Cekricek.id — Di dalam sebuah lontar Bali yang tersimpan di Singaraja, ada kalimat berbahasa Jawa Kuno yang menjelaskan aturan tata bahasa Sanskerta. Kalimat itu tidak berbicara tentang subjek dan objek. Ia berbicara tentang hari baik, tentang persembahan lembu kepada brahmana, tentang yoga dan samadhi, dan tentang bagaimana seorang pandita harus menjaga hatinya. Yang sedang dibahas sebenarnya adalah karmakartā, istilah tata bahasa untuk hubungan antara pelaku dan objek dalam sebuah kalimat — tetapi di tangan penafsir setempat, kategori gramatika itu berubah menjadi petunjuk ritual.
Kejanggalan yang menarik itu dibedah Zakariya Pamuji Aminullah dan Yosephin Apriastuti Rahayu, keduanya pengajar Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lewat artikel Sanskrit educational texts in Kawi culture; The case of the Kārakasaṁgraha (Teks pendidikan Sanskerta dalam budaya Kawi; Kasus Kārakasaṁgraha), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Vol. 26 No. 3, pada 2025. Aminullah kini menempuh studi doktoral di Universitas Hamburg dan Rahayu di Universitas Leiden. Keduanya menyajikan suntingan kritis dan terjemahan beranotasi atas Kārakasaṁgraha, sebuah risalah tata bahasa Sanskerta yang bertahan dalam naskah-naskah lontar Bali.
Kesimpulan mereka: teks itu bukan sekadar bahan ajar, melainkan sekaligus manual ritual-linguistik yang mengaburkan batas antara tata bahasa, kerohanian, dan kosmologi.
Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Sebuah Disertasi 1986 yang Tak Pernah Menjadi Buku
Riset ini bermula dari tumpukan surat. Antara 1995 dan 1996, terjadi korespondensi antara Tjokorda Rai Sudharta, Achadiati Ikram, Henri Chambert-Loir, Gerdi Gersheimer, dan Haryati Soebadio mengenai upaya menerbitkan disertasi Sudharta sebagai buku berjudul Kṛtabhāṣā. Disertasi itu diterima Universitas Indonesia pada 1986 sebagai syarat gelar doktor ilmu sastra. Achadiati Ikram menyerahkan draf itu ke École française d’Extrême-Orient (EFEO) Jakarta dengan harapan bisa diterbitkan; pada 11 April 1996 Chambert-Loir, yang saat itu Direktur EFEO Jakarta, mengirim surat kepada Gersheimer untuk meminta pendapat.
Buku itu tidak pernah terbit dan, tulis kedua penulis, kemungkinan besar tidak akan pernah terbit karena Sudharta sudah lama meninggal. Tanggapan Gersheimer yang datang pada Agustus 1996 berisi sejumlah catatan tajam: transliterasi Sudharta kerap tidak konsisten, terutama dalam penerapan tanda diakritik; struktur metrum puisi Sanskerta sering terabaikan sehingga bentuk dan makna sama-sama kabur; dan aparatus kritis yang lebih rinci diperlukan agar kesalahan filologis bisa dihindari. Gersheimer secara khusus menyorot Kārakasaṁgraha sebagai teks paling menonjol dalam konteks kajian Sanskerta — sekaligus paling bermasalah suntingannya.
Aminullah dan Rahayu memeriksa sendiri catatan itu dan membenarkannya. Mereka menemukan banyak kesalahan ejaan, serta sejumlah emendasi dan normalisasi Sudharta yang tidak cocok dengan terjemahan yang ia sediakan sendiri. Salah satu contoh yang paling telak: satu bait — bait ke-17 — dihilangkan begitu saja dari suntingan Sudharta tanpa keterangan apa pun, padahal bait itu ada pada suntingan Sylvain Lévi dan didukung sejumlah saksi naskah yang bisa mereka akses.
Lima Cabang Ilmu Sanskerta di Jawa dan Bali
Sebelum sampai ke naskah, kedua penulis menempatkan konteksnya. Bahasa Sanskerta menjadi bagian utuh dari budaya sastra dan epigrafi Nusantara sejak paling tidak abad kelima Masehi, di Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan. Catatan Tiongkok, terutama karya Yìjìng yang mengunjungi Śrīvijaya pada akhir abad ketujuh, mencatat kedatangan biksu-biksu Tiongkok ke kerajaan itu untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan teks-teks Buddhis. Sistem pendidikannya sendiri tidak terekam, tetapi pengaruh Sanskerta yang meresap ke ranah sastra, agama, dan politik dari abad kedelapan sampai keempat belas menyiratkan adanya kerangka pengajaran yang sistematis.
Lokesh Chandra menyebut lima disiplin dasar dalam kajian Sanskerta: vyākaraṇa (tata bahasa), chandas (ilmu metrum), abhidhāna (leksikografi), alaṁkāra (puitika), dan nāṭaka (drama). Empat yang pertama meninggalkan jejak nyata di Jawa dan Bali. Sejumlah teks Jawa Kuno membahas tata bahasa Sanskerta secara langsung: Aji Krakah memuat paradigma deklinasi dan sebuah bagian berjudul Kārakasaṁgraha, sementara Svaravyañjana, Sārasvatavyākaraṇa, Vibhaktiḥ, Śabdharūpa Vibhaktiḥ, dan Samāsaḥ membahas fonologi, deklinasi kata ganti, dan pembentukan kata majemuk.
Yang tidak meninggalkan teks adalah drama. Tidak satu pun teks Jawa Kuno atau Jawa Pertengahan yang membahas nāṭaka secara tersendiri — tetapi adegan Rāmāyaṇa terpahat di relief candi, termasuk di kompleks Prambanan, dengan gestur yang berasal dari Nāṭyaśāstra karya Bharata. Kedua penulis menduga aturan ekspresi dramatik itu berubah wujud menjadi seni rupa.
Istilah payung untuk semua bahan ajar itu adalah kṛtabhāṣā, kemungkinan bentuk pendek dari saṁskṛtabhāṣā, ‘bahasa yang disempurnakan’. Aminullah dan Rahayu menegaskan istilah itu bukan nama satu genre tunggal, melainkan payung bagi sedikitnya dua jenis teks yang saling melengkapi: karya leksikografi di satu sisi dan karya pengajaran tata bahasa di sisi lain. Dari 37 naskah berjudul Kṛtabhāṣā yang didaftar Hendrik H. Juynboll pada 1907, hanya sepuluh yang memuat pelajaran tata bahasa dan petikan Sanskerta; sisanya berisi kosakata atau sinonim yang diambil dari kakawin dan kidung.
Ringkasan Tata Bahasa yang Datang dari India
Kārakasaṁgraha berkutat pada dua konsep. Kāraka adalah peran semantis peserta dalam sebuah tindakan — pelaku, objek, alat, penerima, sumber, dan lokasi. Vibhakti adalah akhiran kasus yang menandai peran itu secara morfologis, dari prathama (nominatif) sampai saptamī (lokatif). Dalam sistem Pāṇini, keduanya dibedakan tegas: vibhakti menandai hubungan di permukaan, kāraka menentukan perannya.
Baca juga: Istana Kesultanan Serdang Jadi Perumahan, Koordinatnya Meleset 10 Km
Yang menarik, Kārakasaṁgraha justru sering mencampur keduanya. Pada bait ke-18, misalnya, kata adhikaraṇa dipakai menggantikan saptamī. Penyederhanaan semacam ini, tulis kedua penulis, tidak hanya terjadi di lingkungan Kawi; gejala serupa tercatat di Tiongkok dan Jepang. Xuánzàng, biksu Tiongkok yang hidup 602 sampai 664 dan berkelana ke India pada abad ketujuh, mencatat delapan kasus tata bahasa termasuk vokatif, sementara Kārakasaṁgraha hanya mengenal tujuh. Kalau dugaan itu benar, peleburan fungsi kāraka dan vibhakti bisa jadi hasil pertukaran intelektual antara biksu India, Tiongkok, dan Śrīvijaya sekitar abad ketujuh.
Soal usia teksnya sendiri, penanggalan yang diajukan bersifat perkiraan. Kārakasaṁgraha dikaitkan dengan cabang mazhab tata bahasa Kātantra yang dikomentari Durgasiṁha, yang diperkirakan hidup sekitar abad kedelapan Masehi. Kātantra sendiri adalah mazhab non-Pāṇini yang menyederhanakan struktur rumit Aṣṭādhyāyī; penyederhanaan itu dikreditkan kepada Śarvavarman, tata bahasawan yang hidup antara abad kedua dan ketiga Masehi. Dari situ kedua penulis menyimpulkan suntingan Kārakasaṁgraha yang dianalisis Lévi, Sudharta, dan Anna Radicchi kemungkinan berasal dari sekitar abad kesepuluh Masehi — artinya teks itu sampai ke Jawa tidak lama setelah beredar di India. Adapun cara teks itu sampai ke Bali, Radicchi hanya menduga sesudah 1500 Masehi bersama banyak teks Hindu lain, dan kedua penulis mencatat terus terang bahwa tidak ada bukti eksplisit yang menopang penanggalan itu.
Ketika Kasus Tata Bahasa Berubah Menjadi Hari Baik
Bagian paling mengejutkan artikel ini adalah lapisan komentar Jawa Kuno-nya, yang belum pernah diterbitkan dalam suntingan mana pun sebelumnya. Kedua penulis menyuntingnya dari dua naskah koleksi UPTD Gedong Kirtya, dan hasilnya memperlihatkan pola yang konsisten: vibhakti tidak dibaca sebagai ‘deklinasi’, melainkan disamakan dengan bhakti, ‘pengabdian ritual’. Sementara kategori prathama, dvitīyā, tṛtīyā, dan seterusnya — yang secara gramatikal berarti nominatif, akusatif, instrumental — diglosakan sebagai rujukan pada hari-hari tertentu dalam siklus ritual tujuh hari.
Contoh yang paling terang ada pada komentar terhadap karmakartā. Alih-alih membahas hubungan sintaksis antara pelaku dan objek, komentar itu membaca karmakartā sebagai tindakan keagamaan yang benar. “While working on karmakartā, in order for a religious performance to become righteous, yo, begin with the practice of yoga and deep mental absorption,” demikian terjemahan yang mereka sajikan — ketika mengerjakan karmakartā, agar sebuah upacara keagamaan menjadi benar, mulailah dengan laku yoga dan samadhi. Hari ketiga, keempat, dan keenam ditetapkan sebagai ve ayu, hari baik untuk tindakan semacam itu. Di tempat lain, komentar menjelaskan bahwa keberhasilan dalam ungkapan sastra bergantung pada pemahaman yang tepat tentang hari ketiga, yang dianggap anugerah dari Dewa Yang Tak Terlihat (māyādevatā), yang kerap dirujuk sebagai Bhatara Brahmā.
Glosa Jawa Kuno itu juga terbukti berguna secara filologis, bukan sekadar sebagai hiasan. Pada bait pertama, bentuk vakābhyāṁ tidak ditemukan dalam kamus Sanskerta baku sebagai rujukan kepada dewa, tetapi metateks Jawa Kuno tanpa ragu mengglosakannya sebagai saṅ deva kālih, ‘kedua dewa’, dan menyebut nama mereka: Brahmā dan Viṣṇu. Pada bait ke-12, bacaan sulit kurūpātmanā yang kira-kira berarti ‘dengan wujud yang mengerikan’ mendapat penegasan dari parafrasa tan ketuṅ kanin iṅ śarīra, ‘tak terhitung luka pada tubuhnya’. Dan pada bait ke-17 yang dihilangkan Sudharta, bacaan arthinaḥ, ‘orang yang memohon’, dikuatkan glosa tentang seorang gembala sapi yang memohon berkat setelah mempersembahkan lembu kepada brahmana.
Yang membuat kedua penulis menahan diri dari kesimpulan yang terlalu jauh adalah kenyataan bahwa contoh-contoh kalimat Sanskerta di dalam teks itu justru tetap konsisten secara struktural. Artinya, contoh gramatikalnya dipelihara dengan kehati-hatian filologis, sementara tradisi penafsiranlah yang menafsir ulang maknanya. Lapisan ritual dan kosmologis itu, tulis mereka, mungkin sekali tidak berasal dari bait-bait Sanskerta itu sendiri, melainkan tumbuh lewat elaborasi kreatif para penafsir setempat. “The Old Javanese commentaries should not be treated as mere vernacular aids to Sanskrit grammar, but as textual witnesses to a distinct intellectual project: the sacralization of linguistic form,” tulis Aminullah dan Rahayu — komentar Jawa Kuno itu tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai alat bantu berbahasa daerah untuk tata bahasa Sanskerta, melainkan sebagai saksi tekstual dari sebuah proyek intelektual tersendiri, yakni penyakralan bentuk bahasa.
Halaman 100 yang Hilang dan Pertanyaan yang Tersisa
Artikel ini termasuk jarang karena memaparkan batas-batasnya sendiri secara gamblang. Karena keterbatasan ruang, suntingan yang mereka sajikan hanya mencakup bagian kāraka atau prathamapariccheda, dan menyisihkan dua bagian tentang samāsa. Ada alasan praktisnya: halaman 100 disertasi Sudharta, yang membahas samāsa, hilang dari edisi cetak maupun elektronik — hal yang mereka pastikan lewat pemeriksaan langsung di perpustakaan Universitas Indonesia. Draf lengkap disertasi Sudharta pun tidak berhasil ditemukan di arsip EFEO; yang tersisa hanya potongan-potongan yang tersimpan bersama berkas korespondensi. Satu naskah yang dipakai Sudharta, dengan kode HKS 349, tidak bisa dilacak lagi, dan satu lontar Gedong Kirtya bernomor 2320 sudah tidak berada di tempatnya.
Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran
Ketidakpastian juga diakui di tingkat bacaan. Pada bait ke-17 mereka menandai secara terbuka bahwa bait itu beserta terjemahannya masih belum pasti. Bahkan jumlah naskah yang dipakai Sudharta sempat berubah: dalam suntingannya ia menyebut 54 naskah, tetapi dalam surat koreksi tertanggal 9 Oktober 1995 angka itu ia revisi menjadi 29 — dan angka revisi itulah yang dipakai kedua penulis.
Simpulan mereka pun dirumuskan sebagai pertanyaan, bukan vonis. Sejauh mana adaptasi itu berlangsung, tulis mereka, tetap sulit ditetapkan; yang terjadi lebih banyak berupa pemakaian ulang ketimbang penggarapan ulang, dan penjelasan atas lapisan-lapisannya masih bergantung pada riset filologis dan kontekstual lanjutan. Mereka bahkan menutup dengan pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka: apakah tafsir yang diritualkan itu inovasi Bali, atau gema praktik Jawa yang lebih tua dan kini hilang? Terlepas dari asal-usulnya, Kārakasaṁgraha memberi jendela ke arah bagaimana tata bahasa, kosmologi, dan imajinasi lokal berpadu — sebuah lingkungan intelektual yang, kata mereka, khas Asia Tenggara. Dalam kalimat mereka sendiri, “grammar was never merely grammar, but a path to divine alignment” — tata bahasa tidak pernah semata-mata tata bahasa, melainkan jalan menuju keselarasan dengan yang ilahi.
















