Timbangan Bersuara UNAIR Bantu Barista Tunanetra

A A

Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga memperagakan timbangan bersuara AURIS. [Foto: Humas UNAIR]

Cekricek.id — Rencana awal tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) itu adalah membuat tongkat pintar untuk penyandang disabilitas netra. Rencana tersebut batal setelah mereka turun ke lapangan dan menemukan kebutuhan yang jauh berbeda: sebuah timbangan yang bisa bersuara.

Dari temuan itu lahir AURIS, kependekan dari Auditory Responsive Intelligent Scale, timbangan pintar buatan Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR. Alat tersebut dirancang khusus agar barista tunanetra dapat menakar kopi secara presisi tanpa bergantung pada penglihatan. Dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, unair.ac.id, Selasa (18/8/2026), alat itu dikembangkan bersama Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya dan diuji langsung di unit usaha kopi milik komunitas tersebut, KopiCék.

Baca juga: Pemukim Israel Dirikan Pos Baru di Tepi Barat, PBB Bersuara

Berawal dari Salah Duga

Perubahan arah proyek terjadi karena tim memilih berdiskusi lebih dulu dengan calon pengguna alih-alih langsung merancang alat berdasarkan asumsi. Hasil percakapan dengan komunitas menunjukkan bahwa kendala paling mendesak justru muncul di meja penyeduhan, bukan di jalan.

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” kata Jessica Rahma Valere Satyo, perwakilan Tim Rasena sekaligus mahasiswa Teknik Elektro FTMM UNAIR angkatan 2024.

Mengubah Berat Menjadi Bunyi

AURIS bekerja dengan mengubah data berat yang dibaca load cell menjadi informasi audio secara langsung. Pengguna terlebih dahulu menetapkan target takaran. Ketika proses penuangan dimulai, buzzer berbunyi terus-menerus dan baru berhenti saat berat yang diinginkan tercapai. Dengan cara itu, barista cukup mengandalkan pendengaran untuk mengetahui kapan takaran kopi sudah tepat.

Proses penyempurnaan alat tidak berjalan mulus. Kualitas suara dan tingkat presisi sempat bermasalah sehingga jadwal sosialisasi kepada komunitas harus ditunda. Tim juga menerima sejumlah keluhan dari pengguna yang kemudian dijadikan bahan perbaikan, termasuk mendesain ulang bodi hasil pencetakan tiga dimensi agar lebih mudah dibuka ketika alat perlu diperbaiki.

Baca juga: Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong

Perbaikan bahkan dilakukan sampai dini hari, langsung di markas komunitas mitra, demi memastikan alat siap dipakai pada hari sosialisasi.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” kata Jessica Rahma Valere Satyo.

“Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan AURIS menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” ujarnya.

Satu Unit untuk Layanan Inklusif Kampus

Pengembangan AURIS didanai melalui program UNAIR SustainAction, yang juga memberi tim akses fasilitas dan dukungan sarana selama pengerjaan. Sosialisasi resmi alat tersebut digelar secara luring di kampus UNAIR dan dihadiri Wakil Dekan I FTMM, Prof Dr Ni’matuzahroh Dra.

Baca juga: UNP Gelar Sertifikasi Kompetensi Barista, Baker, dan Butcher Mahasiswa

Ke depan, tim berencana menyerahkan satu unit AURIS kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) UNAIR sebagai bagian dari uji lanjutan sekaligus pengembangan berikutnya.

“Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka,” kata Jessica Rahma Valere Satyo.

Bagikan

Baca Juga

Cegah Obesitas di Sekolah Putri Riyadh Terganjal Kantin dan Panas
Main Ponsel Sejam Sebelum Tidur, Mahasiswa Tiongkok Kurang Lelap
Jalan Depan Sekolah Ditutup, Orang Tua Parkir Jauh dan Jalan Kaki
Kenangan Pelajaran Olahraga di Sekolah Terbawa sampai Dewasa
Remaja Tiongkok Tenang bila Harapan Sekolah Seirama Orang Tua
PR dan Les Murid Guangzhou Berkurang Sebentar lalu Naik Lagi