Cekricek.id — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan Washington akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” untuk meruntuhkan pemerintahan Iran, sekaligus meminta negara lain termasuk China ikut bergabung. Dikutip dari Al Jazeera, pernyataan itu disampaikan Bessent kepada stasiun televisi ekonomi CNBC dan dilaporkan pada Jumat, 21 Agustus 2026, saat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki bulan keenam.
Bessent memperingatkan adanya “konsekuensi luar biasa” bagi negara mana pun yang tetap menjaga hubungan ekonomi dengan Teheran. Kepada sekutu Amerika Serikat di kawasan, ia menyampaikan ancaman yang nyaris tanpa selubung. “Kalian bersama kami atau melawan kami,” kata Bessent. Ditanya berapa lama kebuntuan dengan Iran akan berlangsung, ia tidak memberi jawaban dan hanya menegaskan bahwa tujuannya adalah memastikan “keruntuhan ekonomi pemerintah Iran”.
Baca juga: Meksiko Protes AS Deportasi 2.300 Warganya ke Guatemala
Ancaman Tarif 25 Persen dan Sanksi Entitas
Rincian langkah berikutnya pemerintahan Presiden Donald Trump masih sangat terbatas. Bessent menjanjikan penjelasan lebih lengkap dalam konferensi pers pada Senin, meski belum jelas apakah ia, Trump, atau keduanya yang akan tampil.
Sejumlah instrumen sudah tersedia di tangan Gedung Putih. Salah satunya perintah eksekutif yang diterbitkan pada Februari, yang membuka jalan bagi pengenaan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis secara langsung maupun tidak langsung dengan Teheran. Kemungkinan lain, Bessent menjatuhkan sanksi terhadap entitas usaha, bandar udara, atau siapa pun yang menjalankan bisnis dengan Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam ancaman sanksi ekonomi baru itu dan menyebut rencana tersebut “ilegal dan tidak manusiawi”. Beijing juga menolak kampanye tekanan yang oleh Trump disebut sebagai “D-Day ekonomi”, dengan alasan sanksi tambahan tidak akan menyelesaikan sengketa yang sedang berlangsung.
Baca juga: Imbal Hasil Obligasi Global Turun, Dolar AS Melemah
Minyak Iran dan Catatan Bea Cukai China
China adalah pembeli minyak mentah Iran terbesar tahun lalu, sehingga menjadi sasaran utama tekanan Washington. Namun peneliti senior di Center on Global Energy Policy, Universitas Columbia, Erica Downs, menilai Amerika Serikat tidak berada dalam posisi bebas menekan.
“Kalau pemerintahan Trump ingin menjatuhkan sanksi tambahan terhadap entitas-entitas China karena menangani minyak Iran, semuanya kembali pada satu perhitungan: bagaimana pemerintahan Trump menimbang keuntungan menyanksi entitas China itu dibandingkan biaya yang harus ditanggung,” kata Downs kepada Al Jazeera. Ia mengingatkan China punya kemampuan membalas, antara lain dengan membatasi ekspor unsur tanah jarang.
Menurut Downs, impor minyak Iran oleh China tampak sedikit menurun, tetapi hal itu sulit dipastikan karena kargo tersebut tampaknya tercatat dalam data bea cukai China sebagai impor dari negara lain, seperti Malaysia dan Indonesia. Ia menyebut China tetap mengimpor minyak mentah Iran bahkan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, dan baru melambat setelah Washington memberlakukan blokade laut atas Iran pada pertengahan April. Sejumlah kargo minyak Iran, kata dia, masih mengapung di perairan luar Selat Hormuz dan berpotensi tetap dipasok ke China.
Baca juga: Penjualan Lowe’s 26 Miliar Dolar AS, Belanja DIY Lesu
“Saat ini saya tidak melihat China memangkas impor minyak Iran sampai nol,” ujarnya, “sebagian karena, jika kita melihat semua entitas berbeda yang terlibat dalam membawa minyak dari Iran ke China, setiap kali ada sanksi baru diumumkan mereka cenderung menemukan jalan memutar.”
Blokade Laut dan Selat Hormuz
Di lapangan, Komando Pusat Amerika Serikat melaporkan pasukannya yang menegakkan blokade laut atas pelabuhan-pelabuhan Iran telah mengalihkan 67 kapal niaga, melumpuhkan tiga kapal, dan menaiki dua kapal lainnya. Blokade itu menjadi salah satu instrumen paling langsung yang menekan arus keluar minyak Iran.
Oman menyatakan keamanan jangka panjang di Selat Hormuz bergantung pada perdamaian kawasan yang bertahan lama, dan menolak eskalasi maupun konflik lanjutan. Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi pintu keluar sebagian besar minyak dari kawasan itu.
Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berjalan enam bulan, dimulai dari serangan gabungan ke sasaran-sasaran di Iran dan berlanjut dengan blokade laut sejak pertengahan April. Bessent membandingkan kampanye ekonomi terhadap Teheran dengan tekanan serupa yang pernah diterapkan Amerika Serikat terhadap Kuba dan Venezuela.
















