Cekricek.id — Perekonomian Iran terhimpit setelah berbulan-bulan perang dengan Amerika Serikat. Inflasi tahunan negara itu mencapai 88 persen, sementara harga pangan naik 128 persen sehingga biaya satu keranjang belanja pokok menjadi 2,28 kali lebih mahal dibanding Juli 2025.
Dikutip dari Al Jazeera, aljazeera.com, Minggu (16/8/2026), kenaikan harga paling ekstrem terjadi pada kelompok minyak dan lemak yang melonjak 261 persen. Kelompok susu, keju, dan telur naik 147 persen, sedangkan daging dan unggas naik 145 persen. Lonjakan itu menghantam rumah tangga yang pendapatannya tidak bergerak sebanding.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut hilangnya pendapatan minyak sebagai pukulan utama. “Kami dulu bisa menjual minyak, dan sekarang kami tidak bisa. Mereka juga menyerang dan menghancurkan sebagian pabrik kami,” kata Masoud Pezeshkian.
Baca juga: 500 Pembalap Adu Cepat di Drag Bike Piala Wali Kota Pariaman
Upah Minimum Tak Menutup Kebutuhan
Jarak antara upah dan biaya hidup melebar tajam. Upah minimum bulanan di Iran berada sekitar 166 juta rial, setara kurang dari 88 dolar Amerika Serikat pada kurs pasar. Sementara itu paket kebutuhan dasar untuk rumah tangga berisi rata-rata 3,3 orang dihitung sebesar 430 juta rial atau sekitar 230 dolar per Maret 2026. Artinya upah minimum hanya menutup sekitar sepertiga kebutuhan pokok.
Nilai tukar rial yang terus merosot memperparah keadaan. Uang sejumlah 200 juta rial kini hanya bernilai sekitar 107 dolar, sedangkan 20 juta rial tidak sampai 11 dolar. Pelemahan itu langsung menaikkan harga barang impor dan bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri.
Baca juga: KLH Kawal Registrasi Karbon dan RUU Perubahan Iklim
Pengangguran Usia Muda Melonjak
Pasar kerja ikut memburuk. Tingkat pengangguran usia muda pada musim semi 2026 mencapai 23,4 persen, naik 3,7 poin persentase dibanding periode sama tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran keseluruhan tercatat 9,1 persen, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja hanya 40 persen.
Seorang guru sekolah dasar di Teheran berusia 26 tahun bernama Saeed menggambarkan kondisi lowongan kerja yang tersedia. “Anda cukup melihat sekali kondisi lowongan kerja yang bisa Anda temukan secara daring atau langsung, dan Anda akan mengerti mengapa sebagian orang muda merasa tidak ada gunanya keluar untuk bekerja,” ujar Saeed. Ia menambahkan banyak pemberi kerja tidak menyediakan asuransi dan meminta jam kerja sampai 12 jam sehari.
Pemilik usaha kecil pun merasakan tekanan serupa. Yashar, salah satu pemilik toko kelontong di Lahijan berusia 38 tahun, mengaku kondisi usahanya tidak seperti yang terlihat dari luar. “Dari luar mungkin tampak kami berkecukupan, tetapi bagi kami rasanya justru sebaliknya,” tutur Yashar.
Baca juga: Baru 33 Persen Warga Padang Daftar Portal Perlinsos
Tekanan ini muncul saat ekspor minyak Iran, sumber devisa utama negara itu, terputus akibat konflik. Kombinasi hilangnya pendapatan ekspor, rusaknya kapasitas produksi, dan merosotnya nilai tukar membuat laju inflasi sulit ditahan dalam waktu dekat.
















