- Sepi adalah karya tari bertipe dramatik yang ditarikan delapan penari perempuan dengan iringan musik techno yang dimainkan langsung.
- Pola lantai dibentuk melingkar sebagai tanda jeratan sosial yang sulit dilepaskan.
- Busana putih menggambarkan kekosongan identitas, sedangkan rok burgundy menandakan agresivitas dan keputusasaan.
- Kedua penulis menyebut kain putih itu sebagai metafora ruang mental yang kosong.
Satu penari berdiri di tengah panggung. Ia bergerak lambat, mengulang gerak yang sama, nyaris tanpa kontak mata dan tanpa menyapa ruang di sekelilingnya. Cahaya dibuat redup. Busananya putih, napasnya seperti ditahan. Begitulah karya tari Sepi dibuka, dengan satu tubuh yang tampak kehilangan arah.
Adegan itu dicatat Jaennetha Fathiatur Rahmah dan Oktavianus dalam artikel Sepi: Karya Tari Dramatik yang Menggambarkan Dampak Negatif Pergaulan Bebas pada Remaja. Artikel itu terbit di Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni volume 9 nomor 1 tahun 2025. Keduanya bernaung di Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Sepi adalah karya tari bertipe dramatik yang ditarikan delapan penari perempuan dengan iringan musik techno yang dimainkan langsung. Karya ini dipentaskan di panggung prosenium Gedung Hoerijah Adam. Alurnya dibagi tiga: kesepian, keterjerumusan ke dalam pergaulan bebas, lalu katarsis, saat seorang remaja menemukan kesadaran untuk keluar.
Pergaulan bebas dalam naskah itu dipahami sebagai hubungan sosial yang mengabaikan norma moral, etika, dan hukum. Wujudnya disebut satu per satu, mulai dari berpakaian terbuka, berbahasa kasar, merokok, mabuk, mengonsumsi narkoba, sampai seks bebas. Yang disorot karya ini bukan perilakunya, melainkan rasa kesepian yang mengiringinya.
Tengah Panggung
Bagian pertama dibangun dari sedikit sekali unsur. Satu penari tunggal menghadap ke samping dan mengulang gerak minimalis. Menurut kedua penulis, gerak itu memvisualisasikan batin yang mandek, seakan tokohnya terkurung dalam ruang mental yang sempit. Pola geraknya sengaja minim interaksi dengan ruang.
Cahaya pada bagian ini redup dan statis, dengan dominasi general light yang menciptakan suasana hampa dan dingin. Ritme pernapasan yang tertahan diolah menjadi metafora keterasingan batin. Pencahayaan lembut dan busana putih mempertegas sunyi, sehingga penonton diberi ruang untuk berempati pada tokoh yang terasing.
Properti sudah hadir sejak awal, tetapi belum bekerja penuh. Bingkai-bingkai kayu diletakkan dengan pola acak namun terkontrol. Kesannya, batas-batas sosial sudah ada di sekitar tokoh, hanya belum sepenuhnya ia rasakan. Batas itu baru terasa menekan pada bagian berikutnya. Kedua penulis membaca sunyi itu sebagai bagian dari ketegangan. “Bagian ini juga menunjukkan bagaimana keheningan justru dapat membangun ketegangan emosional, mempersiapkan penonton pada bagian berikutnya yang lebih dinamis,” tulis Jaennetha Fathiatur Rahmah dan Oktavianus dalam naskahnya.
Lingkaran
Panggung berubah ketika penari tambahan masuk. Geraknya lebih dinamis, rampak, dan intens. Pola lantai dibentuk melingkar sebagai tanda jeratan sosial yang sulit dilepaskan. Gerak patah-patah, hentakan cepat, dan penggunaan ruang yang lebih luas sengaja dibuat berlawanan dengan adegan pertama yang hening.
Dokumentasi bagian ini memperlihatkan lima penari bergerak dalam lingkaran yang saling menjerat. Bingkai kayu mulai dipakai sebagai pembatas ruang sosial dan membentuk ruang yang menekan individu di dalamnya. Ekspresi para penari tampak lebih liar, menampilkan euforia yang sesaat namun merusak.
Musik techno mulai dimainkan secara langsung dengan tempo yang meningkat. Pola ritmisnya repetitif dan memberi kesan hipnotik, sejalan dengan tema jeratan yang sulit dilepaskan. Kedua penulis menyebut suasana ini sebagai kegembiraan semu, yang menurut mereka sering menjadi ciri lingkungan pergaulan bebas. Cahaya pun ikut berganti. Lampu par dan spotlight yang dinamis diarahkan untuk menegaskan ketegangan antar tokoh. Bagian keterjerumusan juga menjadi tempat improvisasi para penari, yang merespons dentuman techno secara spontan agar muncul kesan liar, tidak terkontrol, dan impulsif.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
Ruang Sempit
Bagian ketiga dibuka dengan satu penari yang berlari menembus ruang. Lari itu dibaca sebagai perlawanan terhadap jeratan sosial. Namun lingkungan belum melepaskannya. Properti yang tadinya membentuk lingkaran diubah menjadi ruang sempit, usaha terakhir lingkungan negatif untuk menahan tokoh tetap terjerat.
Pada akhir adegan, penari itu berhasil keluar dari lingkaran properti. Ia bergerak cepat ke arah depan panggung, meninggalkan bingkai kayu dan kain putih yang membentuk ruang sempit, lalu menuju ruang terbuka. Geraknya mengalir dan memadukan fall dan recovery, jatuh lalu bangkit, untuk menandai perjuangan batin yang tidak mudah.
Cahaya kini difokuskan pada penari yang berhasil keluar. Efeknya, menurut naskah, memberi kesan bahwa ada harapan di tengah kegelapan sosial. “Konsep ini menegaskan bahwa meskipun lingkungan negatif menjerat, kesadaran diri tetap menjadi kunci untuk menemukan jalan keluar,” tulis kedua penulis.
Gerak-gerak di sepanjang karya berangkat dari keseharian remaja: berjalan, duduk melamun, hingga berlari dalam ketakutan. Gerak itu kemudian diolah dengan teknik tari kontemporer seperti rolling, suspension, fall, dan slow motion. Salah satu gerak memperlihatkan penari menunduk, menutup tubuh dengan tangan, lalu perlahan turun ke lantai, tanda menutup diri dari dunia luar.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Putih dan Burgundy
Warna busana ikut bercerita. “Busana putih menggambarkan kekosongan identitas, sedangkan rok burgundy menandakan agresivitas dan keputusasaan,” tulis Jaennetha dan Oktavianus. Putih memberi kesan rapuh dan polos, sementara burgundy menjadi aksen emosional yang berat. Perpaduan keduanya dimaksudkan untuk menegaskan konflik batin tokoh yang terombang-ambing antara keinginan keluar dan tekanan lingkungan. Burgundy mulai tampak dominan sejak bagian kedua, bersamaan dengan masuknya lingkaran penari. Rias wajah dibuat sederhana, hanya mempertegas struktur wajah, agar perhatian tetap pada gerak tubuh.
Tata cahaya dipetakan per bagian. Kesepian memakai cahaya redup dan statis, keterjerumusan memakai par light dan spotlight yang dinamis, sedangkan katarsis memakai cahaya fokus pada penari utama. Lampu par membangun suasana dramatis dengan warna kontras, sementara fresnel memberi cahaya lembut yang menghadirkan bayangan tubuh penari.
Musiknya digarap dari meja digital. Dokumentasi memperlihatkan laptop yang menjalankan FL Studio 21, sebuah perangkat lunak pengolah audio, bersama kartu suara dan efek suara. Menurut kedua penulis, pilihan itu mendukung konsep urban dan dekat dengan kultur remaja perkotaan.
Bingkai Kayu
Properti utama Sepi hanya bingkai kayu yang ditempeli kain putih. Bingkai itu disusun fleksibel sehingga bisa membentuk berbagai pola ruang. Fungsinya berganti sesuai adegan: pembatas ruang, jeratan sosial, atau simbol keterasingan. Kain putihnya menegaskan suasana sunyi dan steril. Kedua penulis menyebut kain putih itu sebagai metafora ruang mental yang kosong. Setiap kali bingkai dipindahkan, ruang di panggung ikut berubah, dan perubahan itu menggambarkan pergeseran kondisi emosional tokoh. Dari tersebar, menjadi lingkaran, lalu menyempit, sebelum akhirnya ditinggalkan.
Gagasan di balik susunan bingkai itu ada di bagian awal naskah. Kesepian dipahami sebagai jarak antara hubungan sosial yang diinginkan dan yang dimiliki. Remaja yang sudah terjerumus disebut sulit keluar karena takut dikucilkan atau kehilangan teman. “Kondisi ini memunculkan lingkaran setan, di mana kesepian mendorong remaja masuk ke lingkungan negatif, dan lingkungan negatif tersebut justru memperdalam rasa keterasingan mereka,” tulis Jaennetha Fathiatur Rahmah dan Oktavianus. Lingkaran penari di bagian kedua adalah bentuk panggung dari kalimat itu.
Pilihan delapan penari perempuan juga punya alasan tertulis. Menurut naskah, mereka dipilih sebagai representasi rentannya remaja perempuan terhadap pengaruh lingkungan. Techno yang dimainkan langsung dipilih untuk menghadirkan suasana modern yang dekat dengan kultur urban remaja.
Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal
Catatan Naskah
Naskah ini menyimpulkan bahwa karya tari dapat menjadi media edukasi dan kritik sosial yang efektif. Klaim itu belum ditopang data penonton. Tidak ada jumlah penonton, tanggapan pascapentas, atau ukuran lain yang dilaporkan, sehingga dampak edukatif Sepi masih berupa harapan penciptanya, belum hasil yang terukur.
Wawancara dengan remaja yang punya pengalaman pergaulan bebas memang disebut sebagai bahan awal. Namun naskah tidak mencantumkan berapa remaja yang diwawancarai ataupun apa yang mereka katakan. Tanggal pementasan juga tidak disebutkan, selain keterangan dokumentasi tahun 2025. Ada beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Abstrak menyebut delapan penari, sementara gambar bagian kedua hanya menampilkan lima, tanpa penjelasan kapan kedelapannya tampil bersama. Keterangan Gambar 2 juga muncul sebelum paragraf yang menjelaskan bagian kedua.
Gambar 7, foto lampu par dan fresnel, berketerangan dokumentasi Google 2025, bukan dokumentasi pentas. Kop halaman pertama tertulis 20z5, dan alamat surel penulis kedua berakhiran .ac.idi. Sejumlah judul di daftar pustaka, seperti karya Hadi, Hayes, dan tiga skripsi tari, tidak pernah dirujuk di badan naskah.
Penari tunggal di tengah panggung itu pada akhirnya tidak lagi sendirian dalam arti yang sama. Ia telah melewati lingkaran lima tubuh dan ruang sempit dari bingkai kayu, lalu berdiri di bawah cahaya yang terfokus padanya. Busana dan panggungnya mungkin tak banyak berubah, tetapi sunyi di awal kini terbaca sebagai titik berangkat, bukan tempat tinggal.















