Cekricek.id — Bima Sakti tidak lahir sebagai galaksi raksasa. Ia membesar dengan cara menelan galaksi-galaksi tetangganya selama miliaran tahun. Sebuah studi baru yang terbit di jurnal Nature Astronomy kini menambah bukti bahwa salah satu tabrakan terbesar dalam sejarah galaksi kita terjadi sekitar 12 miliar tahun lalu, atau dua miliar tahun lebih tua daripada peristiwa yang selama ini dianggap paling masif.
Laporan yang dimuat abc.net.au pada Selasa, 18 Agustus 2026, menyebutkan tim peneliti menamai galaksi yang melebur itu Low-energy-Kraken-Heracles. Sebelum temuan ini, tabrakan terbesar yang diketahui para astronom adalah peleburan dengan galaksi bernama Gaia-Sausage-Enceladus, yang diperkirakan berlangsung sekitar 10 miliar tahun lalu.
Baca juga: Campuspreneur Kemendag Cetak Ekspor Perdana Rp2,2 Miliar
Jejak pada Gugus Bola
Untuk mengumpulkan bukti, para peneliti mempelajari usia kelompok bintang yang sangat rapat dan dikenal sebagai gugus bola atau globular cluster. Usia dan komposisi kimia setiap gugus menunjuk pada galaksi asal tempat gugus itu terbentuk, sebelum akhirnya bercampur dengan Bima Sakti melalui peristiwa peleburan. Data yang dipakai dalam studi ini berasal dari Teleskop Antariksa Hubble.
Penulis utama studi menyatakan keberadaan peleburan berusia 12 miliar tahun tersebut sempat menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan astronom. “Menemukan tanda sejelas itu pada usia gugus-gugus bola membuat kami sangat gembira,” kata Davide Massari, peneliti Istituto Nazionale di Astrofisica sekaligus penulis utama studi.
Bima Sakti pertama kali terbentuk sekitar 800 juta tahun setelah Dentuman Besar yang terjadi 13,8 miliar tahun lalu. Ketika itu galaksi kita hanya berupa cakram gas berukuran kecil. Kini Bima Sakti membentang sekitar 100.000 tahun cahaya dan memuat hingga 400 miliar bintang. Sebagian besar bintang tersebut, menurut kajian-kajian terdahulu, terbentuk pada rentang 11 hingga 7 miliar tahun lalu.
Baca juga: Teleskop James Webb Temukan Debu dan Air Bertahan di Dekat Lubang Hitam Pusat Bima Sakti
Nama yang Lahir dari Perdebatan
Nama Low-energy-Kraken-Heracles merupakan gabungan usulan beberapa kelompok riset yang selama bertahun-tahun membangun teori keberadaan galaksi ketiga tersebut. Istilah low-energy merujuk pada orbit berenergi rendah gugus-gugus bintang itu, Kraken diambil dari monster laut dalam legenda Skandinavia, sedangkan Heracles berasal dari nama pahlawan Yunani yang dikaitkan dengan pembentukan Bima Sakti.
Pola serupa terlihat pada nama Gaia-Sausage-Enceladus, yang menggabungkan nama satelit Gaia, bentuk menyerupai sosis pada sebaran data analisis awal, serta putra Gaia dalam mitologi Yunani.
Duncan Forbes, astrofisikawan Swinburne University yang tidak terlibat dalam riset ini, menyebut sejumlah astronom termasuk dirinya pernah mengusulkan keberadaan galaksi ketiga tersebut jauh sebelum studi terbaru terbit. Menurut dia, penelitian kali ini memiliki bobot statistik yang lebih kuat dibanding kajian-kajian sebelumnya. Ia sendiri pernah mengusulkan nama Koala untuk galaksi satelit itu beberapa tahun lalu. “Untuk galaksi-galaksi satelit ini tampaknya tidak ada konvensi penamaan resmi,” kata Duncan Forbes, astrofisikawan Swinburne University.
Baca juga: Pendaftar Mahasiswa Asing UMY Tembus 10.297, Naik dari Tahun Lalu
Tabrakan yang Belum Berakhir
Luca Casagrande, astrofisikawan Australian National University yang juga tidak terlibat dalam studi, mengatakan galaksi-galaksi muda yang teramati lebih dekat ke masa Dentuman Besar semuanya jauh lebih kecil daripada Bima Sakti. “Kami selalu tahu bahwa Bima Sakti harus melewati beberapa peristiwa peleburan untuk membesar,” ujarnya. Ia menilai studi terbaru sudah menyeluruh, tetapi tetap membuka peluang adanya tabrakan lain yang belum ditemukan, terutama karena data yang tersedia baru mencakup sebagian wilayah galaksi.
Massari menilai kemungkinan tersebut “mungkin, tetapi agak kecil” untuk masa lalu Bima Sakti yang sangat jauh. Sementara itu, proses penyerapan galaksi lain sesungguhnya belum berhenti. Bima Sakti saat ini tengah melebur dengan Galaksi Kerdil Sagittarius, sebuah proses yang sudah berlangsung sekitar 6 miliar tahun. Dalam beberapa miliar tahun ke depan, galaksi kita juga berpeluang bertabrakan dengan Andromeda yang berukuran lebih besar, meski para astronom belum sepenuhnya yakin peristiwa itu akan terjadi.
















