Pemenang Prix Goncourt Akui Pakai ChatGPT saat Menulis Novel

A A

Novelis Prancis Philippe Jaenada dalam sebuah acara buku. [Foto: ActuaLitté/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Philippe Jaenada mengaku memakai AI tiga kali saat menulis novel pemenang Prix Goncourt
  • Ia menyisipkan satu kalimat buatan ChatGPT untuk bermain-main dengan pembaca
  • Akademi Goncourt sebelumnya mencoret novel Thelyson Orelien karena dugaan AI
  • Jaenada menilai AI tak bisa dibendung, tetapi harus diakui dan dijinakkan

Cekricek.id — Pemenang penghargaan sastra paling bergengsi di Prancis, Prix Goncourt, Philippe Jaenada, mengaku memakai kecerdasan buatan (AI) saat menulis novelnya. Pengakuan itu muncul hanya sehari setelah ia menerima penghargaan yang jurinya sebelumnya mencoret buku lain karena dugaan penggunaan AI.

Melansir laporan The Guardian, Kamis (5/11/2026), Jaenada yang memenangi Prix Goncourt pada Selasa (3/11/2026) lewat novel L’Inconnue du quai de Javel mengatakan kepada radio France Inter pada Rabu bahwa ia memakai AI “tiga kali” selama proses penulisan.

Pertama, ia menyisipkan satu kalimat yang ditulis ChatGPT untuk “bermain-main dengan pembaca”. Ia mengaku hanya mengungkap kalimat mana yang dimaksud kepada para juri Goncourt pada hari penganugerahan. “Kalau sampai bocor, saya akan tahu dari mana asalnya,” katanya.

Jaenada juga memasukkan satu bagian teks buatan AI untuk menyindir ChatGPT yang memberikan “jawaban yang sepenuhnya absurd soal sebuah detail teknis”. Selain itu, ia memakai AI untuk riset.

Baca juga Hinton: Mungkin Lebih Baik Kita Tak Pernah Kembangkan AI

“AI Harus Dijinakkan”

“Saya tidak berpikir AI bisa dibendung. Kita tidak bisa berpura-pura AI tidak ada,” kata Jaenada, 62 tahun. “Anda harus memakainya, tetapi pertama-tama Anda harus mengakuinya, dan yang terpenting Anda harus menjinakkannya. AI harus berguna.”

Sebelum penganugerahan, Jaenada sudah membela penggunaan AI. “Apakah seorang sutradara film akan menyembunyikan fakta bahwa ia memakai efek khusus?” tanyanya dalam wawancara dengan 20 Minutes. Ia memperkirakan tak lama lagi mustahil memastikan sebuah teks 100 persen ditulis manusia, tetapi menegaskan AI “tidak akan pernah bisa menulis buku dengan hati, jiwa, dan kenangannya.”

Buku Lain Dicoret karena AI

Pengakuan ini menuai sorotan karena pada September lalu Akademi Goncourt mencoret novel C’était ça ou Mourir karya penulis Kanada-Haiti Thélyson Orélien dari daftar panjang. Novel debut itu sempat laris lebih dari 35.000 eksemplar dan memenangi Prix du roman Fnac, sebelum jurnalis Samuel Fitoussi memeriksanya dengan alat pendeteksi AI Pangram dan menyimpulkan sebagian besar isinya dibuat mesin. Akurasi perangkat lunak pendeteksi AI sendiri masih dipertanyakan.

Dalam pernyataan pada 25 September, akademi menyebut novel itu “kemungkinan besar sebagian besar merupakan produk kecerdasan buatan.” Orélien membantahnya sebagai “fitnah dan bidah” dan menyatakan “tidak satu kalimat pun dalam buku ini diciptakan oleh mesin.” Namun, penerbitnya di Kanada, Boréal, kemudian menyebut bukti baru menunjukkan AI dipakai dalam proses penulisan dan memutus hubungan dengannya.

Baca juga Paus Leo XIV Serukan AI Dilucuti: Mesin Itu Alat, Bukan Pribadi

Perbedaan perlakuan itu memicu tudingan standar ganda di media sosial. Sejumlah warganet membandingkan Jaenada yang tidak dihujat dengan Orélien, penulis muda kulit berwarna yang bukunya dicoret.

Jaenada menang pada putaran pertama pemungutan suara dengan enam suara berbanding tiga atas novel De l’autre côté du lac karya Sylvain Prudhomme. Novelnya merekonstruksi pembunuhan tak terpecahkan pada 1949 terhadap Louise Cansot, model seniman asal Bretagne berusia 29 tahun. Hadiah Prix Goncourt sendiri hanya berupa cek simbolis senilai 10 euro, tetapi merupakan penghargaan sastra paling terkenal di Prancis.

Baca juga Sam Altman: RAM Lebih Baik di Pusat Data daripada di PC Anda

Bagikan

Baca Juga

Penjualan Nintendo Switch 2 Anjlok 41 Persen, Harga Kian Mahal
Inggris Timbang Larangan Kacamata Pintar akibat Rekaman Diam-diam
Remake Zelda: Ocarina of Time Rilis 5 November di Switch 2
Hinton: Mungkin Lebih Baik Kita Tak Pernah Kembangkan AI
Elon Musk Batasi Pemakaian Grok Bot, Biayanya Terlalu Tinggi
iPhone Anggota Parlemen Jerman Diduga Disusupi Spyware