Blug, Bluk, Bleg: Kecap Anteuran Sunda Dibaca dari Jepang

Ilustrasi percakapan dua perempuan berkebaya di beranda rumah panggung kayu Sunda dengan latar sawah berkabut pagi.

Ilustrasi percakapan dua perempuan berkebaya di beranda rumah panggung kayu Sunda dengan latar sawah berkabut pagi. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Orang Sunda tidak sekadar jatuh. Ia bisa jatuh blug, bisa jatuh bleg, bisa pula blak — terjerembab telentang di tanah kering. Kalau yang jatuh sebuah nangka besar dari pohonnya, bunyinya bluk. Kalau benda kecil dan ringan gugur tepat di depan hidung, pluk. Dan kalau benda itu tercebur ke kolam, bukan lagi pluk, melainkan plung.

Enam kata itu sama-sama bersuku satu, sama-sama menempel pada kata kerja yang berarti jatuh, dan sama-sama membedakan hal yang sebenarnya sangat rinci: siapa atau apa yang jatuh, seberapa berat massanya, seberapa nyaring bunyinya, dan apakah ia mendarat di tanah kering atau di air. Dalam tata bahasa Sunda, kata-kata semacam ini punya nama sendiri, yaitu kecap anteuran.

Kajian atas kata-kata itu dipaparkan Yuyu Yohana Risagarniwa, Hera Meganova Lyra, dan Rahmat Sopian, ketiganya pengajar di Universitas Padjadjaran, lewat artikel Sundanese “Kecap Anteuran” from the perspective of Japanese onomatopoeia (Kecap anteuran Sunda dari sudut pandang onomatope Jepang), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025. Mereka mengambil 65 kata dari kumpulan besar yang pernah dikumpulkan peneliti sebelumnya, lalu membacanya bukan dengan kacamata Eropa, melainkan dengan kerangka yang dipakai ahli bahasa Jepang.

Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas

Kata yang Mengantar Kata Kerja

Istilah kecap anteuran sendiri kira-kira berarti kata pengantar. T.F. Djajasudarma, yang pada 1986 menulis disertasi khusus tentangnya di Universitas Indonesia, mendefinisikannya sebagai kelas kata yang bertugas menerangkan kata kerja dengan menonjolkan aspek inkoatif — aspek yang menandai sesuatu baru saja mulai terjadi. Selain inkoatif, Djajasudarma juga mencatat aspek augmentatif (penumpukan atau kemajuan), prospektif (kemungkinan sesuatu terjadi atau tidak), perfektif (keadaan yang sudah selesai), dan frekuentatif (keadaan awal dari tindakan yang akan berulang-ulang).

Wujud kerjanya paling gampang dilihat lewat pasangan. Djajasudarma menyandingkan kuniang hudang dan koréjat hudang. Keduanya berarti bangun, tetapi kuniang melukiskan bangun yang pelan dan malas, sedangkan koréjat melukiskan bangun yang cepat dan mendadak. Pasangan kedua, bleg labuh dan blek labuh, sama-sama berarti jatuh: bleg meniru bunyi benda berat yang keras, blek meniru bunyi benda berat yang lunak.

Dua kelompok inilah yang oleh Djajasudarma dipisahkan menjadi kecap anteuran onomatopeik — yang secara bunyi mencerminkan cara pikiran menangkap suara — dan kecap anteuran non-onomatopeik, yang lebih berkaitan dengan citraan indrawi: pendengaran, penglihatan, gerak, penciuman, sampai keadaan batin. Sebelumnya, R. Momon Wirakusumah, Buldan Djajawiguna, dan M.O. Koesman pada 1957 sudah memasukkan kata-kata tiruan bunyi ke dalam dua kelas dari dua belas kelas kata Sunda yang mereka susun, yakni kecap anteuran dan kecap panganteur pagawéan. Dalam jung nangtung (‘bangkit, ia berdiri’) dan am ngahuap (‘lahap, ia makan’), kata jung dan am justru yang menegaskan bahwa tindakan itu sedang dimulai.

Kelas Kata yang Membuat Peneliti Eropa Angkat Tangan

Bahasa Sunda dituturkan sekitar 36,7 juta orang menurut data sensus yang dikutip para penulis dari A. Na’im dan H. Syaputra, menjadikannya kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia sesudah Jawa; di Jawa Barat sekitar 80 persen penduduk memakainya sehari-hari. Statusnya sebagai bahasa tersendiri sempat diperdebatkan: pada 1817 T.S. Raffles menggolongkannya sebagai dialek Jawa. Padahal jauh sebelumnya, pada 1513, penjelajah Portugis Tomé Pires yang mengunjungi Kerajaan Sunda sudah mencatat sebaliknya.

“Sebab bahasa Sunda bukan bahasa Jawa, dan bahasa Jawa bukan bahasa Sunda, meskipun hanya satu pulau yang dibelah oleh sungai Chi Manuk,” tulis Pires dalam catatan yang disunting A. Cortésão dan dikutip para penulis. Pendirian serupa dipegang M. Moriyama, yang oleh ketiga penulis dinilai paling objektif: “Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda pada abad ke-16, pendudukan oleh Kerajaan Mataram pada abad ke-17, dan kedatangan VOC, bahasa Sunda dipengaruhi oleh dua kekuatan budaya dominan itu. Namun, ia tetap menjadi bahasa yang berbeda,” tulis Moriyama, yang kutipannya dimuat dalam artikel tersebut dalam bahasa Inggris. Pengakuan resmi datang pada 1912, ketika pemerintah Hindia Belanda menetapkan bahasa Sunda yang dipakai di Bandung dan sekitarnya sebagai Sunda baku.

Para peneliti Belanda memang punya kepentingan memahami bahasa jajahan, dan mereka menabrak kelas kata yang satu ini sejak awal. J. Rigg, penyusun kamus Sunda pada 1862, menyebutnya sebagai ungkapan idiomatis: kata-kata bersuku satu yang umumnya terdiri atas tiga huruf, seperti bět, bus, del, des, kek, kop, rem, rep, ser, top, tut. Rigg menyerah saat mencari padanannya. “Kata-kata itu punya daya yang khas dan tidak dapat diterjemahkan dengan kata mana pun yang setara dalam bahasa Eropa, tetapi kecenderungan maknanya selalu ditunjukkan,” tulis Rigg dalam kamusnya, sebagaimana dikutip di dalam artikel itu dari naskah berbahasa Inggris.

S. Coolsma menyebut kelompok kata ini tusschenwerpsels alias kata tugas, yang mencakup interjeksi, onomatope, dan kata fungsi. D.K. Ardiwinata pada 1916 memasukkannya ke kategori kecap panganteur pagawéan. Djajasudarma mencatat bahwa istilah ungkapan idiomatis yang dipakai Rigg berisiko rancu dengan pengertian idiom yang lazim dipahami orang Sunda.

Kenapa Justru Jepang

Titik tolak ketiga penulis sederhana: bahasa Jepang punya perkara yang sebangun. Di sana kata-kata semacam itu disebut giongo-gitaigo, walau istilah onomatope lebih umum dipakai. Yang penting, dalam pandangan Jepang, onomatope tidak melulu tiruan bunyi; ia juga mewakili sensasi, persepsi, keadaan batin, dan gambaran suatu kegiatan.

Para penulis mengutip N. Yoshinaga untuk menjelaskan kelimpahan itu. “Dalam banyak pembahasan tentang ungkapan onomatopeik, dicatat bahwa bahasa Jepang tidak hanya memiliki sistem giongo dan giseigo yang berkembang baik untuk mewakili bunyi yang sebenarnya, tetapi juga aneka ragam gitaigo untuk melukiskan keadaan benda, sensasi manusia, dan emosi. Ciri kosakata ini memungkinkan konsep yang rumit diungkapkan secara ringkas dalam satu kata dengan onomatope,” tulis Yoshinaga dalam kutipan berbahasa Inggris yang dimuat artikel itu.

Kesejajaran itu bukan kesan sekilas. Dalam penelitiannya pada 2006, Risagarniwa menganalisis 1.145 kata onomatopeik Jepang dan menemukan 701 di antaranya berpadanan dengan kecap anteuran Sunda — sekitar 61 persen. Ia menyusunnya dalam sebuah daftar padanan ungkapan mimetik Jepang-Sunda. Menurut ketiga penulis, angka itulah yang menjelaskan gejala yang selama ini dianggap ganjil: pelajar bahasa Jepang asal Jawa Barat cenderung lebih mengandalkan kamus Sunda-Jepang ketimbang kamus Indonesia-Jepang.

Baca juga: Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda

Ada pula kasus yang menarik justru karena kedua tradisi berbeda pendapat. Kata clé dipakai untuk melukiskan sesuatu yang kecil duduk di antara yang lebih besar, misalnya seorang anak perempuan mungil yang duduk di antara kedua orang tuanya sambil mengulum permen. Djajasudarma menggolongkan clé sebagai kecap anteuran, tetapi bukan onomatope. Padanannya dalam bahasa Jepang, chokon, justru digolongkan sebagai onomatope yang berkaitan dengan gerak tubuh. Hal serupa terjadi pada nyéh untuk senyum, yang padanannya nikott dianggap onomatope oleh sumber Jepang.

Tamparan, Tegukan, dan Angin Selatan

Kekayaan yang dibicarakan itu terasa begitu contoh-contohnya dibentangkan. Untuk bunyi tamparan di pipi saja ada empat kata bersuku dua yang berbeda kadar keras bunyi dan kekuatan tangannya: kaplok paling sedang, gaplok lebih keras, gampleng lebih keras lagi, dan jeprot paling keras dengan tenaga paling besar. Kalau pukulan mendarat bukan di pipi, kosakatanya berganti lagi: habek untuk pukulan sekuat tenaga di tengkuk, lalu jebét, jebot, dan jebrod yang menaik kerasnya; jekék khusus untuk tebasan golok.

Minum pun punya deretnya sendiri, dibedakan oleh bunyi dan kecepatan mulainya: rot untuk tegukan yang pelan bunyinya dan sekejap, regot sedikit lebih nyaring, leguk lebih nyaring lagi, dan suruput yang bersuku tiga untuk seruputan panjang. Untuk keluarnya cairan ada clak (setetes air jatuh tegak lurus), crot (cairan kental seperti ludah, mendatar), curulung (air mengalir deras dan lama), dan golokgok (cairan kental dalam jumlah besar).

Tangis dibedakan menurut usia dan kualitasnya: nging untuk tangis anak, ngék untuk bayi, segruk untuk tangis tertahan yang biasanya keluar dari orang yang lebih tua. Batuk orang dewasa berdahak berbunyi oho-oho, batuk kering uhu-uhu. Rasa nyeri punya gradasi sendiri: jeletot untuk nyeri sedang, jedud untuk nyeri yang sangat hebat, celetit untuk nyeri seperti ditusuk benda tajam. Sensasi ada yang merayap di badan bahkan dipilah menurut makhluknya — gilisir untuk yang tak berkaki seperti ular, gagaranyaman untuk yang lebih besar seperti laba-laba, gegerenyeman untuk semut, geleser-geleser untuk kutu di kepala.

Angin pun bukan satu kata. Hiliwir adalah angin sepoi yang menyejukkan; gelebug adalah angin ribut yang menghantam pepohonan. Cara berjalan dibedakan antara langgéor yang anggun dan gandeuang yang berwibawa dan biasanya dilekatkan pada laki-laki; cara berlari dibedakan antara tereleng, telenjeng, tirilik, torolong, dan berebet.

Enam Laci Milik Tamori

Kerangka yang dipakai ketiga penulis untuk menata semua itu berasal dari I. Tamori, yang pada 1991 membagi onomatope Jepang mengikuti klasifikasi Kindaichi menjadi dua rumpun besar. Rumpun pertama, Onomatope (S) atau Sound, memuat tiruan bunyi, dan terpecah menjadi giseigo (suara manusia atau binatang) dan giongo (bunyi benda mati atau lingkungan). Rumpun kedua, Onomatope (M) atau Mentality, memuat kata-kata yang tidak meniru bunyi, dan terbelah lagi menjadi gijougo — yang berhubungan dengan pengalaman indrawi, mencakup kankaku untuk sensasi dan kanjou untuk emosi — serta higijougo, yang mencakup giyougo untuk gerak makhluk hidup dan gitaigo untuk gerak benda mati.

Dengan enam laci itu, ke-65 kecap anteuran yang dipilih menemukan tempatnya masing-masing. Nging, ngék, dan segruk masuk ke giseigo, berpadanan dengan aan, an, dan shikushiku. Deretan kata jatuh, tamparan, tegukan, dan ledakan masuk ke giongo; blug berpadanan dengan dosun, plung dengan dobon untuk jatuh ke air. Rasa nyeri dan rasa dirayapi masuk ke kankaku: jeletot berpadanan dengan zukin yang menyatakan nyeri berintensitas tinggi, celetit dengan chikutt yang lebih ringan. Kemarahan masuk ke kanjou: nyel berpadanan dengan katt, sedangkan médénghél yang menyatakan marah berkepanjangan berpadanan dengan kaatt. Senyum, rebahan, jalan, dan lari masuk ke giyougo: belenyeh berpadanan dengan nikori, goléhé dengan derett. Angin masuk ke laci terakhir: hiliwir berpadanan dengan pyuupyuu, gelebug dengan byuubyuu.

Yang dipertegas para penulis adalah pembedanya sama persis di kedua bahasa. “Dalam bahasa Sunda, kata kerja labuh (jatuh) dipakai untuk manusia, sedangkan murag (jatuh) dipakai untuk benda,” tulis mereka dalam artikel itu dalam bahasa Inggris. Volume bunyi, besar-kecil benda, kelenturan, dan jenis permukaan yang ditimpa — empat hal itu membedakan blug dari bluk dari plung, dan empat hal itu pula yang membedakan padanan-padanan Jepangnya.

Enam Puluh Lima dari Empat Ratus Dua Puluh

Hasil rekapitulasinya: dari 65 kata yang dianalisis, 42 masuk kategori Onomatope Sound. Sisanya tersebar di kategori Mentality, dengan rincian lima kata di giseigo, enam di kankaku, dua di kanjou, delapan di giyougo, dan dua di gitaigo. Kesimpulan para penulis: seluruh enam kategori dalam kerangka Tamori terisi oleh kecap anteuran Sunda, sehingga bahasa Sunda dapat dipandang relatif setara dengan bahasa Jepang bila diperiksa lewat onomatope Jepang.

Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota

Perlu dicatat bahwa ini bukan pemetaan yang tuntas, dan para penulisnya mengatakan sendiri hal itu. Angka 65 diambil dari 420 kecap anteuran yang dicatat Djajasudarma, sementara Djajasudarma sendiri memperkirakan jumlah keseluruhannya bisa melampaui 1.400 kata. Artinya, sebagian besar perbendaharaan ini belum pernah diuji dengan kerangka mana pun, dan kesejajaran yang mereka simpulkan berlaku untuk contoh yang mereka pilih, bukan otomatis untuk seluruh khazanah. Metodenya pun kualitatif-deskriptif, tanpa perhitungan angka, dan bertumpu pada data yang sudah dikumpulkan peneliti terdahulu ketimbang penjaringan tuturan baru di lapangan.

Karena itu, saran yang mereka ajukan bersifat metodologis: peneliti berikutnya sebaiknya memakai kerangka Tamori sebagai alat analisis, karena masih banyak kecap anteuran penanda kata kerja di luar 65 kata itu yang belum digarap. Temuan lain yang mereka tegaskan adalah soal penerjemahan — menurut mereka, pelajar bahasa Jepang penutur Sunda bisa jadi merasa lebih mudah menerjemahkan bahasa Jepang ke bahasa Sunda daripada ke bahasa Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi saung bambu di tepi ladang huma pada malam hari.
Semalam di Huma Baduy, Mendengarkan Carita Pantun
Ilustrasi halaman mushaf terbuka di atas rehal kayu berukir di ruang bernuansa Sunda.
Alquran Basa Sunda Lancaran dan Tuduhan Melanggar Batas
Ilustrasi rumah panggung beratap ijuk di kampung adat Banten dengan hutan berkabut di latar.
Orang Baduy Bukan Pelarian Pajajaran, Kata Naskah Kuno
Ilustrasi panggung kesenian tradisi Sunda di halaman terbuka pada malam hari.
Ketika Festival Seni Tasikmalaya Pindah ke YouTube
Ilustrasi sekelompok pria berusia lanjut bersorban duduk melingkar di atas karpet di halaman berdebu.
Tetua Suku Afghanistan: Kuat di Desa, Sunyi di Kabul
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada batu pasir.
Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi