Dari Dayung ke Mesin, Perubahan Alat Tangkap Nelayan Danau Kerinci Sejak 1970

Seorang nelayan berdiri di perahu kayu sambil menebar jala di permukaan air saat matahari terbenam

Seorang nelayan menebar jala dari perahu kayu saat matahari terbenam. [Foto: Canva/southtownboy]

Cekricek.id — Yahya Arsyad masih ingat bagaimana rasanya melaut sebelum 1997. Perahu dayung tradisional menuntut tenaga besar dan waktu lama hanya untuk sampai ke titik-titik terbaik menangkap ikan di Danau Kerinci. Tahun itu ia menerima bantuan pemerintah berupa perahu bermesin, dan menurut pengakuannya, segalanya berubah.

Perubahan semacam itu tidak datang sendiri. Ia bagian dari kebijakan nasional bernama Revolusi Biru, yang diperkenalkan pemerintahan Orde Baru lewat Rencana Pembangunan Lima Tahun sejak 1969 dan mulai menyentuh sektor perikanan pada 1970. Yang menarik, kebijakan yang biasanya dibicarakan dalam konteks nelayan pesisir itu juga mengubah kehidupan nelayan perairan darat — termasuk di sebuah desa di tepi Danau Kerinci.

Perjalanan itu direkam Tejja Ari Putma, Midawati, dan Nopriyasman dari Universitas Andalas lewat artikel Revolusi Biru dan Perubahan-Perubahan Alat Tangkap pada Nelayan Desa Jujun, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci (1970-2022), yang terbit dalam jurnal Analisis Sejarah Vol. 15 No. 1 pada April 2025.

Danau Terbesar di Jambi

Danau Kerinci berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, pada ketinggian sekitar 783 meter di atas permukaan laut. Luasnya sekitar 46 kilometer persegi dengan kedalaman yang bisa mencapai 110 meter, dan secara administratif terbagi ke dalam dua kecamatan: Keliling Danau dan Danau Kerinci.

Potensi perikanannya diperkirakan mencapai 456 ribu kilogram ikan per tahun. Angka itu menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian utama bagi sekitar separuh penduduk di sekitarnya. Ikan yang dihasilkan antara lain barau, semah, dan nila.

Desa Jujun sendiri memiliki wilayah seluas 2.080,5 hektare, mencakup permukiman, kebun jeruk dan kulit manis, sawah, serta sektor perikanan. Di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Koto Baru, wilayah hasil pemekaran dari Jujun pada 2015; di timur dengan Desa Keluru; dan di barat dengan Desa Benik, yang secara adat masih bagian dari Jujun.

Baca juga: Kursi DPRD Kerinci Tetap Sepi Perempuan Meski Kuota 30 Persen Terpenuhi

Tahap Pertama: Ikan Banyak, Alat Tangkap Tetap Sederhana

Peneliti membagi penerapan Revolusi Biru di Keliling Danau ke dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung 1970 sampai 1980, dan isinya terutama penebaran benih.

Pada 1971, pemerintah pusat menebar 109 ribu ekor benih ikan di Danau Kerinci. Dua tahun kemudian, bantuan bibit ikan dan perahu kembali datang. Dari seluruh alokasi benih untuk danau-danau di Jambi kala itu, Danau Kerinci menerima porsi terbesar, sekitar 42 persen — di atas Danau Sipin, Danau Kenali, dan Danau Teluk.

Benih yang paling sering ditebar adalah ikan nila, dipilih karena mudah dibudidayakan dan tumbuh cepat.

Populasi ikan memang naik. Tetapi, seperti dituturkan seorang nelayan bernama Ali Dahar kepada peneliti, kenaikan itu belum banyak mengubah penghidupan nelayan, karena alat tangkap yang mereka miliki masih terbatas pada jaring dan perangkap ikan tradisional.

Jarak antara potensi dan hasil itu terbaca dari angka produktivitas. Danau Kerinci saat itu menghasilkan sekitar 1,4 kuintal ikan basah per hektare per tahun, sementara kolam budidaya bisa mencapai sekitar 10 kuintal. Total produksinya diperkirakan 1.300 ton ikan basah setahun untuk seluruh Kabupaten Kerinci.

Enceng Gondok, Ikan Koan, dan Sosialisasi di Gedung Desa

Pada 1984, Danau Kerinci menghadapi persoalan lain: enceng gondok meluas, menyempitkan ruang perairan dan menghambat aktivitas nelayan. Cara yang ditempuh pemerintah adalah menebar bibit ikan koan, jenis yang dikenal mampu mengendalikan pertumbuhan gulma air itu secara alami.

Setahun berikutnya, warga Desa Jujun dikumpulkan di gedung desa. Mujahidin, salah satu peserta, menuturkan kepada peneliti bahwa pertemuan pada 1985 itu berisi sosialisasi lingkungan, dengan penekanan agar warga menjaga kebersihan danau supaya tidak mengganggu daerah perikanan. Seusai sosialisasi, benih ikan seluang dan nila langsung ditebar ke perairan.

Tahap kedua Revolusi Biru, 1985 sampai 1997, membawa bantuan yang lebih beragam. Antara 1991 dan 1996, Pemerintah Provinsi Jambi memberikan keramba untuk budidaya ikan di perairan terbuka. Antara 1996 dan 1998, giliran alat tangkap: jala untuk perairan terbuka, bubu sebagai perangkap di dasar danau, pancing, dan serok untuk ikan kecil di dekat permukaan. Pada periode itu pula perahu bermesin mulai disediakan.

Catatan penerima bantuan pada 1997 yang dihimpun peneliti memuat empat nama nelayan Jujun — Mujahidin, Ali Dahar, Yahya Arsyad, dan Maradi — yang masing-masing menerima satu perahu dan jala.

Baca juga: Arsip Kolonial dan Tanda Alam, Dua Sumber yang Belum Dipakai untuk Mitigasi Marapi

Bubu Kayu Diganti Bubu Besi

Perubahan yang paling kasatmata terjadi setelah 1999, ketika bubu besi mulai dipakai. Bubu adalah perangkap pasif berbentuk kurungan tertutup yang diletakkan di dasar danau. Versi besinya lebih tahan lama dan lebih efisien daripada bubu kayu, dan menurut catatan peneliti, hasil tangkapan bisa mencapai 8 kilogram per hari.

Tetapi ada harga yang menyertainya. Peralihan ke bubu besi menaikkan biaya produksi dan membatasi akses nelayan kecil — catatan yang membuat gambaran modernisasi ini tidak sepenuhnya cerah.

Perubahan berikutnya menyangkut mobilitas. Pada 2001 penggunaan perahu bermotor mulai meluas di kawasan Danau Kerinci, dan pada periode 2005 sampai 2010 peralihan dari perahu dayung ke perahu bermesin makin merata. Dengan mesin, nelayan tidak lagi bergantung pada tenaga manusia atau angin, dan bisa menjangkau area tangkapan yang lebih luas dalam waktu lebih singkat.

Pada periode yang sama muncul bagan tancap dengan lampu — struktur yang dipancangkan di perairan dan memakai cahaya untuk menarik ikan pada malam hari.

Dua Puluh dari Tiga Puluh

Pada November 2010, Kementerian Kelautan menebar benih di Danau Kerinci: 100 ribu ekor ikan nilem, 20 ribu ekor jelawat, dan 3.000 ekor semah, disertai bantuan dana dan alat tangkap.

Sejak tahun itu, menurut data kelompok nelayan yang dihimpun peneliti, 20 dari 30 anggota telah beralih ke alat tangkap modern — bagan tancap, bubu, dan perahu bermotor. Sepuluh sisanya belum.

Baca juga: Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18

Rekonstruksi ini disusun dengan metode sejarah — pengumpulan sumber, kritik sumber, penafsiran, lalu penulisan — dengan bertumpu pada dokumen pembangunan daerah Jambi dan wawancara dengan nelayan Jujun yang mengalami langsung periode itu, di antaranya Ali Dahar, Mujahidin, dan Yahya Arsyad, yang diwawancarai sepanjang 2024. Dari sumber-sumber itu, pergantian alat tangkap nelayan Jujun beserta tahun-tahunnya dapat dilacak secara cukup rinci.

Baca Juga

Jari seorang pemilih yang telah dicelup tinta ungu seusai mencoblos dalam pemilihan umum di Indonesia
Kursi DPRD Kerinci Tetap Sepi Perempuan Meski Kuota 30 Persen Terpenuhi
Mesin ketik manual berwarna krem dengan tuts huruf terlihat jelas, diletakkan di atas meja kayu tua
Ketika Mochtar Lubis Mendorong Indonesia dan Malaysia Menyatukan Ejaan pada 1969
Deretan rak kayu berisi buku di sebuah perpustakaan universitas dengan lantai terang di depannya
Tiga Belas Sarjana Malaysia dari Jurusan Sejarah Unand dan Skripsi yang Mereka Tinggalkan
Tumpukan koran berusia seratus tahun dengan kertas menguning dan tepi yang sudah robek
Soenting Melajoe, Koran Perempuan Padang yang Menyebut Dirinya Taman
Mulut gua gelap di lereng berbatu yang tertutup lumut tebal dan serasah daun di dalam hutan
Lima Belas Gua Jepang di Bukit Pengklik dan Taktik Bertahan di Balik Lereng
Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18