- Lebih dari separuh remaja Belanda, tepatnya 51,7 persen, minum tujuh gelas minuman manis atau lebih dalam sepekan.
- Di rumah yang selalu menyediakan minuman manis, 65,4 persen remaja menjadi peminum berat.
- Supermarket menjadi tempat utama remaja membeli minuman manis, sedangkan sekolah berada jauh di bawah.
- Hampir separuh remaja setuju bahwa bila harga dinaikkan, lebih sedikit remaja yang akan membeli.
Daftar Isi
Upaya mengurangi minuman manis di kalangan remaja kerap diarahkan ke sekolah dan kantin olahraga. Minuman ringan disingkirkan dari tempat-tempat itu, dengan harapan anak-anak minum lebih sedikit. Namun, sebuah survei terhadap siswa sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa minuman itu jarang dibeli di sana. Remaja membelinya di supermarket, dan yang paling banyak minum adalah mereka yang selalu menemukannya di rumah sendiri.
Survei itu dilaporkan Rian Pepping, Wilma Waterlander, Barbara Groot-Sluijsmans, Claudia Verhagen, Arnoud P. Verhoeff, Jacob C. Seidell, dan Vincent Busch dalam artikel berjudul Sugar-sweetened beverages: consumption, purchasing behaviour, and opinions about policy measures in a nationally representative panel of Dutch secondary school adolescents. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bekerja di Department of Healthy Living, Public Health Service of Amsterdam, dan di Department of Health Sciences, Vrije Universiteit Amsterdam.
Yang mereka tanyai adalah 839 siswa berusia 12 sampai 16 tahun, yang dipilih agar mewakili remaja Belanda seusia itu, pada Juni 2021. Minuman manis yang dimaksud mencakup minuman ringan bergula biasa, jus buah, sirup buah, minuman olahraga, dan minuman energi. Versi rendah kalori tidak dihitung. Karena itu, angka-angka di bawah ini berbicara tentang gula yang benar-benar diminum, dalam gelas berukuran 250 mililiter.
Tujuh gelas sepekan sebagai garis batas
Para peneliti menarik garis pada tujuh gelas sepekan, kira-kira segelas sehari. Siapa pun yang minum sebanyak itu atau lebih digolongkan sebagai peminum berat. Lebih dari separuh remaja, tepatnya 51,7 persen, berada di atas garis tersebut. Rata-rata seluruh remaja meminum 9,5 gelas sepekan, sedangkan nilai tengahnya tepat tujuh gelas, sehingga separuh remaja Belanda minum sedikitnya segelas minuman manis setiap hari.
Jarak antara dua kelompok itu lebar. Peminum berat menghabiskan rata-rata 16,4 gelas sepekan, sedangkan kelompok ringan sampai sedang hanya 2,2 gelas. Hampir tidak ada yang benar-benar menjauh dari minuman ini. Sebanyak 88 persen remaja meminumnya dalam sepekan terakhir, 10 persen meminumnya tetapi tidak pada pekan itu, dan hanya 2 persen yang mengaku tidak pernah meminumnya sama sekali.
Siapa yang lebih sering melewati garis itu juga terbaca. Remaja laki-laki lebih mungkin menjadi peminum berat daripada remaja perempuan, 52,9 persen berbanding 46,0 persen. Jenjang sekolah ikut membedakan. Siswa jalur pravokasi, yang di Belanda disebut vmbo, tercatat punya peluang sekitar dua kali lebih besar menjadi peminum berat dibandingkan siswa jalur prauniversitas atau vwo.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Rumah yang selalu menyediakan
Pembeda terkuat ternyata bukan jenis kelamin atau sekolah, melainkan isi rumah. Bagi 68,6 persen remaja, minuman manis biasanya atau selalu tersedia di rumah. Hanya 7,9 persen yang menyebut minuman itu jarang atau tidak pernah ada. Dengan kata lain, bagi kira-kira dua dari tiga remaja, minuman manis sudah menunggu sebelum mereka sempat memutuskan untuk membelinya.
Hubungannya berjalan seperti anak tangga. Di rumah yang hampir tidak pernah menyimpan minuman manis, hanya 11,1 persen remaja tergolong peminum berat. Angka itu naik menjadi 29,8 persen bila minuman kadang-kadang ada, lalu 50,2 persen bila biasanya ada. Di rumah yang selalu menyediakannya, 65,4 persen remaja menjadi peminum berat, hampir dua dari setiap tiga anak.
Dalam hitungan para peneliti, remaja yang selalu punya minuman manis di rumah memiliki peluang sekitar 14 kali lebih besar menjadi peminum berat dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah memilikinya. Kelompok pertama minum rata-rata 13,4 gelas sepekan. Kelompok kedua hanya 2,5 gelas. Para penulis membaca pola ini sebagai tanda kuatnya pengaruh kebiasaan keluarga dan teladan orang tua.
Yang membuatnya rumit, persediaan di rumah tidak menggantikan belanja di luar. Remaja dari rumah yang selalu menyediakan minuman manis justru mengaku membelanjakan uang lebih banyak untuk minuman itu, meski sudah mudah mendapatkannya. Mereka juga cenderung lebih sering membeli sendiri, walaupun kecenderungan terakhir ini tidak cukup kuat menurut ambang yang dipakai para peneliti. Rumah, tampaknya, bukan pengganti toko melainkan tempat kebiasaan itu terbentuk.
Bagaimana minuman manis menjadi hal biasa
Kebiasaan itu tercermin pada cara remaja memandangnya. Sebanyak 73,1 persen setuju atau sangat setuju dengan pernyataan bahwa minum minuman ringan itu normal. Di kalangan peminum berat, yang setuju mencapai 81,0 persen, sedangkan di kelompok ringan sampai sedang 63,6 persen. Remaja laki-laki juga lebih sering setuju daripada remaja perempuan, 77,2 persen berbanding 67,8 persen.
Rumah kembali muncul di sini. Remaja yang selalu punya minuman manis di rumah memiliki peluang tiga kali lebih besar menganggapnya normal dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah memilikinya. Usia ikut berperan. Di antara anak berusia 12 tahun, 58,8 persen setuju, sedangkan pada usia 13 dan 14 tahun angkanya sudah melewati tiga perempat. Jenjang sekolah, sebaliknya, tidak membedakan pandangan ini.
Para penulis menduga lingkaran itu saling menguatkan. Minuman manis mudah dijangkau dan gencar dipasarkan di tempat remaja tinggal, bersekolah, dan bergaul, sehingga meminumnya terasa wajar. “Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa minuman berpemanis gula dikonsumsi secara luas oleh remaja dan dipandang sebagai pilihan sehari-hari yang normal,” tulis Rian Pepping dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Supermarket, bukan kantin sekolah
Lalu di mana remaja membelinya? Supermarket menjadi tempat utama, disebut oleh 53,0 persen remaja perempuan dan 55,2 persen remaja laki-laki. Sekolah, termasuk kantin dan mesin penjualnya, berada jauh di bawah. Tempat olahraga, perjalanan, dan gerai makanan cepat saji lebih jarang lagi disebut. Karena itu, para penulis menilai penyingkiran minuman ringan dari sekolah dan kantin olahraga kemungkinan kecil dampaknya pada pembelian remaja.
Belanja di supermarket bertambah seiring naiknya kelas. Di tahun pertama sekolah menengah, 44,5 persen siswa membeli minuman manis di sana. Angkanya naik menjadi 55,0 persen di tahun kedua, 58,1 persen di tahun ketiga, dan 60,5 persen di tahun keempat. Para penulis mengaitkannya dengan uang saku yang lebih besar dan aturan umum di sekolah Belanda yang melarang siswa tahun pertama dan kedua meninggalkan lingkungan sekolah pada jam pelajaran.
Jenjang sekolah kembali membelah kebiasaan. Hanya 9,9 persen siswa prauniversitas membeli minuman manis di sekolah, jauh lebih sedikit daripada siswa pravokasi. Di antara 538 remaja yang membeli sendiri, siswa pravokasi paling rajin: 11,9 persen membeli setiap hari dan 40,8 persen setiap pekan. Hanya satu dari lima siswa pravokasi membeli kurang dari sebulan sekali, sedangkan di jalur prauniversitas 41,8 persen.
Uang saku dan harga yang membuat berhenti
Remaja yang membeli sendiri menghabiskan rata-rata 3,90 euro sepekan untuk minuman manis. Peminum berat mengeluarkan 4,81 euro, lebih dari dua kali lipat kelompok ringan sampai sedang yang 2,14 euro. Padahal, ketika survei berlangsung, sekaleng kola 330 mililiter di supermarket hanya berharga 0,39 euro untuk merek toko dan 0,89 euro untuk merek premium. Uang sebanyak itu, dengan demikian, cukup untuk beberapa kaleng.
Para peneliti lalu menanyakan pada harga berapa remaja akan berhenti membeli. Jawaban rata-ratanya 2,57 euro per kaleng, beberapa kali lipat harga yang berlaku saat itu. Baru pada harga 3 euro, 84,5 persen remaja menyatakan akan berhenti. Persoalannya, niat belum tentu menjadi perilaku, dan penulis mengakui remaja bisa saja menaksir terlalu tinggi kesediaannya membayar. Mereka menyimpulkan kenaikan harga yang kecil kemungkinan terbatas pengaruhnya.
Harga didukung, larangan ditolak
Meski begitu, kenaikan harga adalah satu-satunya langkah yang cukup banyak didukung. Hampir separuh remaja, 49,7 persen, setuju bahwa bila harga dinaikkan, lebih sedikit remaja yang akan membeli. Pernyataan bahwa mereka akan minum lebih sedikit bila tidak bisa membeli di sekolah hanya disetujui 28,8 persen. Batas usia pembelian, seperti pada rokok dan alkohol, tidak didukung oleh 84,3 persen remaja.
Larangan total paling tidak disukai. Hanya 11,6 persen yang lebih memilih minuman ringan dilarang sepenuhnya daripada dinaikkan harganya, dan lebih dari tiga perempat menolaknya. Ada satu hal yang mengejutkan para penulis: peminum berat justru lebih condong mendukung larangan total daripada peminum sesekali. “Meskipun ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, hal itu bisa mencerminkan kesadaran yang lebih besar di kalangan peminum berat akan asupan mereka sendiri yang berlebihan,” tulis mereka.
Soal batas usia, ada detail kecil yang menerangkan cara remaja berpikir. Mereka yang mendukung batas usia tersebar merata di semua kelompok umur, dan hampir semuanya mengusulkan usianya sendiri sebagai batas yang pantas. Aturan itu, dengan kata lain, dibayangkan berlaku bagi anak yang lebih muda. Dari semua temuan tadi, para penulis menyarankan agar upaya ke depan menyasar orang tua dan supermarket, berdampingan dengan sekolah.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Di mana penjelasan ini berhenti
Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga menurut para penulis tidak ada hubungan sebab-akibat yang bisa ditarik darinya. Rumah yang penuh minuman manis berkaitan dengan konsumsi tinggi, tetapi survei tidak dapat membuktikan yang satu menyebabkan yang lain. Semua angka berasal dari ingatan dan pengakuan remaja sendiri. Survei juga berlangsung pada Juni 2021, tak lama setelah pembatasan COVID-19 dicabut, dan pada musim ketika orang cenderung lebih banyak minum.
Keterbatasan lain menyangkut alat ukurnya. Kuesioner disusun para ahli tanpa diuji lebih dulu pada remaja, sehingga penulis tidak dapat memastikan semua pertanyaan dipahami dengan benar. Jenjang sekolah dipakai sebagai pengganti status sosial ekonomi, padahal pendapatan keluarga dan pekerjaan orang tua tidak ditanyakan. Temuan ini, tulis mereka, juga belum tentu berlaku di negara lain, kelompok usia lain, atau masa yang berbeda.
Ada pula beberapa ketidakcocokan dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut 72,6 persen remaja menganggap minuman ringan normal, sedangkan bagian hasil menulis 73,1 persen. Abstrak juga menempelkan rentang 12,32 sampai 14,48 pada peluang 14 kali lipat, padahal di bagian hasil rentang itu milik rata-rata 13,4 gelas. Selain itu, bagian kesimpulan menyebut pajak gula, sementara bagian lain menjelaskan pajak Belanda dihitung menurut volume minuman, bukan kadar gulanya.
Dengan semua batas itu, kejanggalan di awal tetap menemukan jawabannya. Kantin sekolah menjadi sasaran yang mudah dilihat, tetapi minuman manis remaja Belanda lebih banyak datang dari rak supermarket dan dari persediaan di rumah. Di dua tempat itulah minuman tersebut murah, selalu ada, dan dianggap biasa. Selama ketiga hal itu bertahan, segelas sehari tetap menjadi garis yang dilewati lebih dari separuh remaja.














