Campuspreneur Kemendag Cetak Ekspor Perdana Rp2,2 Miliar

A A

Ilustrasi pelaku usaha berdiskusi di ruang kerja modern. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kementerian Perdagangan mencatat program Campuspreneur bergerak ke arah yang diharapkan pada paruh pertama 2026. Sebanyak 18 perguruan tinggi telah menandatangani kerja sama, dan ekspor perdana dari salah satu binaan program itu sudah menembus nilai Rp2,2 miliar.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Perdagangan, kemendag.go.id, Jumat (14/8/2026), Campuspreneur dirancang untuk membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus yang tersambung dengan akses pasar, baik domestik maupun internasional. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai perkembangan program pada semester pertama tahun ini positif.

“Selama Semester I 2026, kami melihat Campuspreneur berkembang ke arah yang baik,” kata Budi Santoso.

Baca juga: Baru 33 Persen Warga Padang Daftar Portal Perlinsos

Pinang Binaan IPB Tembus Bangladesh dan Maladewa

Capaian yang paling konkret datang dari perdagangan lintas negara. Pada 12 Juni 2026, produk pinang binaan IPB University dikapalkan ke Bangladesh dan Maladewa dengan nilai Rp2,2 miliar. Pengiriman itu menjadi ekspor perdana yang lahir dari rangkaian pendampingan Campuspreneur, dan menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan di lingkungan kampus dapat memenuhi persyaratan pembeli di luar negeri.

Di pasar dalam negeri, program tersebut menghasilkan 23 kesepakatan awal berupa Letter of Intent antara wirausaha mahasiswa dan mitra ritel modern. Sebanyak 15 kesepakatan lahir di Universitas Negeri Sebelas Maret dan delapan lainnya di IPB University. Kesepakatan semacam itu penting karena menempatkan produk mahasiswa pada rak ritel, bukan hanya pada pameran yang berhenti setelah acara usai.

Kurasi Produk sampai Regulasi Perdagangan

Program ini diperkenalkan pada 2 April 2026 di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, sebagai bagian dari inisiatif bertema Dari Lokal untuk Global. Campuspreneur Expo digelar pada 1 sampai 2 April 2026 di auditorium kampus tersebut dan menjadi titik awal pertemuan antara pelaku usaha muda dan calon pembeli.

Baca juga: Permintaan Emas Global Naik, HPE Emas Agustus Ikut Terkerek

Kementerian menggandeng asosiasi ritel, yakni Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, serta memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk menjajaki pasar. Bentuk dukungan yang diberikan mencakup sesi pemaparan bisnis, kurasi produk, dan lokakarya penguatan kapasitas dengan materi pencitraan merek, perizinan, pemasaran digital, hingga regulasi perdagangan.

Rangkaian materi itu menjawab persoalan yang lazim menghambat pelaku usaha kampus. Banyak produk mahasiswa sebenarnya layak jual, tetapi tersendat pada dokumen perizinan, standar kemasan, atau pemahaman aturan ekspor. Dengan pendampingan yang bersifat teknis, jarak antara ide di ruang kuliah dan kontainer di pelabuhan menjadi lebih pendek.

Target Transaksi Ekspor

Menteri Perdagangan menyatakan capaian semester pertama menjadi dasar untuk menaikkan sasaran program pada tahap berikutnya, dengan tolok ukur yang tidak berhenti pada jumlah peserta.

Baca juga: KADI Selidiki Dumping Polimer Penyerap Super Asal Tiongkok

“Capaian tersebut mendukung Campuspreneur untuk meningkatkan kapasitas wirausaha muda sekaligus menghasilkan transaksi ekspor,” ujarnya. Ujian program ini pada semester kedua adalah apakah kesepakatan awal dengan ritel modern benar-benar berubah menjadi pesanan berulang, dan apakah ekspor perdana pinang itu diikuti komoditas lain dari kampus di luar Jawa.

Bagikan

Baca Juga

Hambatan Dagang Kini Bersembunyi di Balik Aturan, Bukan Tarif
Bea Masuk Barang Digital Berpotensi Rp18,58 Miliar per Tahun
Harga Referensi CPO September 2026 Naik ke USD 1.007,51
Kemendag Matangkan Implementasi I-EU CEPA Oktober 2026
UMKM Kopi Jabar Ekspor Rp2,64 Miliar ke Inggris
Harga Daging Ayam Terjaga di Acuan, Mendag Pantau Pasar