- Inflasi tercatat searah dengan pendapatan per kapita pada jangka panjang maupun jangka pendek.
- Nilai tukar bertanda positif pada jangka panjang, tetapi berbalik negatif pada jangka pendek.
- Remitansi tidak terbaca berpengaruh pada pendapatan per kapita di kedua jangka waktu.
- Kesimpulan naskah menyebut nilai tukar jangka pendek tidak signifikan, berbeda dengan tabel estimasinya.
Daftar Isi
Cekricek.id — Remitansi kiriman warga dari luar negeri dan inflasi harga di dalam negeri tampak tidak bertalian, tetapi keduanya diuji berdampingan dalam satu kajian perangkap pendapatan menengah di empat negara ASEAN. Hasilnya berlainan. Inflasi tercatat searah dengan pendapatan nasional bruto per kapita pada jangka panjang maupun jangka pendek. Remitansi tidak terbaca berpengaruh pada keduanya.
Kajian perangkap pendapatan menengah itu ditulis Della Istikha Pramesti dan Muhammad Khoirrul Fuddin, keduanya dari Universitas Muhammadiyah Malang. Judulnya Understanding the Middle-Income Trap in ASEAN-4 Through GNI and Macroeconomic Indicators, terbit di Jurnal Economia Volume 22 Nomor 2 edisi Juni 2026, halaman 181 sampai 199. Naskahnya diterima pada 11 Desember 2024, direvisi 11 Juni 2025, dan disetujui 19 Desember 2025.
Empat negara yang diamati adalah Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina. Keempatnya dipilih karena disebut sebagai negara berkembang dengan pendapatan per kapita tertinggi di ASEAN pada 2023 yang masih berada di tingkat menengah. Di sisi lain, Singapura dan Brunei Darussalam disebut penulisnya sudah melampaui ambang 12.746 dolar Amerika Serikat dan masuk golongan berpendapatan tinggi.
Empat Negara, Satu Ambang 12.746 Dolar
Ukuran yang dipakai adalah pendapatan nasional bruto per kapita metode Atlas dari data Bank Dunia. Penulisnya memilih ukuran ini, bukan produk domestik bruto per kapita. Menurut mereka, penggolongan pendapatan inilah yang langsung menilai apakah sebuah negara bisa keluar dari perangkap pendapatan menengah. Golongan menengah bawah dimulai dari 1.045 dolar, menengah atas dari 4.125 dolar, dan golongan tinggi di atas 12.746 dolar.
Datanya tahunan, 1994 sampai 2023, sehingga tiap negara menyumbang 30 amatan dan seluruhnya berjumlah 120. Rata-rata pendapatan per kapita keempat negara selama tiga dekade itu 4.061,083 dolar, dengan simpangan baku 2.871,592. Angka terendahnya 570 dolar dan tertingginya 11.970 dolar. Dari rentang itu, penulisnya menyimpulkan keempat negara berada di tingkat menengah karena nilainya di bawah ambang golongan berpendapatan tinggi.
Pada gambar kedua naskahnya, garis Malaysia tampak paling dekat ke ambang atas, disusul Thailand, lalu Indonesia dan Filipina. Penulisnya mencatat keempat negara berhasil menaikkan pendapatan per kapita dalam beberapa dekade terakhir, tetapi pertumbuhannya cenderung melambat ketika mendekati ambang golongan menengah. Karena itu, mereka tetap digolongkan sebagai negara yang berada dalam perangkap pendapatan menengah.
Baca juga Uang Elektronik Menaikkan PDRB per Kapita, Dana BPR Tidak
Empat Peubah, Satu Model Koreksi Galat
Empat hal diuji sebagai penggerak: investasi portofolio, remitansi, nilai tukar resmi, dan inflasi harga konsumen. Investasi portofolio dan remitansi diukur dalam dolar Amerika Serikat, sedangkan inflasi dalam persen. Seluruh peubah disebut sudah diubah ke logaritma natural, kecuali yang sudah berbentuk persen. Penulisnya menyebut keempat faktor itu mungkin penyebab utama perangkap pendapatan menengah. Faktor-faktor itu disebut menghambat peralihan ke status negara berpendapatan tinggi.
Alatnya model koreksi galat vektor panel, yang memisahkan hubungan jangka panjang dari jangka pendek. Sebelum model dipasang, tiap deret diuji apakah sudah diam atau masih bergeser sepanjang waktu. Pada tingkat aslinya, pendapatan per kapita berpeluang 0,9982 dan remitansi 0,0708, keduanya di atas batas 0,05 sehingga belum diam. Investasi portofolio, nilai tukar, dan inflasi sudah diam sejak tingkat aslinya.
Sesudah diselisihkan satu kali, kelimanya berpeluang di bawah 0,05. Pendapatan per kapita turun ke 0,0012, remitansi ke 0,0007, nilai tukar ke 0,0001, sedangkan investasi portofolio dan inflasi sama-sama 0,0000. Panjang jeda yang dipilih delapan periode, karena pada jeda itu nilai kriteria informasi Akaike paling kecil, yakni 44,52563. Uji kointegrasi Johansen kemudian dipakai untuk memeriksa hubungan jangka panjang.
Statistik jejak pada hipotesis pertama 158,2263, melampaui nilai kritis lima persen 69,81889. Penulisnya menyebut empat hipotesis berikutnya juga berpeluang di bawah 0,05, sehingga hipotesis nol ditolak dan data dinyatakan punya hubungan jangka panjang. Ambang untuk menilai pengaruh tiap peubah adalah nilai t tabel 1,980808, yang dihitung dari 120 amatan pada peluang 0,05.
Jangka Panjang, Tiga Searah dan Satu Diam
Pada jangka panjang, tiga peubah melewati ambang itu. Inflasi mencatat nilai t tertinggi, 6,81346, dengan koefisien 0,162852. Nilai tukar menyusul dengan nilai t 4,57033 dan koefisien 1,513528, lalu investasi portofolio dengan nilai t 3,10696 dan koefisien 3,28E-11. Ketiganya bertanda positif. Remitansi berdiri di sisi lain dengan koefisien −0,075888 dan nilai t −0,62136, jauh di bawah ambang.
“Karena itu, ketiga peubah ini bermakna ketika terjadi kenaikan nilainya (investasi portofolio, nilai tukar, dan inflasi) searah dengan kenaikan nilai pendapatan nasional bruto per kapita dalam jangka panjang di ASEAN-4,” tulis Pramesti dan Fuddin. Untuk remitansi, mereka menulis sebaliknya: “Perubahan pada peubah remitansi tidak akan memengaruhi nilai pendapatan nasional bruto per kapita di ASEAN-4 dalam jangka panjang.”

Penjelasan yang dipakai untuk kedua peubah positif itu berbeda. Inflasi yang moderat di negara berkembang disebut bisa merangsang kegiatan ekonomi lewat dorongan investasi dan belanja, sehingga menghasilkan pendapatan. Pada kasus kedua, nilai tukar disebut bisa mengubah neraca perdagangan dan memengaruhi tingkat kegiatan ekonomi serta pendapatan per kapita. Untuk remitansi, penulisnya menyebut ketidakpastian arus kiriman bisa menurunkan partisipasi angkatan kerja.
Jangka Pendek, Dua Bergerak dan Dua Diam
Pada jangka pendek, susunannya berubah. Nilai tukar tetap melewati ambang, tetapi tandanya berbalik: koefisiennya −0,353742 dengan nilai t −3,03629. Inflasi tetap searah, dengan koefisien 0,004121 dan nilai t 2,71320. Investasi portofolio, yang pada jangka panjang terbaca, kini hanya mencatat nilai t 0,88990. Remitansi tetap diam dengan koefisien −0,025523 dan nilai t −0,84095.
Baca juga Nilai Tukar Rupiah Bergerak Ikut Uang Beredar, Bukan Bunga
“Nilai tukar merugikan pendapatan nasional bruto per kapita, artinya ketika nilai tukar naik, dampaknya berlawanan terhadap pendapatan nasional bruto per kapita,” tulis kedua peneliti. Inflasi dibaca sebaliknya: kenaikan atau penurunannya disebut searah dengan perubahan pendapatan per kapita. Untuk investasi portofolio, penulisnya menyebut sumbangannya dibatasi strategi kebijakan ekonomi nasional yang belum mengelola arus modal secara memadai.
Uji tanggapan terhadap guncangan memberi dua gambaran yang juga berlainan. Tanggapan pendapatan per kapita terhadap guncangan nilai tukar disebut berayun di antara wilayah positif dan negatif. Lonjakan besarnya muncul pada selang tertentu. Pada kasus kedua, tanggapan terhadap guncangan inflasi disebut relatif kecil dan hanya bergoyang tipis sepanjang periode. Karena itu, penulisnya menilai pengaruh inflasi lemah pada jangka pendek hingga menengah.
