- Dari 212 kosakata Swadesh, sepuluh kata Sunda Indramayu kehilangan bunyi h dan tiga belas kata kehilangan vokal eu
- Priangan dibakukan sekitar 1872 dan dipakai koran serta sekolah; Indramayu dituturkan nelayan yang juga berbahasa Jawa Cirebon
- Enam jenis afiksasi berbeda: akhiran -na jadi -e, -ne, -a; -keun jadi -kun; pa-an jadi pe-an; nga- jadi nge-
- Naskah menulis Kandanghaur di Kabupaten Bandung pada bagian metode dan memadankan culi dengan leungeun
Daftar Isi
Kantor residen di Bandung pada 1872 dan perahu nelayan di pesisir Kandanghaur tampak tidak saling menyentuh, tetapi keduanya membentuk bahasa Sunda yang berbeda dalam menyebut garam. Di sisi selatan, garam disebut uyah, dengan bunyi h yang dijaga oleh pembakuan zaman kolonial. Di sisi utara, garam disebut uya, tanpa h, oleh penutur yang sehari-hari juga berbahasa Jawa Cirebon. Dua peneliti dari ISBI Bandung menyandingkan keduanya kata demi kata.
Sandingan itu tertuang dalam naskah Imam Akhmad dan Iip Sarip Hidayana berjudul Analisis Perbandingan Bahasa Sunda Dialek Indramayu dengan Bahasa Sunda Dialek Priangan, terbit di Metahumaniora volume 15 nomor 3 pada 2025. Di satu sisi ada bahasa Sunda Dialek Priangan, yang juga disebut Sunda Lulugu atau Sunda Baku. Di sisi lain ada bahasa Sunda Dialek Indramayu, yang di lapangan dikenal sebagai Dialek Parean-Lelea.
Kedua sisi diukur dengan satu penggaris yang sama: daftar kosakata dasar Swadesh yang dimodifikasi bersama pakar dialek sehingga berjumlah 212 kata. Daftar untuk sisi Priangan diisi seorang praktisi bahasa Sunda bergelar magister. Daftar untuk sisi Indramayu diisi lima warga Desa Ilir dan Desa Bulak, Kecamatan Kandanghaur, dari blok yang berbeda-beda. Dari 212 kata itulah perbedaan bunyi dan imbuhan muncul.
Priangan: Bahasa yang Dibakukan Sejak 1872
Pada sisi pertama, Sunda Priangan adalah bahasa yang tumbuh dari kantor pemerintahan. Naskah mencatat pembakuannya dilakukan sekitar 1872 pada era pemerintah kolonial Belanda, lalu dipakai di lingkungan pemerintahan dan kaum menak pribumi. Dari eks-keresidenan Parahyangan, bahasa baku ini menyebar ke Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar.
Sebaran itu berlanjut sampai kini. Sunda Priangan dipakai di media lokal berbahasa Sunda, koran, dan majalah, serta masuk kurikulum sekolah sebagai muatan lokal di Provinsi Jawa Barat. Wilayah tuturnya menjadi yang terluas di antara semua dialek Sunda, meliputi kota Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Sukabumi, dan sejumlah kabupaten di sekelilingnya. Karena itu, naskah menjadikannya pembanding, bukan objek yang dipersoalkan.
Indramayu: Bahasa Nelayan yang Berbahasa Dua
Pada sisi kedua, Sunda Indramayu adalah bahasa yang tumbuh dari laut. Penuturnya di Kecamatan Kandanghaur sebagian besar nelayan, dan letak wilayah yang dekat laut membuat pekerjaan itu paling mudah dijalani. Dialek ini dituturkan di Desa Lelea dan Tamansari di Kecamatan Lelea, serta Desa Parean Girang, Ilir, dan Bulak di Kandanghaur, ditambah beberapa desa di Cikawung, Terisi, Gantar, Haurgeulis, dan Mangunjaya.
Kehidupan nelayan itu meninggalkan jejak pada lidah penuturnya. Saat observasi pada Juli 2024, warga setempat mampu berbahasa Jawa Cirebon dan memahami Sunda Priangan. “Kehidupan sebagai nelayan menuntut mobilitas sosial dan interaksi yang tinggi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya,” tulis Imam Akhmad dan Iip Sarip Hidayana dalam naskahnya. Di sisi Priangan, mobilitas semacam itu tidak disinggung sama sekali.
Baca juga Empat Puluh Teka-teki Tua di Pasaman Barat
Bunyi H yang Dijaga di Selatan
Perbedaan pertama terletak pada satu bunyi yang tampak sepele. Sunda Priangan mempertahankan bunyi h di awal, tengah, dan akhir kata: hareup untuk depan, handap untuk bawah, huntu untuk gigi, haté untuk hati. Di tengah kata, h hadir pada katuhu untuk kanan, luhur untuk atas, dan nyaho untuk tahu. Di akhir kata, h menutup uyah dan letah.
Bunyi kedua yang dijaga Priangan adalah vokal eu. Bunyi ini mengisi kata-kata paling dasar: geutih untuk darah, beureum untuk merah, beuteung untuk perut, leungeun untuk tangan, ceuli untuk telinga. Kata untuk malam, peuting, kata untuk berat, beurat, dan kata untuk takut, sieun, semuanya berpegang pada vokal yang sama.
Bunyi H dan Eu yang Lepas di Utara
Di sisi lain, Sunda Indramayu melepas kedua bunyi itu. Naskah mencatat sepuluh kata tanpa h: ketu’u, lu’ur, arep, andap, uya, untu, até, idung, leta’, dan nya’o. Para penulis menyebutnya bahasa Sunda non-h, karena bunyi itu hilang di posisi mana pun. Yang tersisa di tengah kata hanya hentian, ditandai tanda apostrof pada ketu’u dan nya’o.
Vokal eu pun lepas pada tiga belas kata. Darah menjadi geti, merah menjadi burum, perut menjadi butung, tangan menjadi lungun, telinga menjadi culi, usus menjadi pujit, pasir menjadi kusik. Malam menjadi puting, berat menjadi burat, tajam menjadi sukut, takut menjadi siun, dan asap menjadi asep. Menurut naskah, dialek Indramayu tidak mengenal bunyi eu dan menggantinya dengan vokal lain yang lebih sesuai sistem fonologi setempat.
Pada sisi ini para penulis menaruh kalimat penilaiannya. “Hilangnya bunyi [h] ini tampak pada sejumlah kosakata dasar, sehingga memberikan warna pelafalan yang berbeda dan unik pada dialek Indramayu,” tulis Imam Akhmad dan Iip Sarip Hidayana. Pada kasus Priangan, tidak ada kalimat sepadan yang menyebut bunyi h sebagai keunikan, karena bunyi itu memang dianggap bentuk baku.
Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan
Akhiran Na dan Keun di Sunda Baku
Perbedaan kedua bergeser dari bunyi ke imbuhan. Sunda Priangan menandai kepemilikan dengan akhiran -na: asalna untuk asalnya, artina untuk artinya, di imahna untuk di rumahnya, saeunggeusna untuk sesudahnya. Untuk membentuk kata kerja, Priangan memakai akhiran -keun, seperti ngadengekeun untuk mendengarkan, dijadikeun untuk dijadikan, dan ngahijikeun untuk mempersatukan.
Gabungan awalan dan akhiran di Priangan berbentuk pa-an, seperti pagunungan, pasawahan, dan panghasilan. Nasalisasi untuk kata kerja aktif memakai awalan nga-: ngarenghap, ngadenge untuk mendengar, ngagosok untuk menggosok, ngabantu untuk membantu. Semua bentuk itu diisi satu praktisi bahasa Sunda dan dijadikan tolok ukur.
Akhiran E, Ne, dan Kun di Pesisir
Pada kasus kedua, Sunda Indramayu mengganti hampir semua imbuhan itu. Kepemilikan ditandai -é, -né, atau -a: asalé, artiné, di imana, seenggisa. Akhiran -keun menjadi -kun, sehingga muncul ngadengekun, dijadukun, dan nyatukun. Konfiks pa-an menjadi pe-an, menghasilkan pegunungan, persawa’an, dan pengasilan.
Nasalisasi pun berbelok. Awalan nga- di Priangan menjadi nge- di Indramayu: ngeréngap, ngedéngé, ngegosok, ngebantu. Satu contoh malah menambah awalan yang di Priangan tidak ada, yakni ngéés untuk tidur, yang di Priangan cukup héés. Naskah membaca awalan nge- ini sebagai proses morfologis yang khas dan produktif dalam dialek pesisir itu.
Dengan demikian dua sisi itu berbeda pada tiga lapis sekaligus: bunyi h, vokal eu, dan enam jenis afiksasi. Para penulis menyimpulkan perbedaan itu tidak berhenti pada tata bunyi. “Kekhasan ini tidak hanya bersifat linguistik semata, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial, geografis, dan budaya masyarakat penuturnya,” tulis Imam Akhmad dan Iip Sarip Hidayana. Di sisi Priangan, kondisi yang dimaksud adalah pembakuan; di sisi Indramayu, kehidupan nelayan.
Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa
Ada batas yang diakui naskahnya sendiri. Kajian ini sinkronis, memotret satu waktu tanpa menelusuri penyebab historis atau perkembangan masa lalu, sehingga tidak dijelaskan mengapa h dan eu lepas di pesisir. Data Indramayu hanya dari lima penutur di Desa Ilir dan Bulak, sedangkan sisi Priangan hanya diwakili satu praktisi. Perbandingan pun terbatas pada 212 kata dasar, tanpa menyentuh susunan kalimat dan makna.
Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya. Bagian metode menulis Desa Ilir, Kecamatan Kandanghaur, berada di Kabupaten Bandung, padahal bagian lain konsisten menulis Kabupaten Indramayu. Naskah menyebut variasi dialek terbagi lima unsur, tetapi hanya empat yang disebut. Pembagian geografis disebut empat wilayah besar, lalu daftarnya memuat enam dialek. Kata culi dipadankan dengan leungeun di teks, padahal tabelnya menulis ceuli.
Satu lagi yang layak dicermati. Wilayah cakupan dialek Indramayu ditulis meliputi Majalengka, Indramayu bagian selatan, dan barat Kuningan, sementara Kandanghaur yang diteliti digambarkan sebagai pesisir utara dekat laut. Kata arep untuk depan masuk sekaligus ke tabel tanpa h dan tabel tanpa eu. Simpulan menulis akhiran -un, sedangkan tabel dan pembahasan menulis -kun. Peta sebaran dialek yang dipakai bersumber dari sebuah situs web, bukan dari peta linguistik.
Pada akhirnya kantor residen dan perahu nelayan itu tetap berdiri di dua ujung yang sama-sama berbahasa Sunda. Priangan menjaga h dan eu karena dibakukan, diajarkan, dan dicetak di koran. Indramayu melepaskannya di tengah pergaulan dengan penutur Jawa Cirebon di laut dan pasar. Naskah ini tidak menyebut satu pun sisi lebih asli atau lebih benar, dan garam tetap garam, entah disebut uyah atau uya.















