- Modal sosial mencatat koefisien jalur tertinggi, 0,537, terhadap kesejahteraan nelayan Gerokgak.
- Orientasi kewirausahaan juga berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,269.
- Peran pemerintah tidak berpengaruh langsung secara signifikan, dengan koefisien 0,017 dan nilai p 0,853.
- Pemakaian TIK oleh nelayan masih terbatas pada komunikasi dasar dengan sesama nelayan atau pengepul.
- Populasi ditulis 1.730 nelayan di bagian metode, tetapi 1.327 orang di abstrak dan pendahuluan.
Daftar Isi
- Kuesioner yang Dibagikan kepada Nelayan Kembali Utuh Seluruhnya
- Modal Sosial Menjadi Penentu Terkuat Kesejahteraan Nelayan Gerokgak
- Nelayan Berorientasi Kewirausahaan Kuat Cenderung Berpenghasilan Lebih Stabil
- Bantuan Pemerintah Belum Terasa dalam Ekonomi Harian Nelayan
- Nelayan Gerokgak Memakai Perangkat Digital Sebatas untuk Berkomunikasi
Cekricek.id — Penghasilan keluarga nelayan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, berkisar Rp1,2 juta sampai Rp2 juta per bulan. Sebagian besar keluarga nelayan di sana masih berpenghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten Buleleng 2025, yakni Rp2.996.561. Penghasilan serendah itu membatasi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, sehingga kesejahteraan nelayan di tingkat rumah tangga belum optimal.
Gerokgak adalah kecamatan terluas di Buleleng. Garis pantainya 76,89 kilometer, terpanjang di Provinsi Bali, dari total 157,05 kilometer garis pantai Buleleng. Penduduk yang bermata pencarian nelayan di kecamatan ini juga terbanyak di Buleleng, yaitu 1.327 orang. Meski begitu, sumbangan Gerokgak terhadap produk domestik regional bruto kabupaten relatif kecil.
Pada 2023, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 21,54 persen PDRB Buleleng. Setahun kemudian porsinya turun menjadi 20,90 persen, karena harga produknya tumbuh relatif lambat dibanding sektor lain. Pada 2024 itu pula ekonomi Buleleng tumbuh 3,64 persen dengan PDRB Rp24,83 triliun.
Enam peneliti kemudian menguji apa yang menentukan kesejahteraan nelayan di kecamatan itu. Lima orang berasal dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali: Kadek Rai Suwena, M. Rudi Irwansyah, Made Ary Meitriana, I Putu Arya Dharmayasa, dan I Wayan Suwendra. Linda Yupita berasal dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Primakara, Bali.
Hasilnya terbit dengan judul Influence of entrepreneurial orientation, government role, and social capital on fishermen’s welfare di Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan volume 27 nomor 1, April 2026, halaman 216–240. Empat faktor diuji dalam naskah itu: orientasi kewirausahaan, peran pemerintah, modal sosial, dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi atau TIK.
Dua faktor berpengaruh positif dan signifikan, yaitu modal sosial dan orientasi kewirausahaan. Peran pemerintah tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. TIK juga tidak memperkuat maupun memperlemah pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kesejahteraan para nelayan.
Kuesioner yang Dibagikan kepada Nelayan Kembali Utuh Seluruhnya
Penelitian ini memakai desain metode campuran eksplanatori sekuensial. Tahap pertama berupa survei yang diolah secara kuantitatif dengan SEM-PLS. Tahap kedua berupa wawancara semiterstruktur yang dianalisis dengan perangkat lunak NVivo, untuk menjelaskan dan memberi konteks yang lebih dalam bagi temuan angka.
Sampel minimum dihitung dengan G*Power versi 3.1.9.7. Dengan ukuran efek 0,15, taraf signifikansi 0,05, dan kekuatan statistik 0,95, sampel minimum untuk model dengan tiga prediktor adalah 119 responden. Para peneliti lalu membagikan 165 kuesioner kepada nelayan. Semuanya kembali dan terisi lengkap, sehingga tingkat tanggapannya 100 persen.
Responden dipilih dengan teknik sampel acak proporsional, yaitu diambil dari tiap subpopulasi sesuai besarnya. Di bagian metode, populasi penelitian ditulis berjumlah 1.730 nelayan. Angka itu berbeda dari 1.327 orang yang tercantum di abstrak dan pendahuluan naskah yang sama. Naskah tidak menjelaskan selisih keduanya.
Baca juga ABK Teri Krakahan Pulang dengan 75,30 Persen UMK
Setiap variabel diukur dengan skala Likert lima poin, dari 1 untuk sangat tidak setuju sampai 5 untuk sangat setuju. Orientasi kewirausahaan, peran pemerintah, modal sosial, dan penerapan TIK masing-masing diukur dengan tiga indikator. Kesejahteraan nelayan diukur dengan empat indikator.
Naskah mendefinisikan kesejahteraan sebagai keadaan ketika kebutuhan dasar manusia terpenuhi, baik material, sosial, fisik, maupun spiritual. Modal sosial didefinisikan sebagai sumber daya komunitas berupa kepercayaan, norma, nilai, jaringan sosial, dan hubungan timbal balik yang memungkinkan terbentuknya kerja sama dan solidaritas.
Sebelum hipotesis diuji, kecocokan model diperiksa. Nilai SRMR tercatat 0,079, sedikit di bawah ambang 0,08. Karena nilainya mendekati batas, para penulis meminta kecocokan model ditafsirkan dengan hati-hati. Temuan mereka disebut masih awal dan perlu divalidasi dengan sampel yang lebih besar atau lebih beragam.
Modal Sosial Menjadi Penentu Terkuat Kesejahteraan Nelayan Gerokgak
Hasil pengujian hipotesis tersaji dalam empat baris. Modal sosial mencatat koefisien jalur 0,537 dengan nilai p 0,000. Interval kepercayaan 95 persennya berada di rentang 0,376 sampai 0,651, seluruhnya di wilayah positif. Di antara semua variabel prediktor, koefisien modal sosial yang tertinggi.
“Modal sosial muncul sebagai variabel paling dominan yang memengaruhi kesejahteraan nelayan di Kecamatan Gerokgak,” tulis Suwena dan rekan-rekannya di bagian pembahasan, halaman 233–234. Menurut mereka, komunitas nelayan ini sangat bergantung pada rasa saling percaya, jaringan kerja sama, dan solidaritas antaranggota untuk berbagi informasi lokasi tangkapan serta bertukar peralatan.
Orientasi kewirausahaan berada di urutan berikutnya dengan koefisien 0,269 dan nilai p 0,000. Peran pemerintah hanya 0,017 dengan nilai p 0,853. Suku interaksi TIK dengan orientasi kewirausahaan bernilai 0,064 dengan nilai p 0,515. Dua hasil terakhir tidak signifikan karena nilai p-nya di atas 0,05.
Model struktural itu menjelaskan 36,3 persen ragam kesejahteraan nelayan, dengan R2 sebesar 0,363. Para penulis menggolongkannya sebagai daya jelas tingkat sedang. Di bagian kesimpulan, mereka mengakui bahwa porsi yang cukup besar dari ragam kesejahteraan belum terjelaskan oleh prediktor yang dipakai.
Pembahasan naskah memberi contoh cara kerja modal sosial. Kepercayaan antarnelayan memungkinkan mereka berbagi informasi lokasi tangkapan, kondisi cuaca, dan harga pasar. Informasi lokasi dan cuaca membuat kegiatan melaut lebih efisien. Efisiensi itu dapat menekan biaya melaut, sehingga margin pendapatan bersih yang diterima lebih besar.
Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga
Tahap wawancara menyusul sesudah survei. Informan kuncinya satu tokoh masyarakat dari tiap desa di Gerokgak, seluruhnya 12 orang. Dari pengodean NVivo, indikator jaringan pada modal sosial menjadi yang terpenting dengan nilai 60 persen. Jaringan sosial yang luas, tulis para peneliti, memberi nelayan akses lebih besar ke modal informal, pasar, dan lembaga pendukung.
Tabel ringkasan yang sama mencatat angka cakupan untuk 17 simpul. Sesudah jaringan, angka tertinggi ada pada simpul mengakses TIK dengan 057 dan simpul inovatif pada orientasi kewirausahaan dengan 056. Angka itu ditulis dalam tiga digit, dan hanya angka jaringan yang dibaca naskah sebagai persen.
Nelayan Berorientasi Kewirausahaan Kuat Cenderung Berpenghasilan Lebih Stabil
Orientasi kewirausahaan dalam penelitian ini berarti kecenderungan bertindak inovatif, proaktif, dan berani mengambil risiko dalam mengejar peluang baru. Koefisiennya 0,269 dengan nilai p 0,000. Interval kepercayaan 95 persennya 0,115 sampai 0,396 dan tidak memuat angka nol, sehingga hipotesis kedua didukung.
Menurut para penulis, nelayan dengan orientasi kewirausahaan yang kuat cenderung berpenghasilan lebih stabil, lebih mampu memenuhi kebutuhan keluarga, dan lebih berpeluang meningkatkan pendidikan serta kesehatan anggota rumah tangga. Mereka menyebut orientasi kewirausahaan sebagai faktor kunci untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan di Gerokgak secara berkelanjutan.
Naskah memberi contoh dari lapangan. Saat melaut, nelayan berinovasi dengan memakai GPS fish finder untuk memperoleh informasi lokasi ikan. Sebelum berangkat, nelayan mencari informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Informasi itu dipakai untuk memutuskan berangkat atau tidak, sekaligus menghindari risiko saat menangkap ikan.

Keberanian mengambil risiko, menurut naskah, tampak dalam keputusan usaha, misalnya mencoba teknologi penangkapan baru atau bekerja sama dengan pihak lain untuk memperluas jaringan pemasaran. Sikap inovatif juga disebut mendorong pengolahan pascapanen yang menambah nilai, sehingga ketergantungan pada harga komoditas mentah yang mudah bergejolak berkurang.
