Cekricek.id — Amerika Serikat menyiapkan paket sanksi baru terhadap Iran, sementara Teheran menegaskan Selat Hormuz tetap tertutup bagi lalu lintas kapal. Nota kesepahaman antara kedua negara berakhir pada Senin, 18 Agustus 2026, tanpa perpanjangan, dan menyisakan jalur pelayaran energi terpenting di dunia dalam kondisi lumpuh.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan Washington akan menerapkan langkah-langkah yang “belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap sebuah negara”, yang menurutnya mulai berlaku pekan ini. Presiden Donald Trump mengulang ancaman serupa dan meminta Iran mengibarkan bendera putih, seraya menyatakan tidak ada tenggat yang ia kejar untuk mengakhiri konflik. Dikutip dari Al Jazeera.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak, Brent Naik 6 Persen Sepekan Imbas Serangan Tanker
Teheran Tetapkan Syarat Pembukaan Selat
Ketua Parlemen Iran sekaligus juru runding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menutup peluang kompromi cepat. “Izinkan saya menyatakan dengan jelas: sampai komitmen yang dibuat Amerika Serikat dalam nota kesepahaman — termasuk pencabutan blokade, pelepasan aset yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, penghentian ancaman dan operasi militer di semua lini, serta syarat-syarat lain yang telah disetujui Amerika dalam nota itu — dilaksanakan, selat itu tidak akan dibuka,” katanya.
Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Kementerian Keuangan Amerika Serikat mencatat lebih dari 1.000 orang, kapal, dan pesawat yang berkaitan dengan Iran telah dijatuhi sanksi sejak Februari 2025. Paket berikutnya diperkirakan memperluas jangkauan itu ke jaringan pembeli dan perantara di luar Iran.
Baca juga: Trump Ingin Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Ini Kata Pakar
Lalu Lintas Minyak Dunia Terhenti
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, dengan volume sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak per hari. Arus itu kini nyaris berhenti. Pada Senin pekan lalu hanya 10 kapal yang melintasi perairan tersebut, dibandingkan sekitar 130 pelayaran per hari sebelum perang.
Harga minyak bertahan tinggi sepanjang penutupan berlangsung. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober diperdagangkan pada 89,53 dolar Amerika Serikat per barel pada pukul 08.00 GMT, 12 Agustus 2026, naik lebih dari 2 persen dalam semalam dan sekitar 24 persen sejak akhir Februari 2026 ketika perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai.
Baca juga: Inflasi Iran Tembus 88 Persen, Harga Pangan Naik 128 Persen
Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat memperkirakan produksi minyak Timur Tengah baru akan mendekati level sebelum konflik pada awal 2027, dengan rata-rata harga Brent sepanjang 2026 diproyeksikan 87 dolar Amerika Serikat per barel.
“Pasar belum sepenuhnya kehilangan harapan akan adanya kesepakatan, tetapi keyakinan itu jelas terkikis,” kata analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer.
Iran Alihkan Jalur Dagang ke Darat
Dengan pelabuhan-pelabuhan utamanya tak berfungsi, Iran memindahkan arus impor ke perbatasan darat dengan Pakistan dan Turki, serta jalur Laut Kaspia yang menghubungkannya dengan Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Kebutuhan impor bahan bakar Iran sendiri bernilai beberapa miliar dolar Amerika Serikat per tahun.
Bagi sekitar 90 juta penduduk Iran, dampaknya berupa inflasi yang bertahan tinggi, pekerjaan yang makin tidak pasti, dan daya beli yang terus menyusut. Ekonom senior di Vienna Institute for International Economic Studies, Mahdi Ghodsi, menilai kebijakan darurat pemerintah hanya menunda persoalan.
“Tanpa de-eskalasi eksternal sekaligus reformasi politik di dalam negeri, pemerintah mungkin bisa memperlambat kemerosotan standar hidup dan kondisi pasar, tetapi tidak mungkin menghadirkan stabilitas yang tahan lama, penghidupan yang lebih kuat, atau ketahanan nasional yang sesungguhnya,” ujarnya.





![Presiden Rusia Vladimir Putin mencicipi produk saat mengunjungi kompleks pengolahan ikan di Pulau Iturup, Kepulauan Kuril. [Foto: AP]](https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-mengunjungi-kompleks-pengolahan-ikan-di-Pulau-Iturup-Kepulauan-Kuril.webp?resize=200%2C150&ssl=1)










