Jejak Bohong dalam Berita Palsu Berbahasa Prancis

A A

Ilustrasi tangan memegang smartphone yang menampilkan sebuah artikel berita. [Foto: Canva]

Daftar Isi
  1. Cara Sumber Dihilangkan dari Kalimat
  2. Cara Kata Menakutkan Dipilih
  3. Cara Penghubung Logika Menghilang
  4. Di Mana Pembaca Masih Tertipu

Cekricek.id — Sebuah artikel berbahasa Prancis menghabiskan beberapa paragraf tentang apa yang dilakukan Bill Gates terhadap kebijakan vaksin dunia, dan tidak sekali pun mengutipnya. Tidak ada wawancara. Tidak ada dokumen yang ditunjuk, tidak ada tanggal, tidak ada pejabat yang membantah atau membenarkan. Pembacanya tetap merasa sedang membaca laporan, dan yang hilang dari teks semacam itu jarang disadari secepat yang tertulis di dalamnya.

Merry Andriani dari Universitas Gadjah Mada dan Zoe Deloye dari Université Sorbonne Nouvelle menghitung ketiadaan itu satu per satu. Keduanya menulis Scrutinizing deceits in fake news within French alternative news media using forensic linguistics, yang terbit di jurnal Diksi Vol. 34 No. 1 halaman 89 sampai 104 pada 2026. Yang mereka periksa bukan benar tidaknya isi berita, melainkan bentuk bahasanya. Linguistik forensik lazimnya dipakai untuk menelaah surat, pesan, catatan tulisan tangan, dan rekaman dalam penyidikan; di sini alat yang sama diarahkan ke artikel berita.

Bahannya tiga artikel dari tiga media alternatif Prancis yang lebih dulu dinyatakan memuat berita palsu. Ketiganya terbit di France Reinfo pada 9 Juli 2022, Le Courrier des Stratèges pada 22 Februari 2022, dan FranceSoir pada 16 Januari 2023. Status ketiganya dikonfirmasi lewat kanal pemeriksa fakta yang disediakan media arus utama Prancis, antara lain milik AFP, Le Figaro, dan France 24. Di sisi pembaca, keduanya mengumpulkan kuesioner, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah dengan 21 penutur Prancis yang tinggal di Jakarta dan Yogyakarta.

Komunitas itu punya bentuk yang cukup jelas. Data Konsulat Prancis yang dikutip papernya menyebut sekitar 400 keluarga Prancis tinggal di Jakarta dan sebagian besar bekerja sebagai perwakilan perusahaan atau lembaga, sekitar 200 keluarga di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kebanyakan pensiunan atau pengusaha kecil, serta lebih dari 600 keluarga di Bali yang banyak bekerja jarak jauh. Koran dan majalah berbahasa Prancis nyaris tidak tersedia di Indonesia. Kabar dari negara asal hampir seluruhnya datang lewat layar.

Kerangka penghitungannya diambil dari Newman dan koleganya, yang menyusun tiga dimensi bahasa yang biasa menyertai kebohongan. Pertama, rujukan yang sedikit, termasuk rujukan pada diri sendiri. Kedua, kata-kata beremosi negatif yang lebih banyak. Ketiga, penanda kompleksitas kognitif yang sedikit, misalnya kata sambung yang menata logika kalimat. Dasarnya sebuah dugaan lama dalam psikologi bahasa: berbohong menuntut beban kognitif tambahan, dan beban itu meninggalkan jejak pada kelancaran serta susunan kalimat.

Cara Sumber Dihilangkan dari Kalimat

Ilustrasi seseorang mencatat di buku tulis di samping sebuah mikrofon.
Ilustrasi seseorang mencatat di buku tulis di samping sebuah mikrofon. [Foto: Pexels]

Ketiga artikel itu bersama-sama menyumbang 475 satuan frasa yang dianalisis, dan 156 di antaranya masuk kategori tanpa rujukan yang memadai. Penyumbang terbesar adalah artikel Le Courrier des Stratèges tentang industri farmasi, yang sendirian memuat 287 frasa dengan 92 di antaranya tanpa rujukan. Rujukan yang ada pun kerap tidak lengkap. Yang paling menonjol, menurut kedua peneliti, tidak ada satu pun kutipan langsung dari tokoh yang namanya disebut dan dibicarakan panjang lebar di dalam teks.

Baca juga Metafora Bumi Manusia yang Pudar dalam Bahasa Jerman

Contohnya paragraf tentang Bill Gates tadi. Kalimatnya berbunyi, dalam terjemahan yang disertakan kedua peneliti, “Barangkali karena, sepanjang dekade 2010-an, Bill Gates memberikan pengaruh yang selama ini kurang untuk menyusun strategi serba-vaksin secara global.” Kalimat itu dibuka dengan kata barangkali dan diakhiri tanda tanya, lalu diteruskan sebagai keterangan pada kalimat-kalimat sesudahnya. Dugaan naik derajat menjadi keterangan tanpa satu pun sumber yang bisa diperiksa pembaca.

Media alternatif tumbuh bersama keterbukaan informasi dan permintaan akan sudut pandang di luar arus utama. Persaingan yang cepat membuat sebagian di antaranya meninggalkan prinsip kerja jurnalistik, dan yang muncul kemudian adalah berita palsu, disinformasi, serta judul sensasional yang dirancang untuk diklik. Linguistik forensik masuk lewat celah itu. Alih-alih memeriksa fakta satu per satu, ia memeriksa cara sebuah teks dibangun.

Cara Kata Menakutkan Dipilih

Dimensi kedua adalah yang paling sering muncul, dengan 176 frasa. Artikel FranceSoir tentang trombosis dan pil kontrasepsi memakai kosakata medis yang benar sebagai istilah: komplikasi, efek yang tidak diinginkan, patologi, dan pembekuan darah akibat fibrin berlebih. Istilah-istilah itu dipakai tanpa merujuk kasus yang sudah didokumentasikan lembaga berwenang. Di tengah pandemi, kata semacam itu membawa rasa cemas lebih dulu daripada membawa informasi, dan pembaca yang tidak akrab dengan istilah ilmiah cenderung menerimanya tanpa penilaian.

Kosakata menakutkan tidak selalu berasal dari kedokteran. Artikel France Reinfo bekerja dengan ancaman lain, yaitu hilangnya kedaulatan, lewat kalimat tentang kehendak membentuk tata kelola global dan negara berdaulat yang menyerahkan kewenangan nasionalnya kepada badan-badan regional. Ancaman semacam itu tidak bisa dibuktikan salah dengan cepat, dan tidak perlu dibuktikan benar untuk terasa mendesak. Kedua peneliti mencatat sifat menakut-nakuti ini muncul di berbagai bidang berita palsu, dari politik dan ekonomi sampai kesehatan, keamanan, dan pangan.

Cara Penghubung Logika Menghilang

Dimensi ketiga paling sedikit muncul, dengan 67 frasa, dan justru yang paling teknis. Dalam bahasa Prancis tulis, konektor logis merupakan bagian pokok tata bahasa sekaligus ukuran mutu sebuah teks. Di ketiga artikel itu kedua peneliti tidak menemukan konektor logis yang semestinya ada pada teks yang utuh. Yang tersisa hanya dua kata sambung paling dasar, mais dan et, yang berarti tetapi dan dan, dan keduanya diletakkan di awal kalimat, sesuatu yang tidak selalu diterima dalam morfosintaksis Prancis.

Baca juga Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan

Kesalahan tata bahasa ikut terbaca sebagai penanda. Pada salah satu kalimat, subjek tunggal disandingkan dengan bentuk kata kerja untuk subjek jamak, sehingga yang seharusnya est ditulis sont. Kesalahan semacam itu, tulis kedua peneliti, menurunkan mutu teks sekaligus mempertanyakan kebenaran informasi yang dibawanya. Alat ini tidak menuduh siapa pun berbohong. Ia hanya menunjukkan bahwa teksnya tidak dibangun seperti teks yang hendak dipertanggungjawabkan.

Penjelasan mengapa jejak itu ada datang dari psikologi. Teori empat faktor Zuckerman dan koleganya menyebut kebohongan menambah beban kognitif, dan beban tersebut memengaruhi kelancaran berbahasa. Penelitian Gullberg dan koleganya pada 2024 menemukan kebohongan tertulis ditandai jeda yang panjang, revisi berulang, dan kalimat yang lebih sering ditulis ulang. Loconte dan koleganya pada 2023 menemukan narasi palsu kerap tidak koheren dan menunjukkan beban kognitif yang menonjol.

Alat itu sendiri bisa menjangkau lebih jauh daripada halaman berita. Analis linguistik forensik menelaah surat, surel, pesan teks, catatan tulisan tangan, atau rekaman suara untuk memperkirakan identitas, lokasi, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, bahkan kondisi emosi penulisnya. Teknik yang sama dipakai untuk memeriksa percakapan telepon dan pesan daring dalam penyidikan perkara. Yang dilakukan Andriani dan Deloye adalah memindahkan cara kerja itu dari ruang sidang ke kolom berita.

Di Mana Pembaca Masih Tertipu

Di sisi pembaca, hasilnya tidak seburuk yang diduga dan tidak sebaik yang diharapkan. Dari 21 responden penutur Prancis di Jakarta dan Yogyakarta, 90,5 persen pernah menemui berita palsu di media sosial dan portal berita daring, dan 85,7 persen menyatakan bisa mengenalinya. Sebanyak 14,3 persen tidak bisa membedakan berita asli dan berita palsu di media yang mereka baca, padahal mayoritas responden berpendidikan tinggi. Media sosial dipakai 71,4 persen responden dan portal berita daring 57,1 persen, sementara tautan di media sosial hampir selalu bermuara ke portal.

Baca juga Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata

Cara mereka memeriksa pun bergantung pada mesin pencari. Responden yang merasa bisa mengenali berita palsu umumnya menelusuri ulang lewat situs verifikasi milik media besar Prancis, yang menandai berita palsu dengan label intox atau infox. Situs semacam itu tersedia, tetapi belum menjadi refleks ketika pembaca berhadapan dengan berita yang meragukan. Kedua peneliti mencatat situs verifikasi pun bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan berita palsu dalam skala yang lebih besar.

Kekeliruan juga tidak berhenti di media alternatif. Pada 18 April 2022 beredar unggahan di platform X yang mengatasnamakan BBC News dan mengutip Presiden Emmanuel Macron seolah menyatakan Eropa harus menerima sampai 60 juta pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah dalam dua puluh tahun akibat sanksi terhadap Rusia. Unggahan itu memakai foto Macron dan menyebar cepat di tengah kecemasan ekonomi karena perang di Ukraina. Keasliannya bisa ditelusuri di platform verifikasi, dan di sanalah ia gugur.

Pemerintah Prancis merespons keadaan itu dengan membangun mekanisme investigasi jurnalistik bernama Journalisme de Vérification bersama UNESCO dan asosiasi jaringan jurnalisme global. Wujudnya yang paling terlihat adalah kolom pemeriksa fakta yang kini rutin muncul di portal berita, media cetak, maupun siaran. Persoalannya, kolom semacam itu bekerja sesudah beritanya menyebar.

Alat ini punya batas yang diakui sendiri oleh penyusunnya. Penelitiannya dikerjakan pada akhir masa pandemi 2022 dengan jumlah responden terbatas dan akses media yang terbatas pula, sehingga hanya mencakup penutur Prancis di dua kota serta tiga media alternatif yang terbit antara Januari 2022 dan Januari 2023. Dua puluh satu orang bukan gambaran seluruh pembaca berbahasa Prancis, dan tiga artikel bukan gambaran seluruh media alternatif di Prancis. Kedua peneliti juga mencatat metode deteksi berita palsu yang memadai dan bisa diandalkan belum ditemukan sampai sekarang.

“Ketiadaan rujukan atau sumber informasi seharusnya menjadi peringatan bagi pembaca mengenai keandalan informasi yang disajikan dalam berita itu,” tulis Andriani dan Deloye dalam simpulannya. Nama besar yang disebut berkali-kali tetapi tidak pernah sekali pun diberi kesempatan berbicara adalah bentuk paling sopan dari ketiadaan tersebut.

Bagikan

Baca Juga

199 Ujaran Kebencian di Kolom Komentar TikTok
Makian Warganet Diukur dengan Pasal 27A UU ITE
160 Ujaran Kebencian di Kolom Komentar Bobby Nasution
Mistral AI Raih Pendanaan 3 Miliar Euro Dipimpin Samsung
Makian Warganet Dibaca Lewat Linguistik Forensik
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik