “Kanker tidak hanya mengubah hidup orang yang didiagnosis, tetapi juga hidup anak-anak mereka,” tulis Mckeown, Dempster, Groarke, dan Graham-Wisener dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Mengapa teman tidak diberi tahu
Di luar rumah, jalan keluar yang paling dekat mestinya teman. Banyak peserta justru menutupnya sendiri. Helen menganggap urusan itu terlalu pribadi untuk dibicarakan. Eve tidak ingin merusak suasana hati teman-temannya. Chloe merasa pertemanan tidak akan menyelesaikan masalahnya, dan ketika teman-teman merindukannya serta berusaha hadir, ia tidak yakin akan menemui mereka. Akibatnya, urusan kanker orang tua mereka cerna sendirian.
Mereka yang bercerita menghadapi kesulitan lain, yaitu reaksi pendengarnya. Eve tahu kanker ibunya tergolong ringan, tetapi reaksi orang malah membuatnya lebih takut. Menurutnya, begitu mendengar kata kanker, wajah teman-temannya berubah, dan yang terbayang adalah kanker paru, kanker kulit, dan kematian. Ethan tidak menyukai ungkapan simpati. Setiap ungkapan itu mengingatkannya pada kondisi ibunya dan betapa tidak berdayanya sang ibu, lalu meninggalkannya dalam suasana muram.
Ada pula hambatan yang sederhana, yakni waktu. Pagi hari, ketika ayahnya berangkat kemoterapi, Amelia harus menjaga anjing dan tidak bisa pergi walaupun ingin. Callum diserahi tugas merawat ayahnya. Eve membantu pekerjaan rumah dan memastikan ibunya baik-baik saja setelah menahan sakit, sehingga ia tidak ikut ketika teman-temannya berkumpul. Pertemanan, tulis para peneliti, menjadi kurang diutamakan selama orang tua sakit.
Apa yang meredakan sepi itu
Yang paling menolong adalah orang yang mengalami hal serupa. Helen bertemu sekelompok anak yang ibu atau ayahnya juga sakit kanker, dan kepada merekalah ia nyaman bercerita. Kadang mereka hanya bersenang-senang bersama. Eve mendapati percakapan dengan teman senasib lebih ringan, lebih mirip candaan. Chloe belum pernah ikut kelompok semacam itu, tetapi ingin berbicara dengan seseorang yang menjalani hal yang sama. Beberapa peserta lain tidak mengenal satu pun teman senasib.
Sahabat dekat ikut membantu. Eve merahasiakan diagnosis ibunya dari sebagian besar teman sekolah, tetapi memberi tahu sahabat-sahabat terdekatnya. Teman Callum kerap berkunjung pada akhir pekan, sehingga ia tidak perlu meninggalkan rumah. Teman di kampus ternyata lebih mudah diajak bicara. Eve berkata ia tidak kesulitan bercerita kepada teman kuliahnya, sebab mereka semua kini sudah lebih dewasa.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Orang dewasa yang dipercaya memberi ruang yang tidak tersedia di rumah. Eve akhirnya berbicara dengan konselor sekolah dan merasa sangat terbantu karena bisa menyuarakan kekhawatirannya. Liam menjelaskan semuanya kepada pamannya, yang kemudian membantunya. Ayah Helen, meski sakit, selalu ada untuk diajak bicara. Karena itu para peneliti menilai kerabat di luar keluarga inti layak dilibatkan dalam dukungan bagi anak pasien.
Setiap peserta juga punya setidaknya satu cara menenangkan diri. Ethan bermain gim video supaya tidak mengikuti pikirannya sendiri, Liam keluar berjalan sebentar, dan Amelia menulis di jurnal. Bagi tenaga kesehatan, para peneliti menyarankan agar sejak awal ditanyakan apakah pasien punya anak yang masih bergantung padanya. Dengan begitu orang tua bisa diberi tahu bahwa komunikasi terbuka melindungi anak, dan anak bisa diarahkan ke layanan dukungan.
Di mana penjelasan ini berhenti
Penjelasan itu punya batas yang diakui penulisnya. Pesertanya hanya anak muda berkulit hitam dan berkulit putih, tanpa wakil dari komunitas Asia Selatan, Asia Timur, atau Timur Tengah. Kajian ini terbuka bagi usia 10 sampai 19 tahun, tetapi semua yang ikut berumur 18 atau 19 tahun, sehingga temuannya mungkin tidak berlaku bagi remaja yang lebih muda. Para peneliti juga mencatat belum ada intervensi berbasis bukti yang khusus meredakan kesepian kelompok ini.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Hasil disebut terdiri atas empat tema, tetapi tema keempat diberi judul tema kelima. Pada tema pertama, dua subtema sama-sama bernomor empat. Dalam tabel kutipan, subtema bergaul dengan teman dan subtema dukungan orang dewasa memuat kalimat yang persis sama. Bagian temuan menyebut beberapa peserta baru masuk universitas, sedangkan bagian pembahasan menyebut dua orang.
Rumah itu memang tidak kosong, dan di situlah jawabannya. Sepi sembilan anak muda itu tidak lahir dari ketiadaan orang. Ia lahir dari percakapan yang ditahan dari dua arah, dari orang tua yang hadir tetapi berubah, dan dari teman yang sengaja tidak diberi tahu. Yang meredakannya pun sederhana dalam cerita mereka: satu orang yang bisa diajak bicara tanpa harus dijaga perasaannya.














