- Percakapan di sekitar yatai jarang berpusat pada penyakit.
- Karena bisa berpindah, yatai itu menjangkau warga yang mungkin enggan mendatangi ruang medis.
- Retaknya juga tercatat: warga lama dan pendatang baru masih terpisah, dan keluarga muda jarang terlibat.
- Ini studi kasus kualitatif di satu kawasan dengan budaya yang khas, sehingga temuannya tidak dimaksudkan berlaku umum secara statistik.
Daftar Isi
- Sebuah Kedai Kayu Ditarik Melewati Gang-Gang Sempit Yanaka, Nezu, dan Sendagi
- Sebelum Yatai Turun ke Jalan, Kuil dan Pemandian Umum Sudah Menjadi Tempat Orang Bertemu
- Obrolan yang Jarang Dimulai dari Penyakit, dan Kopi yang Menjadi Alasan untuk Berhenti
- Dua Belas Orang Menoleh ke Belakang dan Menyebut Semua Itu Ruang Undangan
- Kesaksian yang Mungkin Terlalu Manis dan Beberapa Hal dalam Naskah yang Tidak Saling Cocok
Seorang perempuan berusia 70-an berhenti di depan sebuah kedai kayu beroda di jalanan Yanaka, Tokyo. Tim peneliti mencatat kalimat yang keluar dari mulutnya: “Apakah ini bagian dari festival seni? Oh, dokter dan biksu bersama-sama, itu tidak biasa!” Catatan lapangan itu aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, dan pertanyaannya menjadi pintu masuk ke seluruh cerita tentang kedai tersebut.
Adegan itu termuat dalam riset Daisuke Son, Toshichika Mitsuyama, dan Yuzuki Matsushita berjudul Community-based participatory research in a “Shitamachi” neighborhood in Tokyo: building social capital and relational spaces for community health, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 897, tahun 2026. Son adalah dokter keluarga dan pendidik kedokteran di Tottori University dan The University of Tokyo. Mitsuyama dokter keluarga di Kagayaki General Home Care Clinic, Gifu, sedangkan Matsushita psikolog klinis sekaligus biksu Buddha di kuil Fukushozan Houzen-in, Hiratsuka.
Sebuah Kedai Kayu Ditarik Melewati Gang-Gang Sempit Yanaka, Nezu, dan Sendagi
Tak lama setelah pertanyaan itu, beberapa orang lain ikut berkumpul dan mengobrol tentang kuil-kuil setempat dan kesehatan keluarga. Anak-anak bergabung memalu panel kayu, sementara orang tua mereka tersenyum dan berbagi cerita tentang lingkungan tempat tinggal. Kedai itu diberi nama Mobile Yatai de Health Café, kafe kesehatan di atas yatai yang bisa berpindah tempat.
Yatai adalah kedai kayu yang bisa dipindah. Yang satu ini lahir pada 2016, tahun kedua proyek, ketika warga mengundang tim ikut Geikoten, festival seni yang diselenggarakan warga dan digelar tiap tahun sejak 1993. Tim membangunnya di jalanan Yanaka bersama arsitek lokal, perajin, dan tenaga kesehatan. Orang yang lewat, dari warga, anak-anak, sampai turis mancanegara, berhenti menonton dan mengajak bicara.
Setelah jadi, yatai itu ditarik melewati gang-gang Yanaka, Nezu, dan Sendagi selama dua pekan festival 2016. Dokter keluarga, perawat komunitas, dan mahasiswa kedokteran menawarkan kopi dan obrolan santai kepada siapa saja yang mereka jumpai. Banyak orang singgah, dan topiknya melebar dari kenangan tentang kampung, kisah sakit, sampai cerita para tetangga.
Selepas festival, yatai itu tidak disimpan. Tim sesekali membawanya kembali ke jalan hingga 2020, untuk acara komunitas, pertemuan bertema kesehatan, dan perjumpaan spontan dengan tetangga. Menurut naskah, kehadiran yang berulang itu membuat warga dan tenaga profesional bisa bertemu lagi dalam suasana baru, lalu terus membicarakan kesehatan, perawatan, dan tempat tinggal mereka.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Sebelum Yatai Turun ke Jalan, Kuil dan Pemandian Umum Sudah Menjadi Tempat Orang Bertemu
Kawasan yang disingkat YaNeSen ini berada di tepi Ueno Park dan melintasi bangsal Bunkyo dan Taito. Orang menyebutnya Shitamachi, kota bawah tradisional Tokyo, tempat perajin, pedagang kecil, dan komunitas kuil hidup berdampingan di gang sempit dan rumah deret kayu. Sejak 1990-an kawasan ini dilanda gentrifikasi yang pesat, tetapi rasa memiliki tempat di sana tetap bertahan.
Proyek riset partisipatif berbasis komunitas YaNeSen dimulai pada 2015 sebagai kerja sama warga, dokter, dan peneliti kesehatan masyarakat serta humaniora. Riset semacam ini tidak memperlakukan warga sebagai objek, melainkan sebagai mitra setara yang ikut merencanakan, bertindak, dan belajar bersama. Kemitraan intinya berisi sepuluh orang berusia 30-an sampai 60-an, dari dokter hingga warga yang aktif di kolektif seni.
Dari tahun-tahun awal itu, tim menemukan bahwa modal sosial kawasan tersebut berlapis dan menempel pada ruang sehari-hari. Kuil, pemandian umum yang disebut sento, dan kominka atau rumah tua yang direnovasi tampak berfungsi sebagai third places, ruang yang memudahkan perjumpaan lintas generasi. Festival, lokakarya seni, dan taman gang milik bersama menjadi semacam arsip ingatan kampung.
Di tempat-tempat itulah sejarah dan identitas lingkungan terus dihidupkan ulang. Warga menyebut ruang-ruang ini memberi rasa nyaman secara batin dan membuat orang merasa diikutsertakan. Retaknya juga tercatat: warga lama dan pendatang baru masih terpisah, dan keluarga muda jarang terlibat. Naskah menyebut yatai kemudian memperluas jaringan ruang temu yang sudah ada itu.
Obrolan yang Jarang Dimulai dari Penyakit, dan Kopi yang Menjadi Alasan untuk Berhenti
Percakapan di sekitar yatai jarang berpusat pada penyakit. Kebanyakan justru dimulai dari rasa penasaran pada kedainya sendiri, entah desainnya, aroma kopinya, atau nostalgia bersama pada pemandian umum dan gang yang pelan-pelan menghilang. Dari situ pembicaraan bisa bergeser ke mana saja, termasuk ke soal kesehatan keluarga.
Seorang partisipan menjelaskan cara kerjanya dengan lugas. “Kami tidak memulai dengan berkata, mari bicara soal kesehatan. Kehadiran benda-benda, makanan, barang, sebuah tempat, itulah yang membuat percakapan terjadi dengan wajar,” katanya, sebagaimana dikutip dalam naskah berbahasa Inggris itu. Benda dan tempat, bukan agenda, yang membuka mulut orang.
Keceriaan juga dianggap penting. “Orang yang datang cuma untuk bersenang-senang itu tidak apa-apa. Justru itu membuat suasananya tidak canggung, dan makin banyak orang datang,” ujar partisipan lain. Penulis membaca komentar semacam ini sebagai tanda bahwa keceriaan bukan kebetulan, melainkan syarat yang memungkinkan orang ikut tanpa tekanan target kesehatan.
Karena bisa berpindah, yatai itu menjangkau warga yang mungkin enggan mendatangi ruang medis. Partisipan menggambarkan hal ini sebagai sumber rasa diikutsertakan dan rasa percaya. Penulis mengaitkannya dengan pendekatan salutogenik dari Antonovsky, yakni cara pandang yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang menciptakan sehat, bukan pada pencegahan penyakit.
Seorang partisipan lain mencatat bahwa pemahaman orang sekarang tentang sehat sudah bergeser, dari urusan memperpanjang umur ke cara berada bersama orang lain dalam hidup sehari-hari. Di sekitar yatai, menurut penulis, batas antara layanan kesehatan, seni, dan kehidupan kampung menjadi kabur. Dalam catatan lapangan, dokter, biksu, anak-anak, dan tetangga berkumpul di tempat yang sama.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Dua Belas Orang Menoleh ke Belakang dan Menyebut Semua Itu Ruang Undangan
Pada Maret dan April 2021, tim mewawancarai dua belas orang yang pernah terlibat, dari staf proyek, kolaborator seperti perawat, fisioterapis, penulis, dan arsitek, sampai warga pemilik kafe. Mereka menggambarkan proyek itu bukan sebagai program yang tersusun rapi, melainkan sebagai medan hubungan yang terbuka dan cair.
Pintu masuknya santai. “Saya diajak di pemandian umum. Seseorang cuma bilang, mau bantu bikin kedai? Dan begitulah awalnya,” tutur seorang partisipan. Penulis menyebut pengalaman ini kakawari-shiro, ruang undangan relasional, tempat orang merasa menjadi bagian tanpa terikat kewajiban, peran tetap, atau tujuan yang ditentukan sejak awal.
Profesional dan warga bertemu sebagai setara. “Sebenarnya bagus bahwa kami tidak bisa membedakan siapa yang ahli,” kata seorang partisipan. Kaburnya peran itu, menurut penulis, meluruhkan hierarki lama dan memberi ruang bagi identitas pribadi di luar status pekerjaan masing-masing.
Suasana yang mereka ingat adalah bermain dengan sungguh-sungguh, yang dalam naskah disebut serious play. “Semua orang bermain dengan serius, tapi tanpa keterikatan. Itulah daya tarik terbesarnya,” ujar partisipan lain. Penulis menamai sikap ini etika tanpa kewajiban, yang membuat orang bertahan karena senang dan penasaran, bukan karena merasa wajib.
Lalu satu pertanyaan memberi seseorang keberanian. “Seseorang pernah bertanya, apakah kamu benar-benar butuh tujuan? Itu memberi saya keberanian. Karena kota ini merangkul ketidakjelasan, kegiatan semacam itu bisa diterima,” kata seorang partisipan. Beberapa responden mengaitkan keberhasilan proyek dengan budaya Shitamachi yang toleran dan gemar berimprovisasi.
Dari kesaksian itu para penulis menarik kesimpulan tentang asal rasa percaya. “Proyek YaNeSen menunjukkan bahwa kepercayaan dalam konteks semacam itu lahir bukan dari kejelasan tujuan, melainkan dari toleransi bersama terhadap ketidakpastian,” tulis Daisuke Son, Toshichika Mitsuyama, dan Yuzuki Matsushita dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka lalu menawarkan konsep relational commons, ruang bersama tempat keramahan, kepedulian, dan kesejahteraan tumbuh lewat interaksi yang terus berjalan, bukan diantarkan lewat intervensi formal. Bedanya dengan modal sosial ada pada cara memandang: modal sosial kerap dianggap sumber daya yang bisa ditimbun atau dikerahkan, sedangkan relational commons mengutamakan proses ketimbang kepemilikan dan kehadiran ketimbang hasil.
Menurut penulis, dua bentuk modal sosial dalam istilah Putnam sama-sama menguat. Ikatan ke dalam di antara warga lama tumbuh lewat sejarah bersama, sedangkan jembatan ke pendatang baru terbentuk lewat seni dan proyek kolaboratif. Partisipan juga mulai memandang sehat sebagai sesuatu yang relasional, ekspresif, dan menyangkut keberadaan diri, bukan semata urusan biomedis.
Naskah menyebut Jepang perkotaan menghadapi paradoks: infrastruktur dan sistem kesehatannya sangat maju, tetapi komunitasnya terpecah dan terisolasi. Penulis menilai kebijakan perawatan terpadu berbasis komunitas, chiiki hokatsu care, bisa diuntungkan bila memasukkan seni partisipatif, cerita, dan ruang publik bersama. Mereka menegaskan praktik seperti yatai bukan pengganti tanggung jawab publik atau layanan kelembagaan, melainkan pelengkapnya.
Baca juga Dementia Game di Singapura: yang Berubah Justru yang Belum Kenal
Kesaksian yang Mungkin Terlalu Manis dan Beberapa Hal dalam Naskah yang Tidak Saling Cocok
Penulis sendiri membatasi klaimnya. Ini studi kasus kualitatif di satu kawasan dengan budaya yang khas, sehingga temuannya tidak dimaksudkan berlaku umum secara statistik. Mereka juga mencatat tidak ada partisipan yang melaporkan pengalaman sangat negatif, dan orang yang punya hubungan baik dengan proyek mungkin lebih bersedia diwawancarai.
Orang yang mundur lebih awal atau punya pandangan lebih kritis kemungkinan kurang terwakili, sehingga gambaran yang muncul bisa lebih cerah dari kenyataan. Ketiga penulis pun terlibat langsung dalam proyek dan mengakui posisi itu bisa membuat mereka menonjolkan sisi positif. Dua belas orang yang diwawancarai pada 2021 juga bukan orang yang sama dengan yang diwawancarai pada 2015 dan 2016.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak saling cocok di dalam naskah. Pertama, istilah kakawari-shiro diterjemahkan dengan dua cara berbeda. Di abstrak ia disebut space of relational invitation, ruang undangan relasional, sedangkan di bagian diskusi ia disebut secara harfiah berarti field of relationships, medan hubungan.
Kedua, subjudul bagian hasil menyebut yatai sebagai relational intervention. Padahal di bagian yang sama penulis menulis bahwa dialog tidak diposisikan sebagai intervensi kesehatan yang eksplisit, dan kalimat penutup naskah menyebut kesehatan publik yang dibayangkan berakar bukan pada intervensi, melainkan pada hidup berdampingan dengan ramah.
Ketiga, kalimat terakhir bagian hasil mendaftar pengalaman partisipan sebagai relational invitation, openness, invitation, and shared presence, sehingga kata invitation muncul dua kali dalam satu daftar pendek. Selain itu, abstrak menyebut wawancara 2021 dipakai menilai transformasi jangka panjang, padahal orang yang diwawancarai bukan orang yang sama dari fase awal.
Kembali ke jalanan Yanaka pada festival 2016. Seorang perempuan berusia 70-an bertanya apakah kedai itu bagian dari festival seni, lalu orang-orang lain berdatangan, dan anak-anak memalu panel kayu di dekat orang tua yang bercerita tentang kampung mereka. Pertanyaannya tak pernah dijawab di catatan lapangan itu.














