Literasi Fisik Anak Prasekolah Swedia: Bergerak karena Senang

A A

Halaman bermain alami prasekolah Kvarnen di Brastad, Swedia, dengan batu besar dan rumah-rumahan [Foto: W.carter/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Mereka tidak menjelaskan manfaat gerak dengan istilah kesehatan, melainkan dengan rasa.
  • Seorang anak yang dicatat sebagai Partisipan 8 menjawab di jantung, sebab jantungnya berdetak lebih kencang.
  • Menariknya, mereka mau menyesuaikan diri dengan aturan itu asalkan merasa dilibatkan dalam keputusan.
  • Kegiatan membosankan seperti beres-beres dan apel pagi juga memadamkan minat mereka.
Daftar Isi
  1. Physical Literacy, Melek Gerak
  2. Ranah Afektif, Gerak yang Dirasakan
  3. Being Still, Diam yang Tidak Pasif
  4. Co-determination, Ikut Menentukan
  5. Self-confidence dan Physical Competence, Yakin dan Mampu
  6. Limitations, Batas yang Diakui dan yang Terlewat

Literasi fisik, atau physical literacy, kira-kira berarti melek gerak: tahu apa yang dirasakan tubuh saat berlari, mau bergerak tanpa disuruh, berani mencoba, dan memang mampu melakukannya. Istilah itu terdengar seperti urusan pelatih olahraga. Empat peneliti di Swedia memakainya untuk bertanya langsung kepada anak berumur lima dan enam tahun, dan jawaban anak-anak itu lebih banyak berbicara tentang perasaan ketimbang otot.

Naskahnya berjudul “I just want to move”: preschool children’s perspectives on their physical literacy, ditulis Lisa Borglund, Camilla Eriksson, Lena Almqvist, dan Maria Harder dari Mälardalen University, Västerås. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor artikel 690, tahun 2026, dan didanai universitas yang sama.

Judulnya kalau diterjemahkan berbunyi “aku cuma mau bergerak”. Suara yang dicatat berasal dari 25 anak, sembilan laki-laki dan enam belas perempuan, di enam prasekolah Swedia yang diwawancarai satu per satu. Hasilnya menyentuh satu salah paham yang umum, yaitu anggapan bahwa anak perlu terus disuruh agar mau aktif.

Physical Literacy, Melek Gerak

Maksudnya begini. Menurut kerangka yang dipakai naskah ini, literasi fisik punya empat komponen inti: pengetahuan dan pemahaman, motivasi, kepercayaan diri, dan kompetensi fisik. Keempatnya berada dalam tiga ranah, yakni kognitif atau urusan pikiran, afektif atau urusan perasaan, dan fisik atau urusan kemampuan tubuh. Motivasi dan kepercayaan diri digolongkan ke ranah afektif.

Bedanya dengan sekadar aktivitas fisik terletak pada hubungan jangka panjang. Naskah ini menyebut literasi fisik membantu anak membangun hubungan yang positif dan bertahan lama dengan gerak, bukan sekadar menjalankan perintah untuk bergerak. Riset terdahulu yang dirujuk penulis mengaitkannya dengan jantung dan paru yang lebih sehat, waktu duduk yang lebih sedikit, dan kesejahteraan mental yang lebih baik.

Swedia menjadi tempat yang pas untuk pertanyaan ini karena 87 persen anak usia satu sampai enam tahun, dan 96 persen anak berusia lima tahun, bersekolah di prasekolah. Namun naskah yang sama mencatat bahwa anak ternyata menghabiskan sebagian besar harinya di prasekolah dengan duduk, makan, berpakaian, atau menunggu. Guru pun melaporkan kurang punya strategi formal untuk urusan gerak anak.

Kerangka physical literacy dalam studi iniPhysical literacy terdiri atas empat komponen dalam tiga ranah; studi ini mewawancarai 25 dari 82 anak yang diundang.Kerangka physical literacy dalam studi iniEnam prasekolah Swedia: 2 swasta, 4 milik kotamadya4Komponentahu, mau, yakin,mampu3Ranahkognitif, afektif,fisik9Subkategorilahir darijawaban anak25Anak9 laki-laki, 16perempuanJalan risetnya82 anak diundang27 anak setuju25 anak diwawancaraMotivasi dan percaya diri termasuk ranah afektif.
Sumber: Lisa Borglund, Camilla Eriksson, Lena Almqvist, dan Maria Harder, “I just want to move”: preschool children’s perspectives on their physical literacy, BMC Public Health, 26(690), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ranah Afektif, Gerak yang Dirasakan

Temuan pertama yang paling menonjol adalah cara anak memahami tubuhnya. Mereka tidak menjelaskan manfaat gerak dengan istilah kesehatan, melainkan dengan rasa. Menurut para peneliti, anak-anak mengatakan gerak membuat mereka senang, dan gerakan tertentu seperti berputar ala roda, berayun tinggi, atau memanjat ke tempat tinggi terasa paling seru.

Bayangkan anak yang ditanya di bagian tubuh mana gerak terasa enak. Seorang anak yang dicatat sebagai Partisipan 8 menjawab di jantung, sebab jantungnya berdetak lebih kencang. Anak-anak lain menyebut kepala, perut, dan kaki. Seorang anak lagi menggambarkan rasanya berguling menuruni bukit seperti menjadi bola daging kecil yang mengecil saat menggelinding, dan ia bilang rasanya enak.

Pengetahuan mereka tidak berhenti pada senang. Anak-anak tahu bahwa berlari terlalu kencang atau berputar terlalu lama membuat mereka lelah, berkeringat, dan tidak nyaman, bahkan ada yang merasa parunya sakit karena banyak berlari. Mereka juga tahu istirahat sebentar membantu, lalu kembali bermain. Setelah terluka, mereka menyusun cara agar tidak terluka lagi tanpa menjadi jera.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Being Still, Diam yang Tidak Pasif

Di sinilah contoh sehari-hari mulai meleset. Orang dewasa sering menyamakan duduk dengan tidak bergerak. Menurut naskah ini, anak-anak membedakan keduanya dengan jelas: saat duduk pun mereka tetap memainkan mainan, menggambar, atau bergerak di tempat, dan sepanjang wawancara mereka terus bergerak berkeliling ruangan alih-alih duduk tenang.

Anak-anak itu juga menghargai istirahat. Duduk setelah lama berlari dan menari, kata mereka, terasa nyaman, begitu pula menonton televisi atau bersandar di sofa bersama guru. Yang tidak mereka sukai adalah diam yang dipaksakan tanpa boleh berbuat apa-apa. Perintah untuk diam, menurut para peneliti, memunculkan rasa gelisah, tidak sabar, bosan, dan kesal kepada guru yang melarang mereka bergerak.

Seorang anak yang dicatat sebagai Partisipan 5 menjawab sambil berputar-putar di tengah ruangan bahwa duduk diam itu tidak menyenangkan karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ditanya bagaimana rasanya bagi tubuh, ia menyebut tubuhnya menjadi sedih dan marah. Anak lain bahkan mengaitkan duduk diam dengan jantung yang berhenti berdetak.

Co-determination, Ikut Menentukan

Istilah ini dipakai penulis di bagian diskusi dengan merujuk Lindberg dan Hedenborg, dan artinya kurang lebih hak anak untuk ikut menentukan kegiatannya. Di situlah motivasi anak paling terasa. Anak-anak ingin menciptakan permainan seru bersama teman, dan menurut mereka penting bahwa semua anak ikut memilih permainan serta tidak ada yang merasa ditinggalkan.

Mereka juga ingin dilibatkan guru. Anak-anak merasa guru biasanya membuat aturan dan menentukan apa yang dilarang, seperti bergulat-gulatan, berlari, dan melompat di dalam ruangan. Menariknya, mereka mau menyesuaikan diri dengan aturan itu asalkan merasa dilibatkan dalam keputusan. Mereka juga paling senang ketika guru ikut bermain, bukan hanya mengawasi dari pinggir.

Yang membuat anak mau dan malas bergerakAnak mau bergerak bila ikut memilih, guru ikut bermain, dan main bersama teman; malas bila diputuskan orang lain atau kegiatannya membosankan.Yang membuat anak mau dan malas bergerakSuara 25 anak usia 5-6 tahun di enam prasekolah SwediaBikin mau bergerakBikin malasIkut memilihDiputuskan lainSiapa memilihIkut bermainMelarangPeran guruMain bersamaMenolak ikutTemanLari, panjatBeres-beresKegiatanSenangBosan, gelisahPerasaanDirangkum dari subkategori motivasi: kegiatan yang diinginkan dantidak diinginkan.
Sumber: Lisa Borglund, Camilla Eriksson, Lena Almqvist, dan Maria Harder, “I just want to move”: preschool children’s perspectives on their physical literacy, BMC Public Health, 26(690), 2026. Grafik: Cekricek.id

Sisi sebaliknya sama jelasnya. Ketika guru atau teman memutuskan di atas kepala mereka, anak merasa suaranya tidak berarti dan enggan ikut. Seorang anak bercerita biasanya ia ikut saja permainan pilihan teman, tetapi ketika sesekali ingin memilih sendiri, teman-temannya tidak mau bermain dengannya. Kegiatan membosankan seperti beres-beres dan apel pagi juga memadamkan minat mereka.

Bedanya begini. Kehilangan minat karena tidak dilibatkan terasa sebagai kegelisahan, sedangkan kehilangan minat karena kegiatannya tidak menarik terasa sebagai kebosanan. Para peneliti mencatat dua rasa itu berbeda, dan keduanya sama-sama menurunkan keinginan anak untuk bergerak. Gerak favorit mereka, seperti berlari, memanjat pohon, dan melompat dari batu, lebih banyak berlangsung di halaman.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Self-confidence dan Physical Competence, Yakin dan Mampu

Kepercayaan diri anak, menurut naskah ini, sederhana dan tidak berbelit. Mereka yakin paling jago menari, memanjat, atau berlari karena gerakan itu mudah, menyenangkan, dan sering dilakukan di rumah maupun prasekolah. Pujian dari orang tua, kakek-nenek, dan guru ikut menebalkan keyakinan itu. Seorang anak bahkan menyatakan ia bisa melakukan semua gerakan yang ia ketahui.

Keyakinan itu tetap punya batas. Gerakan seperti berputar ala roda, salto belakang, bermain ski, dan berjalan dengan tangan dianggap sulit dan kadang menakutkan, apalagi di permukaan keras. Seorang anak menolak mencoba hal baru karena takut, dengan alasan dirinya baru lima tahun sementara kakaknya sudah delapan. Anak-anak menimba inspirasi dari teman, kakak, orang tua, dan televisi.

Kompetensi fisik, yakni kemampuan tubuh yang benar-benar dipakai, justru sering tidak mereka sebut sebagai gerak. Anak-anak membangun menara Lego, bermain lantai lava, meniru gerak tokoh kartun, membuat tumpukan salju untuk dilompati, dan menarik kereta luncur mendaki bukit lalu mengerem dengan kaki. Bagi mereka semua itu sekadar bermain, padahal di dalamnya ada beragam keterampilan gerak yang tak terucap.

Kegiatan terorganisasi juga ikut mengasah kemampuan itu. Di halaman ada halang rintang dengan lingkaran simpai dan perburuan buah pinus serta serangga, sedangkan di dalam ruangan ada sesi senam dan menari. Menjelang Natal, surat dari peri Sinterklas memberi misi gerak harian, dan seorang anak melompat mundur dan maju lima kali, sebanyak umurnya.

Dari seluruh jawaban itu, para penulis menyimpulkan bahwa anak bergerak terutama karena senang, bukan karena disuruh, dan karena motivasi terikat pada perasaan, anak mungkin justru kurang mau bergerak bila dipaksa. “Anak-anak tidak dimaksudkan untuk diam, dan mereka pun tidak ingin diam,” tulis Lisa Borglund, peneliti Department of Public Health Sciences Mälardalen University, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Limitations, Batas yang Diakui dan yang Terlewat

Penulis mengakui temuan ini punya batas. Hanya prasekolah yang kepala sekolahnya bersedia yang ikut, dan prasekolah di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rendah sulit dijangkau. Wali yang memang menyukai gerak mungkin lebih terdorong mengizinkan anaknya ikut, sehingga ragam suara anak bisa kurang luas. Sudut pandang guru juga tidak disertakan.

Penulis juga menegaskan temuan ini sebagian bergantung pada konteks prasekolah Swedia, tempat anak bermain setiap hari dengan teman sebaya dan guru yang ikut bermain. Kondisi seperti itu, tulis mereka, belum tentu ada di rumah dan bisa berbeda antarnegara serta budaya. Jadi, 25 suara anak ini bukan gambaran anak prasekolah di mana pun.

Ada pula beberapa bagian naskah yang bisa diperiksa pembaca. Kalimat “I just want to move” di judul tidak muncul dalam kutipan anak mana pun di bagian hasil, dan yang paling dekat adalah jawaban Partisipan 14 bahwa ia ingin banyak bergerak. Pada versi berkas yang diterima redaksi, tanda petik judul itu pun dibuka dengan petik ganda tetapi ditutup petik tunggal.

Beberapa kalimat juga tercetak ganda. Daftar kegiatan luar ruang berupa kereta luncur, sepak bola, dan perburuan buah pinus ditulis dua kali berurutan beserta keterangan anak menunjuk ke halaman. Frasa contoh tentang televisi dan tentang bermain unikorn juga terulang dengan susunan yang rusak. Kalimat pembuka bagian analisisnya bahkan tidak memiliki predikat.

Angka empat juga dijelaskan dengan dua cara. Di bagian pengumpulan data, empat wawancara disebut dimulai di halaman karena anak-anak sedang bermain di luar. Di bagian keterbatasan, angka yang sama dijelaskan sebagai empat anak yang memilih memperagakan gerakannya di halaman ketika ditawari. Kedua penjelasan itu tidak saling meniadakan, tetapi naskah tidak menjelaskan apakah keduanya merujuk pada empat anak yang sama.

Literasi fisik, pada akhirnya, bukan sekadar hitungan langkah atau menit aktif, dan naskah ini menunjukkan istilah itu baru utuh bila perasaan anak ikut dihitung. Yang tetap dibatasi naskahnya adalah jangkauan: suara 25 anak di enam prasekolah Swedia menunjukkan bagaimana mereka merasakan gerak, belum seberapa aktif mereka sebenarnya.

Bagikan

Baca Juga

Buku Cerita Anak Jerman Isi Dua Tahun Kosong di SMA YARI Padang
Dadih Diperkaya Buah Naga Tekan Kenaikan Berat Tikus Obesitas
Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya
Yatai Kesehatan di Gang Tokyo, Obrolan Jarang Soal Penyakit
Gempa Gorkha 2015 Hapus 473 Ribu Tahun Hidup Warga Nepal
Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik