Banyak Kebiasaan Sehat, Pekerja Jepang Lebih Lihat Peluang Karier

A A

Ilustrasi penumpang komuter pagi antre naik kereta di peron Stasiun Urayasu, Chiba, Jepang [Foto: fto mizno (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Karyawan dengan nol sampai dua kebiasaan sehat rata-rata memberi skor 2,7, sedangkan yang menjalankan ketujuhnya rata-rata 3,2.
  • Dibanding kelompok nol sampai dua kebiasaan, koefisien regresi untuk tujuh kebiasaan sebesar 0,490 setelah disesuaikan.
  • Uji interaksi antara jumlah kebiasaan sehat dan usia tidak bermakna secara statistik.
  • Setelah disesuaikan dengan kebiasaan lain, tidur cukup memiliki koefisien 0,282, paling besar di antara semuanya.
Daftar Isi
  1. Tujuh kebiasaan lama yang dicatat ulang di ruang pemeriksaan kesehatan kantor
  2. Setelah usia dan pekerjaan diperhitungkan, anak tangga itu tetap berdiri
  3. Muda atau menjelang pensiun, polanya tidak berbelok ke arah lain
  4. Tidur cukup paling menonjol, sedangkan minum secukupnya tidak memberi beda
  5. Peluang yang dibayangkan dan arah hubungan yang belum terjawab

Tiga pernyataan pendek disodorkan kepada karyawan tujuh perusahaan besar di Jepang pada 2025. Bahwa banyak peluang menanti di masa depan pekerjaan mereka. Bahwa mereka akan menetapkan banyak tujuan baru dalam kariernya. Bahwa masa depan pekerjaan mereka penuh kemungkinan. Setiap orang memberi nilai satu sampai lima, dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Ketika jawaban itu dipilah menurut kebiasaan hidup sehari-hari, muncul pola seperti anak tangga.

Karyawan yang menjalankan paling banyak dua dari tujuh kebiasaan sehat rata-rata memberi skor 2,7. Mereka yang menjalankan ketujuhnya rata-rata memberi skor 3,2. Di antara kedua ujung itu, angkanya naik setahap demi setahap: 2,8 untuk tiga dan empat kebiasaan, 3,0 untuk lima kebiasaan, lalu 3,1 untuk enam kebiasaan. Tidak satu anak tangga pun turun.

Pola itu dilaporkan Takahiro Mori dan rekan dari Departemen Praktik dan Manajemen Kesehatan Kerja, Institut Ilmu Ekologi Industri, University of Occupational and Environmental Health di Kitakyushu, Jepang. Makalah mereka berjudul Associations between the number of healthy lifestyle habits and focus on opportunities among Japanese workers: a cross-sectional study dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Takahiro Mori dan Koji Mori tercatat berbagi kedudukan sebagai penulis pertama.

Tujuh kebiasaan lama yang dicatat ulang di ruang pemeriksaan kesehatan kantor

Ketujuh kebiasaan itu bukan daftar baru. Para peneliti menyebutnya padanan tujuh kebiasaan sehat Breslow: tidur cukup, sarapan teratur, tidak ngemil berlebihan, aktivitas fisik teratur, minum alkohol berisiko rendah, tidak merokok, dan indeks massa tubuh yang memadai. Enam kebiasaan dicatat lewat kuesioner standar pemeriksaan kesehatan khusus di Jepang, sedangkan indeks massa tubuh dihitung dari tinggi dan berat yang diukur saat pemeriksaan.

Datanya berasal dari 14.910 karyawan berusia 18 tahun ke atas di tujuh perusahaan besar, antara lain di bidang farmasi, logam nonbesi, kimia, pengolahan makanan, dan jasa. Kebiasaan hidup diambil dari pemeriksaan kesehatan 2024, sedangkan tiga pernyataan tentang peluang karier dijawab lewat kuesioner 2025. Jumlah kebiasaan sehat tiap orang lalu dibagi ke dalam enam kelompok: nol sampai dua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh.

Kelompok terbesar adalah karyawan dengan lima kebiasaan sehat, yakni 4.791 orang. Di belakangnya ada 4.000 orang dengan enam kebiasaan dan 3.196 orang dengan empat kebiasaan. Yang menjalankan ketujuhnya berjumlah 1.422 orang, sementara 1.186 orang menjalankan tiga kebiasaan. Kelompok paling kecil justru yang terbawah: 315 orang dengan nol sampai dua kebiasaan sehat.

Ketiga pernyataan tadi adalah butir skala yang oleh para peneliti disebut fokus pada peluang, salah satu sisi dari perspektif waktu masa depan dalam pekerjaan. Menurut makalah itu, fokus pada peluang mencerminkan keyakinan pekerja tentang tujuan dan kemungkinan di masa depan kariernya. Sisi ini dikaitkan dengan keterikatan kerja, motivasi belajar, dan niat pensiun yang lebih rendah.

Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur

Setelah usia dan pekerjaan diperhitungkan, anak tangga itu tetap berdiri

Makin banyak kebiasaan sehat, makin tinggi koefisien skor FOO3 kebiasaan sehat: Koefisien regresi B, Model 2 0,111; 4 kebiasaan sehat: Koefisien regresi B, Model 2 0,164; 5 kebiasaan sehat: Koefisien regresi B, Model 2 0,305; 6 kebiasaan sehat: Koefisien regresi B, Model 2 0,398; 7 kebiasaan sehat: Koefisien regresi B, Model 2 0,490.Makin banyak kebiasaan sehat, makin tinggikoefisien skor FOOKoefisien B skor focus on opportunities (FOO) dibandingkelompok 0-2 kebiasaan, n 14.9100,20,40,603 kebiasaan sehat0,1114 kebiasaan sehat0,1645 kebiasaan sehat0,3056 kebiasaan sehat0,3987 kebiasaan sehat0,490Model 2 disesuaikan usia, jenis kelamin, pendidikan, status kerja,pekerjaan; 3 kebiasaan p 0,055
Sumber: Takahiro Mori dan rekan, Associations between the number of healthy lifestyle habits and focus on opportunities among Japanese workers: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Anak tangga di tabel pertama belum memperhitungkan perbedaan antarkelompok. Karyawan dengan lebih banyak kebiasaan sehat cenderung lebih muda dan berpendidikan lebih tinggi. Pekerja profesional dan teknis lebih banyak di kelompok itu, sedangkan pekerja proses produksi lebih sedikit. Karena itu tim memasukkan usia, jenis kelamin, pendidikan, status kerja, dan jenis pekerjaan ke dalam model kedua mereka.

Anak tangga itu tidak runtuh. Dibanding kelompok nol sampai dua kebiasaan, koefisien regresi untuk empat kebiasaan sebesar 0,164, lima kebiasaan 0,305, enam kebiasaan 0,398, dan tujuh kebiasaan 0,490. Keempatnya bermakna secara statistik. Para peneliti menyebutnya hubungan dosis-respons yang jelas, dan uji tren lintas kelompok pun bermakna.

Satu anak tangga paling bawah masih goyah. Kelompok tiga kebiasaan sehat punya koefisien 0,111, tetapi belum bermakna secara statistik. Selisih yang tegas baru terlihat mulai dari empat kebiasaan, lalu terus melebar sampai kelompok yang menjalankan ketujuh kebiasaan sekaligus.

Tim menguji polanya dengan dua cara lain. Ketika tekanan psikologis ikut diperhitungkan, koefisiennya melemah, tetapi hubungan dosis-respons tetap ada. Ketika kelompok jumlah kebiasaan disusun ulang menjadi nol sampai tiga, empat, lima, enam, dan tujuh, hasilnya sebanding. Menurut para peneliti, hubungan itu kecil kemungkinannya hanya dijelaskan oleh tekanan psikologis.

Muda atau menjelang pensiun, polanya tidak berbelok ke arah lain

Usia menjadi tanda tanya berikutnya. Konsep yang dipakai tim berakar pada gagasan bahwa makin tua seseorang, makin terbatas waktu yang ia rasakan, dan prioritas tujuannya bergeser. Makalah itu mencatat bahwa pekerja yang merasa sisa peluang dan waktunya lebih sedikit cenderung kurang termotivasi untuk belajar. Maka tim memeriksa apakah usia mengubah hubungan kebiasaan sehat dengan peluang karier.

Jawabannya tidak. Uji interaksi antara jumlah kebiasaan sehat dan usia tidak bermakna secara statistik. Para peneliti lalu memisahkan karyawan menjadi dua kelompok, di bawah 45 tahun dan 45 tahun ke atas, dengan batas yang diambil dari median usia peserta. Pola anak tangga itu muncul di kedua kelompok.

Pada karyawan di bawah 45 tahun, skor rata-rata bergerak dari 2,9 pada kelompok nol sampai dua kebiasaan menjadi 3,4 pada kelompok enam dan tujuh kebiasaan. Pada karyawan 45 tahun ke atas, skor bermula di 2,4 lalu naik sampai 3,0 pada mereka yang menjalankan ketujuh kebiasaan. Kedua deret itu sama-sama menanjak.

Dalam model yang disesuaikan, karyawan di bawah 45 tahun dengan lima sampai tujuh kebiasaan memiliki skor lebih tinggi secara bermakna; untuk tujuh kebiasaan koefisiennya 0,424. Pada karyawan 45 tahun ke atas, perbedaan yang bermakna sudah tampak sejak tiga kebiasaan, dan untuk tujuh kebiasaan koefisiennya 0,562.

Baca juga Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna

Tidur cukup paling menonjol, sedangkan minum secukupnya tidak memberi beda

Lalu ketujuh kebiasaan dibongkar satu per satu. Hasilnya tidak merata. Setelah disesuaikan dengan kebiasaan lain, tidur cukup memiliki koefisien 0,282, paling besar di antara semuanya. Karyawan yang tidurnya tergolong cukup berjumlah 9.805 orang, atau 65,8 persen peserta.

Tidur cukup paling kuat terkait skor FOOTidur cukup 0,282; Aktivitas fisik teratur 0,096; Tidak ngemil berlebihan 0,082; Tidak merokok 0,068; Sarapan teratur 0,044; IMT memadai 0,038; Alkohol berisiko rendah 0,010.Tidur cukup paling kuat terkait skor FOOKoefisien B tiap kebiasaan sehat (good dibanding poor),Model 2, n 14.9100,00,10,20,3Tidur cukup0,282Aktivitas fisik teratur0,096Tidak ngemil berlebihan0,082Tidak merokok0,068Sarapan teratur0,044IMT memadai0,038Alkohol berisiko rendah0,010Model 2 disesuaikan juga dengan kebiasaan lain; alkohol berisikorendah tidak bermakna (p 0,673)
Sumber: Takahiro Mori dan rekan, Associations between the number of healthy lifestyle habits and focus on opportunities among Japanese workers: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kebiasaan lain menyusul jauh di belakang. Aktivitas fisik teratur memiliki koefisien 0,096, tidak ngemil berlebihan 0,082, tidak merokok 0,068, sarapan teratur 0,044, dan indeks massa tubuh (IMT) yang memadai 0,038. Keenam kebiasaan itu tetap berkaitan secara bermakna dengan skor fokus pada peluang yang lebih tinggi.

Satu kebiasaan diam. Minum alkohol berisiko rendah, yakni rata-rata di bawah 40 gram alkohol sehari untuk laki-laki dan di bawah 20 gram untuk perempuan, tidak berkaitan bermakna dengan skor itu, baik sebelum maupun sesudah penyesuaian. Koefisiennya hanya 0,010 dalam model yang paling lengkap. Kelompok ini mencakup orang yang tidak minum dan peminum moderat.

Para peneliti menawarkan satu kemungkinan penjelasan. Minum dalam jumlah sedang bisa berfungsi sebagai modal sosial di tempat kerja, memudahkan pergaulan dan komunikasi dengan rekan. Bila begitu, manfaat sosial itu dapat sebagian menutupi keuntungan tidak minum dari sisi kesehatan, sehingga hubungan bersihnya melemah ketika kelompok risiko rendah secara keseluruhan dibandingkan dengan peminum berat.

Soal tidur, temuan ini sejalan dengan studi terdahulu yang dikutip makalah tersebut. Studi-studi itu menunjukkan tidur sebagai faktor gaya hidup yang paling kuat berkaitan dengan presenteisme dan keterikatan kerja pada pekerja Jepang. Menurut tim, peran tidur dalam menopang sumber daya kognitif dan emosional, termasuk energi, inisiatif, dan keyakinan diri untuk membayangkan peluang karier, mungkin menjelaskan mengapa kaitannya lebih besar daripada kebiasaan lain.

Dari situ para peneliti sampai pada pesan utama mereka. “Kegiatan promosi kesehatan di tempat kerja yang menyasar perbaikan kumulatif berbagai kebiasaan hidup, bukan kebiasaan tunggal secara terpisah, dapat berkontribusi menjaga motivasi karier dan rasa adanya kemungkinan dalam pekerjaan para pekerja di semua tahap karier,” tulis Takahiro Mori dan rekan dalam simpulan makalah berbahasa Inggris itu, dalam terjemahan.

Peluang yang dibayangkan dan arah hubungan yang belum terjawab

Tim menarik tiga pelajaran untuk program kesehatan di kantor. Pertama, pengelolaan kesehatan tidak sebatas mencegah penyakit, tetapi juga dapat dipahami sebagai fondasi psikologis bagi motivasi dan pandangan karier. Kedua, karena hubungannya serupa di semua kelompok usia, dukungan gaya hidup perlu diberikan di semua tahap karier, bukan hanya kepada pekerja yang lebih tua. Menurut mereka, intervensi sejak tahap karier yang lebih muda mungkin lebih efektif menjaga pandangan karier jangka panjang daripada pendekatan yang hanya menyasar kelompok usia tertentu.

Ketiga, karena jumlah kebiasaan sehat yang muncul sebagai penanda penting, bukan satu kebiasaan, para peneliti menganjurkan pendekatan terpadu. Tidur, pola makan, aktivitas fisik, dan rokok ditangani sekaligus.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Tetapi tangga itu bisa dibaca dari dua arah. Menurut para peneliti, desain potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, dan arah hubungannya belum pasti. “Pekerja dengan fokus pada peluang yang tinggi, yang memandang masa depan pekerjaannya kaya kemungkinan, mungkin memiliki motivasi kuat menjaga kesehatan untuk memanfaatkan peluang itu, sehingga mempertahankan kebiasaan hidup sehat,” tulis para peneliti, juga dalam terjemahan.

Keterbatasan lain diakui terbuka. Kebiasaan hidup dan skor peluang karier sama-sama diisi sendiri oleh karyawan, sehingga rawan bias pelaporan dan bias ingatan. Tingkat respons 59 persen, dan peserta dengan data tidak lengkap dikeluarkan. Faktor psikologis lain seperti keyakinan diri juga tidak diukur.

Pesertanya pun bekerja di perusahaan besar Jepang, dan lebih dari 80 persen laki-laki. Menurut para peneliti, karyawan perusahaan besar mungkin lebih melek kesehatan dan lebih mudah menjangkau program kesehatan kerja dibanding pekerja di organisasi kecil. Hasilnya karena itu belum tentu berlaku untuk pekerja perempuan atau seluruh angkatan kerja Jepang.

Tim meminta studi lanjutan yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu, juga uji intervensi, untuk memastikan arah hubungan itu. Studi semacam itu, menurut mereka, juga diperlukan untuk menentukan apakah perbaikan gaya hidup dapat meningkatkan pandangan pekerja tentang masa depan pekerjaannya.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu
Obesitas Pekerja Perempuan Bangladesh Terkait Lama Duduk Kerja
Lebih dari 40 Persen Dokter Gigi Kuwait Pernah Cuti Sakit Otot
Pekerja Tambang Chile yang Didiskriminasi Lebih Banyak Depresi
Separuh Lebih Tukang Bengkel di Sunyani, Ghana, Didera Nyeri Otot
Kurang dari Separuh Karyawan Polandia Dapat Program Sehat Kantor