Olahraga Rekreasi Hanya Menurunkan Kecemasan Remaja LPKA

A A

Ilustrasi lapangan futsal terbuka di SMA Negeri 1 Blitar dalam keadaan kosong. [Foto: Gading Prinandika/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • Skor kecemasan 20 remaja binaan LPKA Bandung turun signifikan setelah delapan minggu olahraga rekreasi.
  • Nilai signifikansi kecemasan 0,000, sedangkan depresi 0,083 dan stres 0,157.
  • Penelitian ini tidak mengukur kadar serotonin, endorfin, maupun hormon lain pada peserta.
  • Metode menyebut Paired Sample T-Test, tetapi Tabel 1 mencantumkan Wilcoxon Signed Ranks Test.
Daftar Isi
  1. Olahraga Rekreasi: Latihan Fisik Terjadwal Delapan Minggu
  2. DASS-42: Kuesioner 42 Butir tentang Perasaan
  3. Pretest dan Posttest: Skor Sebelum dan Sesudah
  4. Nilai Signifikansi: Penanda Beda Skor Dua Pengukuran
  5. Serotonin dan Endorfin: Hormon Pengatur Suasana Hati
  6. Kortisol: Hormon Stres dari Latihan yang Terlalu Berat

Cekricek.id — Dalam kuesioner DASS-42, kecemasan diukur antara lain lewat pernyataan “saya merasa hampir panik”, dan skor kecemasan itulah yang turun signifikan pada 20 remaja binaan LPKA Bandung setelah delapan minggu olahraga rekreasi. DASS-42 adalah singkatan dari Depression Anxiety Stress Scale-42. Kuesioner ini berisi 42 butir yang dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu depresi, kecemasan, dan stres.

LPKA adalah Lembaga Pembinaan Khusus Anak, tempat remaja yang sedang menjalani masa hukuman dibina. Seluruh peserta penelitian ini laki-laki berusia 15–19 tahun. Selama delapan minggu mereka mengikuti program olahraga rekreasi tiga kali seminggu. Kuesioner yang sama diisi dua kali, yakni pada pengukuran awal yang disebut pretest dan pada pengukuran akhir yang disebut posttest.

Penelitian itu ditulis empat peneliti Program Magister Keolahragaan, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung. Mereka adalah Dinda Khoerunnisa, Nia Sri Ramania, Ahdan Abdillah Ad-Dauli, dan Bagus Winata. Penulis kelima, Esther Margaritha Livida Sinsuw, berasal dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dan RS Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri. Judulnya Improving Mental Health in Adolescents in Special Child Care Institutions Through Recreational Sports Intervention. Artikel itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 1, Juni 2025, halaman 1–11.

Maksudnya, dari tiga hal yang diukur, hanya satu yang bergeser secara berarti menurut uji statistik. Nilai signifikansi kecemasan tercatat 0,000, sedangkan depresi 0,083 dan stres 0,157. Dua angka terakhir berada di atas batas 0,05 yang dipakai penulis dalam abstrak. Karena itu, perbedaan skor pretest dan posttest pada depresi dan stres dinyatakan tidak signifikan.

Kalimat berikut penting karena judul paper berbicara tentang meningkatkan kesehatan mental secara umum, sementara hasilnya hanya menunjuk satu kelompok gejala. “Namun, intervensi tersebut tidak berdampak signifikan dalam menurunkan stres dan depresi, dengan nilai signifikansi 0,083 untuk depresi dan 0,157 untuk stres, yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pretest dan posttest,” tulis Dinda Khoerunnisa dan rekan-rekannya di bagian hasil.

Olahraga Rekreasi: Latihan Fisik Terjadwal Delapan Minggu

Istilah olahraga rekreasi dalam paper ini merujuk pada intervensi berupa latihan fisik yang dijalankan selama delapan minggu dengan frekuensi tiga sesi per minggu. Bagian metode menyebut peneliti langsung memulai intervensi itu begitu peserta selesai mengisi kuesioner pretest. Bagian analisis data mengulang keterangan yang sama, yakni intervensi olahraga rekreasi berlangsung delapan minggu dan dilakukan tiga kali seminggu.

Bedanya begini. Di bagian pendahuluan, penulis menyebut beberapa contoh kegiatan yang dapat memberi manfaat bagi kesehatan mental. Contohnya lari santai atau jogging, jalan kaki, aerobik, dan latihan kekuatan dasar. Namun, bagian metode tidak merinci cabang olahraga apa yang dimainkan remaja binaan LPKA Bandung, berapa lama setiap sesi berlangsung, maupun seberapa berat intensitasnya. Pembaca hanya mengetahui jumlah pekan dan jumlah sesi per pekan.

Alasan memilih latihan fisik dijelaskan di pendahuluan. Menurut para penulis, di lingkungan lembaga pembinaan, olahraga rekreasi termasuk intervensi yang praktis dan efisien. Olahraga relatif mudah dijalankan, tidak memerlukan peralatan atau fasilitas mahal, dan bisa dilakukan sendiri maupun berkelompok. Kegiatan berkelompok, tulis mereka, memberi kesempatan untuk belajar bekerja sama, mengikuti aturan, dan berkomunikasi dengan orang lain.

Baca juga Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak

DASS-42: Kuesioner 42 Butir tentang Perasaan

Alat ukur yang dipakai adalah DASS-42. Kuesioner ini memuat 42 butir yang terbagi rata ke tiga konstruk, masing-masing 14 butir. Konstruk di sini adalah kelompok butir yang menilai aspek gejala tertentu, yaitu depresi, kecemasan, dan stres. Contoh butir yang dicantumkan paper antara lain “saya sama sekali tidak bisa merasakan perasaan positif” dan “saya merasa sulit untuk bersantai”.

Jawaban diberikan dengan skala Likert empat tingkat, yakni pilihan berjenjang dari angka 0 sampai 3. Angka 0 berarti pernyataan itu sama sekali tidak sesuai dengan diri responden. Angka 1 berarti sesuai sampai tingkat tertentu atau kadang-kadang. Angka 2 berarti cukup sesuai atau sering, sedangkan 3 berarti sangat sesuai atau hampir sepanjang waktu. Peserta yang merasa hampir panik hampir sepanjang waktu akan memberi angka 3 pada butir itu.

Paper menyebut instrumen ini memiliki reliabilitas tinggi, diukur dengan Cronbach’s alpha, angka yang dipakai penulis untuk menyatakan keajekan tiap subskala. Nilainya 0,91 untuk depresi, 0,84 untuk kecemasan, dan 0,90 untuk stres. Di antara ketiganya, subskala kecemasan justru memiliki angka terendah, walau tetap digolongkan tinggi. Paper tidak menjelaskan apakah angka itu dihitung dari data peserta di LPKA Bandung atau diambil dari sumber lain.

Pretest dan Posttest: Skor Sebelum dan Sesudah

Rancangan penelitian ini membandingkan kelompok yang sama pada dua waktu, sebelum dan sesudah delapan minggu program olahraga rekreasi. Paper tidak menyebut adanya kelompok pembanding, yakni remaja lain di lembaga yang sama yang tidak mengikuti program. Jadi, yang dibandingkan hanyalah skor para peserta dengan skor mereka sendiri pada waktu yang berbeda.

Pemilihan peserta dijelaskan singkat. Langkah pertama, menurut paper, adalah menentukan sampel atau peserta yang diteliti berdasarkan populasi yang dapat dijangkau dan ukuran sampel. Syarat yang tertulis ada tiga. Peserta harus anak binaan laki-laki LPKA Bandung dan telah dibina sekurang-kurangnya tiga bulan. Mereka juga tidak pernah didiagnosis mengalami gangguan mental. Paper tidak memuat skor rata-rata kecemasan, stres, atau depresi peserta, baik sebelum maupun sesudah program.

Untuk mengolah angka, bagian metode menyebut perangkat lunak statistik SPSS versi 26 dan Paired Sample T-Test. Uji itu disebut penulis sebagai cara membandingkan hasil pretest dan posttest. Namun, Tabel 1 di bagian hasil mencantumkan keterangan Wilcoxon Signed Ranks Test, uji dengan nama berbeda dari yang disebut di metode. Paper tidak menjelaskan mengapa dua nama uji itu muncul dalam satu naskah.

Tabel itu memuat nilai Z, angka hasil uji yang dicantumkan untuk tiap konstruk. Kecemasan mencatat −3,905, jauh di atas depresi dengan −1,732 dan stres dengan −1,414. Nilai signifikansi dua arah, yang di tabel ditulis Asymp. Sig. (2-tailed), masing-masing 0,000 untuk kecemasan, 0,083 untuk depresi, dan 0,157 untuk stres. Hanya baris kecemasan yang berada di bawah batas 0,05.

Nilai Signifikansi: Penanda Beda Skor Dua Pengukuran

Nilai signifikansi, yang di abstrak ditulis sebagai p-value, dipakai penulis untuk memutuskan ada atau tidaknya perbedaan antara skor pretest dan posttest. Untuk kecemasan, angka 0,000 disebut menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua pengukuran. Untuk depresi dan stres, angka di atas 0,05 disebut menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik.

Lapangan olahraga berpagar hijau dengan gawang futsal dan tiang net voli di halaman sekolah
Ilustrasi lapangan belakang SMP Negeri 1 Ciamis yang dapat dipakai untuk futsal maupun voli. [Foto: Rafka Aditia/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Maksudnya, “tidak signifikan” dalam paper ini adalah pernyataan statistik tentang selisih skor dua pengukuran. Penulis tidak menulis bahwa stres dan depresi peserta sama sekali tidak berubah. Skor mentah sebelum dan sesudah program juga tidak disajikan. Akibatnya, besar kecilnya perubahan pada dua konstruk itu, juga pada kecemasan, tidak dapat dibaca langsung dari naskah.

Di bagian abstrak, para penulis merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Temuan ini menunjukkan bahwa olahraga rekreasi dapat menjadi intervensi yang efektif untuk menurunkan kecemasan pada remaja di lingkungan pemasyarakatan; namun, pendekatan tambahan diperlukan untuk menangani stres dan depresi,” tulis Dinda Khoerunnisa, Nia Sri Ramania, dan rekan-rekan mereka.

Baca juga Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri

Serotonin dan Endorfin: Hormon Pengatur Suasana Hati

Serotonin dan endorfin menjadi penjelasan utama para penulis tentang mengapa olahraga rekreasi bisa menurunkan kecemasan. Serotonin, menurut paper, adalah neurotransmiter yang terlibat dalam pengendalian suasana hati, tidur, dan nafsu makan. Endorfin kerap disebut “hormon kebahagiaan” karena dikenal mampu mengurangi rasa sakit fisik maupun mental serta memunculkan rasa euforia. Keduanya disebut memberi efek relaksasi alami sehingga seseorang merasa lebih tenang setelah beraktivitas fisik.

Dari sisi psikologis, penulis menambahkan bahwa olahraga dapat meningkatkan rasa percaya diri lewat kebugaran fisik. Ketika seseorang merasa sehat dan bugar, tulis mereka, tingkat kecemasannya cenderung turun karena ia merasa lebih mampu mengendalikan diri. Interaksi sosial selama olahraga berkelompok juga disebut membantu mengurangi kecemasan sosial atau perasaan terasing yang kerap memperburuk kecemasan.

