Cekricek.id — Pada 1670, di lereng antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, seorang juru tulis menuntaskan salinan Arjunawiwāha. Kakawin itu digubah di Jawa pada abad ke-11, enam ratus tahun sebelumnya, dan tugas si penyalin sederhana: menurunkannya apa adanya. Tetapi pada bait I.9c ia menulis ingucap, sementara naskah Arjunawiwāha yang disalin di Bali menulis inucap. Satu bunyi tambahan, satu goresan aksara, dan seorang juru tulis yang ternyata tidak sanggup sepenuhnya melepaskan diri dari bahasa yang ia pakai sehari-hari.
Selisih sekecil itu menjadi pokok kajian Agung Kriswanto, Dwi Puspitorini, dan mendiang Titik Pudjiastuti dari Universitas Indonesia, Depok, lewat artikel The Middle Javanese passive prefix “ing-” (Prefiks pasif ing- dalam bahasa Jawa Pertengahan), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025. Ketiganya memeriksa enam teks dari lingkungan Merapi-Merbabu dan menemukan bahwa perubahan kecil itu bukan kecelakaan tulis, melainkan jejak sebuah bahasa yang sedang bergeser.
Imbuhan yang Sempat Dianggap Salah Ketik
Dalam bahasa Jawa Kuno, cara paling lazim membentuk kalimat pasif adalah menyisipkan -in- ke dalam kata dasar. Kata sung menjadi sinung, dulur menjadi dinulur. Kalau kata dasarnya diawali huruf vokal, sisipan itu pindah ke depan dan menjadi awalan in-: ucap menjadi inucap, iḍĕk menjadi iniḍĕk. Pola itu bertahan sangat lama. Imbuhan -in- sudah dipakai dalam teks abad ke-9 dan masih muncul dalam karya sastra Jawa masa kini, meski dalam percakapan sehari-hari ia sudah lama digantikan di-.
Baca juga: Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Di tengah keawetan itulah muncul bentuk ing-. Peneliti terdahulu cenderung mengabaikannya. A. Teeuw dan rekan-rekannya, dalam suntingan Kakawin Śiwarātrikalpa terbitan 1969, menyebut bentuk itu sekadar keanehan yang kebetulan. “Ada beberapa bentuk insidental yang tampak aneh dalam sebuah kakawin, tetapi bentuk-bentuk insidental yang sebanding juga muncul dalam teks-teks yang jauh lebih tua dan bentuk-bentuk itu hampir tidak memberi kita dasar untuk penanggalan perbandingan atas teks-teks yang bersangkutan,” tulis Teeuw dan rekan-rekannya, sebagaimana dikutip Kriswanto, Puspitorini, dan Pudjiastuti. Kalimat aslinya berbahasa Inggris dan diterjemahkan di sini.
Anggapan itulah yang ditinjau ulang. Bentuk ing- memang sudah terlihat lebih awal: dalam prasasti Pabañolan dari akhir abad ke-15 terdapat kata ingalap yang berarti ‘diambil’, dan dalam Kakawin Śiwarātrikalpa yang digubah antara 1466 dan 1478 terdapat ingawur-awur. Yang baru dalam kajian ini adalah kesimpulan bahwa bentuk tersebut punya pola, punya persebaran wilayah, dan punya masa hidup yang bisa dilacak.
Enam Naskah dari Lereng Dua Gunung
Kawasan Merapi-Merbabu di Jawa Tengah adalah pusat produksi naskah dan kehidupan keagamaan Hindu-Buddha pada abad ke-15. Dari sanalah datang naskah-naskah kakawin Jawa Kuno yang sebelumnya hanya dikenal lewat salinan Bali, dan dari sana pula datang teks-teks kidung abad ke-16. Enam teks dari lingkungan itu dijadikan bahan penelitian: Gita Mudasara, Kidung Surajaya, Gita Sinangsaya, Kidung Darmajati, Pramanaprawa, dan Bismaprawa. Empat yang pertama berbentuk puisi, dua terakhir berbentuk prosa.
Penanggalannya tidak seragam, dan para penulis mengakuinya terus terang. Gita Mudasara digubah 1445 dan disalin 1660; Kidung Surajaya digubah 1510, disalin 1696; Gita Sinangsaya digubah 1531, disalin 1670. Kidung Darmajati dan Bismaprawa hanya mencantumkan tahun penyalinan, yakni 1690 dan 1669. Pramanaprawa tidak menyebut tahun sama sekali dan tetap dipakai semata-mata karena ciri tata bahasanya mirip lima teks lain — sebuah pilihan yang, diakui atau tidak, bertumpu pada asumsi yang justru hendak dibuktikan.
Hitungan frekuensinya dikerjakan dengan bantuan perangkat lunak AntConc. Sisipan -in- tetap menjadi bentuk yang paling banyak dipakai di semua teks, dengan jumlah tertinggi 309 kali dalam Kidung Surajaya dan 241 kali dalam Bismaprawa. Awalan in- yang khas Jawa Kuno hampir lenyap: hanya empat kali di Gita Mudasara dan dua kali di Pramanaprawa, dan tidak muncul sama sekali di empat teks lain. Tempatnya diambil alih ing-, yang muncul 67 kali dalam Bismaprawa saja. Ada pula varian ketiga, ring-, yang paling sering dipakai dalam Pramanaprawa sebanyak 14 kali.
Bali Menyalin dengan Setia, Jawa Menyalin sambil Berbicara
Bagian paling menarik dari kajian ini muncul ketika naskah yang sama dibandingkan antarwilayah. Kakawin Dharma Śūnya, yang tampaknya digubah pada 1460, tersimpan dalam salinan Jawa tahun 1600 dan dalam salinan Bali. Pada baris yang sama persis, naskah Jawa menulis ingaku sedangkan naskah Bali menulis inaku. Pada baris lain, naskah Jawa menulis ingĕnĕk-ĕnĕk, naskah Bali inĕnĕk-ĕnĕk. Pola yang sama terulang pada Arjunawiwāha.
Penjelasan yang ditawarkan bersifat sosial, bukan semata gramatikal. Di Jawa, juru tulis menyalin dalam bahasa yang masih ia dengar dan ia pakai; di Bali, bahasa Jawa bukan bahasa ibu para penyalin sehingga bentuk-bentuk lama lebih mudah dipertahankan. Peneliti naskah I.K. Wiryamartana pernah menyebut gejala ini sebagai penjawaan, dan penilaiannya dikutip dalam artikel itu. “Munculnya kata-kata dan morfologi, yang ‘berbau’ Jawa Baru, dari satu pihak dapat dianggap sebagai ‘perusakan’ kakawin yang berbahasa Jawa Kuna. Namun demikian, dari pihak lain dapat juga dikatakan bahwa di situ terjadi pewarisan teks yang ‘hidup’ sesuai dengan situasi kebahasaan pendukungnya,” tulis Wiryamartana dalam kajiannya pada 1990.
Dengan cara pandang itu, salinan Merapi-Merbabu berhenti dianggap sebagai naskah yang rusak dan mulai dibaca sebagai rekaman bahasa yang sedang dipakai. Perlu ditekankan bahwa perbandingan ini terbatas pada beberapa pasang naskah tertentu yang kebetulan bertahan, bukan pada seluruh khazanah salinan Jawa dan Bali.
Baca juga: Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Kata-kata yang Tidak Ada dalam Kamus Jawa Kuno
Awalan ing- dan ring- punya aturan main sendiri. Keduanya hanya menempel pada kata dasar yang diawali vokal a, i, u, dan ĕ, dan tidak pernah pada kata yang diawali o atau e. Namun ditemukan pengecualian yang penting. Dalam Pramanaprawa muncul kata ingĕkĕp dari kata dasar kĕkĕp yang berarti ‘memeluk’ — padahal menurut kaidah Jawa Kuno bentuknya seharusnya kinĕkĕp. Ada pula ringuwakakĕn dari kata dasar kuwak yang berarti ‘robek’, yang mestinya menjadi kinuwakakĕn. Dalam kedua kasus itu konsonan k luluh oleh awalan.
Yang menarik, kata kuwak memang tidak ada dalam kosakata Jawa Kuno; ia kosakata Jawa Pertengahan. Contoh lain adalah ringĕwor, dari kata wor yang berarti ‘campur’. Dalam Jawa Kuno, wor semestinya menjadi winor. Tetapi dalam Jawa Pertengahan kata itu bertambah bunyi ĕ di depan menjadi ĕwor, dan begitu ia berubah menjadi kata dua suku, imbuhan pasifnya ikut berubah. Para penulis mengaitkan kecenderungan itu dengan temuan ahli bahasa E.M. Uhlenbeck bahwa 85 persen morfem dasar bahasa Jawa mengandung dua vokal. Gejala yang mirip masih hidup dalam bahasa Jawa masa kini, misalnya dol yang berarti ‘jual’ menjadi ngĕdol dalam kalimat bocah lanang kuwi ngĕdol sĕpedahe.
Artinya, awalan baru itu cenderung menempel pada kosakata yang juga baru. Bentuk ing- tidak sekadar menggantikan in-; ia ikut menampung kata-kata yang belum ada pada zaman Jawa Kuno. Meski demikian, para penulis mengakui bahwa mereka tidak menemukan kaidah yang membedakan kapan ing- dipakai dan kapan ring- dipakai. Keduanya bertukar tempat tanpa pola yang bisa dirumuskan.
Siapa Pelakunya, dan di Sebelah Mana Ia Berdiri
Persoalan kedua dalam artikel ini lebih halus: di mana letak pelaku dalam kalimat pasif. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata ganti orang dapat menempel langsung di belakang kata kerja pasif, seperti inalapmami yang berarti ‘diambil olehku’ atau pinalunira yang berarti ‘dipukul olehnya’. Dalam bahasa Jawa masa kini, pola itu terbalik: kata ganti berdiri di depan dan kata kerjanya tidak lagi berimbuhan -in-, seperti dak silihe dan kok wenehi. Perbedaan itu bukan soal gaya. Berdasarkan ciri tersebut, kajian sebelumnya menempatkan Jawa Kuno satu tipe dengan bahasa-bahasa Filipina, sedangkan Jawa masa kini satu tipe dengan bahasa Indonesia modern.
Enam teks Merapi-Merbabu ternyata memuat keduanya. Ada ingiḍĕpnya dan ingĕntasira, tempat kata ganti orang ketiga masih menempel pada kata kerja seperti dalam Jawa Kuno. Ada pula ngong bedane dan sun rĕbute, tempat kata ganti orang pertama berdiri bebas di depan seperti dalam Jawa masa kini. Temuan ini bertolak belakang dengan pernyataan P.J. Zoetmulder pada 1974 bahwa konstruksi semacam itu sama sekali tidak muncul dalam bahasa kidung, dan juga dengan kesimpulan sebuah kajian 2024 bahwa teks Jawa sejak abad ke-15 tidak lagi memuat kata ganti pelaku yang melekat pada kata kerja pasif.
Di sinilah keterbatasan datanya perlu dicatat. Dalam seluruh korpus enam teks itu, tidak satu pun ditemukan kata ganti orang pertama yang terikat pada kata kerja pasif, dan hanya ada satu contoh kata ganti orang kedua, yakni ingucapnira dalam Kidung Surajaya. Satu contoh tunggal adalah dasar yang tipis untuk kesimpulan tentang sebuah tahap bahasa, dan artikel ini menyajikannya sebagaimana adanya tanpa membesar-besarkannya.
Asal-usul yang Belum Terpecahkan
Dari mana awalan ing- berasal? Ada dugaan yang menggoda, karena ing juga merupakan kata depan dalam bahasa Jawa Kuno yang masih hidup sampai sekarang, dan dalam bahasa Melayu awalan pasif di- memang pernah dijelaskan berasal dari kata depan di. Namun para penulis menolak jalan itu. Menurut mereka, ing- tidak lahir dari kata depan, melainkan dari pergeseran bunyi biasa: konsonan n pada in- berubah menjadi ng. Pergeseran serupa terlihat pada kata janji yang menjadi jangji, dan branti dalam Jawa Kuno yang menjadi brangti yang berarti ‘mabuk asmara’. Kemiripan antara kata depan ing dan awalan ing-, kata mereka, hanya kemiripan bentuk.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Sekalipun begitu, artikel ini menyatakan sendiri bahwa asal-usul dan perkembangan ing- sebagai penanda pasif dalam bahasa Jawa Pertengahan masih belum jelas. Penyusunan ulang urutan kronologi keenam teks berdasarkan keragaman imbuhannya pun disebut bersifat hipotetis, bukan simpulan. Dan karena seluruh data berasal dari naskah sastra satu kawasan, temuan ini berbicara tentang tradisi tulis di lereng Merapi-Merbabu, bukan tentang bahasa Jawa lisan di seluruh Jawa pada abad-abad itu.
Yang bisa dipastikan adalah umurnya. Bentuk ing- masih terpakai dalam naskah Damarwulan yang ditulis pada 1748, dalam kalimat miyos jalu ingaranan Damarwulan yang berarti ‘lahir seorang anak lelaki bernama Damarwulan’. Ia bahkan masih muncul pada 1916 dalam Sĕrat Smaradahana. Lebih dari lima abad setelah seorang juru tulis di lereng gunung menambahkan satu bunyi ke dalam kata warisan, tambahan itu belum juga hilang. Artikel ini merupakan salah satu karya terakhir Titik Pudjiastuti, guru besar Kajian Jawa Universitas Indonesia, yang meninggal pada Oktober 2024, sebulan setelah naskahnya diserahkan ke redaksi jurnal.
















