- Pemakaian nama Lowalangi tidak berhenti pada soal penerjemahan, melainkan mengubah seluruh konsep ketuhanan orang Nias.
- Sundermann menerjemahkan Alkitab ke bahasa Nias pada 1896 dan hasilnya diberi nama Soera Ni Amonio.
- Hingga kini orang Nias selalu menyebut nama Lowalangi dalam doa, tetapi yang mereka maksud adalah Tuhan.
- Zaluchu sendiri mengakui tidak banyak yang diketahui tentang bagaimana Sundermann melakukannya.
Daftar Isi
Agama yang datang dari jauh biasanya membawa nama Tuhannya sendiri, lalu meminta orang setempat melupakan nama-nama lama yang dulu mereka sebut dalam doa. Namun di Pulau Nias, Sumatra Utara, yang terjadi justru sebaliknya, sebab nama yang kini disebut umat Kristen Nias ketika berdoa, Lowalangi, adalah nama dewa yang sudah mereka kenal jauh sebelum misionaris pertama menginjakkan kaki di pulau itu, nama yang dulu menghuni mitos, bukan kitab suci.
Perpindahan nama itulah yang ditelusuri Sonny E. Zaluchu dari Indonesia Baptist Theological Seminary, Semarang, dalam artikel Lowalangi: From the name of an ethnic religious figure to the name of God, yang terbit di HTS Teologiese Studies/Theological Studies volume 77 nomor 4, tahun 2021. Naskahnya berbahasa Inggris, sehingga seluruh kutipan dalam tulisan ini diterjemahkan dari bahasa itu, dan argumennya dibangun dari pustaka misi serta tulisan para peneliti Nias sebelumnya.
Tesis Zaluchu cukup tegas, bahwa pemakaian nama Lowalangi tidak berhenti pada soal penerjemahan, melainkan memindahkan dan mengubah seluruh konsep ketuhanan orang Nias ke dalam pemahaman Kristen. Orang Nias, tulisnya, mengenal Tuhan sebagai Lowalangi, beriman kepadanya, dan berdoa dalam nama itu, sehingga sebuah kata yang lahir dari kosmologi agama suku kini dipakai untuk menyebut Tuhan pencipta dan penyelamat dunia yang menjelma dalam diri Yesus Kristus.
Penguasa Langit dan Saudaranya
Sebelum menjadi nama Tuhan, Lowalangi adalah tokoh dalam mitos dua bersaudara yang dipercaya orang Nias kuno. Kakaknya, Latura Danõ, yang dalam sejumlah naskah disebut Nazuwadanõ, mewakili dunia bawah, bersifat feminin, dan dilambangkan sebagai penguasa kegelapan, sementara Lowalangi, sang adik, berkedudukan lebih tinggi sebagai penguasa langit, maskulin, dan pembawa terang. Keduanya, menurut uraian Suzuki yang dirujuk paper, terhubung dalam tarik-menarik antara dunia atas dan dunia bawah, antara langit dan bumi.
Mitos asal-usul orang Nias memperkuat gambaran langit berlapis itu. Lapis kesembilan, yang tertinggi, bernama Teteholi Anaa, dan penguasanya, Balugu Sirao, punya dua putra, Hia Walangi Sinada dan Balugu Luo Mewona. Dalam sebuah pertandingan, Hia Walangi Sinada tersisih dan dibuang ke bumi, turun di Gomo, membawa rumah, perabot, alat pertanian, tanaman dan benih, alat ukur, serta patung-patung yang dalam bahasa Nias disebut adu, dan dari kisah itulah orang Nias menjelaskan asal-usul mereka.
Nama Lowalangi pun tidak tinggal di wilayah upacara saja. Paper ini mengutip temuan Hammerle bahwa kata itu juga dipakai untuk menyebut orang yang dihormati, seperti orang tua, paman, bangsawan, atau penasihat, dan karena ia menduduki tempat tertinggi dalam kosmologi, Lowalangi sangat dikagumi dan dihormati sebagai dewa. Dengan kata lain, sebelum misionaris datang, nama itu sudah melekat dalam praktik sosial orang Nias, menjadi sebuah realitas penting di seluruh susunan hidup mereka.
Justru dari sinilah Zaluchu menolak anggapan bahwa orang Nias kuno tidak bertuhan. Mereka, tulisnya, percaya pada Yang Mahakuasa di atas dan pada kuasa transenden yang dapat menjelma dalam beragam wujud benda, kepercayaan yang diwariskan lewat cerita, simbol, dan mitologi secara lisan dari generasi ke generasi. Ia menyebut pemahaman itu henoteistik, yakni percaya bahwa hanya satu dewa yang berkuasa atas dunia tanpa menyangkal keberadaan dewa-dewa lain, sebuah tahap peralihan dari politeisme menuju monoteisme.
Baca juga Tongkonan Toraja sebagai Kurikulum Hidup Tanpa Suara Warga
Ketika Injil Datang sebagai Orang Asing
Namun kosmologi yang begitu menyatu dengan kehidupan sehari-hari itu juga menjadi tembok bagi para misionaris Barat. Paper ini mencatat, dengan merujuk Hummel dan Telaumbanua, bahwa para misionaris di Nias dipandang sedang berusaha menghapus segala sesuatu yang dianggap bagian dari agama lama, dan perlawanan serupa, menurut Zaluchu, dialami di Kalimantan Tengah ketika agama Kaharingan berhadapan dengan agama yang dibawa misionaris dari luar.
Di tengah perlawanan itulah Sundermann bekerja, seorang penginjil Jerman dari RMG yang menjadi misionaris Barat kedua yang datang ke Pulau Nias. Selain berkhotbah, ia mendirikan sekolah Alkitab untuk mencetak guru-guru Alkitab dari suku Nias sendiri, lalu menerjemahkan Alkitab ke bahasa Nias pada 1896, sebuah pekerjaan yang makan waktu bertahun-tahun karena sulitnya menyesuaikan konsep dan istilah teknis Alkitab ke bahasa setempat. Hasilnya diberi nama Soera Ni Amonio, yang secara harfiah berarti Surat Suci.
Sundermann, menurut Zaluchu, tampaknya sadar bahwa agama suku Nias memandang Kekristenan sebagai kekuatan Barat yang datang dari luar untuk menaklukkan. Karena itu ia tidak membawa nama asing. “Sundermann memakai nama lokal yang sudah ada, berakar dalam, dan dapat dimengerti orang-orang pada masa itu,” tulis Zaluchu, sehingga pilihan atas Lowalangi bukan hanya jalan keluar dari persoalan bahasa, melainkan juga sebuah jembatan budaya menuju sistem agama yang sebelumnya menolak kuat agama baru.
Mengambil Inti, Bukan Membantah
Untuk menjelaskan cara kerja jembatan itu, Zaluchu meminjam pengalaman Kruyt di Poso, Sulawesi, yang memilih tidak berkonfrontasi dengan sistem kepercayaan suku, melainkan membiarkannya terus muncul dan disorot dalam bingkai Alkitab. Agama baru, menurut Kruyt, tidak boleh hadir untuk membuktikan salah atau bohongnya agama suku, apalagi melawan atau mengejeknya, tetapi mengambil inti dari setiap ajaran sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan iman dan kasih kepada Tuhan, sesuatu yang oleh Simanjuntak disebut kesamaan esensi.
Jejak yang sama ditarik Zaluchu jauh ke belakang, ke Paulus di Athena, kota yang dipenuhi patung berhala. Paulus tidak memerangi budaya setempat, tetapi memakai sebuah altar bertuliskan Kepada Allah yang Tidak Dikenal sebagai jembatan, mengenalkan Tuhan yang sejati di balik dewa-dewa orang Yunani. Karena orang Nias sudah memahami Lowalangi sebagai sosok berkuasa ilahi, tulis Zaluchu, Tuhan pencipta dan penyelamat pun diperkenalkan sebagai konsep yang serupa.
Di situlah persoalannya menjadi lebih dari sekadar kamus. “Lebih dari sekadar soal terjemahan, upaya Sundermann telah sepenuhnya mengubah konsep ketuhanan orang Nias,” tulis Zaluchu dalam kesimpulannya. Lowalangi, menurut paper ini, kini tidak lagi dipandang sebagai nama dewa penguasa langit, atau persembahan berupa patung yang dipuja leluhur Nias pra-Kristen, melainkan nama dan pribadi Tuhan semesta alam yang dinyatakan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Doa yang Sama, Makna yang Berpindah
Zaluchu menulis bahwa hingga kini orang Nias selalu menyebut nama Lowalangi dalam doa, tetapi yang mereka maksud adalah Tuhan, bukan lagi Lowalangi dalam agama leluhur. Pemaknaan ulang itu, menurutnya, tidak mengubah simbol, bangunan, tanda, atau kebiasaan, sebab yang berpindah adalah makna dan iman dari simbol-simbol itu ke dalam konsep yang baru. Ia bahkan menyebut keberhasilan ini dapat menjadi model bagi setiap upaya memperkenalkan Alkitab kepada kelompok etnis yang dikenal menolak perubahan.
Dalam seluruh sistem keagamaan dan kehidupan sosial budaya orang Nias, tulis Zaluchu, Lowalangi kini dipahami sebagai nama yang suci, mulia, dan terhormat, yang tidak boleh disebut sembarangan, kecuali lewat doa, pujian, pembacaan kitab suci, dan ritual rohani lainnya. Generasi Nias yang lahir di era Kristen dan tidak lagi bersentuhan dengan agama leluhur, menurut paper ini, hanya memahami Lowalangi sebagai Tuhan pencipta alam semesta sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian.
Bayang-bayang Sinkretisme
Namun Zaluchu tidak menutup mata pada sisi yang lebih rawan. Ia mengingatkan bahwa sinkretisme dalam Kekristenan menjadi berbahaya ketika adaptasi yang dilakukan terlalu dalam, sehingga komunitas yang tumbuh dalam budaya lama percaya pada Injil di satu sisi, tetapi tetap memegang konsep adat di sisi lain. Ia menunjuk teguran Paulus kepada jemaat Kolose dan Korintus, yang masih mencampur ajaran Kristen dengan tradisi, adat, dan kebiasaan lama.
Jalan tengah yang ia tawarkan adalah inkulturasi, yakni proses memadukan pengungkapan Injil dengan budaya tertentu, yang dapat diterima selama makna utama Alkitab tidak dikaburkan. Unsur budaya lokal, tulisnya, entah konsep, simbol, ritual, atau kearifan lainnya, dapat diserap dan diterima sebagai bagian dari Kekristenan sepanjang kebenaran Alkitab tidak dikompromikan, dan dalam kerangka itulah langkah Sundermann memakai Lowalangi sebagai pengganti nama Tuhan hendak dibaca.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Yang Belum Terjawab di Halaman Naskah
Kekuatan argumen itu, bagaimanapun, bertumpu pada rekonstruksi, bukan catatan langsung. Zaluchu sendiri mengakui bahwa, sejauh yang ia ketahui, tidak banyak yang diketahui tentang bagaimana Sundermann melakukannya, sehingga ia membangun kesejajaran dengan Poso dan tempat lain dengan asumsi bahwa cara yang dipakai cenderung sama. Naskahnya juga menyatakan tidak ada data baru yang dikumpulkan, dan ia menyarankan penelitian lanjutan yang lebih luas tentang sejauh mana budaya asli Nias beradaptasi dalam Kekristenan.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak diselesaikan naskah. Mitos asal-usul menyebut dua putra Balugu Sirao, Hia Walangi Sinada dan Balugu Luo Mewona, sedangkan kosmologi menyebut dua bersaudara Lowalangi dan Latura Danõ, tanpa penjelasan hubungan antara kedua pasangan itu, dan Latura Danõ disebut putra sulung sekaligus bersifat feminin. Paper juga mengutip kritik Hammerle bahwa pemakaian nama Lowalangi bermuatan politik kolonial untuk mengambil hati para pemimpin adat, tetapi kritik itu tidak dijawab ketika kesimpulan memuji keberhasilan strategi tersebut.
Klaim bahwa orang Nias selalu menyebut Lowalangi dengan makna baru, dan bahwa generasi era Kristen hanya mengenal makna itu, juga tidak disertai data lapangan, sesuatu yang konsisten dengan pernyataan naskah bahwa tidak ada data baru. Hal kecil lain ada di bagian pendanaan, yang menyebut lembaganya Indonesian Baptist Theological Seminar, sementara afiliasi penulis tercantum sebagai Indonesia Baptist Theological Seminary, selisih satu kata yang mudah diperiksa siapa pun yang membuka naskahnya.
Maka yang tertinggal dari artikel ini adalah sebuah nama yang bertahan sementara isinya berganti, dan sebuah pertanyaan yang belum dijawab di halaman mana pun. Jika simbol, tanda, dan kebiasaan memang tidak berubah, dan hanya makna yang berpindah, bagaimana sebenarnya orang Nias hari ini membedakan Lowalangi yang mereka sebut dalam doa dari Lowalangi yang dulu bertarung dengan kakaknya di antara langit dan dunia bawah, dan siapa yang berhak memastikan perpindahan itu benar-benar tuntas?