Bedanya begini. Mekanisme hormon itu dibahas di pendahuluan dan diskusi, tetapi penelitian di LPKA Bandung tidak mengukur kadar serotonin, endorfin, maupun hormon lain pada peserta. Satu-satunya alat ukur yang tercantum di bagian metode adalah kuesioner DASS-42. Pendahuluan paper sendiri menyebut kajian yang secara khusus mengaitkan latihan fisik dengan kesehatan mental remaja di lembaga pemasyarakatan, terutama respons serotonin dan endorfin, masih terbatas.

Kortisol: Hormon Stres dari Latihan yang Terlalu Berat

Untuk stres, penulis mengajukan beberapa kemungkinan penjelasan. Salah satunya kortisol, yang dalam paper disebut sebagai hormon stres. Aktivitas fisik berintensitas tinggi atau berlangsung lama dapat memicu respons tubuh yang mirip dengan stres. Kadar kortisol bisa naik, terutama bila latihan dilakukan tanpa pemulihan memadai atau saat tubuh sudah lelah. Kortisol yang tinggi, tulis mereka, dapat mengurangi manfaat olahraga dalam meredakan stres.

Penjelasan lain menyangkut perasaan peserta terhadap olahraga itu sendiri. Tidak semua orang menikmati olahraga, apalagi bila kegiatannya tidak sesuai minat atau terasa dipaksakan. “Dalam kasus seperti itu, alih-alih meredakan stres, olahraga justru dapat menjadi sumber stres tambahan,” tulis para penulis. Mereka juga menyebut tekanan hidup dari luar yang berat sebagai faktor yang membuat olahraga saja tidak cukup untuk meredakan stres.

Untuk depresi, paper merinci lima faktor. Pertama, intensitas, frekuensi, dan jenis latihan. Kedua, konsistensi berlatih. Ketiga, motivasi dan keterlibatan dalam olahraga. Keempat, perbedaan antara olahraga sendirian dan olahraga berkelompok. Kelima, kondisi fisik dan status kesehatan individu. Semua faktor itu diajukan di bagian diskusi sebagai kemungkinan penjelasan dan tidak diukur dalam penelitian ini.

Baca juga Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan

Dari situ penulis menyimpulkan bahwa intervensi bagi remaja atau individu dalam kondisi rentan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan mental masing-masing. Bagi yang mengalami kecemasan ringan, olahraga disebut dapat menjadi solusi yang efektif dan mudah dijangkau. “Namun, bagi mereka yang menghadapi stres atau depresi berat, pendekatan yang lebih menyeluruh mungkin diperlukan, seperti konseling psikologis, terapi perilaku, atau dukungan sosial yang lebih intensif,” tulis Dinda Khoerunnisa dan rekan-rekannya.

Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Catatan ke arah itu hanya muncul di kesimpulan. Di sana penulis menulis bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk menelusuri jenis kecemasan serta gejala fisiologis dan psikologis yang mungkin muncul. Artinya, skor kecemasan yang turun pada 20 peserta itu belum dipilah menurut jenis kecemasannya.

Karena itu, istilah olahraga rekreasi dalam penelitian ini punya batas yang jelas. Ia mencakup latihan fisik tiga kali seminggu selama delapan minggu pada 20 remaja laki-laki di satu lembaga. Hasilnya diukur lewat kuesioner. Ia tidak mencakup pengukuran hormon, perbandingan dengan remaja yang tidak berolahraga, maupun penurunan stres dan depresi yang signifikan secara statistik. Penulis sendiri menempatkan olahraga sebagai strategi awal atau pelengkap untuk mendukung kesejahteraan mental.

Bagikan

Baca Juga

Power Lengan Anggota Klub Muay Thai Naik 20,16 Persen
Atlet Futsal Remaja Karawang Berlari 2.216 Meter dalam 12 Menit
UTM Latih Konselor Sebaya, Mahasiswa Diajak Jadi Teman Bicara
Tes Keterampilan Bola Tangan Memakai Dinding Selama 30 Detik
Waktu Reaksi Pemain Bulu Tangkis Ganda 0,026 Detik Lebih Cepat
Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban