Buku Cerita Anak Jerman Isi Dua Tahun Kosong di SMA YARI Padang

A A

Siswa SMA Indonesia berseragam putih abu-abu menulis dan membaca di meja ruang kelas [Foto: Airlangga/Pexels]

  • Pelajaran bahasa Jerman di SMA dan SMP YARI terhenti karena sekolah kekurangan guru.
  • Mereka merujuk riset Mason dan rekan-rekannya bahwa siswa yang belajar bahasa Jerman lewat mendengarkan cerita memperoleh sekitar enam kata per jam.
  • Siswa kelas 10 justru baru pertama kali bertemu bahasa Jerman.
  • Kegiatan ini melibatkan lima belas siswa di satu sekolah dalam satu hari.
Daftar Isi
  1. Sebelum 24 Januari: Dua Tahun Tanpa Guru
  2. Pukul 09.30: Frasa dan Nama Hewan
  3. Sesi Inti: Kisah Merah, Ginting, dan Ganteng
  4. Sesudah Cerita: Nilai yang Disebut Siswa
  5. Babak Akhir: Cerita Ulang dan Kuis
  6. Sesudah Kegiatan: Catatan yang Tidak Selaras

Jumat, 24 Januari 2025, lima belas siswa SMA YARI Padang menerima buku cerita berbahasa Jerman. Buku bergambar itu berjudul Ginting und Ganteng, sebuah fabel tentang induk orang utan dan anak kembarnya. Pada hari itu, sekolah tersebut sudah sekitar dua tahun tidak punya pelajaran bahasa Jerman.

Kegiatan itu dicatat dalam artikel German Children’s Literature for Foreign Language Literacy and Character Education: A Case Study at SMA YARI Padang karya Andina Meutia Hawa, Anne Pratiwi, Dyani Prades Pratiwi, Fakhria Nesa, Okta Firmansyah, Roma Kyo Kae Saniro, Ahmad Hamidi, dan Armini Arbain dari Universitas Andalas. Artikel itu terbit di Andalas International Journal of Socio-Humanities volume 7 nomor 2, tahun 2025.

Temuan utamanya dirumuskan dengan sederhana. Menurut para penulis, sastra anak membantu siswa mengingat kosakata dasar bahasa Jerman, mempelajari kata baru dalam konteks, dan memahami cerita yang dibaca. Cerita yang sama juga mendorong siswa merenungkan nilai seperti kepedulian, empati, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Sebelum 24 Januari: Dua Tahun Tanpa Guru

Bahasa Jerman pernah diajarkan di tiga jenjang sekolah YARI, yaitu SD, SMP, dan SMA. Pada tahun-tahun sebelumnya, SMA YARI bahkan mengirim siswanya ke Jerman lewat program pertukaran. Catatan itu menunjukkan bahwa sekolah ini pernah menaruh perhatian serius pada bahasa tersebut.

Keadaan berubah sekitar dua tahun sebelum kegiatan. Pelajaran bahasa Jerman di SMA dan SMP YARI terhenti karena sekolah kekurangan guru. Hanya SD YARI yang masih menjalankan programnya. Para penulis menyebut situasi ini sebagai tantangan nyata dalam menjaga pendidikan bahasa Jerman di Indonesia.

Mereka merangkum persoalan itu dalam satu kalimat pendek. “Komitmen kelembagaan itu ada, tetapi terhambat oleh kurangnya tenaga pengajar,” tulis Andina Meutia Hawa, dosen Universitas Andalas, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Hambatan kedua adalah bahan ajar. Menurut naskah, sebagian besar buku pelajaran bahasa Jerman hanya tersedia di pusat budaya seperti Goethe-Institut di kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Akibatnya, guru di SMA YARI sangat bergantung pada sumber daring.

Hambatan ketiga menyangkut guru itu sendiri. Banyak guru yang ditugasi mengajar bahasa Jerman bukan lulusan Pendidikan atau Sastra Jerman. Mereka juga belum pernah mendapat pelatihan formal, sehingga penguasaan bahasanya terbatas pada hasil belajar sendiri.

Dari situ para dosen memilih sastra anak sebagai jalan keluar. Mereka merujuk riset Mason dan rekan-rekannya bahwa siswa yang belajar bahasa Jerman lewat mendengarkan cerita memperoleh sekitar enam kata per jam. Di kelas tradisional, angkanya hanya 2,4 kata per jam.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Sebelum hari kegiatan, tim lebih dulu berkunjung dan memetakan pengetahuan bahasa Jerman para siswa. Hasilnya menegaskan bahwa mereka tidak menerima pelajaran formal selama sekitar dua tahun. Meski begitu, sebagian pengetahuan dasar ternyata belum hilang.

Survei itu mencatat lima kelompok pengetahuan yang masih dimiliki siswa. Mereka masih mengenal cara memperkenalkan diri, angka, nama hewan, warna, dan salam sehari-hari. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan bahan untuk hari kegiatan.

Pukul 09.30: Frasa dan Nama Hewan

Pukul 09.00 WIB, tim peneliti tiba di SMA YARI Padang dan disambut Nisa, salah seorang tenaga pengajar sekolah. Mereka menunggu di ruang tamu sampai siswa selesai beristirahat. Pukul 09.30, tim dipersilakan masuk ke kelas, tempat para peserta sudah duduk menunggu.

Sesi dibuka dengan pemanasan berupa frasa Jerman sederhana. Siswa diperkenalkan pada Guten Morgen untuk selamat pagi, Wie geht’s dir? untuk apa kabar, dan Mein Name ist untuk nama saya. Fasilitator juga menuliskan ungkapan itu agar siswa lebih mudah memahami dan mengingatnya.

Di sesi inilah perbedaan dua angkatan terlihat. Sebagian siswa, terutama kelas 12, masih ingat frasa sederhana dari pelajaran terdahulu. Siswa kelas 10 justru baru pertama kali bertemu bahasa Jerman. Menurut naskah, kedua kelompok sama-sama menunjukkan antusiasme dan rasa ingin tahu yang kuat.

Pemanasan berlanjut ke nama-nama hewan dalam bahasa Jerman. Daftarnya meliputi der Tiger, der Löwe, der Vogel, die Kuh, der Hund, das Schwein, dan das Huhn. Dari daftar itu siswa dikenalkan pada artikel der untuk kata benda maskulin, die untuk feminin, dan das untuk netral.

Baca juga Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib

Sesi Inti: Kisah Merah, Ginting, dan Ganteng

Sesudah pemanasan, kegiatan masuk ke sesi inti. Setiap peserta memegang salinan cetak Ginting und Ganteng karya Frey dan Rappo, sementara ringkasan ceritanya ditayangkan lewat proyektor. Menurut penulis, buku ini dipilih karena kosakatanya sederhana untuk pemula dan pesan moralnya kuat.

Ceritanya dimulai di hutan tropis. Merah, induk orang utan, hidup tenang bersama anak kembarnya, Ginting dan Ganteng. Suatu hari Merah mendengar bunyi pohon ditebang para pembalak. Ia bersembunyi dan menyaksikan hutan itu dibabat habis, lalu dibakar oleh pembalak yang sama.

Merah lolos dari kobaran api dan berkelana berhari-hari. Ia tiba di kebun sawit luas yang dulu bagian dari hutan tropis, tetapi buah sawit muda terasa tidak enak. Di sebuah kebun buah ia memetik pisang, lalu petani yang marah menembaknya dengan senapan angin.

Jalan cerita Ginting und GantengMerah kehilangan hutan, ditembak di kebun, dirawat tiga tahun, lalu kembali ke hutan bersama Ginting dan Ganteng.Jalan cerita Ginting und GantengBuku cerita anak berbahasa JermanDitebanghutan laludibakarKebun sawitMerah ditembakpetaniRehabilitasitiga tahundirawatBebaskembali kehutanRingkasan cerita sesuai sinopsis yang dimuat dalam naskah.
Sumber: Andina Meutia Hawa, Anne Pratiwi, Dyani Prades Pratiwi, Fakhria Nesa, Okta Firmansyah, Roma Kyo Kae Saniro, Ahmad Hamidi, dan Armini Arbain, German Children's Literature for Foreign Language Literacy and Character Education: A Case Study at SMA YARI Padang, Andalas International Journal of Socio-Humanities, 7(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Seorang pemuda melihat kejadian itu dan melapor ke pusat penyelamatan orang utan. Merah sempat memanjat pohon, tetapi petugas melumpuhkannya dengan sumpit berpeluru bius. Ia ditangkap dengan jaring dan dibawa ke pusat rehabilitasi untuk dirawat sampai pulih.

Tiga tahun kemudian, Ginting dan Ganteng tumbuh menjadi orang utan yang sehat dan gemar bermain. Mereka akhirnya dinyatakan siap kembali ke alam bersama induknya. Di kawasan konservasi, ketiganya menemukan gerbang ke hutan terbuka, lalu melangkah masuk sambil bergandengan tangan.

Sesudah Cerita: Nilai yang Disebut Siswa

Lewat diskusi terpandu, siswa mengenali sejumlah nilai dalam cerita itu. Beberapa peserta menilai kisah ini menekankan kesadaran lingkungan. Menurut mereka, cerita tersebut menggambarkan dampak pembalakan liar dan kebakaran hutan terhadap satwa liar, terutama orang utan.

Siswa juga membahas perlindungan satwa liar. Kisah Merah dibaca sebagai gambaran orang utan yang menjadi korban keserakahan dan kelalaian manusia. Hubungan Merah dengan kedua anaknya dibaca sebagai simbol kasih sayang keluarga dan empati.

Tokoh pemuda yang melapor dan dokter hewan yang merawat Merah dibaca sebagai wakil tanggung jawab sosial. Menurut penulis, di sekolah dengan sumber daya terbatas seperti SMA YARI, fungsi ganda ini menjadi berarti. Satu kegiatan bisa menggabungkan pelajaran bahasa dan pendidikan moral sekaligus.

Baca juga Sedulur Sikep Kudus Konsisten Tolak Sekolah Formal

Babak Akhir: Cerita Ulang dan Kuis

Saat cerita dibacakan, tim memperkenalkan beberapa kata kerja, yaitu hören untuk mendengar, rennen untuk berlari, dan laufen untuk berjalan. Fasilitator menjelaskan bahwa akhiran -en menandai bentuk infinitif, bentuk yang lazim tercantum di kamus. Untuk membentuk kalimat, kata kerja itu harus disesuaikan dengan subjek dan kala.

Berikutnya beberapa siswa diminta menceritakan ulang kisah Merah. Mereka menyambutnya dengan antusias, bahkan ada yang maju secara sukarela. Sebagian berhasil menceritakannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sambil menyisipkan kosakata Jerman yang baru dipelajari.

Babak terakhir adalah kuis pilihan ganda yang ditayangkan lewat proyektor dan dijawab dengan mengangkat tangan. Salah satu soalnya menanyakan sampai umur berapa orang utan tidur di sarang induknya, dengan jawaban tujuh tahun. Soal lain menanyakan tempat hidup orang utan dan makanannya, yaitu daun, serangga, dan buah.

Kelas Jerman SMA YARI dalam empat angkaLima belas siswa, dua tahun tanpa pelajaran Jerman, enam dosen, tiga contoh soal kuis.Kelas Jerman SMA YARI dalam empat angkaKegiatan Jumat, 24 Januari 202515siswapeserta kegiatan2tahunsekitar, tanpapelajaran6dosenUniversitasAndalas3contoh soalkuis tentangorang utanJalan risetnyaSurvei pengetahuan awalMendongeng danbercerita ulangKuis pilihan gandaNaskah tidak melaporkan skor kuis berangka.
Sumber: Andina Meutia Hawa, Anne Pratiwi, Dyani Prades Pratiwi, Fakhria Nesa, Okta Firmansyah, Roma Kyo Kae Saniro, Ahmad Hamidi, dan Armini Arbain, German Children's Literature for Foreign Language Literacy and Character Education: A Case Study at SMA YARI Padang, Andalas International Journal of Socio-Humanities, 7(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Menurut penulis, hasil kuis menunjukkan siswa memahami isi cerita dan mampu mengingat kosakata Jerman sederhana. Mereka juga mendapat pengetahuan tambahan tentang kehidupan orang utan di alam liar. Penulis menambahkan bahwa pendekatan bercerita terbukti lebih menarik dibanding hafalan atau latihan berulang.

Klaim itu perlu dibaca dengan batas yang jelas. Kegiatan ini melibatkan lima belas siswa di satu sekolah dalam satu hari. Naskah tidak melaporkan skor kuis berangka, tidak memuat pengukuran sebelum dan sesudah, dan tidak menghadirkan kelas pembanding yang memakai metode hafalan.

Kesimpulan naskah kembali ke persoalan awal. “Masalah utamanya adalah kekurangan guru yang berkualifikasi dan terbatasnya akses ke sumber belajar, seperti buku dan sastra Jerman,” tulis Andina Meutia Hawa dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka berharap temuan ini menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan penyusun kurikulum untuk melatih guru serta menyediakan bahan ajar.

Sesudah Kegiatan: Catatan yang Tidak Selaras

Pembaca yang memeriksa naskahnya akan menemukan beberapa ketidakselarasan. Judul buku ditulis Ganteng und Ginting di pendahuluan, tetapi Ginting und Ganteng di bagian lain. Nama pengarangnya tertulis Fey dan Rappo di bagian metode, sedangkan bagian hasil dan daftar pustaka menulis Frey dan Rappo.

Peserta disebut berasal dari kelas 10 sampai 12, tetapi paragraf berikutnya menyebut kelas 10 dan 12 saja. Kegiatan disebut melibatkan enam dosen Fakultas Ilmu Budaya, padahal naskah ditulis delapan orang. Riset Mason dirujuk bertahun 2008 di teks, sedangkan daftar pustaka mencatat 2009.

Ada pula soal isi. Survei awal menyebut siswa masih punya pengetahuan dasar bahasa Jerman, sementara kesimpulan menulis pengetahuan mereka sangat sedikit. Abstrak menyebut nilai kejujuran, kebaikan, dan rasa hormat, padahal pembahasan menguraikan kesadaran lingkungan, empati, dan tanggung jawab.

Titik terakhir yang dicatat naskah adalah kuis pada 24 Januari 2025 itu. Lima belas siswa menjawab soal tentang orang utan dengan mengangkat tangan. Naskah tidak mencatat apakah pelajaran bahasa Jerman di SMA YARI kembali berjalan sesudahnya.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Tunanetra Denmark Memilih Tak Bertindak Buta demi Diterima
Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Saluang Pauah, Pendendang Laki-laki Pengiring Kaba Pauh
Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Desa Tabek Bebas BABS, Tangki Septiknya Belum Pernah Dikuras