Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18

Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta

Gedung bekas balai kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta, dilihat dari Lapangan Fatahillah di Kota Tua. Di lapangan inilah air mancur kota Batavia dulu berdiri. [Foto: Canva/Eddy Powito]

Cekricek.id — Pada 1773, pelukis Johannes Rach menggambar alun-alun di depan balai kota Batavia. Di tengahnya berdiri bangunan kecil berdenah segi delapan, dikelilingi pagar dan kolam. Di sekitarnya, orang-orang menimba air. Sebagian dari mereka adalah pemikul air, pekerja yang mengangkut air ke rumah-rumah yang jauh dari alun-alun.

Tiga puluh empat tahun sebelumnya, pelukis lain bernama Heydt menggambar alun-alun yang sama. Di lukisan 1739 itu, bangunan segi delapan tersebut tidak ada. Selisih dua lukisan itulah yang kini dipakai untuk menanggali salah satu infrastruktur air paling awal di kota yang sekarang bernama Jakarta.

Penelusuran itu dilakukan Argi Arafat dari Departemen Arkeologi, Universitas Indonesia, lewat artikel Air Mancur Publik Batavia sebagai Simpul Distribusi Air Bersih di Perkotaan Abad ke-18, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara (JANUS) Vol. 3 No. 2 pada 2025. Ia membaca air mancur di Stadhuisplein bukan sebagai hiasan pusat kota, melainkan sebagai simpul: titik tempat pipa, kebijakan, dan kebiasaan warga bertemu.

Kanal yang Melayani Tiga Fungsi Sekaligus

Untuk memahami kenapa air mancur itu penting, perlu dilihat dulu keadaan Batavia sebelumnya. Pada abad ke-18, kebutuhan air bersih kota dipasok lewat kanal-kanal yang berfungsi rangkap tiga: jalur transportasi, saluran drainase, sekaligus tempat pembuangan. Tidak ada pemisahan antara air bersih dan air kotor. Akibatnya bisa ditebak — kanal menjadi media penyebaran penyakit dan sumber banjir musiman.

Perbaikan datang lewat pembangunan waterleiding atau jaringan pipa air pada masa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Pekerjaannya dimulai pada 1743, dengan G.G. Duren sebagai insinyur yang bertanggung jawab atas pembangunan waterplaats dan jaringan pipanya. Sumber airnya adalah kanal Molenvliet, yang sudah hampir seabad menjadi bagian infrastruktur air kota.

Rancangan jalurnya sebenarnya sudah tergambar lebih awal. Peta Kaart van de Stad Batavia sekitar 1730 menunjukkan keberadaan waterplaats di kawasan Molenvliet sebagai hulu sistem, dengan jalur pipa lurus dari selatan menuju inti kota. Namun peta C.F. Reimer terbitan 1783 dan 1787 memperlihatkan jalur yang berbeda, lengkap dengan belokan 90 derajat di bagian hulu. Perbedaan itu ditafsirkan Argi sebagai bukti bahwa peta 1730 merekam rancangan awal yang belum sepenuhnya terwujud dan disesuaikan saat pembangunan berjalan.

Baca juga: Bandit Sosial, Protes Petani Jawa Zaman Kolonial

Dari Molenvliet ke Kasteel, Lewat Pipa Terakota

Berdasarkan arsip Belanda yang dirangkum sejarawan F. de Haan pada 1922, jaringan pipa terakota itu membentang dari waterplaats di Molenvliet, melewati Buitenstraat, Nieuwpoort, dan Binnenstraat, menuju Stadhuis, lalu ke Kasteel Batavia, dan berakhir di Waterkasteel di kawasan pelabuhan. Peta Reimer mencatat Kasteel memiliki waterkelder atau ruang bawah tanah penyimpan air.

Bukti fisiknya sempat muncul kembali pada 1882. Ketika parit baru digali di kawasan itu, jaringan pipa lama ditemukan dalam bentuk balok-balok persegi berlubang dengan sambungan timah. Catatan teknis itu menjelaskan bahwa air memang dialirkan secara tertutup dari simpul publik di Stadhuisplein menuju Kasteel — bukan lewat saluran terbuka yang rentan tercemar.

Sumber airnya sendiri dijaga dengan cara yang tidak main-main. Waterplaats di Molenvliet diamankan secara militer lewat pembangunan redut Batenburg dan pendirian benteng keliling Grietenburg pada 1741–1751. Tujuannya mencegah sabotase dan pencemaran sumber air, sesuatu yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Jan Pieterszoon Coen. Air bersih, dengan kata lain, dianggap urusan keamanan.

Bagaimana Tahun Pembangunannya Dipersempit

Air mancur itu tidak meninggalkan prasasti bertanggal. Penanggalannya disusun dengan cara lain: mencari titik ketika benda itu belum ada, lalu titik ketika benda itu sudah ada. Dalam arkeologi, batas bawah semacam ini disebut terminus post quem.

Lukisan Heydt sekitar 1739 memperlihatkan alun-alun Batavia tanpa bangunan segi delapan di depan Stadhuis. Lukisan Rach 1773 menampilkannya dengan jelas, lengkap dengan kolam dan kerumunan pemikul air. Rentang 1739–1773 itu lalu dipersempit oleh catatan De Haan bahwa pekerjaan waterleiding dimulai pada 1743, sehingga kemunculan air mancur mengerucut ke masa pemerintahan Van Imhoff yang berlangsung 1743–1750.

Arsip lain memperkuatnya. Katalog Atlas of Mutual Heritage yang memuat karya Rach mendeskripsikan pemandangan balai kota Batavia dengan air mancur, para pengangkut air, dan pejalan kaki di latar depan. Sementara kumpulan gambar dari masa Valentijn (1724–1726) menampilkan Stadhuis tanpa menyebut air mancur sama sekali.

Baca juga: Dari Baboe Menjadi Bidan Bersertifikat Negara

Air Mengalir ke Pusat Kekuasaan Lebih Dulu

Yang menarik dari temuan Argi adalah siapa yang dilayani jaringan itu. Data kartografis 1730 dan dokumentasi arsip memperlihatkan waterleiding sejak awal dirancang untuk melayani wilayah inti Batavia, dengan prioritas pada Stadhuis dan Kasteel Batavia — pusat pemerintahan dan pusat pertahanan.

Warga di luar lingkaran itu tetap bisa mengakses air, tetapi lewat perantara. Pemikul air mengambil dari kolam yang mengelilingi air mancur, lalu mengangkutnya ke rumah-rumah yang lebih jauh. Argi membaca susunan itu dengan bantuan actor-network theory, kerangka yang menautkan manusia, benda, dan aturan dalam satu jaringan: Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia yang mengesahkan anggaran, insinyur yang merancang pipa, pekerja galian yang menanam pipa terakota di bawah jalan, pemilik rumah di sekitar alun-alun, sampai para pemikul air.

Kesimpulan yang ia tarik: infrastruktur ini memang memperbaiki sanitasi, tetapi sekaligus mereproduksi ketimpangan akses air di Batavia. Pola itu, menurut kajian yang ia rujuk, berlanjut jauh setelah VOC bubar.

Digali 1973, Dibangun Ulang 1974

Air mancur yang berdiri di Taman Fatahillah hari ini bukan bangunan abad ke-18. Ia hasil rekonstruksi. Ceritanya bermula ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada masa Gubernur Ali Sadikin membentuk Dinas Museum dan Sejarah pada 1968 dan mulai menggarap penataan kawasan kota lama.

Pada 1973, penggalian arkeologis di lapangan depan balai kota menemukan fondasi air mancur beserta sistem pipanya. Temuan itu menjadi dasar rekonstruksi fisik yang dikerjakan pada 1973–1974, dengan lukisan Rach sebagai acuan bentuk. Lapangan tersebut difungsikan kembali sebagai ruang publik dan dinamai Taman Fatahillah, sementara gedung Stadhuis diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.

Laporan penggalian saluran terakota di kawasan yang sama mencatat temuan tiga pipa bermaterial timah serta struktur bata kuning di kotak gali KJA dan DW-Selatan, yang ditafsirkan sebagai bagian sistem waterleiding sebelum air dialirkan ke kota.

Karena objek yang berdiri sekarang adalah hasil rekonstruksi 1973–1974, pemeriksaan lapangan dalam penelitian ini dibatasi pada pengamatan kasatmata dan perbandingan arsip visual, tanpa uji laboratorium. Yang diamati antara lain pola ikatan bata, karakter penyelesaian permukaan, jejak aliran air, keausan lantai di sekeliling struktur, sampai keberadaan baut atau katup modern yang membedakan tangan abad ke-20 dari bentuk abad ke-18.

Baca juga: Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu

De Haan mencatat sisa-sisa air mancur asli masih dijumpai pada 1835. Setelah itu jejaknya menghilang dari permukaan sampai cangkul penggali menemukannya lagi hampir seabad setengah kemudian. Argi menutup artikelnya dengan dorongan agar simpul-simpul air bersejarah lain di kawasan Kota Tua ditelusuri dengan cara yang sama, karena jaringan air Batavia tidak bisa dibaca hanya dari sungai, kanal, atau perusahaan air minum.

Baca Juga

Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu
Sastrawan Minangkabau Darman Moenir saat wisuda pada 1989
Darman Moenir dan Novel yang Mengalahkan Budi Darma
Ratusan guci keramik amphora tertumpuk di dasar laut, tertutup endapan dan lumut setelah terendam ribuan tahun
Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Kompleks stupa bata tua berlumut berdiri di padang rumput yang dikelilingi hutan tropis berkabut
Candi Muara Takus, Menyingkap Jejak Sejarah Panjang Sekte Bhairawa hingga Islam di Tanah Melayu
Cungkup beratap gonjong Minangkabau di kompleks makam Tuanku Imam Bonjol, Desa Lotta, Minahasa
Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah
Stasiun kereta api di Afdeeling Limapuluh Kota pada masa Hindia Belanda
Jejak Kereta Api Payakumbuh yang Nyaris Hilang