Remitansi punya pola sendiri. Tanggapannya kecil di awal, naik perlahan, melonjak pada periode menengah, lalu turun tajam di ujung periode. Penulisnya membacanya sebagai tanda remitansi mungkin mendorong pertumbuhan pendapatan per kapita di awal, tetapi pengaruhnya tidak bertahan lama. Guncangan investasi portofolio juga disebut membuat tanggapan pendapatan per kapita naik-turun dan tidak stabil dari waktu ke waktu.
Yang Tertulis di Tabel, yang Tertulis di Kesimpulan
Beberapa bagian naskah kajian perangkap pendapatan menengah ini tidak saling cocok. Yang pertama menyangkut nilai tukar jangka pendek. Tabel estimasi mencatat nilai t −3,03629, melampaui ambang 1,980808, dan badan naskah menyebutnya berpengaruh negatif. Kesimpulan menulis kalimat lain: “Meskipun nilai tukar tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik dalam jangka pendek, ia tetap memiliki hubungan dengan pendapatan nasional bruto per kapita.”
Yang kedua menyangkut inflasi. Estimasi jangka pendek menandainya berpengaruh positif, tetapi uraian uji tanggapan menilai inflasi hanya berpengaruh kecil pada jangka pendek hingga menengah. Yang ketiga ada di tabel dekomposisi ragam galat ramalan. Naskah menyebut sumbangan pendapatan per kapita pada periode pertama 0,0039 persen, sedangkan tabelnya mencatat 0,040615. Sumbangan nilai tukar pada periode kedua ditulis 0,018482 persen, padahal tabel mencatat −0,008233.
Tabel yang sama memuat banyak angka negatif, sampai −0,082827 untuk nilai tukar pada periode ke-29, padahal naskah membaca isinya sebagai sumbangan tiap peubah. Yang keempat, angka terendah pendapatan per kapita 570 dolar berada di bawah batas golongan menengah bawah 1.045 dolar, tetapi keempat negara tetap disebut berada di tingkat menengah. Kalimat lain di naskah menulis angka tertingginya sebagai 1,1970 dolar.
Baca juga Remitansi Pakistan Naik 13 Persen jadi USD3,6 Miliar, Arab Saudi Penyumbang Terbesar
Yang kelima, tabel statistik deskriptif mencatat inflasi tertinggi 545,1984 persen dengan simpangan baku 5,886931, serta rata-rata nilai tukar 2.505,432, sedangkan badan naskah menulis 2.502,432. Tabel estimasi hanya menampilkan satu jeda untuk tiap peubah, padahal jeda yang dipilih delapan. Uraian uji jeda merujuk ke Tabel 4, padahal hasilnya ada di Tabel 5, dan pengenal DOI naskah memuat nomor 1, bukan 2.
Perangkap Pendapatan Menengah dari Dua Sisi Waktu
Penulisnya mengakui batas kajian perangkap pendapatan menengah itu. “Namun, keterbatasan penelitian ini mencakup penggunaan data agregat yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan dinamika wilayah atau sektor, serta keterbatasan dalam mengukur faktor kelembagaan,” tulis Pramesti dan Fuddin. Mereka menyarankan penelitian berikutnya menggali peubah kelembagaan seperti mutu tata kelola dan kebijakan fiskal, serta kajian mikroekonomi untuk membuka perbedaan antarsektor.
Hasil kajian perangkap pendapatan menengah itu disebut penulisnya sebagai titik berangkat praktis bagi kebijakan. Fokusnya pada inovasi, diversifikasi ekonomi, dan peningkatan mutu sumber daya manusia untuk mempercepat peralihan menjadi negara berpendapatan tinggi. Model yang diuji sendiri hanya memuat empat peubah tadi, tanpa ukuran inovasi, diversifikasi, maupun sumber daya manusia.
Dari dua sisi waktu itu, gambaran perangkap pendapatan menengah di Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina tidak tunggal. Pada jangka panjang, investasi portofolio, nilai tukar, dan inflasi tercatat searah dengan pendapatan per kapita. Pada jangka pendek, inflasi tetap searah, nilai tukar berbalik arah, dan investasi portofolio tidak lagi terbaca. Remitansi menjadi satu-satunya peubah yang diam di kedua sisi.















