Ngatag, Seruan Adat Bugbug yang Makin Pendek

A A

Ilustrasi jalan desa di Bali yang dihiasi penjor dengan gapura pura di kejauhan. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Tiga Hari sebelum Sangkepan, Suara Itu Berjalan dari Pura ke Undagan
  2. Kalimat Panjang yang Dipotong karena Tak Lagi Sanggup Dihafal
  3. Denda Lima Ratus yang Tak Pernah Dihitung sebagai Uang

Cekricek.id — Tiga hari sebelum rapat adat, seorang lelaki berdiri di depan pura di tengah Desa Bugbug dan mulai berseru. Ia tidak mengetuk pintu satu per satu. Ia melempar suaranya ke arah timur dan barat, cukup keras supaya terdengar sampai ke rumah-rumah di sekitarnya, lalu menutup seruannya dengan satu kalimat yang membuat orang berhenti mengerjakan apa pun: yang tidak datang, kena lima ratus. Tidak ada yang bertanya lima ratus apa. Semua orang di desa itu sudah tahu, dan justru di situ perkaranya.

Seruan itu bernama Ngatag, dan kalimat yang dipakai untuk menyampaikannya baru saja dibongkar dua peneliti. Ni Komang Aryani dari STKIP Agama Hindu Amlapura bersama Suwarna Dwijonagoro dari Universitas Negeri Yogyakarta menulis Meaning structure and dialectal features in the speech of the Ngatag tradition in Bugbug village, Karangasem, Bali, yang terbit di jurnal LITERA Vol. 25 No. 2 pada 2026. Yang mereka periksa bukan upacaranya, melainkan tujuh baris kalimat yang diserukan Kasinoman kepada Krama Ngarep menjelang Sangkepan Desa.

Tiga Hari sebelum Sangkepan, Suara Itu Berjalan dari Pura ke Undagan

Ilustrasi seorang lelaki berbusana adat Bali lengkap dengan udeng.
Ilustrasi seorang lelaki berbusana adat Bali lengkap dengan udeng. [Foto: Pexels]

Sangkepan Desa adalah rapat adat yang digelar di Pura Bale Agung dan dianggap sakral. Waktunya tidak ditentukan sembarangan. Ia mengikuti sistem kalender Bali, tepatnya siklus tiga hari yang disebut triwara, dan jatuh pada hari Beteng yang berimpit dengan pinanggal ping 7, ping 9, atau ping 11. Seruan Ngatag dilepas tiga hari sebelum tanggal itu, mengikuti pola waktu yang sama persis. Dalam praktik semacam ini, waktu tidak sekadar menandai kapan sesuatu terjadi. Ia ikut mengatur kapan warga harus bersiap, dan siapa yang boleh menganggap dirinya belum diberi tahu.

Kata Ngatag sendiri berakar pada bentuk tag atau atag, yang berarti mengajak atau memberi tahu. Dalam pemakaian sehari-hari di Bugbug, maknanya melebar jauh dari akar itu. Yang diserukan Kasinoman bukan undangan yang bisa ditolak dengan sopan, melainkan pemberitahuan yang sekaligus menegaskan kewajiban bersama. Kedua peneliti menyebut Ngatag berfungsi sebagai sarana informasi sekaligus penegas kewajiban kolektif, dan justru gabungan dua fungsi itulah yang membuat kalimatnya disusun sedemikian rupa.

Yang menyerukan disebut Kasinoman, yaitu warga yang memikul kewajiban adat karena mengurus tanah desa, baik sebagai pemilik maupun sebagai penggarap. Yang diseru disebut Krama Ngarep, anggota inti desa adat yang memegang kewajiban adat. Dua peneliti itu mengumpulkan bahannya lewat rekaman ucapan, catatan lapangan, pengamatan terlibat, dan wawancara mendalam, lalu menyilangkan ketiganya untuk menguji kecocokan. Empat narasumber utama mereka wawancarai: Jro Wayan Terang Pawaka (65), I Nengah Binder (62), I Komang Kota (58), dan I Karinu Tariug (65). Dua nama pertama Krama Ngarep sekaligus prajuru adat, dua nama terakhir Kasinoman yang menyerukan sendiri kalimat itu.

Baca juga Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook

Titik-titik tempat Ngatag diserukan pun tidak dipilih asal. Seruan dilepas di depan pura di pusat desa dan di beberapa titik undagan di sepanjang jalur Telaga Ngembeng, mengikuti pola ruang yang dikenali dalam struktur adat setempat. “Titik-titik itu sejak lama menjadi tempat Ngatag, karena suaranya bisa terdengar ke seluruh desa,” kata Jro Wayan Terang Pawaka kepada peneliti. Yang dipertimbangkan bukan kebetulan geografis, melainkan sejauh mana suara bisa sampai. Di tiap titik, Kasinoman menyerukan kalimatnya keras dan jelas supaya warga di sekitarnya mendengar. Ngatag adalah komunikasi publik yang terikat pada ruang dan pada daya jangkau telinga pendengarnya.

Undagan sendiri merujuk pada titik-titik di jalur desa yang dahulu merupakan bagian jalan menanjak. Jalannya sudah berubah. Titiknya tidak. “Meski jalannya sudah tidak seperti dulu, titik-titik Undagan tetap diingat dan dipakai,” kata I Komang Kota, Kasinoman berusia 58 tahun itu. Ruang dalam Ngatag, tulis kedua peneliti, bukan semata ruang fisik, melainkan ruang budaya yang dijaga lewat ingatan bersama warga. Sebuah tanjakan yang sudah lama rata tetap dipakai menentukan di mana seseorang harus berhenti berjalan dan mulai bersuara.

Kalimat Panjang yang Dipotong karena Tak Lagi Sanggup Dihafal

Bentuk lengkap seruan itu terdiri atas tujuh unsur. Dibuka penanda sasaran, Jero Bali Desa Kanginan Kawan, yang menunjuk rumah-rumah warga di bagian timur dan barat desa. Menyusul dua penanda keadaan: lamun enu di Palukun, jika masih berada di Palukun, nama tempat yang merujuk sawah; dan nu melayar nganggo perahu jong biduk keber bidak, masih berlayar dengan perahu layar tradisional. Unsur keempat menyebut penanda bunyi, matenggeran suaran bedug tambur kulkul. Baru sesudah itu datang ajakan berkumpul, syarat, dan akibatnya.

Menurut Jro Wayan Terang Pawaka, bentuk itu diwariskan turun-temurun dan bahkan mengacu pada bentuk lebih tua yang tercatat dalam prasasti desa adat. “Bentuk ucapan ini sudah ada sejak lama dan tidak boleh diubah sembarangan,” katanya. Kalimat itu diucapkan seorang prajuru adat berusia 65 tahun tentang sesuatu yang, pada saat yang sama, sudah berubah. Sebab yang diserukan Kasinoman hari ini bukan lagi tujuh unsur. Tinggal empat.

Yang hilang justru bagian yang paling banyak menyimpan gambar. Palukun dengan sawahnya lenyap. Perahu layar jong biduk keber bidak lenyap. Bunyi bedug, tambur, dan kulkul yang dulu dipakai sebagai penanda juga lenyap. Yang bertahan hanya empat: penanda sasaran, ajakan berkumpul beserta keterangan waktu, syarat, dan akibat. Secara struktur, inti pesannya utuh dan fungsi sosialnya tidak bergeser. Yang rontok adalah dunia yang dulu tersimpan di dalamnya, yaitu sawah, laut, dan bunyi tabuh yang menandai jam.

Baca juga Pengalaman Belanja Menentukan Loyalitas di Silungkang

Alasannya dua, dan keduanya datang dari keterangan narasumber. Versi lama terlalu panjang untuk dihafal generasi sekarang. Selain itu, susunan masyarakat Bugbug berubah. Dulu warganya didominasi nelayan dan petani dengan cara hidup yang lebih seragam. Kini pekerjaan mereka beragam dan mobilitasnya tinggi, sehingga kesempatan untuk menghafal dan melafalkan seruan panjang itu menyusut. Larik tentang perahu layar tidak dipotong karena dianggap kuno. Ia dipotong karena orang yang melaut makin sedikit.

Narasumber menegaskan pemendekan itu tidak dimaksudkan mengurangi kesakralan atau fungsi normatif Ngatag. Kedua peneliti membacanya sebagai penyesuaian, bukan kehilangan: sebuah cara agar tradisi tetap bisa dijalankan di tengah kondisi sosial yang sudah lain. Keberlanjutan Ngatag, tulis mereka, bergantung bukan hanya pada terjaganya struktur bahasa aslinya, melainkan juga pada kemampuan warga menawar antara tradisi dan kenyataan sehari-hari.

Ada satu hal yang perlu dipegang saat membaca bentuk tujuh unsur tadi. Aryani dan Dwijonagoro menyatakan sendiri bahwa versi panjang itu bukan rekaman, melainkan rekonstruksi yang disusun dari ingatan kolektif warga dan penelusuran sejarah lisan desa, terutama dari keterangan Jro Wayan Terang Pawaka. Makna leksem seperti kepanta, kepanti, dan kepanten pun mereka sesuaikan dengan penjelasan narasumber, bukan dengan kamus. Kajian ini juga berhenti di satu desa, dengan empat narasumber.

Denda Lima Ratus yang Tak Pernah Dihitung sebagai Uang

Kembali ke kalimat yang membuat orang berhenti mengerjakan apa pun. Bunyinya kepanten kebakatan limang atus, dan secara leksikal artinya lurus saja: kena lima ratus. Dalam praktik adat, angka itu tidak selalu dibaca harfiah. Warga memahaminya sebagai lambang konsekuensi yang menegaskan bahwa aturan memang ada dan memang berlaku bagi semua orang. Efeknya, catat kedua peneliti, lebih bersifat psikologis daripada finansial. Yang bekerja bukan nominalnya, melainkan kenyataan bahwa nominal itu disebut keras-keras di depan umum, di tempat yang semua orang tahu letaknya.

Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati

Kalimat sebelumnya menyiapkan jalan bagi ancaman tersebut. Yan tuara kepanta kepanti berarti jika tidak datang berkumpul di tempat suci. Kata yan bekerja sebagai penanda syarat, tuara sebagai bentuk pengingkaran. Susunan itu membentuk hubungan sebab-akibat yang tegas dan tidak menyediakan ruang tafsir. Dalam bahasa Bali, struktur semacam ini terikat pada norma dan sistem kesantunan, sehingga bentuk bahasanya sekaligus menjadi mekanisme pengatur perilaku sosial.

Ajakan pada baris sebelumnya, kepanta kepanti ne buin telun, secara harfiah berarti datang berkumpul ke tempat suci tiga hari lagi. Kepanta berarti datang atau berkumpul, kepanti menunjuk tempat kegiatan adat digelar di Pura Bale Agung. Dalam pemahaman warga, dua kata itu tidak hanya menyebut tindakan dan tempat, tetapi menyiratkan kewajiban hadir. Kata yang di kamus berarti datang, di Bugbug berarti harus datang. Kepanten menjalani pergeseran serupa dan kini berfungsi sebagai penanda akibat dalam sistem adat. Pergeseran itu tidak tercatat di mana pun kecuali dalam kebiasaan.

Penanda sasaran di baris pembuka bekerja dengan cara yang sama. Jero Bali Desa Kanginan Kawan secara harfiah hanya menyebut rumah-rumah di timur dan barat desa. Dalam pemahaman warga, rentang timur sampai barat itu berarti seluruh komunitas yang terikat sistem adat, bukan sekadar dua sisi permukiman. Kata jero pun bisa berarti gelar kehormatan bila dilepaskan dari konteksnya, tetapi dalam Ngatag ia dipahami sebagai ruang desa secara keseluruhan. Makna itu tidak datang dari kamus, melainkan dari pengalaman bersama yang diulang tiap siklus rapat.

Bahasa yang dipakai pun membawa tanda pengenal. Ciri paling menonjol adalah bertahannya vokal /a/ di akhir kata pada leksem seperti desa, kepanta, dan tuara. Penutur setempat tidak menganggapnya variasi. Bagi mereka, begitulah cara kata itu diucapkan. Ditambah kosakata lokal dan susunan kalimat yang tegas, ketiga ciri tersebut membuat seruan Ngatag terdengar sebagai milik Bugbug dan bukan milik desa sebelah.

Sore itu suara Kasinoman selesai di depan pura. Ia berjalan ke undagan berikutnya, sebuah titik yang dulu tanjakan dan sekarang tidak lagi, lalu mengulang empat baris yang tersisa. Tiga hari lagi Sangkepan dimulai. Baris tentang perahu layar tidak ikut diserukan, dan rumah-rumah yang mendengarnya sebagian besar memang sudah lama tidak lagi melaut.

Bagikan

Baca Juga

Pantun Badondong Dilagukan dengan Melodi Berulang di Kampar
Hutan Adat Tenganan, Delapan Larangan dan Lima Tingkat Sanksi
Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue
Seharuk, Cerita Cerdik dari Sungai Komering
Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan
Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut