Cekricek.id — Sebuah kitab setebal 13 halaman terbit di Kairo pada 1921. Ukuran kertasnya 38 x 19,5 sentimeter. Isinya soal tauhid, ditulis dengan huruf Arab, tetapi bahasanya bukan Arab dan bukan pula Melayu — melainkan bahasa Sunda. Judulnya Ieu Kitāb ‘Aqā’id Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, dan penulisnya seorang ulama kelahiran Bogor yang saat itu mengajar di Masjidil Haram.
Kitab itu bukan satu-satunya. Setidaknya sebelas kitab berbahasa Sunda beraksara pegon terbit di Mesir antara 1921 dan 1939, semuanya dicetak penerbit yang sama, dan sebagian besar biaya cetaknya ditanggung seorang pemilik toko buku di Cirebon.
Rangkaian penerbitan itu ditelusuri Jajang A. Rohmana, guru besar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, lewat artikel Sundanese kitāb printed in early-twentieth-century Egypt as evidence of Islamic transregional networks (Kitab berbahasa Sunda yang dicetak di Mesir awal abad ke-20 sebagai bukti jaringan Islam lintas kawasan), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 2 pada 2025.
Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Kapal Uap, Terusan Suez, dan Kebutuhan Buku
Latar peristiwanya adalah perubahan cara orang pergi haji. Munculnya kapal uap dan dibukanya Terusan Suez pada 1869 memperpendek perjalanan sekaligus memperpanjang masa tinggal jemaah di Tanah Suci. Jumlah jemaah dan pelajar dari Kepulauan Melayu-Indonesia di Mekah pun melonjak pada awal abad ke-20, dan bersamaan dengan itu melonjak pula kebutuhan akan kitab. Rohmana mencatat, dalam keadaan seperti itu ketersediaan kitab cetak menjadi lebih penting daripada naskah tulisan tangan — dan tentu jauh lebih murah.
Komunitas perantau Nusantara di Mekah, yang dikenal sebagai Jāwī atau Jāwah, sangat beragam asal-usulnya. Para syekh menjawab keberagaman itu dengan memakai kitab yang dicetak di Mekah, Mesir, dan Turki, bukan hanya dalam bahasa Arab, melainkan juga dalam bahasa-bahasa Nusantara: Melayu, Jawa, Sunda, dan Madura.
Kairo menjadi salah satu pusat pencetakan buku paling awal di Timur Tengah. Di sana berdiri antara lain Maṭba‘ah Būlāq, al-Sharq, Ḥasan al-Ṭukhī, al-Azhariyyah, dan Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī wa Awlāduh. Yang terakhir inilah yang mencetak kesebelas kitab Sunda tadi. Penerbit itu didirikan Aḥmad al-Ḥalabī asal Halab, Suriah, pada 1859, dan masih bertahan sampai sekarang di bawah kepemilikan generasi keempat, meski tak lagi sesibuk dulu dan kini hanya mencetak kitab untuk kebutuhan mahasiswa Universitas al-Azhar.
Pada masa jayanya, al-Ḥalabī dikabarkan menerbitkan lebih dari 80 kitab karya ulama Jāwī. Namun angka itu tidak pernah terverifikasi seluruhnya: hanya 55 yang berhasil dilacak, dan sebagian lagi masih belum diketahui. Rohmana juga menulis terus terang bahwa tidak ada keterangan tentang berapa persisnya jumlah kitab karya ulama Sunda yang terbit di Mesir — sebuah pengakuan yang penting dibaca sebagai batas dari kesimpulan mana pun dalam artikel ini.
Tiga Ulama Sunda di Jaringan Timur Tengah
Tiga nama menjadi poros tulisan ini. Yang pertama Syekh Mukhtār ‘Aṭārid dari Bogor (1862-1930), bernama lengkap al-Shaikh Muḥammad Mukhtār ibn ‘Aṭārid al-Bughūrī al-Jāwī. Nama ayahnya, ‘Aṭārid, diduga bacaan Arab dari nama aslinya, Raden Natanagara; ayahnya putra Raden Adipati Wiratanudatar VI, bupati Cianjur. Mukhtār lahir di Bogor pada 13 Februari 1862, belajar dasar-dasar agama dari ayahnya, lalu pada 1882 berguru kepada Sayyid Uthman, mufti Batavia. Ia menunaikan haji, menetap di Mekah pada 1903, dan kemudian mengajar di Masjidil Haram. Sebuah laporan tahun 1910 menyebut ia salah satu dari delapan ulama Jāwī yang mengajar di Haram dan digaji Syarif Mekah — jenis pengangkatan yang sebelumnya tidak mungkin terjadi. Ia wafat pada 8 Desember 1930 dan dimakamkan di Ma‘lāh, dekat makam Ibnu Hajar.
Yang kedua Muhammad Hasan Basri dari Sukabumi (1870-1948), yang keterangannya paling sedikit. Ia dijuluki Mama Ajengan Bintang karena menerima medali berbentuk bintang dari pemerintah kolonial Belanda. Ayahnya bernama Abdillah bin Sumapraja, dan ia keturunan Dalem Aria Wiratanudatar I, penyebar Islam di Cianjur pada abad ke-17. Hasan Basri disebut pernah belajar kepada Sayyid Uthman sekitar 1900, lalu mengajar di kediamannya di Babakan Kaum Cicurug, Sukabumi, tempat pengajian Tafsir al-Jalalain digelar secara rutin. Ia wafat pada 1948.
Yang ketiga Kiai Muhyiddin dari Pagelaran (1882-1973), atau Mama Pagelaran, yang berpindah-pindah antara Sumedang, Purwakarta, dan Subang. Ia lahir di Desa Banjargung, Limbangan, Garut, hampir bersamaan waktunya dengan letusan Gunung Krakatau. Ia belajar di berbagai pesantren di Garut, Cianjur, dan Bandung, menetap di Cikalama, Sumedang, pada 1893 setelah Bupati Sumedang meminta Bupati Garut mencarikan ulama untuk mengajar di wilayahnya, lalu berangkat ke Mekah sekitar 1900. Sepulangnya ia mendirikan Pesantren Cikalama, kemudian pindah ke Cimeuhmal, Tanjungsiang, pada 1918. Ia wafat pada 30 November 1973. Rohmana mencatat bahwa namanya kembali dikenal belakangan karena salah seorang cucunya, Ridwan Kamil, menjadi Wali Kota Bandung dan kemudian Gubernur Jawa Barat.
Ketiganya, tulis Rohmana, lahir dari keluarga terpandang di kalangan ménak atau elite Sunda — lapisan yang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 makin kuat pengaruh Islamnya, terbiasa salat teratur, berhaji, dan mengirim anak ke pesantren.
Batu Litografi dan Huruf Timbal
Cara kerja penerbitannya tergambar cukup rinci. Naskah dikirim penulisnya dalam bentuk tulisan tangan, lalu disalin ulang dengan tulisan yang lebih terbaca oleh juru salin profesional yang dipekerjakan penerbit. Nama juru salin yang kerap muncul — walau tidak jelas siapa dia sebenarnya — adalah ‘Alī Muḥammad al-Dibā‘. Salinan itulah yang menjadi induk untuk diperbanyak secara litografi. Adapun naskah yang tidak memuat terjemahan antarbaris dicetak dengan teknologi huruf lepas Arab yang lebih baru. Dua cara reproduksi ini, tulis Rohmana, memperlihatkan penerbit menyesuaikan diri dengan perkakas yang tersedia.
Ukurannya beragam. Ketiga kitab Mukhtār ‘Aṭārid semuanya hasil cetak huruf lepas: Ieu Kitāb ‘Aqā’id 13 halaman, Kifāyah al-Mubtadi‘īn 127 halaman dengan kertas 20 x 13,5 sentimeter, dan Hidāyah al-Mubtadi‘īn 60 halaman. Empat karya Hasan Basri terbelah dua: dua kitab dicetak dengan huruf lepas, dua lagi dilitografi dari tulisan tangan al-Dibā‘ lengkap dengan terjemahan antarbaris. Yang paling tebal di antaranya, Talkhīṣ al-Qawl al-Hathīth, berisi 400 hadis dalam 159 halaman. Tiga kitab Muhyiddin semuanya huruf lepas, yang tertebal Manāqib al-Shaikh Muḥy al-Dīn ‘Abd al-Qadīr al-Jīlanī setebal 171 halaman.
Baca juga: Istana Kesultanan Serdang Jadi Perumahan, Koordinatnya Meleset 10 Km
Al-Ḥalabī diperkirakan mencetak sekitar 3.000 eksemplar untuk tiap judul kitab Sunda ini — angka perkiraan, bukan angka pasti dari arsip. Kitab-kitab itu dijual ke berbagai toko buku di Singapura, Bombay, Sumatra, dan Jawa. Penerbit lokal menyebarkan katalog, menerima pesanan lewat pos, dan menjualnya kepada jemaah haji yang singgah di Singapura. Di Jawa Barat sendiri berdiri sejumlah toko buku: al-Miṣriyyah di Cirebon, Kairo di Tasikmalaya, Anda di Sukabumi, Kamus di Garut, dan Dahlan di Bandung.
Toko al-Miṣriyyah milik ‘Abdullāh bin ‘Afīf, yang berdiri pada 1896 di Jalan Pandjoenan Nomor 9 dan 11 Cirebon, menempati posisi khusus. Ia mengklaim diri sebagai toko buku Islam tertua dan terbesar di kawasan timur dunia. Selain menerbitkan dan menjual kitab, toko itu juga menjual sarung, serban, dan sajadah. Belakangan al-Miṣriyyah membeli hak cipta kitab-kitab Sunda cetakan Mesir itu dan menyebarkannya ke toko-toko lain di Jawa Barat. Alasan toko buku di Hindia meminta bantuan Mesir sederhana: pada awal abad ke-20 mereka belum punya mesin cetak yang setara dengan milik al-Ḥalabī.
Sunda yang Lempeng, Bukan Sunda yang Bersajak
Bagian paling menarik dari artikel ini justru soal pilihan bahasa. Kitab-kitab itu ditujukan untuk pemula — santri Jawa Barat yang belajar di Mekah maupun santri di pesantren Sunda — sehingga bahasanya sengaja dibuat sederhana, ringkas, dan praktis, memakai ragam Sunda loma dalam kalimat lancaran, kadang bercampur Melayu. Aksara pegonnya memakai harakat supaya mudah dibaca pemula.
Muhyiddin menjelaskan sendiri pilihan itu di pembuka al-Nasīb al-Mubārak: “Jeung tuluy ngazam kana nyundakeun ku bahasa Sunda anu lempeng anu ringkes anu gampang kahartina,” tulisnya dalam transliterasi yang dimuat Rohmana — kira-kira, ada tekad kuat untuk menyundakan dengan bahasa Sunda yang lempeng dan ringkas supaya mudah dipahami. Dalam kitab Manāqib ia menegaskan lagi bahwa terjemahannya tidak perlu diterjemahkan ulang, dan karena itu susunan kalimat Sundanya sengaja tidak dibuat persis mengikuti susunan nazam Arab.
Rohmana menyimpulkan bahwa Sunda yang dipilih Muhyiddin memang bukan Sunda puitis bernuansa sastra yang saat itu lazim dipakai kalangan ménak dalam wawacan atau dangding, melainkan Sunda yang langsung bisa dicerna, karena pembacanya memang orang yang baru mulai belajar agama.
Hasan Basri lebih terus terang lagi tentang siapa yang ia bidik. Di pembuka Risālah Ta’dīb al-Ṣibyān ia menulis, “Anapon sanggeus anu disebut, maka ieu nyaeta kitab leutik pepertelaan rukun-rukun Islam jeung iman kaula nyieun ieu kitab buat ngajar barudak pangharepan kaula ti Allah supaya ieu kitab jadi sabab dihampura dosa” — ini kitab kecil yang menerangkan rukun Islam dan iman, ditulis untuk mengajar anak-anak, dengan harapan Allah mengampuni dosanya. Mukhtār ‘Aṭārid pun menamai kitabnya Kifāyah al-Mubtadi‘īn, yang ia jelaskan sendiri berarti kecukupan bagi semua orang yang baru mulai belajar menghamba kepada Tuhan.
Ketiganya, catat Rohmana, secara khusus menyatakan tidak menyusun kitab dalam bentuk syarah, hasyiah, atau catatan pinggir sebagaimana lazim dilakukan ulama lain, melainkan ringkasan dan terjemahan Sunda atas kitab-kitab dasar karya ulama abad pertengahan mazhab Syafii yang bereputasi tinggi seperti al-Ghazali, al-Suyuti, al-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Haitami.
Kenapa Bahasa Sunda, dan Kenapa Berhenti
Sebelum abad ke-20, tulis Rohmana, ulama Sunda umumnya memakai bahasa Jawa untuk belajar dan mengajarkan ilmu agama. Munculnya kitab Sunda cetak tidak menggeser bahasa Jawa dari pesantren, tetapi memberi pilihan lain. Perkembangan ini berbarengan dengan bertambahnya pesantren Sunda di Jawa Barat, sehingga santri Sunda tak lagi harus ngetan — pergi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur — untuk menuntut ilmu. Sampai sekarang pesantren di Priangan masih membaca kitab dalam bahasa Sunda, Jawa, maupun Melayu.
Ada pula latar politik keagamaan yang tak bisa dilepaskan. Kitab-kitab itu lahir di tengah gejolak Timur Tengah awal abad ke-20: Kerajaan Saudi yang menganut paham Salafi-Wahabi menguasai Hijaz pada 1924 setelah wilayah itu berabad-abad dikuasai Utsmaniyah, sementara di Mesir bergema kritik pembaru seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Ketiga ulama Sunda itu merespons dengan meneguhkan doktrin Sunni tradisional mazhab Syafii. Mukhtār ‘Aṭārid membela taklid bagi yang bukan ahli ijtihad dan menolak pemurnian ajaran tarekat — sikap yang membuatnya berpolemik dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, koleganya di Mekah. Hasan Basri juga menganjurkan taklid kepada mazhab Syafii dan menolak tudingan bidah atas ritual istighasah. Muhyiddin menerjemahkan manakib Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang penuh kisah mistik, tepat karena kalangan pembaru menolak hal semacam itu.
Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran
Perjalanan kitab pegon Sunda ini berhenti relatif cepat. Sesudah 1940-an pemakaiannya mulai menurun, terdesak makin luasnya huruf Latin di sekolah pemerintah, buku, dan media massa. Aksara pegon lalu bertahan hanya di lingkungan terbatas pesantren tradisional. Cetakan berhuruf Latin, yang lebih mudah diakses, justru mempermudah jangkauan gerakan pembaruan Islam, dan pada gilirannya menantang kedudukan ulama sebagai satu-satunya sumber otoritas dalam pengajaran agama.
Rohmana menutup dengan catatan yang membatasi klaimnya sendiri: aliran pengetahuan itu memang timbal balik, sebab ulama Sunda bukan hanya menerima tradisi intelektual Timur Tengah, tetapi juga aktif mengomentari kitab Arab dalam bahasa Sunda lalu menerbitkannya di sana. Namun ia menegaskan hal itu tidak berarti penduduk Mesir atau Hijaz ikut terpengaruh kitab-kitab Sunda tersebut, kecuali mereka kebetulan berasal dari keluarga Sunda. Artikel ini juga bertumpu pada sebelas kitab dan tiga penulis, tanpa memaparkan bagian keterbatasan penelitian secara tersendiri.
