Bantuan Pemerintah Belum Terasa dalam Ekonomi Harian Nelayan
Peran pemerintah diuji sebagai hipotesis ketiga. Koefisiennya 0,017 dengan nilai p 0,853. Interval kepercayaan 95 persennya membentang dari minus 0,217 sampai 0,173, melintasi angka nol. Dengan hasil itu, peran pemerintah tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap kesejahteraan nelayan di Gerokgak.
Para penulis mencatat pemerintah sudah bertindak sebagai regulator, fasilitator, dan pemberi bantuan, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya terasa dalam kehidupan ekonomi harian komunitas nelayan. “Salah satu penyebabnya, pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah masih bersifat umum dan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan khusus nelayan di Kecamatan Gerokgak,” tulis mereka di bagian pembahasan, halaman 232.
Kebijakan Ekonomi Biru dijadikan contoh. Kebijakan dengan prinsip pemanfaatan sumber daya laut yang lestari secara ekologis dan ekonomis itu, menurut naskah, gagal menaikkan pendapatan nelayan. Alasannya, pendapatan nelayan sebagian besar ditentukan faktor seperti pengalaman melaut dan kondisi cuaca.
Baca juga Dari Dayung ke Mesin, Perubahan Alat Tangkap Nelayan Danau Kerinci Sejak 1970
Bantuan berupa infrastruktur, subsidi, dan program pemberdayaan juga disebut sering tidak berkelanjutan dan minim pendampingan intensif. Akibatnya, bantuan itu belum mampu langsung menaikkan produktivitas, pendapatan, atau kemandirian nelayan. Para penulis menyimpulkan kebijakan pemerintah lebih berfungsi sebagai faktor pendukung tidak langsung.
Pada data wawancara, simpul pemerintah sebagai fasilitator bernilai 028, dinamisator 009, dan regulator 004. Simpul ketidaksesuaian peran pemerintah tercatat 016. Naskah mengusulkan agar peran pemerintah diarahkan ke program yang lebih tepat sasaran, partisipatif, dan berfokus pada penguatan kapasitas nelayan.
Nelayan Gerokgak Memakai Perangkat Digital Sebatas untuk Berkomunikasi
Hipotesis pertama menguji apakah TIK memoderasi pengaruh orientasi kewirausahaan. Koefisien suku interaksinya 0,064 dengan nilai p 0,515. Interval kepercayaannya dari minus 0,150 sampai 0,242, melintasi nol. Artinya, TIK tidak memperkuat maupun memperlemah hubungan orientasi kewirausahaan dengan kesejahteraan nelayan.
Para penulis menduga penyebabnya pemakaian perangkat digital yang belum optimal dan belum strategis. “Pemakaian TIK saat ini masih terbatas pada komunikasi dasar dengan sesama nelayan atau pengepul, bukan memanfaatkan teknologi untuk kecerdasan pasar, peningkatan nilai produk, atau pengembangan usaha yang lebih luas,” tulis mereka di bagian pembahasan, halaman 229.
Faktor tradisional seperti pengalaman melaut, akses ke sumber daya alam, dan jaringan sosial setempat tampak lebih dominan membentuk kesejahteraan di wilayah ini. Menurut naskah, menyediakan akses TIK saja tidak cukup. Tanpa perbaikan literasi digital dan pendampingan teknis berkelanjutan, teknologi akan tetap menjadi alat pinggiran.
Beberapa bagian naskah tidak saling cocok. Subjudul pembahasan di halaman 229 berbunyi bahwa TIK memoderasi pengaruh orientasi kewirausahaan, padahal paragraf di bawahnya menyatakan tidak. Jalur langsung TIK ke kesejahteraan tercantum di Tabel 7, tetapi tidak dilaporkan di Tabel 8. Penomoran tabel juga melompat dari Tabel 4 ke Tabel 6.
Tabel 7 memuat lima jalur menuju kesejahteraan, sedangkan hitungan sampel minimum memakai tiga prediktor. Halaman 228 menyebut pertanyaan penelitian kelima yang turut memeriksa kinerja usaha, variabel yang tidak diukur di bagian metode. Waktu pengisian kuesioner dan wawancara juga tidak disebut dalam naskah.
Di bagian kesimpulan, para penulis menulis keterbatasan penelitiannya. “Desain potong lintang dan satu lokasi membatasi inferensi kausal dan membatasi keberlakuan temuan untuk wilayah lain,” tulis mereka di halaman 236. Sebagian ragam kesejahteraan yang belum terjelaskan juga mereka catat sebagai keterbatasan berikutnya.
Usul untuk penelitian berikutnya ditulis paling akhir. Isinya data longitudinal dari berbagai kabupaten pesisir di Indonesia, variabel yang lebih banyak, dan model struktural yang lebih kompleks.















