Cekricek.id — Imbal hasil obligasi pemerintah di pasar global bergerak turun pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat turun tangan meredam aksi jual di pasar surat utangnya. Dikutip dari reuters.com, langkah itu menenangkan investor, menekan dolar AS, sekaligus mengangkat harga saham di Asia.
Departemen Keuangan AS mengumumkan pada dini hari waktu Asia bahwa mereka akan menggandakan ukuran pembelian kembali surat utang berdurasi panjang. Pengumuman itu keluar setelah imbal hasil obligasi Treasury bertenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada awal pekan ini.
Baca juga: Imbal Hasil Obligasi Eropa Tembus Tertinggi 17 Tahun
Pada perdagangan awal Asia Kamis, imbal hasil tenor 30 tahun tercatat sedikit lebih rendah di 5,1890 persen, setelah merosot 9 basis poin pada sesi sebelumnya. Imbal hasil acuan tenor 10 tahun berada di 4,6466 persen menyusul penurunan 5 basis poin pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Sinyal ke Pasar Utang Jangka Panjang
“Waktu pengumuman itu… dibaca sebagai sinyal bahwa para pejabat waspada terhadap tekanan pada biaya pinjaman ujung panjang,” kata ekonom senior National Australia Bank, Taylor Nugent.
“Meski tidak mengubah apa pun soal fundamental, pengumuman itu membuat kurva imbal hasil mendatar tajam dalam semalam,” ujarnya.
Di Tokyo, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang juga turun dari level tertinggi multidekade. Imbal hasil tenor 20 tahun melemah 7,5 basis poin ke 3,700 persen, sementara tenor 10 tahun turun 4,5 basis poin. Kontrak berjangka obligasi Jerman dan Prancis ikut menguat, yang berarti imbal hasilnya menurun.
Kegelisahan investor atas menumpuknya utang pemerintah memicu aksi jual obligasi yang tajam pekan ini, mulai dari Amerika Serikat, Jerman, hingga Jepang. Tekanan itu diperparah oleh besarnya pinjaman perusahaan teknologi untuk membiayai kecerdasan buatan serta harga minyak yang masih tinggi.
Dukungan Dinilai Bersifat Sementara
Baca juga: Penjualan Home Depot Naik 5,7 Persen di Kuartal Kedua
“Semakin Departemen Keuangan Amerika Serikat ingin melakukan intervensi, semakin besar penjualan dari pemegang institusional yang akan terpicu,” kata Chief Investment Officer KGI, Cusson Leung.
“Pada akhirnya, kita tahu Departemen Keuangan adalah pihak yang perlu menghimpun utang dari pasar obligasi. Melakukan pembelian kembali sekarang itu seperti perusahaan yang membeli kembali sahamnya lebih dulu, lalu diikuti penerbitan saham baru. Pasar tidak akan termakan hal itu,” ujarnya.
Latar belakang aksi jual itu adalah rekor utang pemerintah AS. Dikutip dari channelnewsasia.com, total utang publik yang beredar tercatat US$40,05 triliun pada penutupan perdagangan Selasa, angka yang dirilis Departemen Keuangan AS pada Rabu, 19 Agustus 2026. Congressional Budget Office sebelumnya memperkirakan total pinjaman baru menembus US$39,4 triliun pada akhir tahun fiskal 2026.
Saham Asia Naik, Dolar Dekati Titik Terendah
Membaiknya sentimen pasar mengangkat bursa saham pada Kamis. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang dan indeks Nikkei Jepang sama-sama naik 1,2 persen. Kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,5 persen dan kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,16 persen, sedangkan kontrak berjangka EUROSTOXX 50 melemah 0,14 persen.
Penurunan imbal hasil menekan dolar AS. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama bertahan di dekat titik terendah dalam dua setengah bulan pada 98,86. Euro bertengger di dekat level tertinggi sejak 29 Mei di US$1,1674, sementara poundsterling stabil di US$1,3600 setelah menguat 0,55 persen pada sesi sebelumnya.
Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Baru
Notulen The Fed dan Harga Komoditas
Notulen rapat kebijakan terakhir Federal Reserve yang dirilis pada Rabu memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi kian dalam. Beberapa pembuat kebijakan disebut siap menaikkan suku bunga, dan banyak di antaranya menyatakan kenaikan biaya pinjaman akan dibutuhkan jika inflasi tidak turun menuju sasaran bank sentral sebesar 2 persen.
Di pasar komoditas, kontrak berjangka minyak Brent naik 0,33 persen ke US$91,92 per barel, sedangkan minyak mentah AS bertahan setelah kenaikan 1 persen pada sesi sebelumnya dan berada di US$85,81 per barel. Harga emas spot turun 0,6 persen ke US$4.492,56 per ons.
Arus pelayaran melalui Selat Hormuz melambat, menurut data yang keluar Rabu, karena sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur pelayaran itu akibat tidak adanya sinyal jelas soal pembukaannya kembali setelah blokade selama perang Iran.
















