- Pada 2021, utilitas listrik diprivatisasi di bawah LUMA Energy, sebuah langkah yang dikritik sebagai contoh kapitalisme bencana.
- Di kelompok tanpa akses surya, 60 persen berpenghasilan di bawah 1.000 dolar sebulan, dan 47 persen berusia 80 tahun ke atas.
- Mikrogrid komunitas berkapasitas 220 kW itu ditopang baterai bekas pakai dan sanggup memasok listrik hingga 10 hari tanpa jaringan saat cuaca ekstrem.
- Kode pemangku kepentingan pun ditulis tidak seragam, sekali sebagai SH-12 dan sekali sebagai SH 012.
Daftar Isi
- Puerto Rico sesudah Badai Maria 2017
- Bouzarovski, Petrova, dan Sovacool: listrik sebagai ketimpangan
- Adjuntas 2010 hingga 2020: kota yang menua
- Madera dan rekan: padam yang masuk ke tubuh
- Sejak Maria: insulin, oksigen, dan mesin apnea
- Casa Pueblo 2017 hingga kini: mikrogrid milik warga
- Catatan untuk Madera dan tim: batas dan kejanggalan
Selama bertahun-tahun, listrik yang padam lazim dipahami sebagai kegagalan teknis, urusan jaringan rusak yang cukup ditambal sementara lalu dilupakan. Lebih dari satu dekade Puerto Rico hidup dengan kerawanan energi, dan Badai Maria pada 2017 membuka betapa rapuhnya jaringan listrik kepulauan itu. Pemadaman sesudah badai tersebut tercatat sebagai yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, dan lebih dari 3.000 kematian dikaitkan dengan layanan medis yang terputus.
Pembacaan ulang atas pemadaman itu, kali ini dari tubuh orang tua yang sakit, datang dari Sheilla R. Madera, Nelson Varas-Díaz, Mark Padilla, Kariela Rivera-Bustelo, Jeffrey Ramos, Sergio Rivera-Rodriguez, Adrián Santiago-Santiago, Claudia Mercado-Rios, Jack Vertovec, Arturo Massol Deyá, Rebeca Rodríguez-Banch, Emil Varas Rodríguez, Genevieve Reid, dan Kevin Grove. Mereka menulis Energy insecurity and health among older adults: chronic disease management and resilience strategies in rural Puerto Rico, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Madera dan sebagian besar timnya bernaung di Global and Sociocultural Studies Department, Florida International University, Miami, sementara penulis lain berasal dari University of Rochester Medical Center, Ponce Health Sciences University, dan University of Puerto Rico kampus Mayagüez. Dua di antaranya, Arturo Massol Deyá dan Rebeca Rodríguez-Banch, berafiliasi dengan Casa Pueblo, organisasi komunitas di Adjuntas yang menjadi pusat cerita dalam naskah ini.
Puerto Rico sesudah Badai Maria 2017
Para penulis menaruh akar kerawanan energi Puerto Rico jauh sebelum badai datang. Menurut naskah, relasi kolonial kepulauan itu dengan Amerika Serikat ikut melahirkan krisis ekonomi berkepanjangan, sementara ketergantungan pada bahan bakar fosil impor membuat pasokan listrik mudah goyah. Reformasi neoliberal berupa privatisasi dan pengetatan anggaran kemudian memperparah hantaman Badai Maria pada 2017.
Kesulitan ekonomi membuat pemerintah jarang berinvestasi pada infrastruktur listrik berkelanjutan, sehingga perbaikan yang dilakukan kerap bersifat sementara. Pada 2021, utilitas listrik diprivatisasi di bawah LUMA Energy, sebuah langkah yang dikritik sebagai contoh kapitalisme bencana. Naskah mencatat privatisasi itu gagal memperbaiki layanan dan justru menaikkan biaya bagi warga, sehingga beban listrik yang tidak andal kini ditanggung dengan ongkos yang lebih mahal.
Kerentanan geografis terhadap badai dan gempa menambah beban itu. Pemadaman yang sering membuat warga bergantung pada genset yang mahal dan boros, sementara ketidakpastian kapan listrik kembali menambah stres dan kecemasan. Beban gabungan tersebut, tulis para penulis, paling berat menimpa kelompok terpinggirkan, termasuk lansia, penyandang disabilitas, warga miskin, dan penduduk desa yang jauh dari layanan kesehatan.
Bouzarovski, Petrova, dan Sovacool: listrik sebagai ketimpangan
Untuk membaca keadaan itu, Madera dan rekan bersandar pada dua kerangka yang sudah lebih dulu dirumuskan peneliti lain. Kerangka kerentanan energi dari Bouzarovski dan Petrova menjelaskan bagaimana rumah tangga terpapar bahaya lewat pertemuan infrastruktur yang rapuh, energi yang tak terjangkau, dan kemampuan beradaptasi yang terbatas, terutama di wilayah yang rawan krisis.
Sovacool dan kolega, lewat perspektif keadilan energi, menambahkan bahwa akses yang tidak setara terhadap sistem energi ikut mereproduksi ketimpangan kelas, usia, geografi, dan sejarah kolonial. Dengan dua kerangka itu, pemadaman di wilayah rawan bencana dibaca bukan sebagai gangguan sesaat, melainkan sebagai mekanisme yang mempertajam kerentanan yang sudah ada sebelumnya. Kerawanan energi, dalam kerangka ini, adalah kondisi yang dibentuk ekonomi politik, tata kelola, dan ketimpangan sejarah.
Lapisan ketiga datang dari teori ekososial Nancy Krieger dan konsep embodiment, yang dalam naskah ini berarti cara kondisi sosial, politik, dan lingkungan dijalani secara fisik, emosional, dan psikologis oleh para lansia. Pemadaman berulang, rutinitas medis yang terganggu, paparan panas, dan tekanan batin, dalam kacamata ini, tidak berhenti di luar rumah, tetapi masuk ke dalam tubuh.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Adjuntas 2010 hingga 2020: kota yang menua
Menurut para penulis, riset kerawanan energi di Puerto Rico masih langka, dan lebih sedikit lagi yang menelaah dampaknya pada pengelolaan penyakit kronis. Kajian sesudah Maria sudah mencatat strategi rumah tangga bertahan dan pemulihan yang timpang, tetapi jarang menengok desa-desa seperti Adjuntas, kotamadya di pedalaman pulau utama yang ditandai kemiskinan tinggi dan penduduk yang menua.
Angka yang dikutip naskah menunjukkan betapa cepat penuaan itu berlangsung. Sekitar 41,3 persen penduduk Adjuntas berusia 50 tahun ke atas, dan usia median naik dari 36,9 tahun pada 2010 menjadi 45,2 tahun pada 2020. Karena eksodus besar anak muda dari kepulauan dalam satu dekade terakhir, para penulis memperkirakan kecenderungan itu akan berlanjut.
Madera dan tim mewawancarai 45 warga Adjuntas berusia lanjut dengan penyakit kronis yang pengelolaannya bergantung pada listrik, dibagi rata menurut akses mereka terhadap listrik surya, ditambah 15 pemangku kepentingan. Potret ekonominya muram, sebab Jaminan Sosial menjadi sumber penghasilan utama, dan 73,3 persen dari 45 warga itu hidup dengan kurang dari 1.500 dolar sebulan.
Di kelompok tanpa akses surya, 60 persen berpenghasilan di bawah 1.000 dolar sebulan, dan 47 persen berusia 80 tahun ke atas. Di kelompok akses tidak langsung, 46 persen berpenghasilan di bawah 1.000 dolar. Para penulis membaca angka itu sebagai hambatan finansial yang nyata untuk membeli panel surya sendiri, sementara lebih dari separuh pemangku kepentingan memilih tidak mengungkapkan penghasilannya.
Madera dan rekan: padam yang masuk ke tubuh
Temuan pertama tim Madera sederhana tetapi tajam, yaitu pemadaman panjang dan berulang mengacaukan rutinitas harian, perawatan medis, dan ketenangan batin sekaligus. Sejumlah partisipan perempuan menggambarkan ketakutan pada gelap, dan seorang di antaranya mengingat pencurian genset serta jeriken bensin sesudah Maria, ketika ia tinggal seorang diri. Perempuan lain berusia 74 tahun mengaku siang hari tidak menjadi soal, tetapi begitu malam tiba ia gelisah dan kadang takut gelap.
Seorang perawat berusia 74 tahun menuturkan ibunya, yang kondisinya terus memburuk, makin kehilangan orientasi ketika listrik padam dan terus meminta lampu serta televisi dinyalakan. Rumah mereka memakai kompor listrik, sehingga memasak dan memanaskan air mandi pun menjadi soal. Bagi keluarga itu, hampir segala kebutuhan dasar rumah bergantung pada listrik, dan ketika listrik hilang, banyak kebutuhan pokok ikut hilang bersamanya.
Bebannya juga terasa di dompet. Seorang partisipan berusia 82 tahun menyebut penghasilannya bersama istri hanya sedikit di atas 1.000 dolar sebulan dari Jaminan Sosial, dan kini ia menanggung cicilan pinjaman karena pemadaman yang sering. Panel surya, katanya, bukan pilihan karena harganya ribuan dolar, padahal ayah mertuanya bergantung pada listrik untuk mesin medisnya.
Pada tema berikutnya, tubuh menjadi saksi. Seorang perempuan berusia 70 tahun dengan akses langsung bercerita asmanya kambuh setiap kali listrik padam karena ia tak bisa menjalani terapi, dan tekanan darahnya pernah mencapai 200/100. Setelah panel terpasang, ia merasa kualitas hidupnya membaik, dan tekanan darahnya tidak pernah lagi setinggi itu. Sebaliknya, seorang perempuan tanpa akses surya merasa kesehatannya terus merosot, karena dalam sepekan listrik bisa padam dua kali dan ia pernah dua hari tanpa listrik.
Dari kisah-kisah semacam itulah para penulis menarik posisi mereka yang berbeda dari cara pandang lama. “Temuan ini menunjukkan bahwa kerawanan energi bukan sekadar rusaknya infrastruktur, melainkan proses yang membuat kondisi politik, ekonomi, dan lingkungan tertanam ke dalam tubuh,” tulis Madera dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu menolak anggapan bahwa pemadaman cukup dijawab dengan perbaikan jaringan, sebab yang rusak ternyata juga tubuh penghuninya.
Sejak Maria: insulin, oksigen, dan mesin apnea
Pengelolaan penyakit kronis menjadi titik yang paling telanjang. Seorang pria berusia 67 tahun tanpa akses surya bercerita ia terpaksa membuang insulinnya saat Maria karena tak bisa mendinginkannya, dan kekhawatiran itu masih terus ada. Ia juga cemas terjatuh ketika rumah gelap, sebuah ketakutan yang disuarakan pula oleh perempuan berusia 85 tahun yang mengaku sudah sering jatuh.
Seorang partisipan yang kini memiliki panel surya mengingat hampir setahun tanpa listrik setelah Maria, ketika ia harus bergantian menyalakan lima genset kecil yang terus rusak demi tangki oksigen dan mesin apnea. Ayahnya terbaring total, dan mandi serta ganti pakaian dilakukan di atas ranjang. Di kelompok tanpa akses, seorang perempuan menggambarkan suaminya yang sesak bila ranjang listriknya berhenti dalam posisi datar.
Perempuan berusia 63 tahun lain bangun pukul tiga atau empat pagi untuk memberi terapi napas kepada suaminya, dan ia menghindari genset karena baunya memperburuk kondisi sang suami. Sebaliknya, perempuan berusia 60 tahun dengan panel surya bercerita tentang masa antre bensin senilai 20 dolar, dan kini suaminya bisa tidur dengan mesin apnea sepanjang malam tanpa gangguan.
Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Casa Pueblo 2017 hingga kini: mikrogrid milik warga
Setelah Maria pada 2017, Casa Pueblo menggalang dukungan diaspora, mahasiswa, dosen, dan simpatisan dari Spanyol untuk membagikan lampu surya dan kit surya darurat, lalu mulai memasang panel di rumah warga berpenyakit kronis. Inisiatif itu kemudian melebar menjadi Pueblo Solar, upaya menyurya-kan infrastruktur penting seperti pangan, komunikasi, layanan kesehatan, dan ruang hiburan.
Pada 2019, ketika tim Madera pertama kali berbincang dengan staf Casa Pueblo dalam studi etnografi tentang runtuhnya sistem kesehatan sesudah Maria, organisasi itu sudah memasok listrik untuk puluhan rumah, lima toko kelontong, dua restoran, satu pos pemadam kebakaran, dan satu unit gawat darurat. Saat naskah ditulis, sekitar 1.000 panel memasok 18 usaha di 13 bangunan di alun-alun Adjuntas.
Mikrogrid komunitas berkapasitas 220 kW itu ditopang baterai bekas pakai dan sanggup memasok listrik hingga 10 hari tanpa jaringan saat cuaca ekstrem. Situs yang dipasangi panel wajib berbagi listrik dengan tetangga, sehingga siapa pun bisa mengakses daya dari bangunan tersebut. Lima partisipan menyebut upaya Casa Pueblo sebagai “berkah”, kata yang dalam naskah aslinya ditulis blessing.
Namun, suara para pemangku kepentingan tidak seragam, dan di sinilah perbedaan pandangan muncul terang. Seorang pemangku kepentingan yang dicatat sebagai SH-002 berpendapat makin sedikit campur tangan pemerintah makin baik, sedangkan yang lain mengusulkan kotamadya menyediakan dana dan Casa Pueblo peralatannya. Pemangku kepentingan lain lagi khawatir teknologi itu hanya akan diserap kelas menengah bila pemerintah tidak turun tangan.
Ada pula kekhawatiran yang jarang dibicarakan, yaitu perawatan. Seorang pemangku kepentingan bertanya siapa yang akan menolong lansia yang tinggal sendiri, terbaring, dan tanpa anak ketika sistem suryanya rusak. Yang lain menyoroti ladang surya pemerintah, yang menurutnya bisa berhasil hanya bila dikelola dengan benar, dan menyebut masih banyak pihak yang berpihak pada pemegang obligasi.
Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah
Catatan untuk Madera dan tim: batas dan kejanggalan
Para penulis mengakui temuan ini tidak bisa digeneralisasi, karena pengalaman 60 partisipan belum tentu mewakili komunitas lain di kepulauan itu, apalagi penduduk kota atau wilayah tanpa intervensi serupa Casa Pueblo. Data yang dipakai berupa laporan diri, sehingga rawan bias ingatan dan keinginan tampil baik, dan tantangan biaya untuk memperluas model Casa Pueblo belum ditelusuri penuh.
Pembaca naskah juga bisa memeriksa beberapa kejanggalan. Syarat partisipan disebut berusia 50 tahun ke atas, tetapi tabel demografi mencatat lima orang di kelompok akses berusia 30 sampai 50 tahun, dan salah satu kutipan diberi keterangan pria berusia 43 tahun. Teks juga menyebut porsi terbesar ada di rentang 61 sampai 70 tahun, padahal di kelompok tanpa akses porsi terbesar adalah usia 80 tahun ke atas.
Kode pemangku kepentingan pun ditulis tidak seragam, sekali sebagai SH-12 dan sekali sebagai SH 012. Teks hanya menyebut porsi berpenghasilan di bawah 1.000 dolar pada kelompok tanpa akses dan akses tidak langsung, padahal tabel menunjukkan kelompok akses langsung juga memuat sembilan dari 15 orang dengan penghasilan serendah itu. Angka kelompok akses langsung itu tidak muncul di teks, sehingga pembaca perlu menghitungnya sendiri dari dua baris penghasilan terbawah di tabel.
Kesimpulan akhir para penulis dirumuskan tegas. “Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa akses energi yang stabil dan setara bukanlah infrastruktur, melainkan penentu mendasar kesehatan bagi lansia,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Kalimat itu memindahkan listrik dari urusan infrastruktur semata ke urusan kesehatan masyarakat, dan menurut para penulis menuntut kemitraan pemerintah dan swasta, pembaruan kebijakan, serta pemerataan sumber daya.
Dalam rantai riset yang dibentangkan naskah, studi dari Adjuntas ini berdiri di antara kerangka kerentanan dan keadilan energi yang sudah ada dan fase kuantitatif yang masih berjalan dengan sampel lebih besar. Ia tidak menutup perdebatan, tetapi menambahkan satu mata rantai yang sebelumnya kosong, yakni cara pemadaman dijalani oleh tubuh lansia yang bergantung pada insulin dingin dan mesin yang terus menyala.















